Tuesday, 20 June 2017

Day Dreaming: Andai Aku Komisaris Dunia Fantasi

Sebelum kenal sama Universal Studios dan Disney Parks, Dufan adalah happiest place on earth versi gue. Dufan juga yang menjadi titik awal kecintaan gue pada theme park. Semacem cinta pertama, gitu. Karenanya, bahkan setelah gue berkesempatan mengunjungi theme park lain di luar Indonesia, pada akhirnya gue selalu punya soft spot untuk taman bermain yang satu ini.

Berhubung udah lama banget sejak gue terakhir ke Dufan, berbekal niat melepas rindu, di awal bulan Desember kemaren, gue dan Roy nyempetin diri untuk main ke sana. Pas banget lagi ada promo, jadi tiket masuknya cuma setengah harga. Horeee!

Nah, selama di sana, sambil jalan-jalan, ngantri wahana, dan nonton pertunjukan, gue dan Roy diskusi panjang lebar tentang gimana jadinya ya, seandainya Dufan punya dana, dan dikelola sebaik Universal Studios dan Disney Parks? Apa Dufan juga punya kesempatan untuk jadi salah satu theme park terbaik di dunia? 

Gara-gara diskusi itu, sampe sekarang, gue masih mikiriiin aja. Misalnya gue punya unlimited resource dan wewenang untuk 'make over' Dufan, apa aja ya, yang bakal gue lakuin?

Yang umum:

1. Meniadakan Cap Tangan

Nggak higienis (come to think of it... bagi-bagi daki kan yah? ew.), transfer kalo kena baju, muka, dll, dan so last year. Sekarang di mana-mana udah pake barcode, kita kok masih setia aja sama stempel?

Maka, Investasi pertama yang akan gue lakukan adalah perihal ticketing.

What I'm gonna do: Ganti tiketnya dengan kertas yang punya barcode, lengkapi gate masuk dengan barcode reader, dan buang jauh-jauh sistem cap tangan.

2. Menyiapkan Peta dan Jadwal Acara

Untuk kita, masyarakat Jakarta yang udah khatam Dufan karena bolak balik jutaan kali sih, mungkin dilepas sambil merem juga nggak bakal nabrak. Tapi foreigner?

Tanpa peta, bisa pedok kaki jalan ke sana ke mari tak tentu arah. Belum lagi kalo nyasar, nggak ada yang bisa ditanya karena kebanyakan staff-nya nggak paham bahasa inggris...

Jadi, untuk kesekian milyar kalinya gue tegaskan, peta dan jadwal acara untuk theme park itu pentiiing sekali, karena akan sangat membantu pengunjung.

What I'm gonna do: Produksi peta dan jadwal acara dalam dua bahasa, bahasa Inggris (untuk foreigner), dan bahasa Indonesia (untuk pengunjung dari luar Jakarta).

3. Maintenance Wahana

Maintenance wahana dilakukan di bawah supervisi dan sesuai dengan SOP yang udah ada. Selain keamanan, kelayakan vehicle atau mesin juga jadi titik berat. Kalo udah pecah di mana-mana dan kumel macem baju belum dicuci sebulan, ya berarti harus segera ada anggaran untuk perbaikan atuh ya... (yes I'm looking at you, vehicle Halilintar, Tornado, dan Istabon)

What I'm gonna do: Buat dan sediakan budget-nya, kemudian awasi realisasinya. Dijadwal, misalnya setahun sekali, bergantian setiap wahana.

4. Wait Time Board

Informatif, penting, bikinnya gampil, nggak perlu mahal. Kuncinya cuma satu: staff yang ditugaskan harus rajin meng-update informasi, supaya terus relevan dengan situasinya.

What I'm gonna do: Hire staff untuk bertanggung jawab terhadap waiting time board di setiap wahana. Abis itu, hire supervisor untuk keliling Dufan di jam yang random setiap harinya, untuk memastikan yang waktu yang tertera di setiap wait time board senantiasa akurat. Kalo ada yang gabut, langsung kasih surat peringatan.

