Wednesday, 25 October 2017

#Euroneymoon - Arrival

"May I have your attention please, passengers of Thai Airways flight number TG436, please board the aircraft immediately, thank you."

That's us! Gue nengok ke Roy, dan mendapati senyum lebar di wajahnya. Setelah sebelumnya bolak-balik nanya sama mbak petugas dan cuma dijawab "Sepertinya delay pak, tapi kami belum tau berapa lama." yang mana menyebabkan gue lumayan ketar-ketir akhirnya kami diperbolehkan naik pesawat.

Begitu sampe di nomor kursi kami, gue langsung terpana sama fasilitasnya. Leg room-nya luas,  recline-nya mayan amat, entertainment on board-nya update banget (Guardians of Galaxy Vol. 2 dan Pirates of the Caribbean - Dead Man Tells No Tales udah ada aja loh), selimut dan bantalnya nyaman, dan yang paling score... ada foot rest! Anak budget airlines macem gue tentu saja norak ya.

"Hun ya ampun filmnya bagus-bagus!"

"Enak ih foot rest-nya. Nggak pegel."

"WAH! Kursinya bisa mundur jauh!"

*kemudian si udik ini ditendang pramugari*

Terbang tiga jam ke Bangkok jadi nggak berasa karena semuanya serba nyaman. Paling makanannya aja yang agak hambar, but hey, maybe it's just me. Pan gue emang selalu bitchy soal in flight meal.

Kami sampe Bangkok sekitar jam setengah 11 malem, telat 45 menit dari waktu yang seharusnya, (no) thanks to delay pas berangkat. Gue panik dong ya, takut ketinggalan connecting flight kami ke Paris. Lari-larian deh di bandara.

Untungnya, flight kami ke Paris ternyata delay juga. Jadi pas banget, begitu sampe gate-nya, gue cuma sempet pipis dan cuci muka kilat, abis itu langsung boarding.

Setelah duduk di pesawat, gue mati-matian berusaha tidur. Meski tentu susah ya. Bahkan dengan perpaduan selimut dan bantal dari pesawat, sebuah kain bau rumah, dan bantal leher kesayangan, gue tetep nggak bisa pules dan rutin kebangun setidaknya dua jam sekali. Sesekali diselingi menatap Roy yang lagi asik ngorok dengan dengki.

Ketika mulai putus asa karena mau dipaksa sekeras apapun mata ini udah nggak mau merem, gue memberanikan diri untuk ngecek flight information. Berapa lama lagi sih nih? Apa jangan-jangan dari tadi baru dua jam?

Ternyata udah sembilan jam berlalu, pemirsa! More or less, tiga jam lagi sampeee! Ole ole ole! Beklah, mari nonton aja kalo begitu. Sambil nunggu abang suami siuman juga dari tidur lelap. *lapin ilernya*

Gue baru nonton sekitar setengah jam ketika Roy kebangun. Ngeliat gue udah nggak tidur, dia ikutan benerin posisi duduk dan pilih-pilih film. We end up watch Pirates together, tapi di screen dan pake headset masing-masing. Tiap mau komen, kudu ngasih kode, nyari tombol pause, buka kuping, baru bisa ngomong. Sungguh riweh buat penonton bawel kayak gue.

Sekitar dua jam sebelum landing, mugarinya bagiin sarapan. Nah yang kali in flight meal-nya semua sukses. Dari appetizer sampe dessert, semuanya enyaaak. Mungkin karena laper juga kali ya. Semuanya tandas gue lahap, tak lupa wadahnya dijilat. Idih.

Kenyang, seger, siap touch down Paris!

Titik-titik cahaya yang nampak abstrak dari ketinggian pelan-pelan mulai membentuk objek, pertanda pesawat mulai merendah, siap untuk mendarat. In that very moment, di tengah gelapnya kabin, sekali lagi gue nengok ke Roy dan ngeliat binar di kedua matanya. Haru, nggak percaya, dan excited, kayak nyampur jadi satu. Gue pegang tangannya, kemudian gue ajak dia ngintip keluar jendela, di mana siluet sebuah kota di pagi musim gugur mulai terbentang.

We make it here, baby. We make it here.

No comments:

Post a Comment