Friday, 27 October 2017

#Euroneymoon - Disneyland Paris (Part I)

Nggak seperti trip kami yang sebelum-sebelumnya, di #Euroneymoon, kunjungan ke Disneyland ada di chapter pembuka. Sebenernya, nggak pernah direncanain juga sih. Cuma karena biasanya Disney Resort terletak di pinggiran kota, Roy cenderung ngejadwalin ke sana di tengah atau di penghujung trip, supaya kami bisa ngabisin destinasi di tengah kota, baru abis itu bergerak ke pinggir. Jadi yang deket dulu, baru yang jauh.

Nah kali ini, berhubung di tengah-tengah trip kami akan pindah ke dua negara, durasi kami tinggal di Paris terbagi menjadi dua. Di awal dan di akhir. Awalnya, gue dan Roy otomatis pilih akhir trip untuk Disney Parks. Namun, pas ngintip website resminya Paris Disneyland, ternyata lagi ada promo dapet 3 days pass dengan tarif 2 days pass, dan 4 days pass dengan tarif 3 days pass. Untuk one day pass, ada promo tarif anak-anak untuk tiket orang dewasa. Pretty good deals, huh?

Masalahnya, promo itu cuma berlaku sampe 27 September 2017. Jadi day one visit-nya maksimal tanggal 27. Demi ngejar promo itu, akhirnya Disney Parks-nya dipindah ke awal trip. Nggak sampe di situ, turun pesawat langsung cusss ke sana! Hardcore.

Jadi begitu kelar check in di hotel, naro koper, dan ganti baju, meski badan ini rasanya mau patah abis dilipet selama 15 jam di pesawat, kami kembali lompat ke kereta. We're ready for Disneyland Paris!

-


Meski waktu udah menunjukan pukul 12.00 ketika kami sampe, gue udah bertekad nggak bakalan bete dan misuh-misuh. Pokokke, santai aja, deh. Mau berenti dulu buat foto-foto, ya mangga. Nggak dapet fastpass yaudah, toh masih ada besok. Ngantri panjang ya hayuk, selama kaki kuat mah jabanin ae. Pokokke selow, nggak ambisius sampe lelarian -mengingat stamina kami masih belum betul-betul pulih- tapi tentu tetep pake strategi, supaya sempet main semua wahana inceran, nonton show, dan foto sama karakter. *keluarin jadwal yang gue bikin sambil semedi tiga hari tiga malem*

Rides - Hyperspace Mountain

Our very first ride. Begitu masuk, langsung belok ke Tomorrowland, trus liat antrian HSM cuma 5 menit. Belok masuk!


Hyperspace Mountain ini sebenernya upgrade version dari Space Mountain, salah satu indoor roller coaster legendaris Disneyland yang mengambil tema luar angkasa. Obvious banget lah ya, Space (luar angkasa) dan Mountain (semua generasi awal roller coaster di Disney Parks belakangnya pasti ada mountain; Big Thunder Mountain, Splash Mountain).

Bedanya, kalo Space Mountain menawarkan perjalanan ke outer space, Hyperspace Mountain justru menyuguhkan pertempuran antara X-Wing Starfighters dan TIE Fighters dari film Star Wars. Setting-nya sama, gelap gulita, hanya ada penambahan laser effect dan scoring untuk Hyperspace Mountain.

Do we love it?

Maybe, kalo gue nggak naik ini dalam posisi jetlag. Kombinasi long haul flight, kurang tidur, dan roller coaster ekstrem? Pusing dan eneg :)) *balseman*

IMO, gerakan vehicle-nya juga rada kasar, secara turun-turun kepala gue benjol karena berkali-kali kebentur pengamannya pas belokan curam.

Walk Thru - Les Mysteres du Nautilus (The Mysteries of the Nautilus)

Inget sama wahana 20.000 Leagues Under The Sea-nya Tokyo DisneySea? Nah, attraction ini semacem sequel-nya. Kalo di 20.000 Leagues Under The Sea kita nyelem ke laut dalam, di Les Mysteres du Nautilus, kita diajak jalan-jalan ke base camp-nya Captain Nemo.

Not as fun as the ride, but you can see the giant squid attacking from the outside, which is pretty cool (aaand scary).

Character Greeting - Jasmine & Aladin

Both of them, at the same time. That's new to me.

Di Disney Parks yang udah gue jajaki (apeee), kebanyakan prinses nongolnya sendirian aja. Ngerti sih, berhubung yang familiar biasanya emang cuma sang putri. I mean, siapa yang tau nama pangerannya Aurora? Pangerannya Snow White? Atau pangerannya Cinderella? (No, it's not 'Prince Charming'. That poor guy actually has a name.)

