Tuesday, 12 July 2016

Daily Skin Care - Tips

Facial treatment can be very frustrating, sometimes. There I said it.

Bukan cuma soal melawan males, ngantuk, dan capek dalam prosesnya, namun usaha untuk mempertahan komitmen juga sering kali diuji. Ironisnya, rasa ingin menyerah justru dipicu oleh banyak faktor, misalnya, produk yang dipakai. Nggak cocok, nggak ngefek, malah bikin bruntusan, jerawat, atau kemerahan di kulit, dan masih banyak lagi.

Pemilihan skin care product memang bisa dibilang sangat amat tricky. Jenis kulit, kandungan dalam produk, cara pemakaian, memiliki reaksi yang berbeda-beda di setiap orang. Cocok buat si A, belum tentu cocok untuk si B, sekalipun mungkin, sifat kulit dan masalah yang dihadapinya mirip.

Akhirnya, seluruh effort ngantuk-ngantuk tiap malem, repot-repot tiap pagi, jadi terlihat sia-sia. Nggak ada hasilnya. Tabungan yang udah dikuras abis untuk produk-produk yang katanya jempolan, ternyata nggak memberikan perubahan seperti yang diharapkan.

Capek, eneg, kesel.

Sering banget gue kepingin nyerah. Berniat nggak mau deket-deket lagi sama skin care dan balikan sama make up aja, yang praktis dan (surprisingly) lebih ekonomis.

Namun lucunya, kalo gue lagi stress dan galau begitu, encouragement justru muncul dari Roy. Langsung deh doi jadi suportif, trus ngingetin gue kalo yang namanya proses aman, nggak ada yang instan. Harus sabar dan tekun. Trus gue dibujukin supaya nggak nyerah.

Bikin terharu yaaa? Baik bangeeet...

(Padahal mah curiga doi bilang gitu cuma karena takut gue udahan pake produk-produk yang bertumpuk di meja rias. Wong masih setengah botol, masa setop sekarang? Mubajir, kaaan...)

Selain suamiku itu, gue juga mulai belajar self motivating dengan bebacaan banyak sekali cerita dan pengalaman dari beauty forum. Ternyata gue nggak sendirian, lho! Banyak yang pernah ada di posisi gue, namun karena kegigihan mereka, sekarang hasilnya udah terlihat. Believe me, kulitnya emang bener-bener bikin perempuan manapun berdesis ngiri. Tapi di balik itu semua, pasti ada proses yang panjang dan melelahkan, serta konsistensi yang harus mati-matian dipertahankan.

So, nobody says it's gonna be easy, but let me tell you this: it's gonna be worth it.

Akhirnya, gue jadi semangat lagi untuk lanjutin perawatan, bahkan malah lebih rajin ketimbang sebelumnya. Makin sering nongkrong di depan laptop untuk belajar, cari informasi, dan melakukan komparasi produk sebelum membeli. Makin jarang lupa bersihin muka sebelum tidur, absen pake serum, dan skip pake sunscreen.

Selang tiga bulan, hasil dari kerja keras itu perlahan mulai terlihat. Gue nggak lagi rentan jerawatan, dan kulit wajah terasa lebih lembut dan kenyal ketika dipegang. Masalah dark spot memang belum sepenuhnya hilang, dan uneven skin tone masih bikin gue jengkel tiap kali ngaca. But progress is still progress, no matter how small it is. Also, I'm kinda believe my skin isn't perfect... yet. Tunggu ajaaa, I'm getting there for sure.

Karena itulah, gue memutuskan untuk membuat postingan ini. Gue paham bener gimana rasanya hopeless gara-gara skin care. I feel you, girls. I do.

Therefore, I want to share some tips to keep us going during those shitty times. Apa aja sih? Ini nih:

1. Kenali jenis kulit

Produk yang nggak ngefek atau menimbulkan reaksi buruk pada kulit, dapat ditimbulkan karena pemilihan produk yang nggak sesuai dengan jenis kulit.

Pertama kali berniat untuk nyobain skin care, gue yakin kulit gue termasuk dalam golongan oily skin. Pengambilan kesimpulan itu gue lakukan dengan dasar yang sangat sederhana, seperti, "T-zone ku suka berminyak!" dan "Kalo nggak bedakan mukaku berminyak!". Tanpa nanya dan konfirmasi ke siapapun lagi, langsung deh, borong produk untuk kulit berminyak. Dari mulai pembersih sampe moisturizer.

Eh, kemaren, pas ketemu sama kak Cime dan nanya-nanya sama beliau seputar per-skin care-an, doi bilang, kulit gue lebih cenderung kombinasi, kalo nggak mau dibilang kering. Sama sekali kagak oily! Tebakan dia, gue merasa kulit gue berminyak karena selalu pake oily skin products. Walhasil, produknya malah bikin wajah gue tambah kering. Dryness ini otomatis membuat produksi minyak di kulit gue malah jadi berlebih. Tambah gue mikir oooh beneran nih, kulit gue berminyak.

And there goes the loop of hell.

Makanya, mengenali tipe kulit itu step awal yang penting banget, sebelum memilih produk. Kalo salah, ya produknya nggak akan bekerja, atau lebih buruk, malah bereaksi negatif begitu dipake ke kulit kita.

2. Gali informasi sebanyak mungkin

Di forum seperti Female Daily, selain beauty review, bertebaran ratusan tips-tips bermanfaat seputar perawatan kulit. Artikel ini, contohnya. Lengkap deh, dari mulai cara penggunaan, steal and splurge products, sampe do and don'ts dalam menggunakan skin care. Sangat membantu seorang newbie macem gue, mengingat cara penggunaan yang salah, sangat mungkin berakibat sang produk nggak berefek.

Cermati langkah-langkah dalam pengaplikasian sederetan produk skin care (dimulai dari yang paling cair atau encer, dan diakhiri dengan yang paling padat atau pekat), pentingnya double cleansing dan double toning, serta komposisi yang harus dicari dalam sebuah produk.

Kalo caranya udah bener, langkahnya udah sesuai, dan poin yang penting sudah dilakukan, harapannya, produk dapat bekerja lebih maksimal, dan hasilnya bisa segera terlihat.

3. Skin care soulmate(s)

Pas masih sendirian dalam konteks #PertemananSkinCare, bukan status entah kenapa gue merasa jauh menye dan lembek. Dikit-dikit hopeless, dikit-dikit sebel, dikit-dikit ngambek. Beli produk trus nggak berkhasiat padahal baru tiga hari dipake, langsung su'udzon nggak cocok. Jerawatan sebiji, stressnya minta ampun, yang malah berujung tambah banyak. Pokoknya drama, deh.

Tapi sekarang, setelah gue ketemu banyak temen-temen yang juga sedang berjuang mendapatkan kulit yang sehat dan cantik, I kinda feel I'm waaay more relax. Nggak gampang ngerasa frustasi, karena merasa ada juga yang senasib sepenanggungan. Trus bisa saling nyemangatin dan tukeran tips juga. Jadi ngerasa nggak sendirian. Paham deh sekarang, kenapa support group dibutuhkan.

Maintain semangat dan komitmen emang nggak gampang, tapi kalo jalannya sama-sama, serta saling menguatkan dan mengingatkan, pasti jadi lebih mudah, kan?

4. Bahan-bahan alami

Flash news, skin care products yang dijual di counter, ternyata bukanlah satu-satunya opsi lho. Sering kali, kita lupa sama bahan-bahan alami yang sudah terbukti ampuh dan bisa digunakan untuk membantu akselerasi perawatan kulit wajah. Madu dan pisang, contohnya. Selain gampang ditemui, kedua bahan ini digadang-gadang berkhasiat untuk mencerahkan kulit. Tinggal dihancurkan dan dicampur dan voila~ you got your own DIY mask. Masih banyak pilihan lainnya, tinggal disesuaikan aja dengan kebutuhan.

Oh ya, menggunakan bahan alami juga memperkecil resiko iritasi pada kulit, dan relatif aman dalam hal komposisi. Selama pemilihan bahannya tepat dan sesuai dengan problemnya, your skin will be fine for sure. Worry no more!

5. Pola hidup sehat

Kesehatan dan kecantikan kulit nggak cuma bergantung sama skin care product aja, lho. Pola hidup sehat juga mengambil peranan yang sangat penting. Kalo distimulasi dari luar tapi di dalemnya nggak sehat, ya sama aja, dong...

Makanya, biasakan diri banyak (atau paling enggak, cukup) minum air putih, konsumsi buah dan sayur, kurangi makanan yang berminyak, dan rajin berolahraga. Yakin deh, gaya hidup seperti ini pasti punya dampak yang signifikan sama kesehatan kulit. 

6. Alokasi budget

Jadi, setiap bulannya, gue mengalokasikan 10% dari gaji gue untuk produk-produk skin care. Hanya untuk skin care, since I decided not to buy any make up anymore, kecuali beneran abis dan emang musti beli. Sebaliknya, saving untuk skin care rutin gue lakukan, meski di bulan tersebut gue nggak beli apa-apa. Tujuannya, supaya ketika produk yang gue pake abis dan kudu spending, dompet gue nggak jantungan. Kan udah ada, tabungannya.

