Tuesday, 21 June 2016

HK Trip - Macau

Setelah bebenah dan check out, kami menuju ke pelabuhan untuk membeli tiket. Sebenernya, untuk menuju ke Macau, ada dua pilihan moda transportasi. Kapal Ferry dan helikopter. Dengan pertimbangan kantong dan nyali, kami memilih opsi pertama.

Karena armada banyak dan jadwalnya sering (setiap 15 menit sekali ada boat yang berangkat), gue jadi santai banget. Baru beli tiket setengah jam sebelum boarding, udah gitu masih pake jajan dan beli minum dulu lagi. Tinggal abis itu lari-lari deh, menuju bagian imigrasi. Lalu lari-lari lagi boarding ke perahu. Untung nggak ditinggal.

Perjalanan ke Macau hanya makan waktu sekitar 45 menit - 1 jam menggunakan Feri. Jadi, tepat jam 12 siang, kami udah menginjakan kaki di terminal Maritimo de Passageiros do Porto Exterior, Macau. Setelah ngurus embarkasi, kami keluar dari pelabuhan dan nunggu shuttle bus yang akan mengantar ke hotel.

Tips: Hampir seluruh hotel di Macau menyediakan free shuttle bus untuk menjemput dari terminal. Jadi tinggal naik, duduk manis, trus sampe, deh. Nggak usah pusing-pusing nyiapin ongkos dan ngitungin halte. Jadi, pastiin hotel yang dipesen menyediakan fasilitas ini ya! Kalo ada, download jadwal-nya juga. Biasanya sih selama-lamanya setengah jam sekali. Kalo hotel besar, malah nggak perlu nunggu. Busnya ready tiap detik!

Shuttle bus hotel kami ternyata bekerja sama dengan empat hotel lain. Jadi ya, stop-nya di beberapa pemberhentian. Hotel kami yang terakhir. Tapi karena jalanannya lancar, dari terminal ke hotel cuma butuh 15 menit aja.

Setelah check in dan naro barang di kamar, kami kembali nunggu shuttle bus. Sebelumnya, gue dan Roy udah minta jelasin cara menuju ke St. Paul Ruin sama mbak resepsionis. Ternyata gampang. Dari hotel, kami tinggal naik shuttle dan turun di pemberhentian pertama, lalu jalan kaki sekitar 15 menit dari sana. Oke deeeh, gancil.

Namun kenyataannya? Tentu tak sesederhana itu.

Langkah pertama, berenti di pemberhentian pertama? Check. Gampang. Dari sana... jalan kaki 15 menit. Okay, tapi... jalannya ke arah manaaa? Menuju barat? Emang mau cari Kitab Suci?

Mau nanya... tapi nanya sama siapa? Orangnya super galak-galak, dan terakhir kali gue cek, rumput yang bergoyang belom bisa ngomong.

Akhirnya kami memutuskan untuk cari restoran di sekitar tempat pemberhentian dulu. Yang ada wifi-nya, kalo bisa, supaya bisa ngintip google map.

Tapi bahkan resto pun ndak ada yang pas di hati. Walhasil, sambil menahan lapar, kami nongkrong di depan Sasa... buat numpang wifi. Hihi. Dipikir-pikir, pengertian ya emang si Sasa ini. Udah paham mungkin, perempuan kalo belanja di sini, bisa sampe lupa hari. Jadi dikasih wifi gratis, biar yang laki tabah.

Anyway, entah kenapa, google map menunjukan bahwa dari titik kami berdiri, kudu naik bus lagi sekitar 25 menit untuk mencapai St. Paul Ruin. Kamera langsung zoom out zoom in. APAAAH? 25 menit? Ajegileee kalo jalan kaki jadi berapa lama tuh?

Berhubung kami semua udah tepar dan laper, gue mengusulkan untuk ganti rencana. Ke Venetian dulu, deh. St. Paul Ruin-nya besok pagi aja. Nggak kuat kalo kudu jalan segitu jauh dengan kondisi perut kosong begini. Semua setuju.

