Thursday, 12 May 2016

Review - AADC 2 (Spoiler)

Disclaimer:

1. Review ini penuh spoiler. Jadi bukan untuk dibaca oleh kalian yang belum dan masih berniat nonton yaa.
2. Review ini bersifat sangat subjektif. Jadi kalo ada yang nggak sependapat, wajar kok. Please take it lightly.

-

AADC pertama tayang di bioskop saat gue duduk di bangku sekolah dasar. Berhubung masih bocah piyik, tentu gue nggak ikutan hiphiphura-nya saat itu. Gue baru nonton AADC dua tahun kemudian, di pertengahan bangku SMP. Kendati gue adalah fangirl-nya Eiffel I'm in Love, gotta admit, I love AADC. Pesona dan kharisma Rangga sukses bikin gue susah bobok siang dan malam, pokoknya...

Belasan tahun kemudian, ketika Line membuat film pendek AADC, gue girang luar biasa. Semacem hiburan untuk mengobati rasa kangen, yang juga menyimpan harapan akan terkuaknya sedikit jawaban untuk tanda tanya dan kejelasan dari ending film pertamanya. Kenapa sedikit aja? Karena gue pribadi, lebih suka akhirnya yang nggak terlalu obvious. Penonton cukup diberikan clue, kemudian biarkan imajinasi yang memutuskan. Jenis ending kayak gitu terbukti lebih memorable, karena mengundang diskusi dengan kemungkinan yang hampir tidak terbatas.


Line's AADC mini serie nailed it. Gue bener-bener suka. Dan berharap semuanya berhenti di sana.

Iya, gue termasuk salah satu yang kecewa ketika mendengar bahwa AADC akan muncul sekuel lengkapnya. Sekuel, selalu hanya punya dua kemungkinan. Lebih bagus atau lebih jelek dari film pertama. Perbandingannya sangat apple to apple, dan tak terelakkan. Kalo lebih bagus, artinya keberhasilan besar. Tapi kalo nggak sebagus yang pertama, malah bisa ngancurin semuanya. Drop shaaay, kalo kata anak sekarang.

Apalagi setelah mendengar kabar bahwa Alya (Ladya Cheryl) nggak ikutan. Geng Cinta tanpa Alya? Makin pesimislah gue sama AADC 2.

But heeey, we've still got NicSap and DiSas! Ditambah segala woro-woro dan euforia yang terjadi bahkan jauuuh sebelum film ini rilis, gue jadi dengan mudah menyimpulkan bahwa sepertinya AADC 2 menjanjikan. Bisa aja, kekhawatiran gue nggak beralasan.

Karena itulah, gue mengiyakan ajakan Roy untuk nonton film ini barengan temen-temen kuliahnya. Lagian di minggu pertama dan kedua AADC 2 rilis, kalo udah nonton Civil War, mau nonton apalagi di bioskop? Wong filmnya cuman dua itu. :))

Kembali ke AADC 2, optimisme gue ternyata langsung bubar jalan beberapa menit setelah filmnya mulai. Sampe di pertengahan film, gue udah bisa jump to the conclusion. Udah gitu, terlalu banyak kebetulan sampe-sampe gue mengerutkan dahi. Kok jadi cheesy?

Poin lainnya yang juga gue sayangkan adalah absennya Alya, yang mana menyebabkan geng Cinta seakan pincang dan kehilangan perekatnya. Keputusan menyerahkan peran Alya pada Karmen, malah membuat yang bersangkutan akhirnya terlihat seperti berkepribadian ganda. Aneh, dan sama sekali nggak pas.

Chemistry dari persahabatan yang berjalan selama 14 tahun juga kurang terasa. Geng Cinta yang ini lebih terlihat seperti baru beberapa bulan kenal dan berteman. Nggak terasa gregetnya. Entah faktor hilangnya Alya, atau, script-nya yang gagal memunculkan keakraban itu. Mungkin ketutup sama prioritas menjaga keanggunan wanita-wanita di awal 30 ini. Entahlah. Yang pasti, gue juga punya geng yang beranggotakan perempuan semua. Namun bedanya, kami udah lupa caranya jaim di depan satu sama lain. Pokoknya udah kayak keluarga, jadi nggak ngerasa perlu ada yang di-sugar coat lagi. Makanya, gue jadi sama sekali nggak relate sama persahabatan geng Cinta, meskipun, bisa aja emang geng gue yang kelewat cablak ya...

Selain geng Cinta yang seperti dipaksakan, kehadiran Trian (Ario Bayu) di film ini sebagai tunangan Cinta juga tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sang sutradara dan penulis skenario. Statusnya padahal penting, lho. Tunangan dari pemeran utama. Masa depan Cinta di awal film, karena sebentar lagi (asumsinya) mereka akan menikah.

Tapi sama sekali nggak diceritain background dan personality-nya. Pokoknya doi digambarkan tajir, kurang suka art, dan berbanding 180 drajat sama Rangga. Udeeeh, gitu aja. Sisanya, mata dan hati penonton dipaksa untuk fokus ke kandidat satunya yang juga sedang berusaha mendapatkan hati Cinta (lagi). Dipaksa untuk nggak peduli sama Trian.

Alasan kenapa Cinta bisa jadian sama Trian aja sampe sekarang masih jadi tanda tanya buat gue. Kalo emang beda kesukaan dan nggak punya kesamaan, kenapa bisa jadian, sih? Apa karena Mbak Cinta udah umur 30, cakep, karirnya bagus, lalu takut jadi omongan tetangga karena sudah terlalu lama sendiri?

Namun dari semuanya, loop hole yang paling fatal dari keseluruhan panggung AADC 2 adalah kisah kasih dan konflik dari kedua pemeran utamanya. Pengambilan keputusan yang dilakukan oleh Cinta hampir semuanya gue pertanyakan. Karena banyak yang kurang masuk diakal untuk ukuran cara berpikir wanita di awal 30-an.

Contohnya, saat Rangga (yang jahat dan egois ini) mutusin dia gitu aja karena omongan bapaknya. Tanpa penjelasan. Katanya Cinta ancur banget. Tapi kok maafinnya gampang? Okelah kalo cuma maafin. Kan udah dewasa. Tapi kok masih berbunga-bunga diajak menyusuri sepanjang jalan kenangan? Emang nggak takut disakitin lagi?

Ya karena Cinta masih cinta dong! Oke. Cinta masih cinta.

Tapi for the record, she's 30 by now. Masa iya sih, perempuan berumur 30 tahun masih disetir sama perasaan? Masa iya, logikanya belum mengambil alih?

Apalagi Cinta digambarkan sebagai wanita metropolis, well educated, dan dewasa. Lha kok pergi jalan sama mantan seharian ending-nya doi langsung nyosor duluan. Dikasih puisi langsung lupa pernah disia-siakan. Perasaan ancur banget sembilan tahun lalu itu, masa nggak sedikit pun ngasih peringatan?

Sungguh, gue gagal paham.

Buat gue, alasan-alasan yang jadi dasar pengambilan keputusan Cinta sangatlah lemah. Not to mention, abege banget aaah. Rasanya sebagai sesama perempuan, sulit membayangkan bahwa jika gue ada di posisi Cinta, gue akan milih Rangga. Apalagi jika tandingannya adalah Trian, seorang laki-laki mapan dan tampan, cuman nggak nyeni aja. #TimTrian

Ditambah ending yang predictable dan soundtrack yang bising, AADC 2 memaparkan dengan jelas segala kekhawatiran gue tentang sekuel ini sejak awal. Sedih banget, mengingat jika skenarionya digarap dengan lebih dalam, film ini bisa jadi keren sekali. After all, kualitas barisan aktor dan aktrisnya kan luar biasa.

Satu-satunya hiburan gue sepanjang nonton selain kekecean NicSap, hanyalah puisi-puisi Rangga. Diuntai dengan begitu indah oleh Aan Mansyur, barisan kalimat yang tertuang dalam buku Tidak Ada New York Hari Ini menjadi highlight yang menyenangkan.

Selebihnya? Mungkin subjektif, tapi jika waktu bisa diputer ulang, gue lebih memilih nggak tau apa yang terjadi dengan Rangga dan Cinta di AADC 2.

PS : Baca review AADC 2 versi Roy di sini :)

9 comments:

  1. Kak Teppy: *tos sama kak Teppy* :>

    ReplyDelete
  2. beruntung cinta, kalo gw yang mutusin tunangan seenak udel begitu pasti udah dibakar sama emak gw deh. Apalagi kalo katering sama undangan terlanjur di DP :D

    ReplyDelete
  3. Etty: AHAHAHAHA SAMAAAA :))) Udah mau nikah tau-tau buyar gara-gara ketemu mantan trus CLBK. Eaaaa, katering sama gedungnya yang menang banyak :)))

    ReplyDelete
  4. Setuju pendapat kamu. Wanita umur 30an, well educated, udh hampir ga mungkin mikir cinta2an perasaan, yg ada lebih mentingin kemapanan, apalagi cinta pernah disakiti. Urusan cinta dan perasaan no kesekian. Itu realita ya. Tapi namanya juga film,, dibuat menyesuaikan selera yg nonton, yaitu para abg yg baperan. Kalau kita2 yg seangkatan cinta umur 30 thnan ya pasti kecewa berat, termasuk saya.

    ReplyDelete
  5. Brillie: *toss*

    Iya yaaa, mungkin emang target penontonnya justru bukan angkatannya Cinta ya? Padahal kan kita-kita ini yang nonton AADC 1 :))))

    ReplyDelete
  6. mungkin karena AADC1 belum banyak pesaingnya..maka pada jaman dulu film ini paling seru dan menarik ketimbang lainnya..

    best regard :
    Jasa air mampet di bekasi

    Jasa air mampet di karawang

    ReplyDelete
  7. Sama kak. Aku pecinta eiffel i'm in love juga. Tapi nontonnya baru pas tahun 2013. Pas masih smp.

    ReplyDelete