Ini penting, mengingat harga produk-produk perawatan kulit wajah yang bagus kan nggak (banyak yang) murah, ya...

Gue baru melakukan metode ini dari awal tahun 2016, sih. Tapi Puji Tuhan, sangat bermanfaat untuk mengatur cash flow, dan bikin gue jadi disiplin dalam belanja. 

7. Dermatologist

...is always an open option. Gue bukan termasuk golongan yang saklek bilang bahwa skin care counter selalu lebih baik ketimbang produk-produk klinik kecantikan ya. Karena prinsip tersebut mungkin aja salah. After all, beda orang, beda skin care products or sometimes, treatment. And it's okay, really.

Beberapa temen gue yang clinic addict dan pake produk-produk racikan dermatologist, mukanya mulus-mulus banget. Apalagi kalo rutin treatment juga. Umumnya, produk keluaran klinik kecantikan memang lebih cepat terlihat hasilnya. Mungkin karena tepat sasaran kali ya sama masalahnya, karena sebelumnya udah ketemu dokter.

Jadi, semisal udah bolak-balik pake counter products dan nggak ada yang ngefek, atau even worse, malah tambah parah, maybe it's time to go to dermatologist. Siapa tau jodoh kulitnya di sana, kan?

Gue sendiri memilih menggunakan produk yang mudah dijumpai di counter, karena nasehat dari beberapa teman yang beragumen bahwa produk klinik kecantikan yang digunakan dalam jangka waktu yang panjang, biasanya berakibat buruk pada kandungan. Jadi susah hamil, pada beberapa kasus. Memang belum terbukti, but I just don't want to take that risk if any.

Konsekuensinya, ya kudu mandiri cari informasi seputar masalah yang dihadapi, dan produk yang bisa jadi solusi. Kalo blank sama sekali, nanti diboongin sama SPG-nya, yang menurut pengalaman, biasanya kurang pinter, cuma demen nyuruh bebelian ini itu. Seolah kita butuh semua, padahal belom tentu.

Intinya, keduanya sama-sama oke, dengan resiko dan konsekuensi masing-masing. Yang penting, dalam prosesnya, kudu rajin dan konsisten.

-

Semoga tips-tips ini bermanfaat dan menambah semangat dalam perjalanan perawatan kulit ya, girls. Kalo sampe saat ini hasilnya belum terlihat, jangan menyerah. Dijalanin aja dengan tekun dan sabar, karena apapun yang sifatnya terlalu instan, malah kemungkinan berbahaya, kan? Terakhir, tetep semangat, demi kulit yang lebih sehat dan cantik!


Salam #KinclongUnited 

4 comments:

  1. I feel you saaarr, i feel youuu.
    sempet stres sendiri karena jerawat ga ilang ilang, coba produk ini, break out, sampai akhirnya nemu yg cocok. Dan emang harga skin care itj bikin nguras kantong, tp gapapa, anggep aja investasi. Ayoo semangaaatt!

    Oh yaa si roy baik ya semangatin (dan modalin) buat skin care istri, suka kesel sama cowok yg bilang cewek perawatan itu mahal, padahal mah sendirinya juga gamau kan pacar/istrinya mukanya ga terawat #laahcurhat.

    ReplyDelete
  2. Kak Presy: *pelooook* I FEEL YOUUUUU! Trus kalo udah ketemu yang cocok banget, jadi seneng yaaa! Macem jodooooh soalnyaaaa :)))

    Cowok begitu mah tinggalin ajaaaa kak. Pilih yang realistis realistis aja deeeh, sekarang mah mau cakep, mulus, ya butuh vulus. Hih. Kalo nggak bisa bayarin, mingkem aje. Nggak usah komen. *emosik

    ReplyDelete
  3. Berapa lama sih kak kira2 kita bisa liat hasil skincare di muka kita? Aku juga gampang bgt nyerah..:( mikirnya kok udah lama make tapi bekas jerawat gak ilang. Ini skincarenya yg gak ngefek atau memang belum suka bingung

    ReplyDelete
  4. Anon: Sadly, aku juga ndak bisa jawab euy, karena kembali lagi, setiap orang beda-beda. Ada yang hasilnya keliatan dalam hitungan minggu, ada yang bulan, ada yang tahun :(

    Kembali lagi tergantung jenis kulit masing-masing. Tapi kalo aku patokannya satu kemasan sih. Kalo udah abis sebotol dan belum keliatan efeknya seperti yang dijanjikan, atau sama sekali ga keliatan dan merasakan perubahan apa apa, biasanya aku ganti. :D

    ReplyDelete