Wednesday, 12 December 2018

#Euroneymoon - Dam Square & Red District

Kelar quick lunch di Burger King, kami lanjut menuju the famous Dam Square menggunakan tram. Di perjalanan, sempet beberapa kali mampir ke mini market dan beberapa toko, buat beli cemilan dan oleh-oleh. Enaknya di Amsterdam, itungan ongkos tram-nya per jam/hari, bukan per trip. Jadi manja deh, naik turun tram berkali-kali, karena tak kuasa menghadang angin biar tujuannya cuma dua stop. Bibir biru, shaaay.

Berbekal google maps dan ngikutin orang-orang, akhirnya kami sampe di Dam Square. Sebuah lapangan besar yang dikelilingi bangunan raksasa dengan burung-burung yang terbang rendah. Lagi-lagi gue langsung mangap. Gusti, kok ya ada kota yang cakepnya begini banget?



Amsterdam never cease to surprise me.

Selain tata kotanya yang luar biasa mempesona, theme park-nya yang klasik nan cantik, orang-orangnya yang helpful, gue bersyukur banget sempet ngerasain betapa 'hidup'nya atmosfer Amsterdam di sore menjelang malam begini. Cafe-cafe dengan musik dan riuh rendah percakapan, toko-toko souvenir dengan produk yang nggak umum (hi, lolipop ganja), sampe sepeda-sepeda yang seliweran di tengah-tengah alley berbatu.

No matter how strange it sounds, I know I belong to this city. Don't get me wrong, Brussels dan Paris juga nggak kalah fun. Bahkan Tokyo dan Hong Kong juga punya tempat yang spesial di hati eyke karena Disnilennya. Tapi Amsterdam, it's the one I want to marry. Andai daku penganut YOLO tulen, pasti gue ogah balik dan langsung mulai hidup baru sama Roy di sini. Tuh bayangin, secinta itu, bep.

pindah yuk, yang?

Dari Dam Square, kami bergerak menyusuri gang-gang kecil, dalam upaya pencarian Red District. Biasanya, letaknya di gang yang agak sempit dan gelap. Trus, kalo udah ketemu, sama sekali nggak boleh foto ya. Ada gelagat ngeluarin kamera aja bakal langsung disamperin sama bodyguard-nya.

Gue dan Roy tentu patuh, soalnya selain ogah cari masalah, kami cuma murni kepo aja. Nggak ada niatan nyicip, tapi kepengen tau. Sempet muter-muter juga karena bingung musti belok ke mana, jadi jalan tak tentu arah. Abis mau nanya kok ya malu. Pas akhirnya masuk ke gang yang tepat dan ketemu, kami malah syok sendiri. Terutama suameku, yaowoh, dia kaget banget tau-tau cewek nyaris telenji nongol di jendela.

Keluar dari kawasan Red District, kami menyusuri kanal, gandengan sambil menyaksikan pijar cahaya lampu dari deretan bangunan di kanan dan kiri, seiring meredupnya cahaya matahari. Berkali-kali gue bersyukur dalam hati, sambil ngerekam baik-baik apa yang gue liat dalam memori.


Sebetulnya udah mulai rada gloomy juga sih, secara bentar lagi waktu kami di sini bakalan abis. Sedihnya betulan ngalahin patah hati.

Sekitar pukul 7, kami balik ke Amsterdam Central untuk ambil koper. Pas koper kami diambilin, gue baru ngeh, hlo, bantal leher Mickey Mouse gue mana? Kok nggak ada?

Nginget-nginget, baru sadar, kayaknya ketinggalan di hotel. Meweklah, anaknya. Udah bantal kesayangan, bela-belain nitip sama temen Roy dari Amrik, dan harganya nggak murah. Gimana nyari gantinya?

Roy, yang paling nggak bisa liat gue sedih (uwuwuw), sampe nggak tega ngomel dan langsung cus balik ke hotel untuk nanya housekeeping, dengan harapan disimpenin. Sementara gue-yang masih heboh sesenggukan- nunggu di stasiun sambil jagain koper.

Satu setengah jam kemudian, Roy balik dengan tangan hampa. Doi bilang, menurut resepsionisnya, nggak ada barang ketinggalan di kamar kami. Hancur sudah harapan gue yang terakhir. My neck pillow is now officially gone.

Kombinasi antara drama bantal dan galau pisah sama AMS, gue hampir nggak tidur sama sekali di bus menuju Paris. Air mata udah abis, mata udah segede ikan mas koki, tapi nggak kunjung ngantuk. Akhirnya ngeliatin jalan aja dari jendela. Good night and good bye, Amsterdam!

No comments:

Post a Comment