Namun pergantian rencana pun ternyata nggak berjalan mulus. Setelah tau nomor bus yang harus kami naiki, tetep aja kudu pusing dan keliling-keliling nyari haltenya. Begitu ketemu halte, busnya nggak lewat-lewat. Ketika ada yang lewat, ternyata ongkosnya musti duit pas, jadi ada adegan gue dan Roy diomelin dan diusir sama supir bus karena minta kembalian. Yasalam. *telpon dukun langganan di Jakarta* *santet bus driver-nya*

Setelah pulih dari shock, kami nggak langsung nyerah. Masih coba nanya sama petugas yang ada di pos keamanan halte. Doi menjelaskan dengan kombinasi antara bahasa tubuh dan Kantonese, bahwa ada bus gratis yang bisa membawa kami ke Venetian. Owalah, masa sih? Kok kami nggak tau? Di mana nunggunya? Digambarin di secarik kertas, dan ternyata... nggak jauh dari Sasa tadi, pemirsa! Jadilah kami balik lagi ke sana, kemudian antri ngikutin orang-orang sambil pijet-pijet betis yang protes gegara mendadak diforsir.

Ternyata polemik pun belum berenti di sana. Begitu bus datang, kami dengan pede langsung naik. Namun ternyata, ini bukan bus resmi Venetian. Bus ini adalah bus Galaxy Macau, komplek perhotelan yang sebelah-sebelahan sama Venetian. Jangan dibayangin letaknya dempet ya. Aslinya jauuuh, meski judulnya tetanggaan. Walhasil, untuk menuju ke Venetian, kami musti gimana? YAK BETOL, jalan lagi, dong, secara di sini nggak ada ojek gendong ya...

Berhubung nggak ada pilihan, yaudah, kami jalani (literally) aja dengan tabah dan sabar. Untung trotoar-nya decent dan nggak ada motor klakson-klakson...

Akhirnya, setelah kaki gempor... samalekum, Venetian!


Begitu masuk, kami langsung disambut dengan interior mewah bergaya klasik Eropa di segala sudut. Entah makan apa, designer-nya dulu. Kok bisa bikin tempat secakep ini?


meski semacam mengingatkanku pada food court PIM 2

Kami sempet foto-foto dulu sebelum akhirnya inget perut yang masih kosong. Gilingan, udah jam 3 dan kami belom makan siang! Langsung deh ngacir ke food court terdekat, kemudian mencar, cari makan masing-masing.

Puji Tuhan, di sini makanannya enak-enak lho! Gue pesen Lasagna dan tandas nggak bersisa. Oh iya, selama di Macau, kami tetep menggunakan HKD. Mereka terima kok, meski 1:1. Jadi rugi dikit sih. Tapi yastralah, dari pada repot nuker-nuker MOP.

Tips: Nggak usah khawatir soal perbedaan currency, ya! HKD diterima dengan senang hati kok, di Macau!

Selesai makan, agenda selanjutnya adalah berkunjung ke Casino. That was my very first experience going in to Casino. Sebelum-sebelumnya, gue dan ade gue selalu nunggu di luar karena kami belum cukup umur.

Makanya kali ini deg-degan campur norak. Soalnya akhirnya legal untuk masuk (dan main), lhooo! YAS!

Oh ya, di setiap pintu Casino, ada petugas yang job desk-nya mengecek ID, demi memastikan semua pengunjung yang masuk di atas 21 tahun. Meski pakaiannya formal, seperti di film-film, kebanyakan dari mereka tampangnya serem, ala ala mafia atau yakuza gitu. Rombongan kami pun nggak lolos dari pengecekan. Well, bokap nyokap gue dan Roy langsung dipersilakan masuk, sih. Yang disetop dan diminta keluarin paspor cuma gue dan ade gue. Susah yeee emang, punya muka ABG... *masukin CV model produk anti aging*

Berhubung beneran udah di atas 21, tanpa halangan yang berarti, petugas segera ngembaliin paspor, lalu kami dipersilakan masuk.

Megah dan mewah. Itulah kesan pertama yang melintas di kepala gue ketika sampai di dalem Casino. Ruangan luas itu dipenuhi oleh berbagai meja dengan beragam jenis permainan. Bertumpuk-tumpuk chip bertebaran. Kalo nggak inget kami bokek judi itu haram, kepingin rasanya langsung nimbrung ikutan. Hihi.

Selain main area yang isinya table games, ada juga kawasan yang dipadati oleh beragam macam mesin-mesin. Yang menarik perhatian gue adalah Royal Dice Casino Game Machine dan berbagai macam Jackpot Slot Machine. Sudut ruangan di sisi area mesin, digunakan sebagai ruang Poker.

Di sini, kami bebas berkeliling dan nonton permainan, kecuali di high limit slots. Dua penjaga di deket pintu masuk udah bikin jiper duluan, sih. Sepertinya emang nggak bisa sembarang pengunjung bisa lenggang kakung ke area ini.

Trus ternyata, nonton orang main tuh seru banget ya! Kebawa suasana! Gue ikut kegirangan pas yang main menang, ikutan lesu pas kalah, ikut deg-degan saat penutup dadu dibuka atau saat gerakan bola mulai melambat. Meski belom punya nyali untuk main sendiri, I had a very great time here. Asli deh, kalo nggak mikirin badan udah pegel dan kaki udah jerit-jerit mau patah, pingin rasanya nongkrong sampe pagi.

Sekitar jam tujuh, kami pamit sama Venetian dan balik ke hotel. Mempertimbangkan crowd yang ada, akhirnya diputuskan kami naik shuttle ke arah halte di seberang terminal aja (karena lebih sepi). Dari sana, baru kemudian nyambung direct shuttle ke arah hotel kami.

Jalanan lancar jaya, sehingga nggak sampe sejam, kami udah mendarat dengan selamat di lobby hotel. Tadinya mau langsung mandi trus bobok, namun tergoda sama keindahan night view-nya Macau Tower. Akhirnya jalan kaki menuju pinggiran danau untuk liat pemandangan sambil foto-foto.



Meski agenda naik Macau Tower-nya terpaksa batal karena besok kami kudu ke St. Paul Ruin, melototin pemandangan cakep ini jadi lumayan banget buat mengobati rasa sedih. Mungkin artinya, someday emang harus balik lagi, ya? Semoga.

Meanwhile, let's call it a day. Sekarang bobok duyu! *naikin kaki ke tembok*

5 comments:

  1. Seru banget ya, Sarah....isa liat orang main kasino walau kesananya penuh perjuangan. Ngeri juga ya orang HK isa galak2 gitu :(
    Btw dari HK mau ke Macau juga harus urus imigrasi ya? Tanpa visa kan?

    ReplyDelete
  2. Erika: He eh, bingung kalo mau nanya jalan, kebanyakan mereka nggak bisa bahasa ing soalnya :((( Tapi di Casinonya sih seru banget! :D

    He eh, soalnya itungannya udah beda negara kan. Tapi nggak usah pake visa kok :D

    ReplyDelete
  3. Gue kok ngakak ya malah ngebayangin pas kalian berdua minta kembalian ke drivernya. :))
    Btw, gilingan itu apa sih? .-.

    ReplyDelete
  4. Aaaaak Venetian bagus banget. Pengen ke sana juga jadinya. Ayo lanjutin Sar ceritanya!

    ReplyDelete
  5. Kresnoadi: Pas kejadiannya sama sekali kagak kocak lhooo, soalnya tampang drivernya udah sangar dan jutek duluan. Kepengen nangis iya :))

    Gilingan itu gila, artinya :D

    Icha: Iyaaah bangeeeet euy! Aku juga sukaaaa! Agak nyesel kmrn nggak nginep di sana. Abis mehong sih :))

    Ho oh, masih ditulis nih, sabar yaaa :D

    ReplyDelete