5. Maksimalisasi Kawasan

Did you know? Dufan punya sembilan kawasan lho. Kawasan Amerika, Asia, Eropa, Hikayat, Indonesia, Indoor, Jakarta, Kalila, dan Yunani. Sanking banyaknya, akhirnya, satu kawasan paling banyak cuma menampung 4 wahana. Ada yang cuma satu, malah.

What I'm gonna do: Hilangkan sebagian kawasan, kemudian satuin yang bisa disatuin. Trus, stick sama tema dari kawasan tersebut. Bentuk bangunan, ruang tunggu saat antri, sampe vending machine, restoran, dan toilet, semua kudu menyesuaikan temanya. After all, kan ini, arti theme dari theme park.

Yang lebih spesifik:

6. Hello Kitty Adventure

Lisensi Hello Kitty dibeli kemudian jadi semacam walk through exhibition yang dilengkapi sebuah teater dengan nama Hello Kitty Adventure. Keliatannya wah ya. Tapi kenyataannya mah, nggak ada yang luar biasa di exhibition-nya, trus film yang diputer di teaternya terlalu panjang, dragging, dan membosankan. Ini bukan menurut gue doang lho. Tapi juga menurut anak-anak kecil yang cuma bisa diem di tempat duduk mereka selama satu setengah menit pertama. Abis itu lari ke sana ke mari sampe ibunya musti nanya di mana lokasi pintu keluar teater. Celakanya lagi, pintu keluar teater untuk menuju ke pintu keluar exhibition, cuma bisa dibuka kalo filmnya udah selesai. Artinya, kami nggak punya pilihan selain melototin layar sambil nguap ribuan kali. Hoaaahm.

What I'm gonna doPerpendek durasi film, menyediakan pintu keluar darurat, dan mengadakan acara meet and greet dengan Hello Kitty-nya. Udah mahal-mahal beli lisensi, harusnya sih aplikasinya jangan nanggung-nanggung ya.

7. Ice Age (atau Sid?) Arctic Adventure



Sedangkan Ice Age dijadikan dua wahana, satu wahana kecil (yang sampe sekarang gue nggak tau apa namanya), dan satu wahana besar dengan judul Ice Age Arctic Adventure... dikutip dari web page Dufan. Di sono, nama yang gede-gede terpasang tepat di depan gate wahananya adalah Sid's Artic Adventure. Lha namanya ada dua :))

Trus, Ice Age/Sid Arctic Adventure ini sebenernya menggantikan wahana Perang Bintang. Tapi, jenis track dan permainannya justru mirip sama Rama Shinta (ada yang inget?), hanya konsepnya dibungkus dengan karakter dan cerita dari film animasi Ice Age. Sekali lagi, terdengar wah ya? Kombinasi antara thriller ride (sudden drop, dark ride) Rama Shinta yang legendaris itchu, dengan sentuhan petualangan bersama Sid, Scrat, Manfred, dan teman-temannya. Pasti seru deh nih, begitu pikir gue.

Tapi kenyataannya? TETOT.

Here's why:

- Pre-show yang seharusnya bertempat di mini teater entah kenapa di-skip begitu aja. Gue nggak tau di mana masalahnya, apakah karena kerusakan teknis, kekurangan personil, atau gimana, yang pasti, nggak ada pre-show, meski jelas-jelas layar dalam teater-nya tersedia.

- Sepanjang penglihatan gue, hanya ada 3 boat (please CMIIW) yang mampu menampung 16 orang sekali jalan. Kalo itungan gue bener, berarti, dalam satu round, pengunjung yang masuk hanya 48 orang, itupun dengan asumsi terisi penuh (yang jarang kejadian, karena Dufan nggak punya antrian single rider). Kebayang nggak sih mengerikannya antrian wahana ini di tanggal merah? Hiii.

- Wahana ini terbilang baru, tapi stage, boat, dan waiting room-nya udah terlihat usang. Gue nggak tau apakah ini faktor pengunjung yang tangannya usil, atau emang maintenance-nya seabad sekali. Yang pasti, pas antri, gue nemuin 3 lubang seperti bekas tonjokan di tembok. Kemudian pas naik, I can't help but notice stiker berisi pengumuman di boat udah ngeletek. Lalu pas main, rasanya gue kepengen loncat turun di tengah-tengah, kemudian nyikatin stage yang dekil minta ampun sampe bersih.

- Idealnya, ketika naik wahana, pengunjung akan dibawa masuk ke dalam narasi cerita petualangan bersama dengan Sid dan kawan-kawan. Namun sekali lagi, idealnya. Nyatanya, duet hilangnya pre-show dan operator yang males menayangkan cerita di layar yang bertengger di kanan kiri wahana, membuat gue dan Roy turun dari boat tanpa sedikit pun mengerti apa yang terjadi. Lho kok kami udah di sini? Tadi tuh sebenernya apa sih yang terjadi? Kenapa cintaku bertepuk sebelah tangan?

Cuma Tuhan yang tau.

- Pengaturan jarak antar boat masih dilakukan secara manual... dan operatornya kurang handal. Boat gue sempet berenti total dan tiba-tiba dua kali, masing-masing sekitar 1 menit. Kemudian, lewat speaker, sang operator memberi tahu bahwa doi lagi kesulitan berusaha mengatur jarak. Yailah, 3 boat aja bisa accidentally dempet begini, apalagi kalo ditambahin ya? Padahal track-nya panjang lho.

The verdict? Asli aku kecewaaa wa wa. Ekspektasi udah setinggi angkasa, eh ternyata drop shaaaay. Ngapain beli lisensi mahal-mahal kalo nggak ada niatan untuk maksimal dalam menggunakan dan mengelola?

What I'm gonna doBeli lisensi-nya Nusantaranger. Ketauan lebih Indonesia, dan konsepnya udah akrab sama kita semua. Kalopun nggak kenal Nusantaranger, pasti tau Power Ranger kan? Nah, yang ini pake versi kearifan lokal! Malah lebih oke!

Atau, hidupin lagi aja Rama Shinta! Itu wahana keren banget lho. Asli gue nggak ngerti kenapa malah diputuskan untuk ditutup selamanya pasca kebakaran di tahun 2001 yang lalu.

8. Istana Boneka... atau RuHan?

Sebelum berangkat, Roy udah wanti-wanti gue, pokokke kalo ternyata Dufannya sepi, dan kami jadi satu-satunya 'rombongan' yang ngantri Istabon, mendingan batal main. Awalnya gue bingung kenapa. Tapi setelah memperhatikan lebih detail... lama-lama boneka-boneka ini kok serem ya?

Ada masalah apa toh mbak? Coba cerita sini...

Dikombinasikan dengan penerangan Istabon yang remang-remang dan gerakan perahu yang lambat bin selow, boneka-boneka usang isi sukses bikin gue deg-degan setiap perahu kami melintas. Takut tiba-tiba idup trus nyekek, deh. Huhu.

Walhasil, judulnya sih Istana Boneka. Tapinya rasa RuHan. Untung rame-rame. Kalo enggak, mungkin gue udah keluar dari emergency exit sambil nahan ngompol. Ke mana Istabon-ku yang segar, cerah, dan ceriaaa?

Curiganya sih efek bonekanya ya. Banyak yang udah dekil, jadul, serta entah kenapa punya efek menyeramkan dalam ruangan meredup.

What I'm gonna do: Ganti aja deh itu boneka-boneka yang udah mirip sama bride of Chucky. Trus, evaluasi ulang penataan lampunya. Kayaknya ada yang salah deh. Dan, percepat durasi wahananya. Artinya kecepatan jalannya boat musti diperbaiki. Dibikin lebih singkat deh secara durasi, supaya antriannya jadi manusiawi, dan yang di dalem juga nggak mati kebosenan.

9. Halilintar



Sanking populernya, wahana yang juga merupakan salah satu 'icon' Dufan ini hampir selalu antri. Kalo lagi lumayan, paling antrinya setengah jam sampe satu jam. Tapi kalo lagi parah, bisa 2-3 jam sendiri. Matek gak tuh?

Meski antrian nggak bisa dihindari karena durasi wahananya udah tetep, tapi sebenernya, dari SOP, ada lho yang bisa disiasati. Ini yang belum dilakukan oleh Dufan.

Harusnya, ketika wahana sedang berjalan, staff yang bertugas di atas udah memperbolehkan batch selanjutnya untuk masuk di setiap barisan di samping vehicle. Jadi, begitu permainannya kelar dan yang baru main keluar dari kanan, batch barunya udah siap masuk dari kiri. Begitu seterusnya, supaya lebih cepet. 

Yang terjadi di Dufan, ketika wahana sedang berjalan, lorong di kiri vehicle itu kosong melompong. Jadi begitu udahan, baru deh pintu dibuka, dan batch berikutnya baru mulai baris. Ada sepersekian menit yang bisa dihemat di sana. Kalo pas antriannya panjang, ini ngaruh sekali.

What I'm gonna do: Mempraktekan yang gue tulis di atas. Atau alternatif lain, mungkin nambah vehicle. Seperti Hollywood Dream the Ride di USJ, yang punya hanya satu track, tapi 3 vehicles. Cuma yang ini lebih tricky sih, karena kudu mateng banget timing-nya. Kalo enggak, salah-salah bisa nabrak.

Buyar deh reputasi sebuah theme park kalo sampe punya histori kecelakaan semacem itu.

10. Rumah Miring, Rumah Kaca, dan Poci-Poci

...are so last year. Kemaren pas gue ke sana, nyaris nggak pernah keliatan ada manusia di sekitar tiga wahana yang celakanya, berdekatan ini. Kesian deh kawasan Amerika. Sepinya, macem Jakarta kala Lebaran.

What I'm gonna do: Rubuhin. Ganti wahana lain yang lebih update dan seru.

11. Treasureland: Temple of Fire

Stage show persembahan Dufan, yang bertempat di sebelah wahana Hysteria. Awalnya, ekspektasi gue udah setinggi langit, melihat antusiasme dari penonton (penuh, lho!) dan panggungnya yang keren pisan. Bakalan seru, nih, begitu pikir gue.

Namun harapan itu hancur berantakan dalam dua menit. Penyebabnya adalah: aktor dan aktrisnya terlihat setengah hati dan asal-asalan dalam memainkan peran mereka. Mubazir deh, segala interior dan efek-efek panggungnya. Buyar semua.

What I'm gonna do: Kirim semua cast-nya ke puncak. Belajar sama aktor dan aktris yang terlibat dalam Wild Wild West Cowboy Show-nya Taman Safari Indonesia. Sampe jago menghayati peran dan menciptakan sinkronisasi antara efek dan gerak.

12. Tornado

Salah satu wahana yang gue kategorikan sebagai Dufan's Pride, simply karena, wahana ini unik bangeeet. Nggak banyak theme park lain di Asia dan Eropa yang punya. In fact, gue cuma pernah nemuin sekali, di salah satu theme park di UK.

Makanya gue sebel pas menemukan banyak keretakan rumah tangga pada 'badan' Tornado. Yawla, ini serius nih mau dibiarin aja? Udah gitu, rasanya wahana ini jadi keliatan usang banget dimakan usia. Warnanya udah pudar di sana sini.

What I'm gonna doPerbaikin yang rusak! Cat ulang! Kemudian dijaga agar senantiasa optimal penampilan dan performanya. Dufan's Pride, gituh!

13. Alap-Alap

Selain ada batasan tinggi minimum, kayaknya wahana ini musti nambahin batas tinggi maksimum pengunjung yang boleh naik, deh. Gue dan Roy, yang kayaknya oversize, kejedot sana-sini selama main. Turun-turun punggung, pundak, dan kepala, semua sakit. Syebel. Nggak tau karena kami yang kegedean, gerakan ride-nya yang kelewat kasar, rel-nya yang emang ekstrem, atau ketiga-tiganya, tapi gue ogah naik wahana ini lagi. Makazeh, deh. *booking tukang pijet*

What I'm gonna do: RUBUHIN! Ciyeee sentimen. Hehe.

Nggak deng, paling gue inspeksi ulang di mana yang salah, trus adjust deh sampe nyaman. Abis itu, cat ulang! Soale kayaknya wahana ini udah butuh peremajaan deh. Bentukannya udah tua dan lusuh banget, euy.

14. Gajah Beledug

Satu-satunya gajah yang bisa terbang itu cuma Dumbo, gajahnya Disney.

What I'm gonna doJadi, gimana kalo kita ulang cari hewan yang udah bisa terbang dari sono-nya aja? Biar ngeduplikatnya nggak ketara-ketara amat?

15. Perang Bintang

KOK WAHANA INI DITUTUP? Patah hatiku.

What I'm gonna do: Nothing, actually. Abis gimana, udah terlanjur. Cuma bakal kucekek orang yang awalnya munculin ide untuk nutup wahana kesayanganku. I will find you and I will eat youuuu! *zombie style*

-

Namun, lepas dari semua komentar dan saran sotoy gue di atas, udah banyak kok perubahan positif di Dufan, ketimbang terakhir kali gue ke sana (which is 2012). Contohnya, sekarang, udah ada mbak-mbak / mas-mas yang jaga di pintu masuk masing-masing wahana. Tugasnya menyambut, serta memastikan yang masuk qualified secara tinggi badan dan kondisi kesehatan untuk main wahana tersebut.

Trus, Dufan udah mulai membuka diri untuk franchise restaurant seperti Yoshinoya, Shihlin, Dum-Dum, dan Bakso Afung. Jadi, nggak usah khawatir bosen makan McD atau Popmie lagi deh. Sekarang pilihannya ada banyak :)

Lalu, wahana yang menurut gue masih terjaga dengan sangat baik adalah Kicir-Kicir dan Kora-Kora. Masih bagus dan gres vehicle-nya, meski jalur antriannya kadang usang dan jorok. Panic House dan Arung Jeram, gue nggak naik karena satu dan lain hal, jadi nggak bisa komen banyak.

Fantasy Lights Magic of Dufan yang mengambil posisi sebagai penutup kunjungan pun terpaksa kami lewatkan, karena harus buru-buru balik. But after I googled the picts, I think it's quite cool, tho.

Kemajuan-kemajuan ini bikin gue jadi optimis, bahwa pelan tapi pasti, Dufan udah jadi lebih baik. Asal nggak berhenti memperbaiki diri, yakin deh, someday, pasti bisa juga sebesar Univ Studios dan Disney Parks. Semoga ya :)

4 comments:

  1. JADI SEKARANG PERANG BINTANG UDAH GAK ADA? :O (capslock rusak) itu juga wahana favorit akuuu huks


    Kalau dufan punya zona zona gitu jujur gue baru tau huahaha, go Sarah for Dufan #1!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mine too :( Makanya sebel banget pas tau udah nggak ada T__T

      Iyaah, semua theme park sebenernya emang pasti punya zona-zona gitu, sayang, in Dufan case, kurang dimanfaatkan dengan baik sepertinya, walhasil emang banyak yang nggak sadar :( Hihi, doakan postingan ini dibaca sama business development-nya Dufan yaa :p

      Delete
  2. Dufan tuh memang ngangenin ya. Sayang sih wahananya kurang keurus padahal main di Dufan seru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa, aku selalu yakin Dufan tuh punya potensi buat jadi besaaaar banget. Sayang makanya kalo begini-begini aja :( Trus yaitu, sebel banget ngeliat kayaknya peremajaan dan maintenance wahananya asal-asalan T__T

      Delete