Makanya gue lumayan surprise menemukan mereka berdua di sini. Seolah nggak cukup sampe situ, keduanya sangat ramah dan chatty. Gemey.


Rides - Phantom Manor

Alkisah, tersebutlah seorang gadis muda dan cantik bernama Melanie Ravenswood. Melanie adalah anak dari Henry Ravenswood, pendiri Thunder Mesa Mining Company.

Berhubung kembang desa, tentu hati Melanie udah ada yang punya. Tunangan dese adalah seorang insinyur kereta yang kepengen bawa pergi Melanie dari Thunder Mesa (Frontierland). Tapi kisah cinta mereka nggak dapet restu bapakke Melanie.

Malangnya, sang bapak juga nggak bisa apa-apa, karena dese dan sang istri meninggal dalam gempa bumi yang dicurigai karena kutukan di pertambangan (ada yang inget ceritanya BTM)?

Setelah bapakke isdet, akhirnya Melanie sampe di hari pernikahannya. Namun ternyata, takdirnya emang jauh dari happily ever after. Pas Melanie lagi siap-siap di kamarnya, seorang Phantom menyelinap ke dalem rumah, kemudian menggiring sang tunangan ke loteng. Di sana, dia gantung diri.

Melanie yang udah pake gaun pengantin, duduk sendirian di ballroom nungguin tunangannya. Waktu terus berlalu, bukannya move on, ini anak kekeuh tunangannya bakal balik. Jadi, sambil terus megangin buket bunganya, doi keliling-keliling rumah tanpa tujuan, sambil nyanyi-nyanyi lagu sedih tentang kekasihnya yang isgon.

Sampe sekarang, nggak ada yang tau apakah sang Phantom adalah arwah Henry Ravenswood yang gentayangan, atau murni hantu biasa. But we do know, its evil spirit slowly takes over the manor.


Sebenernya, Phantom Manor adalah Haunted Mansion yang di-upgrade. Kalo pernah naik keduanya, pasti ngeh ada beberapa scene yang kelewat mirip untuk sekedar disebut kebetulan. Hanya, Phantom Manor emang lebih dark secara theming maupun deliveri.

Berhubung doyan dark ride, tentu gue terpesona sama Phantom Manor. Selain detail yang luar biasa dari area antri, pre-show, sampe pintu keluar, ceritanya sendiri unik dan punya daya tarik. Masih suitable pula buat penakut kayak gue. Nggak sampe bikin pipis di celana lah.

My favorite scene; seance room, the wedding ballroom, and Melanie's Boudoir.

Ride - Indiana Jones et le Temple du Peril

Begitu sampe, gue sempet agak syok. Loh, kok roller coaster?

Eike kira mah dark ride + drop kayak yang di Tokyo Disneysea, makanya sempet galau setengah mati begitu ngecek Paris Disneyland Apps di pertengahan September, dan menemukan fakta bahwa wahana ini maintenance. Tidaaaak!

Untungnya, dua hari sebelum jadwal kami ke sini, maintenance-nya udah kelar, dan Indiana Jones et le Temple du Peril dibuka kembali seperti sedia kala.


In short, ride ini ya... roller coaster. Nggak ada bekgron stori yang gimana banget. Hanya abandoned base camp, tangga menuju temple, kemudian mine cars sebagai 'kendaraan' untuk mengelilingi reruntuhan temple. Quite simple.

Yang menarik malah justru sejarahnya. Di tahun 2000, wahana ini pernah diubah menjadi Indiana Jones et le Temple du Peril: Backwards. Iyes gaes, keretanya dibalik, dan jalannya jadi mundur!

Dengan track yang sama sekalipun, kalo nggak serem-serem amat pas maju, ceritanya bisa lain kalo keretanya mundur. Elemen kejutannya udah pasti bertaburan di mana-mana, secara yang naik nggak bisa mengantisipasi apa yang bakalan terjadi.

Namun entah kenapa, di taun 2004 (hingga sekarang), Indiana Jones et le Temple du Peril dikembalikan ke design awalnya. Keretanya kembali menghadap ke depan. Yaaah :(

(to be continued)

2 comments:

  1. ahhh so envyy ci :(, ga sabar pengen denger kesan diparis gimana yg katanya banyak copet segala macem wkwwk. keep posting ci

    ReplyDelete
    Replies
    1. Will do, nanti akan cerita lengkap deh gimana rasanya kota Paris secara keseluruhan :D Keep reading yaa ;)

      Delete