Friday, 15 September 2017

Singapore Trip Feat Geng Hot In Cream - Science Center

"Kayaknya kamu nggak bakalan suka deh, sama Science Center." terngiang kata-kata Roy waktu kami lagi diskusi soal itinerary.

"Soalnya kamu kan anak IPS." sambungnya.

Suamiku itu kadang emang kurang asem, ya.

Tapi, sekarang, di tengah perjalanan pulang menuju hostel dari Jurong yang ternyata jauhnya amit-amit (kemudian Roy bilang, "KAN?"), gue merasa, doi ada benernya juga. Us, girls, didn't enjoy our trip to Science Center that much. Kocaknya lagi, kami semua emang beneran anak IPS. Sedangkan Owen, Davin, dan Roy, keliatan menikmati bener exhibit-exhibit di sana. Nah, mereka semua kebetulan emang anak (dan soon to be anak) IPA.

Jadi, apakah bekgron seseorang berpengaruh terhadap kepuasan mengunjungi sebuah Science Center?

I still doubt it, separo karena gue ogah mengakui bahwa Roy sepenuhnya bener. Separo lagi, karena I enjoyed Miraikan just fine, lho. Kenapa ini enggak (terlalu) ya?

Tebakan sotoyku, sepertinya karena exhibit-nya nggak terlalu banyak yang menarik hati ini. Hampir semuanya 'science' banget. Wait wait, lemme explain, sebelum ada yang nyolek gue pake golok dan treak, "buk, coba buk tengok lagi judulnya...".

Maksud gue, kebanyakan exhibit-nya terkesan serius dan 'buku pelajaran' banget. Ada juga sih, beberapa yang interaktif dan fun, tapi sebagian besar, berhasil bikin gue nguap pas baca penjelasannya. Apakah aku terlalu bodoh untuk berada di sini? (keknya ya...)

Jack & The Beanstalk Iron version... is that you?


Lalu, Science Center Singapore ini entah kenapa terkesan oldies sekali. Biasanya, kan, kalo ke museum sains, rasanya kayak maju beberapa tahun dari peradaban, tuh, karena teknologi di dalemnya yang warbyasak. Nah, I didn't get that sorta feeling here.

Malah lebih berasa kayak di art trick museum...


please excuse tangan tales-ku

Trus, karena kami ke sana di hari Sabtu, Science Center-nya ruameee banget! Mana pas lagi ada event pula. Ada dua big (temporary?) exhibit yang mendarat di hall-nya, yakni glass house dan laser house. Kami sempet nyicipin yang rumah kaca, tapi nggak masuk laser house karena antriannya yang amit-amit. Davin yang udah antri aja sampe balik lagi. Nyerah ah.

Lanjut ke Omni Theatre aja. Berbentuk kayak dome, Omni Theatre menjanjikan pengalaman nonton dengan view 360 derajat. Kebetulan saat itu, kami kebagian jam tayang sebuah digital movies dengan judul Robots.


Perpaduan antara film robot dengan teater epic? Who would miss that?

*kemudian enam orang dari rombongan kami angkat tangan*

AHAHAHA.

Iyeees pemirsa, kecuali Roy dan Davin, kami semua ngorok dengan sukses, meskipun waktu jatuh terlelapnya beragam. Misalnya, gue udah pules dari menit kedua, Lia baru merem setelah ngeliat gue merem, Linda yang setengah mati bertahan tapi ketiduran juga di menit ke tujuh. Tapi pokokke, begitu lampu nyala, kami bertujuh kompak nguap dan ngulet.

Ternyata, perpaduan antara film dokumenter pembuatan robot (mana ketehe, eike kira mah Transformers), sofa yang empuk, teater gelap gulita, AC yang dingin, kaki pegel, dan wajah-wajah lelah bin kurang tidur, bukanlah kombinasi ideal untuk membuat mata melek.

Sekeluarnya dari teater, berhubung raga ini udah letih lesu dan ngantuk berat, kami nggak masuk lagi ke museum-nya. Diputuskan untuk cari makan, lalu mulih saja. Pas lagi jalan kaki menuju mall terdekat, gue baru inget, di tas ransel ada balsem yang kayaknya lumayan buat meredakan pegel-pegel.

Walhasil, di pelataran Science Center, kami melipir bentar demi bagi-bagi balsem buat diolesin ke kaki masing-masing. Persis nenek-nenek, deh. Mana abis itu masih diseret-seret lagi, jalannya. LOL.

Kami makan di Subway Sandwich, abis itu balik ke hostel untuk mandi dan bebenah. Masih sempet jalan-jalan sebentar setelahnya, secara hostel kami berlokasi di tengah-tengah China Town. We ended up di McD, dan makan lagi, sebelum akhirnya bobok bermandikan Hot In Cream. Good night, SG!

1 comment: