Friday, 8 June 2018

#Euroneymoon - HI, AMS!

Kami menuju ke Amsterdam dengan menggunakan bus, masih sama dengan Paris-Belgia, tapi beda travelnya. Kalo kemaren itu kami pake Euro Lines, kali ini, nyobain FlixBus. Kalo menurut Roy, berdasarkan harganya, FlixBus ini slightly di bawah Euro Lines secara harga dan kualitas. Tapi kenyataannya enggak, lho.

Bus kami kali ini malah lebih bersih dan bagus ketimbang punya Euro Lines. Udah gitu, sense of humour driver-nya pun oke punya. Doi orang Belanda yang murah senyum, suka bercanda, dan kaya fun facts tentang negara kelahirannya sambil sesekali ngeledek orang Belgia. Perjalanan sekitar dua jam jadi sama sekali nggak kerasa, secara ditemenin juga sama keindahan pemandangan yang biasanya cuma gue liat di kotak susu di kanan dan kiri jendela.

Kami sampe di Amsterdam dan langsung disambut sama angin kenceng dan udara dingin yang oddly seger banget. *betah*

Berhubung udah jam 12, kami makan dulu di Julia's Pasta yang ada di stasiun. Mengingat pilihan ini hasil cap cip cup, gue hepi pisan karena ternyata enaaak. Selesai makan, langsung beli tiket kereta, kemudian menuju ke Amstelveen untuk check in.

Sepanjang perjalanan ke hotel, dari jendela kereta, kami disuguhi menariknya landscape kota Amsterdam. Rumah, cafe, dan toko yang berderet rapih, sepeda-sepeda yang menghiasi jalan raya, pohon-pohon yang berguguran...  somewhere between all of those, I think I fell in love. Rasanya tuh kayak ketemu where you belong, gitu. I just knew. Belum ada 12 jam nginjekin kaki di kota ini, tapi anaknya udah yakin, kalo one day ditawarin pindah for good ke mari, pasti ngangguk sampe kepala mau copot.

Ah ya, di Amsterdam, kami nginep di Ibis Budget Amstelveen. Another score, karena meski agak jauh dari pusat kota, jarak hotelnya betulan selemparan kolor sama station tempat kami turun, dan kamarnya oke untuk ukuran budget hostel. Recommended.

Begitu dapet kunci kamar, kami cuma naro koper, lalu langsung jalan lagi ke Amsterdam Arena. Mas Roy mau bertamu ke rumahnya AFC Ajax. Istrinya hari ini alih fungsi jadi tim dokumentasi (yang kemudian gabut, karena dingin yang berakibat ogah keluarin tangan dari kantong coat *dijiwir*).


Meski kurang paham, gue seneng ngeliat Roy lelarian ke sana ke mari, sambil dengan excited cerita tentang klub bola Amsterdam ini. Mana jadi centil, minta difotoin dengan macem-macem gaya, hihi. Yang abis itu rada bikin meringis cuma pas nontonin doi kalap di souvenir store. Tapi berhubung gue nggak pernah disembur air suci kalo lagi kalap di Disney store, jadi yastralah, gantian. Jatuh kizmin ntar aja urusan belakangan.

Puas belanja dan foto-foto, kami balik ke hotel untuk istirahat. Di perjalanan pulang, nggak lupa mampir dulu ke mini market untuk take away makan malem. Kebetulan ketemu makanan Indonesia, sate ayam dan babi panggang pake nasi. Lumayan deh, buat ngobatin kangen.

Di kereta menuju hotel, lagi-lagi mata gue nggak bisa lepas dari pemandangan kota Amsterdam kala matahari mulai tenggelam. Ngedadak jadi sedih, karena gue tau, ninggalin kota ini pasti bakalan terasa beraaat sekali.

Sampe hotel, kami makan di ranjang, sambil buka jendela lebar-lebar. Melototin bulan di langit sambil ngunyah babi panggang dan sate ayam tanpa tusuk. Nggak romantis sama sekali, tapi aku kok ya seneng, hehehe.

Kelar makan, gue minum obat flu, lalu pules bobok. Roy masih sempet nyicipin bir lokal setengah kaleng, sebelum akhirnya nyusul ngorok.

Goede nacht, Amsterdam!

No comments:

Post a Comment