Wednesday, 8 November 2017

#Euroneymoon - Disneyland & Walt Disney Studios Paris (Part I)

Di hari kedua kunjungan kami ke Disneyland Paris, gue udah bertekad nggak bakalan telat. Kali ini kudu on time, nggak pake alesan lagi.

Dengan semangat itu, gue setel weker demi nggak overslept dan kesiangan bangun. Eee, trims to badan-jam-Jakarta, gue dan Roy udah melek dari jam 4 pagi dan nggak bisa tidur lagi. Boro-boro overslept, wekernya aja masih ngorok! Curiganya sih, gegara kemaren udah pules dari jam 7 malem. Walhasil, kesiangan sih enggak, tapi malah mati gaya. Mau ngapain nih, kite? Wong disnilennya baru buka jam 10 pagi. Kalo jam segini udah berangkat mah, bisa-bisa kami kesaru sama tukang sapu.

Jadilah lanjut gegoleran di ranjang sambil nungguin matahari terbit. Sempet buka laptop dan kerja dulu pula. #LoyalitasTanpaBatas #DemiCicilanTiketPesawat

Baru sekitar jam tujuh (yang bahkan belom terang-terang amat), kami turun dari tempat tidur. Roy jalan beli sarapan, sementara gue mandi dan siap-siap. Deuuu si centil, dandannya minimal banget dua jem!

-

nongol ugha mikimosnya! coat-nya modal sewa di 4RentJKT

Berhubung kami nyampe pas Disneyland baru buka, suasananya emang masih relatif sepi. Gue manfaatin ini untuk foto-foto di depan Sleeping Beauty Castle. Soale siangan dikit, area ini bakalan padet bin penuh. Jadi, gunakan kesempatan ini sebaik mungkin!


Frontierland seharusnya jadi tujuan kami selanjutnya, untuk ngambil fastpass Big Thunder Mountain. Berhubung antriannya selalu bak ular naga yang panjang bukan kepalang, nggak ada pilihan lain kalo mau main BTM selain pake fastpass. Ya kecuali redho berdiri antri 120 menit sih. Sok mangga. Gue sih makazeh.

Tapi tentu, objection ini langsung terlupakan begitu kami lewatin Fantasyland, dan ngeliat waiting time meet and greet Mickey Mouse 'cuma' 60 menit. Lah, sejem kok cuman? Iyo, secara rata-rata panjang antrian di mari 150 menit aja, kthxbhay. Makanya sejam mah itungannya pendek.

Kami masuk dan ikut ngantri, ditemenin screen gede di bagian depan yang nonstop muterin film kartunnya Mickey Mouse & Friends. Lumayan deh. Jadi nggak terlalu bosen, walopun tetep lumayan pegel. Hihi.



Yang bikin hati ini meleleh tuh, ngerasain gimana Mickey Mouse bener-bener memperlakukan gue layaknya Minnie. Dipeluk, dicium tangannya, sampe diajak dansa. Padahal gue bukan bocah, loh. Manis yaaa?

Setelah dadah-dadah sama Mickey, gue sama Roy langsung lari ke Frontierland sambil berdoa fastpass BTM belom abis. Eh namanya rejeki anak soleh ya, masih dapet! Ole ole!

Begitu fastpass udah di tangan, kami lanjut ke Pirates of the Caribbean, karena menurut apps, antrian wahananya pendek. Mabelas menit aja sis. Cuss!



Pirates of the Caribbean di mari plek-plek persis sama dengan yang ada di Tokyo Disneyland. Bahasa narasinya aja yang beda, dan tentu, kecanggihan animatroniknya. Entah perasaanku saja atau emang bener, rasanya yang di Jepang kok lebih luwes, yaa...

Anyway, dari sana, kami lewat Fantasyland lagi, dan ketemu Queen of Hearts dan Tweedledee Tweedledum! Lagi-lagi aku terkesima. Pasalnya, nggak semua Disney Parks ngadain meet and greet sama Disney Villains. Apalagi ini belum Halloween. Berhubung ini kesempatan langka, nggak boleh disia-siain, dong.

di mana bandoku?

Meski Queen of Hearts hampir merebut suami (abis Roy keknya mau #insekyur) dan bandoku, it was really lovely meeting them. Gue seneng karena tingkah mereka lucu, tapi di saat yang sama tetep berusaha evil dan usil, walopun komunikasinya cuma pake gerakan tubuh.

Kelar foto, karena laper, kami makan siang dulu, sebelum balik ke BTM karena fastpass-nya udah bisa dipake. Dengan perut kenyang, kami menuju ke Thunder Mesa, kota pertambangan milik Henry Ravenswood.

Semuanya bermula dari pembukaan sebuah pertambangan di atas tanah suci milik Native American lokal yang digagas oleh Henry. Mereka yang merasa lahannya direbut, marah dan ngutuk Thunder Mesa. Akibatnya, terjadilah sebuah gempa bumi besar yang menewaskan Henry dan sebagian besar anak buahnya. Thunder Mesa terlupakan, dan jadi kota mati pasca gempa bumi tersebut.

Lucunya, kereta dari pertambangan milik Henry kadang jalan-jalan sendiri, padahal nggak ada engineer atau crew yang terlihat bertugas. Udah gitu, si possessed train ini ternyata 'menerima' penumpang. Berani icip naik?


Definitely my favorite ride at Disneyland Park Paris! Selain karena background story-nya yang klasik tapi tetep bikin merinding disko, scenery-nya pun cantik pisan. Track yang nggak terlalu ekstrim membuat wahana ini tetep thrilling, tapi nggak bikin pusing. Kecepatannya pun pas. Tetep ngebut macem jet, tapi di saat yang sama, memastikan yang naik tetep bisa engage sama ceritanya.

Paham deh, kenapa antriannya selalu horor dan fastpass-nya paling cepet abis. Bagusnya begini amat!

Dari BTM, kami menuju ke Sleeping Beauty Castle untuk menuntaskan agenda salim sama Maleficent yang terkurung di ruang bawah tanah istana. Yang lebih menakjubkan lagi, wujudnya bukan manusia, tapi...

tadaaa!

Sesekali, suara aumannya yang berwibawa akan menggaung, kemudian menggema ke seluruh gua. Trus doi juga bisa bangun dan negakin leher dan kepala, meski pergerakannya terbatas. Aku takjooob!

Sekeluarnya dari ruang bawah tanah istana, gue dan Roy sempet bingung mau ngapain lagi, karena actually, semua wahana dan show yang kami incer udah kesampean semua. Tinggal fireworks, yang mana masih jauuuh banget ke malem.

Jadi, ngapain nih ya...

Lagi asik diskusi, nggak sengaja liat meet and greet Donald Duck. Eh, antriannya nggak terlalu panjang! Langsung deh ikutan.


Isn't he the cutest? Mana bolak-balik melukin akoh melulu. Jangan-jangan naksir? *dicekek Daisy*

Meanwhile, ternyata abang (((ABANG))) di dalem kostumnya be like:


Berhubung bener-bener udah mati gaya di Disneyland, gue usul ke Roy untuk pindah aja ke Walt Disney Studios (WDS). Sekalian nyicil naik beberapa wahana di sana. Toh tiket kami memang bisa back and forth, trus pintu masuk Disneyland dan Walt Disney Studios Paris juga bersebelahan, meski ndak persis, tapi nggak jauh kok. Nggak kayak Tokyo yang jarak kedua parks-nya emang lumayan.

Awalnya, rencana kami ke Walt Disney Studios harusnya hanya satu hari, di hari terakhir. Gue kasih sehari doang, karena secara perbandingan wahana dan show, WDS emang cuma setengahnya Disneyland. Nggak sampe, malah. Tapi toh kami punya waktu sampe kembang api nanti malem. Sekalian cek ombak, deh.


Baru aja kelar scan barcode tiket masuk di gate, mata gue langsung tertuju pada kerumunan orang di tengah-tengah front lot. Pas ngintip, ternyata Pluto! Gue langsung berusaha mendekat dong ya, dan begitu Pluto ngeliat minimos jadi-jadian ini, aku langsung ditomplok :')

LUVV

Another gemay moment. Ingin rasanya masukin kerdus trus bawa pulang!

Selanjutnya, kami lari-lari ke Art of Disney Animation, tempat meet and greet sama Moana akan digelar. Sebenernya masih empat puluh lima menit dari jadwalnya sih, tapi gue yakin udah pada mulai antri mengingat; 1) Filmnya masih baru, jadi karakternya belum ada di semua Disney Parks, 2) Menurut jadwal, nongolnya cuma satu atau dua kali per hari, dan masing-masing hanya sejam, 3) Tertulis limited, yang artinya antrian bisa ditutup kapan aja sama cast member.

Sampe di sana, kami menggabungkan diri pada antrian yang bener aja lumayan panjang, dan didominasi oleh dedek-dedek gemes dengan dress prinses atau kemben oranye dan rok jerami. Aku satu-satunya tante-tante shameless berkostum Minimos! (ya ngapain bangga juga sih)

Sambil nunggu, Roy minta tiket gue untuk kembali disimpen di dompetnya. Reflek, gue ngerogoh kantong coat gue. LHO, nggak ada. Di kantong resleting tas bagian belakang pun nggak ada. Sampe akhirnya gue bongkar seluruh isi tas, tetep nggak ada di manapun.

Muka gue langsung pucet. Tangan dingin, kaki lemes.

Tiket gue ilang!

(to be continued)

No comments:

Post a Comment