Sunday, 10 April 2016

#Japaneymoon - Tips Flashpacking ala Mrs. Saputra

Liburan ke Jepang nggak musti mahal kok. In fact, banyak hal yang bisa disiasati agar kunjungan ke negeri Sakura ini bisa terlaksana dengan maksimal, tanpa merusak dompet terlalu parah.

Seperti saat #Japaneymoon kemaren, kami menerapkan beberapa penghematan berkaitan dengan akomodasi, supaya terhindar dari makan nasi aking sepulangnya kami ke tanah air. Tapi nggak sampe backpacking juga sih, secara sang istri yang manja ini mana tahaaan?

Jadi secara overall cost, nggak gede-gede amat (nggak sampe semahal harga paketan tour), namun dibilang kecil... ya nggak juga. Puji Tuhan, meskipun nggak bergelimang yen, perjalanan bulan madu kami tetep menyenangkan.

Buat klean yang kepingin ke Jepang namun terbatas secara budget, tenang! Asal ada niat dan keberanian mah, bisa, kok. Ini nih, tips-nya:

-
Sebelum berangkat:

1. Promo Airlines

Banyak banget kok, penerbangan yang suka kasih promo tiket murah ke Jepang. Gue berangkat karena dapet harga yang lumayan bersahabat sama kantong dari AirAsia. Beberapa waktu yang lalu, SQ juga kerja sama dengan BCA untuk bikin promo, dan ada rute ke Jepang. Masih ada beberapa penerbangan lain yang sering bikin hot deals. Jadi make sure you get updated by following their social media.

Untuk range harganya sendiri, kalo budget airlines seperti AirAsia, harga promonya berkisar Rp 2.500.000,- sampai Rp 4.000.000,-. Sedangkan untuk premium airlines seperti Garuda, harga promonya berkisar antara Rp 4.500.000,- sampai Rp 6.000.000,-.

Kalo dapet harga segitu, jangan kebanyakan mikir. Keburu abis. Langsung ambil!

2. Low season

Jepang adalah negara dengan empat musim. Sebenernya, Spring adalah waktu terbaik untuk liburan ke Jepang... kalo ngana berlebih secara budget. Menyaksikan mekarnya Sakura emang jadi agenda utama yang dirasa sayang untuk dilewatkan di negara ini. Namun, resikonya, harga tiket pesawat, hotel, maupun tour bisa naik sampe dua kali lipat

Untuk flashpacker macem gue dan suami, Spring tentu bukan pilihan. Kami nggak mungkin bobol seluruh tabungan demi hanami. Summer yang termasuk golongan high season pun ikut dicoret. Lagian kejauhan juga sama tanggal nikahan kami. Bisa keburu hamil, gue. Belom masalah heat stroke.

Akhirnya yang tersisa tinggal Winter dan Autumn. Winter sebenernya termasuk low season, namun, opsi tanpa bagasi hampir nggak mungkin terlaksana, secara... bisa mati kedinginan dooong, kalo nggak bawa jaket bulu angsa.

Akhirnya, we're going for Autumn. Selain emang pas secara tanggal, cuacanya pun nggak terlalu ekstrim. Adem-adem aja, belum terlalu dingin tapi nggak panas juga. Bonusnya, bisa liat Maple Leaf berguguran di mana-mana.

3. Bawa koper beroda

Tadinya, Roy mau bawa backpack ke Jepang. Untung gue larang. Dan meskipun kami kudu merogoh kocek lebih untuk membeli cabin luggage (soalnya nggak punya), setidaknya pundak nggak pegel gendong bawaan terus menerus.

Hampir seluruh stasiun yang ada di Jepang punya eskalator dan/atau elevator kok. Ditambah trotoarnya mulus dan lebar seperti pantat ABG. Makanya, nggak perlu khawatir bakalan kesandung karena ngegeret koper.

4. Jika memungkinkan, nggak usah bawa bagasi

Konsekuensi dari bawa bagasi adalah, kalo pas dapet penerbangan yang transit pas pergi maupun pulang, bayar bagasinya empat kali, sis. Manalah kalo budget airlines, bagasinya kan mahal yak. Nangis deh, tuh dompet...

Udah gitu, konsekuansi lain yang dipikul oleh koper yang cukup besar sehingga harus masuk bagasi adalah, setiap kali menyewa loker, kudu milih yang paling gede. Atau worst case, malah nggak ada loker yang muat.

That's why, for me, no baggage is the safest

5. Itinerary

Mau ke mana aja? Destinasinya tersebar di berapa kota? Gimana susunannya?

Ketiga pertanyaan ini harus udah terjawab sebelum membuat di itinerary. Terutama kalo berencana untuk mengunjungi lebih dari satu kota. Harus jelas jadwalnya, supaya pemakaian JR Pass-nya bisa dimaksimalkan. 

6. Siapkan yang mungkin disiapkan dari jauh-jauh hari

Booking-an hotel, JR Pass / whiller bus, dan tiket masuk destinasi wisata (kecuali FFF Museum ya, lain soal), sebisa mungkin harus sudah beres sedari di tanah air. Kenapa musti begitu? Pertama, karena JR Pass nggak bisa dibeli dadakan di Jepang. Kedua, karena segala sesuatu yang ngedadak, hampir pasti jadinya malah lebih mahal, khususnya hotel.

7. JR Pass


Kereta adalah transportasi paling reliable di Jepang. Selain cepet, harganya juga terbilang lebih ekonomis, ketimbang misalnya, sewa mobil. Asiknya lagi, kereta-kereta ini nggak hanya menghubungkan destinasi-destinasi dalam kota, tapi juga antar kota.

Untuk bisa menggunakan kereta, khususnya kereta antar kota atau shinkansen, kudu punya yang namanya JR Pass. JR Pass adalah semacam tiket terusan untuk segala moda transportasi milik JR. Dari mulai kereta sampe bus, semua nggak perlu bayar lagi.

Ada tiga pilihan lama waktu JR Pass, yakni 7 hari, 14 hari, dan 21 hari. Tinggal sesuaikan sama budget dan itinerary, deh.

Oh ya, seperti yang gue bilang di poin sebelumnya, JR Pass nggak bisa dibeli dadakan. Jadi JR Pass harus udah dibeli sebelum sampai di Jepang ya. Kemaren, gue dan Roy beli JR Pass secara online di japan-rail-pass.com, dengan pertimbangan, bukti pembelian JR Pass-nya dianter sampe ke rumah. Pembayarannya pun pake kartu kredit, jadi nggak perlu nuker-nuker yen dulu. Dapet bonus guide map, lagi!

8. Antisipasi pet peeve

Setiap orang punya pet peeve yang berbeda-beda. Misalnya, ada orang yang pet peeve-nya berhubungan sama kebersihan. Doi nggak betah kalo cebok nggak pake air, nggak bisa pipis kalo WC-nya jorok. Otomatis, solusinya adalah bawa tisu basah dan tatakan kloset ke mana-mana.

Pet peeve gue adalah makanan. Gue sangat amat rewel urusan makanan. Picky berat, persis milih jodoh. Makanya, meskipun destinasi kami adalah Jepang, yang mana makanan daerahnya adalah sushi, ramen-ramen, dan goreng-gorengan ala Hokben, tetep aja sebelum berangkat, gue parno bakal nggak doyan.

Alhasil, gue beli abon dan keripik kentang buat jaga-jaga. Just in case gue udah bokek eneg makan makanan Jepang, tinggal beli nasi putih, trus keluarin abon deh. If I could turn back time, mungkin gue juga akan bawa Indomie goreng. (kemudian bingung mau masak di mana)

9. Comfort over pretty

Keuntungan dari prinsip ini ada dua. Pertama, bawaan baju di koper jadi minimalis. Jeans bisa dipake dua sampe tiga hari, yang penting kaos tiap hari ganti. Kelar. Nggak perlu susah-susah mikir besok pake baju apa. Wong kombinasinya cuma dua itu, ditambah jaket / coat.

Kedua, nyaman di badan saat jalan-jalan. Gue paling nggak bisa jalan jauh, terbang, dan main ke theme park pake rok. Nggak betah, dan belum menguasai duduk dengan anggun setiap saat, terutama kalo lagi capek dan cranky. Bawaannya otomatis ngangkang (sounds sooo wrong). So for me, jeans is the best. Hot pants okelah, tapi menyesuaikan cuaca ya...

10. Manfaatkan AirBnB

...dan segala kelebihannya, seperti, lokasinya yang umumnya lebih strategis, harga yang umumnya relatif lebih murah, dan fasilitas yang umumnya lebih lengkap. Gue pribadi, ketagihan dan kepingin pake AirBnB lagi untuk destinasi wisata kami yang selanjutnya. Bener deh, jauh lebih menyenangkan tinggal di pemukiman penduduk setempat ketimbang hotel-hotel dengan standar internasyonale. Di mana-mana juga sama kan, soalnya?

11. Download Aplikasi

List aplikasi yang dibutuhkan untuk memaksimalkan liburan di Jepang, bisa dicek di postingan Roy yang ini. Lengkap, dari mulai navigator perjalanan sampe humble brag apps. Namun perlu diingat, kebanyakan aplikasi tersebut membutuhkan koneksi internet. Maka, make sure to get your pocket wifi ready.

Kenapa harus pocket wifi?

Buat gue pribadi, ini adalah pilihan yang paling praktis, mengingat satu pocket wifi bisa digunakan untuk beberapa device sekaligus. Semisal beli simcard, kan kudu masing-masing. Kalo pocket wifi tinggal janjian aja untuk patungan harga sewanya (USD 53 per 5 hari). Langsung bisa nikmatin unlimited internet access dengan kecepatan yang oke tanpa khawatir, deh.

Sesampainya di Jepang:

1. Haneda Inn & Resort

Berhubung kami sampe di Jepang jam setengah satu pagi, gue dan Roy sepakat, malem pertama, kami akan tidur di bandara. Dengan jaminan Roy bahwa kursi panjang di Haneda cukup nyaman untuk ditiduri, gue menyetujui ide gila itu. Bok, that would be my first time bobok di fasum! Deg-degaaaan!

Puji Tuhan, dengan bantuan Antimo, gue tidur pules meskipun hanya beralaskan busa tempat duduk dan berbantal tas tangan. Koper dan sepatu yang gue taro di samping kursi pun masih ada sewaktu gue bangun keesokan paginya. Kalo di Indonesia mah, baru merem lima detik udah isgon pasti ya...

Semisal khawatir sama barang bawaan, ada loker juga kok, di lantai paling atas. Tinggal drop bawaan di sana, trus bobok dengan tenang deh. Nggak cuma loker, Haneda juga punya kamar mandi umum. Meskipun berbayar sih.

Jadi, boleh lah, nyicip semalem dua malem (atau tiap malem?) di Haneda Inn & Resort. Lumayan lho, hemat akomodasi!

2. Bento

Pokokke di Jepang mah, nggak perlu kuatir soal makanan! Secara convenience store yang jual bento tersebar di segala penjuru. Kapan aja laper, tinggal melipir. Udah enak, beragam, murah (kusaran harganya sekitar 600 yen). Perut hepi, lidah hepi, kantong hepi. HORE! Hidup bento!

3. Air mineral

Demi kenyamanan pundak, tinggalin aja itu botol minum di hotel. Kalo pas aus, tinggal liat sekeliling kok. Sepanjang mata memandang, pasti ada convenience store atau vending machine. Hampir semunya menjual air mineral. Harganya pun masih masuk akal kok, sekitar 100 yen. Kecuali di theme park yaaa. Lain soal deh, kalo itu.

4. Loker

Baru pindah kota dan belum bisa/sempet check in hotel? Tenang, kan ada loker!

Loker-loker ini bisa dijumpai di hampir seluruh stasiun besar di Jepang. Tarifnya pun masih relatif bersahabat, hanya sekitar 600 yen (tetep tergantung dimensi dan lama waktu penyimpanan). Jadi sebelum lanjut jalan-jalan, drop aja dulu semua bawaan di loker supaya punggung dan pundak nggak pegel. Begitu udah mau pulang ke hotel dan check in, baru ambil lagi, deh.

However, harus diingat, terdapat batas maksimum waktu pada penyewaan loker ya. Perhatiin hal ini, karena kalo barang nggak diambil lebih dari waktu yang ditentukan, lokernya kebuka otomatis lho. Ribet kan, kalo belanjaan di adult shop Akihabara diliat semua orang...

5. Jam operasional objek wisata

Ini kudu banget diperhatiin, apalagi kalo main agenda-nya adalah mengunjungi kuil-kuil. Ada beberapa temple di Jepang yang hanya beroperasi sampai jam 17.00 waktu setempat. Jadi, datengnya dari pagi atau siang hari ya! Supaya puas sight seeing-nya :)

6. Language barrier

Sebagian besar orang-orang yang gue temui di Jepang, khususnya kota kecil seperti Kyoto dan Tottori, jarang ada yang bisa berbahasa Inggris. Untungnya, petugas-petugas stasiun kereta, masih paham kalo gue dan Roy nanya-nanya arah. Kalopun bingung jawabnya, mereka kreatif dalam mencari cara kok, seperti menjelaskan pake gambar di kertas, ataupun dengan bahasa tubuh. Puji Tuhan, dengan daya imajinasi yang mumpuni, gue dan Roy selalu mengerti apa yang ingin mereka sampaikan, sebelum yang bersangkutan jedotin kepala ke tembok.

7. Belanja souvenir

...pas deket-deket mau pulang aja. Terutama kalo berupa omiyage seperti Tokyo Banana, KitKat, atau Pocky. Hemat tenaga dan tempat, karena, selain bentuk packaging-nya yang lumayan gede, berat juga kali ah, dibawa ke sana ke mari selama jalan-jalan. Jadi jangan terbawa nafsu bebelian di awal trip ya! Agenda belanja oleh-oleh mah ditaro di detik-detik udah mau balik aja.

-

Semoga segala tips ini bermanfaat bagi kalian yang sedang merencanakan liburan ke Jepang ya! Amiiin.

Cups! 

3 comments:

  1. such an AMAZING blog!!

    hey, would you visit mine back and leave any mark on it ^^ thank you!
    http://www.chippeido.co.vu

    ReplyDelete
  2. suka dengan blog lo sar tentang japaneymoon, seruuuuu dan ngebantu bgt yg buat mw traveling ke jepang

    ReplyDelete