Thursday, 17 May 2018

#Euroneymoon - Magical Ghent

Sejak masih di Jakarta, Roy udah macem sales yang gencar banget promosi kalo lagi ngomongin Ghent. Bermodal foto dari gugel, doi ngasih gambaran betapa cantiknya tempat yang digadang-gadang sebagai one of the best night view in the world.

Berhubung emang doyan lampu night scenery, gue langsung ikutan excited. Maka masuklah Ghent ke dalam to go list kami di Belgia. Lokasinya yang agak jauh karena beda kota bahkan nggak menyurutkan semangat.

Berangkat dari hotel sekitar jam 10 pagi, kami menuju ke stasiun central dan beli dua karcis kereta. Anyway, kali ini, stasiunnya cakep betuuul. Mirip deh, sama Grand Central Station. Jadi langsung pengen menjelma jadi Serena...

Tapi tentu ndak iso, ya. (ya nurut laaaw?)


Kereta kami dateng sekitar 15 menit kemudian. Berhubung agak sepi, gue sama Roy berhasil duduk berhadap-hadapan dan dua-dua-nya dapet deket jendela tanpa perlu hompimpa. Perjalanan menuju ke Ghent sendiri makan waktu kurang lebih satu jam.

Begitu sampe, karena perut udah keroncongan, kami nyalain modem Passpod buat nyari resto terdekat. Ketemulah sama Pizza Hut yang jaraknya kebetulan masih bisa ditempuh dengan jalan kaki. Kebetulan lagi pengen makan Pizza pun. Yaudah, cucmey, deh.

Kami cuma pesen satu loyang medium, namun berakhir dengan tiga loyang, karena ternyata lagi ada promo buy 1 get 3. Buset, nggak takut bangkrut kayaknya. Nih, Pizza Hut Indonesia, mohon dicontoh dong...

Gue sama Roy cuma kuat ngabisin seloyang, yang dua kami bawa pulang. Mayan deh, buat bekel kalo ntaran laper.

Berhubung musti di sini sampe malem, agenda kami hari ini santai banget. Betul-betul cuma jalan-jalan sambil liat-liat dan nikmatin suasana. Oh ya, tak lupa berkunjung ke the famous St. Bavo's Cathedral. Salah satu dari banyak Gereja Katolik di Eropa yang sanking bagusnya, bikin gue pingin pindah agama.


Kami sempet jalan-jalan juga ke dalem, tapi berhubung nggak boleh foto-foto jadi monggo di google aja ya kalo penasaran. Gue pribadi sukaaa banget dengan aura Gerejanya. Meski tua, tapi masih terawat dengan baik, juga kaya sejarah dan artsy banget. Kayak masuk rumah ibadah tapi di mash up sama museum, trus di mash up lagi sama galeri seni. Tripling the excitement and curiosity, too.

Dari St. Bavo, kami masih sempet berkunjung ke beberapa Gereja lainnya, sambil diselingi piknik dan foto-foto. Setiap suduh di kota ini yawla Tuhanku, cakepnya khan maen.


dustman

megah banget, ya?

gimana nggak cinta?

gimana nggak cinta? (2)

gimana nggak cinta? -Roy (woelaaaah)

Udah keliling-keliling kota sampe kaki pegel, kok ya tetep masih jauh betul ke malem. Karena itu langsung deh menuju ke destinasi kami selanjutnya, Castle of the Counts (Gravensteen)! Dari pada mati gaya, mendingan ke museum!

Di samping itu, bentuk bangunannya begini:


Gimana nggak bikin penasaran dan pengen masuk, coba? Jiwa prinsesku emang nggak boong ya, selalu bergelora tiap liat istana boneka.

Setelah beli karcis, kami masuk dan disambut sama arsitektur berbatu-batu, pintu kayu tebel, dan tangga kecil melingkar. Pencahayaannya minim di beberapa tempat, sehingga sukses bikin bulu kuduk berdiri di banyak kesempatan. Apalagi setelah tau tempat ini bukan rumahnya prinses sama prins carming, regardless bentuknya yang cukup meyakinkan.

Sebaliknya, Castle of the Counts justru berfungsi sebagai benteng, ruang sidang, kantor juru tulis, penjara bawah tanah, juga tempat penyiksaan tersangka. Anything, but fairy tale.





Yang paling berkesan buat gue (although I'm not sure in a good way) adalah deretan torture instrument di sana. Sungguh bukti betapa kreatifnya ciptaan Tuhan paling mulia ini... in the worst way ever. Dari yang standar, sampe yang susah buat dibayangin tanpa ngompol, semua lengkap. Guillotine, tang yang dibuat khusus untuk motong jari, sampe barel berbentuk segitiga yang fungsinya buat ngedudukin orang dengan ember terikat di kaki. Lengkap dengan informasi lainnya seperti seberapa lama manusia yang disiksa dengan instrumen tersebut dapat bertahan.

Basically? Gruesome.

Gue cuma tahan sepuluh menit di area ini, karena setelahnya badan dan perasaan gue nggak enak. Nggak tau karena takut, atau pileknya mulai jadi, but either way, we headed to the nearest exit.




Tujuan selanjutnya adalah Graslei and Korenlei. Rencananya pingin duduk-duduk di pinggir sungai sambil nungguin gelap. Toh ternyata banyak yg piknik juga, ya ikutan deh. Sayangnya, cuaca ndak berpihak pada kami. Pantat baru nempel 15 menit, mendadak ujan deres.

Gue dan Roy lari-lari untuk berteduh di pinggiran toko. Meski dalam posisi kedinginan, lepek, dan bolak-balik tutup kuping karena takut gledek, kayaknya ini salah satu dari seupil momen romantis kami, deh. Tentunya nggak seindah di film ya, wong bentukan gue udah kayak kucing kecebur got. Tapi tetep sureal dan manis ternyata rasanya, giggling (gegara pintu otomatis yang kebuka tutup terus gara-gara kami berteduh di pintu masuk) sambil didekap erat biar anget, ditambah sesekali C3, alias colong-colong cium. Ciyeee.

Begitu hujannya mulai mereda, kami melipir ke Quick, fast food franchise yang jual hot chocolate. Juga demi istirahat sejenak dari terpaan angin dingin. Di antara cokelat panas dan riuhnya hujan di luar, kami ngobrol banyaaak. Bermula dari yang ringan seperti inget-inget pertemuan pertama, dunia blogging sekarang, dan tujuan travelling selanjutnya, sampe tentang mimpi dan harapan kami berdua. Deket, deh, rasanya.

I think it was the most pure 2,5 hours we talked without checking our phone. Betulan nyimak, denger, dan berakhir dengan discover hal baru tentang pasangan ternyata menyenangkan ya. Rasanya kayak balik ke jaman PDKT.

Di luar, ujan udah berenti, dan matahari udah sepenuhnya tenggelam. Kami bersiap balik ke Graslei and Korenlei. Finally, time for Ghent night scenery! Kyaaaa!




Those photos, even the ones I saw from google, seriously didn't do any justice. Aslinya jauuuh, jauuuh lebih indah dari yang bisa kamera tangkep. Sampe gue ngerasa perlu diem, khusuk selama beberapa menit untuk ngerekam dalam ingatan semua yang mata gue liat saat itu.

Makin malem, kota ini juga makin 'hidup', thanks to beberapa cafe dan jazz bar di sekitar sungai. Banyak juga yang duduk-duduk di pinggir sungai, piknik dengen bekel beer dingin. Atmosfer dan scenery-nya emang mendukung banget, sih.

It was one of the happiest night of my life. Gue dan Roy nyusurin pinggiran sungai dan jembatan, gandengan tangan sambil menikmati suasana malam.

Kalo bukan karena gue mulai menggigil karena suhu yang semakin rendah, sampe pagi juga anaknya ogah pulang. There's no way gue ikhlas ninggalin tempat ini. Tapi, berhubung besok kami akan bertolak ke AMS, Roy kekeuh gue harus istirahat lebih awal. Dari pada sakit.

So, we bid the hardest good bye, and headed back to the hotel. Sambil janji dalem hati, suatu hari nanti, musti balik ke sini lagi. Ya hun ya? Iyaaaa.

No comments:

Post a Comment