Wednesday, 14 November 2018

#Euroneymoon - Zaanse Schans & Rijks Museum

Gue pernah baca sebuah quote dari John Green tentang Amsterdam. Bunyinya kira-kira begini;
Some tourist think Amsterdam is a city of sin. But in the truth, it is the city of freedom. And in freedom, most people find sin.
Apakah betuuul adanya? Let's find out.

-

Sebetulnya, rencana kami hari ini cuma strolling around the city, sebelum nanti malem bertolak kembali ke Paris. Berhubung cuma satu destinasi, bisa deh tuh, bangun siang, check out deket-deket jam 11, baru jalan. Santai cem di pantai, pokoknya.

Apa mau dikata, pas lagi nanya-nanya sama Shandymugari GA kesayanganku yang udah 548 kali bolak-balik AMS doi bersikekeuh gue dan Roy kudu ke Zaanse Schans. Kenapa harus? Karena cakep banget, katanya. Trus dosa deh rasanya, kalo nggak ke sana. Maka berembuklah gue sama Roy. Jalan nggak, nih? Jauh euy, soalnya. Jadi kalo emang mau, kami kudu siap-siap sekarang.

Emang dasarnya ambisyus dan ogah rugi ya, maka meski badan masih lelah, berhubung kami juga nggak ngapa-ngapain di hotel dan udah kebangun dari jam setengah delapan, akhirnya manut deh sama petuah ceh Shand. Zaanse Schans resmi nyelip di itin kami.

Kelar bebenah dan check out, kami nitipin koper di semacem AirBnB buat koper, yang letaknya di sekitaran Amsterdam Central, lalu menuju stasiun untuk ngejar kereta ke Zaanse Schans. Sambil nunggu, gue dan Roy masih sempet beli sarapan di kios-kios yang berderet di stasiun. Abis makan, kami naik ke peron, dan lompat masuk ke kereta.


Perjalanannya sendiri makan waktu lebih kurang satu jam, termasuk jalan kaki dari stasiun menuju ke wind mill-nya. Gue sempet was-was, karena pas kami sampe, posisinya mendung, dan sempet gerimis kecil. Zonk banget kan ya, kalo sampe sini ujan.

Hamdalah, unggak lama kemudian, rintik-rintiknya betulan berenti, meski anginnya masih kenceng banget, macem ada kipas angin raksasa dari segala arah. (Lah kan emang? *dry laugh*)




Meski kepala ini rada pusing karena anginnya heboh bener, pasangan renta ini sungguh hepi (kusampe lil cry sangking terhura). Last minute decision yang berbuah eyegasm yang berkali-kali kami alami selama di sana.

Paling yang rada ribet cuma pas mau foto aja ya, mengingat poni gue rata, dan hembusan topan di sana sungguh nggak nolong dalam mengambil foto yang cakeup. Walhasil foto puluhan kali, yang poninya bener cuma tiga. Ciyan.

solusi (the name is also effort)

Puas main di Zaanse Schans, kami naik kereta untuk balik ke AMS Central, kemudian langsung menuju ke Rijks Museum.


tentu tak lupa foto di mari

Jujur, gue nggak punya ekspektasi apa-apa soal Rijks Museum. Nggak sempet browsing, nggak nyari tau, apa sih, isi dan koleksinya. Pangkal masalahnya, seluruh waktu dan perhatian gue tercurah pada Louvre. Semacem ke-outshined, Rijks Museum-nya.

Karena gue nggak tau apa-apa, jadi gue memutuskan masuk tanpa ekspektasi apa-apa juga. Kalo suka ya sukur, nggak suka ya udah. Seandainya elek, toh masih ada Louvre. Amanlah, pikir gue.

Eh, tak disangka dan diduga, gue malah jatuh cinta berat. Buat gue pribadi, Rijks Museum sangat menarik dan menyenangkan, sampe gue nyeseeel nggak sewa audio guide dan nggak sempet ngintip-ngintip website-nya sebelum kemari. So many interesting arts and intriguing histories waiting to be discovered here.


famous 'The Night Watch'



my personal fav: Shipwreck off a Rocky Coast by Wijnand Nuijen

Meski gue bukan anak seni yang ikrib sama karya-karya pelukis hebat macem Rembrandt, Jan Willem Pieneman, Johannes Vermeer dst dsb, gue betaaah sekali ngeliatin karya-karya mereka di Rijks. Seringnya sambil sok-sok bikin interpretasi pribadi (yang ngawur).

Beberapa kali, kami beruntung papasan dengan tour guide yang lagi ngebedah simbol-simbol dan makna dari sebuah lukisan, which I really really love to know. Akhirnya pasang muka tembok, ikut nyimak biarpun berdirinya rada jauh, soale ndak ikutan bayar.

*nguping diem-diem*

Selain lukisan, masih banyak koleksi yang ditawarin sama Rijks. Antara lain, antiques, patung, miniatur kapal, senjata, dan yang paling berkesan buat gue: doll house. Ku langsung teringat Annabelle.


erm...

Satu lagi bikin Rijks terasa lebih spesial buat gue: kepingan sejarah Indonesia.


Istana Bogor, pada masanya


Oh, and did I mention Rijks has a very beautiful library?

*setel lagu Something There*

Ketika kunjungan berakhir, gue sedih sangat karena belum pengen pulang, sementara udah jam 2 siang dan kami belum makan. Tinggal nunggu masup anginnya aja. Berhubung suamiku udah cranky berat, jadilah buru-buru nyari pintu keluar.

Semoga berjodoh kembali di kemudian hari, ya, Rijks. 'Till next time!


(to be continued)

No comments:

Post a Comment