Tuesday, 6 February 2018

#Euroneymoon - Walt Disney Studios Paris (Part I)

It was a cloudy morning in Paris. Mendung-mendung durjana, yang berakibat suhu udara turun sampe 10 drajat celcius. Berkabut sepanjang mata memandang. Berasa abis fogging nyamuk dbd... tapi di puncak.


Meski kedinginan, gue dan Roy tetep sampe on time di Walt Disney Studios. Bener-bener udah nangkring di gate setengah jam sebelum opening hours! Pencapaian cetek yang entah kenapa selalu membahagiakan.

Tentu, as previously told, gue langsung geret Roy ke booth fastpass Ratatouille. Ternyata, meski Disney Parks belum 'resmi' buka, orang-orang yang mulai masuk udah berkerumun membentuk antrian di depan tempat pengambilan fastpass dan jalur masuk reguler. Wahana favorit sih, ya. Nggak heran sampe segini hebohnya.

Gue dan Roy ikutan antri sambil ngitung mundur. Detik-detik menjelang jam 10, gue udah kesulitan nahan diri untuk nggak lompat-lompat sambil joged girang. Tangan Roy yang jadi korban karena abis gue gruwek demi menyalurkan excitement berlebih ini. MY GAAAWD! Sebentar lagi neng, sebentar lagi!

Namun 15 menit kemudian, kegembiraan itu langsung berganti jadi kekalutan. 10.15, dan booth fastpass maupun antrian reguler belum juga dibuka. This can't be right. Disney Park selalu punctual. Something is wrong, I know it.

Nggak cuma gue, kegelisahan juga mulai menghinggapi orang-orang di sekitar kami. Apalagi ketika beberapa cast member mondar-mandir dan bolak-balik bicara entah sama siapa lewat telpon. Seorang turis bule yang antri persis di depan kami ngeluarin hp dan ngecek aplikasi Disneyland Paris, langsung pucet pasi mendapati keterangan 'temporarily interrupted' pada Ratatouille.


"I checked the apps this morning. It was available. They just changed it."

Ada tangan tak terlihat yang serasa nembus badan untuk ngeremes hati ini sampe remuk. Penyesalan mulai berputar-putar di kepala gue, mengingat gue familiar sama kejadian ini. This is Toy Story Mania all over again! Harusnya kemaren antri aja! Gue udah pernah baca beberapa cerita turis yang kemari dan nggak berjodoh sama wahana ini karena tiba-tiba under maintenance. It happens quite often, apparently. And I know that alreadyWhy did you risk it yesterday?

Beberapa orang di line kami mulai menyerah ketika pukul 10.45, belum ada tanda-tanda keadaannya akan berubah. Bule di depan gue sempet bilang, "biasanya kalo udah hampir sejam begini, kemungkinan besar mereka bakal sekalian nutup wahananya seharian", sebelum keluar antrian dan ngajak temennya beranjak dari Toon Studio.

Genangan mulai nongol di pelupuk mata gue. Nggak tau harus sedih, nyesel, marah, atau takut. Roy hati-hati nanya apa gue punya back up plan kalo-kalo Ratatouille emang bener ditutup hari ini. Gue geleng pelan. How can I have one? Wong wahana ini adalah tujuan utama gue. One of the reason I fly to Paris at the first place. Rencana cadangan kalo tujuannya ternyata nggak bisa digapai? Idk, maybe go back to hotel and cry?

Jam 11.15, tiga cast member masuk untuk ngecek kondisi booth fastpass. Mereka ngetes nge-print tiket fastpass, dan masih nunjukin muka bingung dengan hasil yang keluar. Gue makin snewen. Apalagi mendapati semakin banyak orang yang keluar antrian karena merasa buang-buang waktu. Should we give up?

Ketika gue nanya pertanyaan yang sama ke Roy, dia cuma gandeng tangan gue sebagai jawaban. Mungkin nyerahin keputusannya ke gue. Whatever you decide, I'm in, luv. (daripada dicakar kan...)

Gue lagi perang batin ketika mendengar bunyi "klik", semeter dari tempat gue berdiri. Gue ngintip dari punggung orang di depan gue, mencoba menerka apa yang terjadi, dan kenapa semua orang tepuk tangan. Di situlah gue liat cast member yang tadi wara-wiri, membuka velvet rope dan mempersilahkan kami masuk untuk ambil fastpass. Juga pintu masuk wahana dari regular line.

