Monday, 1 August 2016

HK Trip - Back & Forth

Ruins of St. Paul adalah tujuan terakhir kami di Macau, sebelum bertolak kembali ke Hong Kong. Meski kudu bersusah payah untuk menuju ke sana, finally, we made it! Terberkatilah wahai pencipta google map.

Anyway, seperti namanya Ruins of St. Paul ini adalah reruntuhan dari Gereja St. Paul yang selamat dari kebakaran hebat di tahun 1835. Kebakaran tersebut melahap hampir seluruh bangunan Gereja, kecuali bagian depannya, yang kini dibiarkan seperti itu dengan bantuan penopang berupa besi baja. 

Namun, berhubung gue dari sananya cinta sama bangunan-bangunan bergaya Eropa klasik, meski cuma 'selembar', nganga kagumnya tetep setengah jam dong... Yang mana abis itu dilanjutkan dengan foto-foto, dan nggak udah-udah sampe tangan mas-mas fotografer (aka Roy dan Owen) hampir coplok. 


Kombinasi cerahnya langit dengan bangunan klasik bergaya yurop emang nggak pernah gagal bikin gue hepi. Meski kulit udah gosong gara-gara kepanggang matahari, senyum mah masih lima ribu watt!

Setelah puas liat-liat dan foto di sekitar Gereja, kami mengikuti kerumunan orang-orang yang naik tangga menuju puncak bukit. Emang di sana ada apaan? Sejujurnya, nggak tau juga, tuh. Kami cuma nggak mau ketinggalan hip ajaaa. *ditoyor*

Ternyata oh ternyata, di atas sana ada semacem museum berbentuk benteng gitu. Ih kewl! Kalo ternyata nggak ada apa-apa, kan gondok juga, secara udah manjat sampe bengek...



Macau from above

Kelar kelilingin benteng, kami turun dan menuju ke deretan pertokoan di sebelah kanan Ruins of St. Paul. Langsung borong oleh-oleh, deh. Sementara mata milih-milih yang kepingin dibeli, mulut nggak berenti ngunyah Portuguese Egg Tart. Why so enaaaak, sih?

Kira-kira satu jam kemudian, dengan tangan penuh kantong belanja, kami kembali ke hotel. Bebenah, check out, lalu bertolak kembali ke Hong Kong. Daaagh, Macau! Meski singkat, kamu tetep berkesan di hati koook.

Sesampainya di Hong Kong, kami buru-buru naik MTR menuju hotel untuk check in dan naro barang. Tanpa sempet gegoleran apalagi boci, langsung dilanjut dengan gedabrukan keluar kamar, dan lari-lari menuju stasiun. Gawat, gawat, kami telat!

Kalo menurut itinerary, seharusnya, jam 4, kami udah kudu sampe di Ngong Ping 360, tujuan kami selanjutnya. Tapi ini udah setengah 5, dan kami masih di jalan. Bisa-bisa keburu gelap, nih.

Bener aja. Begitu sampe di Tung Chung, ternyata udah kesorean banget. Yang lebih mematahkan semangat, kami disambut oleh papan segede gaban yang isinya pengumuman bahwa perjalanan dengan cable car (our main agenda there, beside Big Buddha), terakhir beroperasi jam 6 sore. Artinya, di atas jam 6, udah nggak ada cable car yang jalan.

Lah mak, sekarang aja udah setengah 6, dan sekali perjalanan makan waktu dua puluh lima menit. Bisa berangkat nggak bisa pulang, dong?

Eh ternyata, ada opsi lain, yakni bus. Itupun cuma bus terakhir, yang terjadwal pukul 19.15. If we miss that... yaudah, jalan kaki deh. Atau nginep di hutan ditemenin sama Mbah Genderuwo.

Tanpa pikir panjang lagi (karena nggak sempet juga), we took that option. Berangkat pake cable car, balik naik bus. Kami ambil kabin yang biasa, bukan yang crystal cabin, karena perbedaan harganya lumayan. Kelar beli tiket, langsung lompat masuk ke dalem cable car. HAP!

Off to Ngong Ping!

Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang begitu menakjubkan. Kami menyebrangi gunung, dan melihat landscape Hong Kong dari ketinggian. Angin sepoi-sepoi yang berhembus melalui ventilasi kecil di kabin juga menambah dramatis suasana.



So beautiful and breathtaking. Seandainya bisa bikin kemah di atas sini, ya... (kemudian migren)

Perjalanan dengan cable car mengantarkan kami ke warisan budaya dengan tema Ngong Ping Village. Dengan area seluas 1,5 hektar, beragam toko dan restoran berjajar, sebelum Big Buddha, Biara Po Lin, Piazza Ngong Ping, dan Wisdom Path menyambut.

Namun, lagi-lagi kami harus kecewa mendapati kenyataan agenda sowan sama Big Buddha terpaksa dibatalkan. Pasalnya, gerbang menuju Big Buddha udah ditutup sejak pukul lima sore. Akhirnya, sambil menghibur diri dengan 7629 kali bilang, "Ah, mirip kok, sama Batu Cave." (PADAHAL MAH BEDA JAOH) kami foto-foto dari depan sambil cengar cengir palsu.



Tadinya kami mau melanjutkan perjalanan ke Wisdom Path, karena area ini pernah dipake sebagai tempat main Running Man juga. Kudu dijejaki dong ya...

Tapi akhirnya niat itu diurungkan, karena jarak dari Big Buddha ke Wisdom Path ternyata lumayan jauh. Resiko ketinggalan bus terakhir jauh lebih mengerikan, jadi yastra, kami main-main aja di Pelataran Big Buddha yang udah sepi banget, secara kayaknya kami pengunjung terakhir Ngong Ping. Berhubung mati gaya karena nggak tau mau ngapain, akhirnya foto-foto deh, sambil nunggu jadwal bus.

dari normal

sampe stress

Tepat pukul 19.15, bus terakhir yang akan mengantar kami ke depan tiba. Perjalanannya sendiri makan waktu kurang lebih satu jam, karena kalo via darat, ternyata jaoh ya mak. Mana gelap dan berliku, sampe bus gue sempet hampir nabrak sama bus lain dari arah sebaliknya. Bener-bener nyaris tubrukan. Lebih horor dari jurit malam, euy.

Begitu sampe di Tung Chung, kami take away subway (subway sandwich yaa, bukan kereta bawah tanah -- emang megatron?) untuk makan malam, kemudian naik MTR menuju ke hotel. Dari sini, badan gue udah di-set auto pilot sanking teparnya. Jalan diseret digandeng, sampe hotel langsung mandi, makan, trus langsung telungkup di bawah selimut.

Charge badan sepenuh-penuhnya, karena besok... waktunya DISNILEEEEN! Tschuss!

3 comments:

  1. Hi Sarah, seru lho trip macaonya. Cable car nya worth it sekali, kelihatan dari foto barengnya pemandangannya apik tenan. Ini nahan - nahan upload foto-foto ya, kurang banyak! ^^

    ReplyDelete
  2. Mbak Indri : Hihi thank youuuu yaaa :3 Iya nih, soalnya kalo kebanyakan foto artinya banyak muka akoh, dan kalo banyak muka akoh, takut eneg yang pada baca :)))

    ReplyDelete
  3. aaaaaak
    bikin envy nih foto2 liburannya

    kunjungi juga BLOG GUE

    ReplyDelete