OMG THEY LET US IN!

Gue langsung meluk Roy, sambil nunggu giliran kami ngambil fastpass. Baru deh meweeek. Yawlaaa, badai akhirnya berlalu! Wahananya udah betul, mesin fastpass-nya pun! Gue nggak tau apa yang dilakukan sama mas-mas dan mbak-mbak yang dari tadi bolak-balik, but bless you, people! *salimin satu-satu*

Kami keluar dari pelataran Ratatouille dengan dua buah fastpass yang usaha dapetinnya ter-drama sepanjang sejarah. Untung ceritanya happy ending. Jadi terasa worth it, deh. Buktinya yang tadi gundah gulana aja sekarang udah balik ceria, ikut humming Disney soundtrack yang mengalun dari speaker yang tersebar di seluruh penjuru taman.

Crush Coaster jadi tujuan kami selanjutnya, sambil nunggu, karena masih ada waktu sekitar satu jam sebelum fastpass kami bisa dipake. Antriannya 60 menit, which is lumayan, tapi berhubung kalo udah sore bisa jadi 180 menit (dan kagak ada fastpass buat nolong), mending telen aja udah kalo sejem mah.


Pas antri, euforia pasca drama Ratatouille masih kentel berasa. Gue nggak berenti sujud syukur dalem hati, sekaligus dengan lebay merasa aku dan Ratatouille ini pasti dari sononya udah jodoh. We're meant for each other! Nikahin jangan, nih? *ditabok Roy biar eling*

Selain bedah kejadian sejam yang lalu selama kurang lebih 5732 kali, kami juga sempet main mini games Crush Coaster di hp masing-masing. Jadi, berhubung antriannya emang terkenal panjang, Crush Coaster nyiapin mini games buat nemenin ngantri. Lumayan lah ya, biar pegel, seenggaknya nggak bosen (-bosen amat).


Ketika giliran kami hampir tiba, jalur antrian mengarahkan kami ke sebuah ruangan yang di-setting sebagai Sydney Harbour kala sunset. Yang nonton Finding Nemo pasti familiar deh. Sampe Seagulls yang nggak berenti bilang "Mine. Mine. Mine. Mine." aja ada. Gemesh.

Lalu kami naik ke turtle shell, kemudian 'nyelem' dan terombang-ambing di dalem arus East Australian Current -- dalam wujud sebuah indoor roller coaster. Oh ya, turtle shell-nya ini bisa muter 360 drajat loh. Jadi ada momen di mana jalannya mundur pemirsa. Seru banget!

Nggak heran Crush Coaster dinobatkan sebagai one of the most popular attraction. Udah unique to Walt Disney Studios Park (satu-satunya di mari doang), wahananya pun 'beda' dan menyenangkan. Pantes antriannya nggak santay shay.

Kelar main, kami keluar dan langsung lari menuju Ratatouille karena fastpass kami udah bisa dipake. Finally, we are so coming, Remi! Uwuwuwu! *tiup terompet*

Bayangin betapa kagetnya gue mendapati area pelataran di depan wahana udah berubah jadi lautan manusia, sementara garis antrian reguler di samping wahana... kosong melompong. Perasaan gue mulai nggak enak, tapi kami tetep mendekat ke pintu masuk. Di sana, ada seorang petugas sedang dikerubungin orang-orang yang meminta penjelasan mengapa velvet rope kembali terpasang.

"Ratatouille is currently under maintenance, sir."

Cuma kalimat itu yang berhasil gue tangkep di tengah bisingnya protes dan lenguh kecewa orang-orang. Lutut gue lemes, jadi gue tinggalin Roy yang mau nanya lebih jauh terkait fastpass kami– untuk cari tempat duduk.

"Fastpass-nya bisa akan berlaku sampe besok atau lusa, ai, karena mereka belom tau kapan kelar maintenance-nya. Bisa jadi seharian. Nggak apa-apa ya. Kan masih banyak wahana yang lain." ujar Roy hati-hati.

Ada momen di mana gue zonk out beberapa detik, sebelum akhirnya nangis terisak-isak di pelukan Roy.

Ain't this a cruel joke?

(to be continued)

1 comment: