Tuesday, 22 March 2016

#Japaneymoon - Fujiko F. Fujio Museum

Minggu, 25 Oktober 2015

Hari terakhir kami di Jepang! Hiks.

Begitu kebangun kami langsung mandi bebek, sarapan, bebenah, dan siap-siap untuk check out. Kunci pintu dikembalikan ke loker, lalu kami pamitan via email dengan sang land lord. Sampai jumpa di lain kesempatan ya, apartemen cantik. It's been a very great nights. *ngomong sama pintu*

Fujiko F. Fujio Museum adalah tujuan kami selanjutnya.

Sebelumnya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait kunjungan ke museum FFF:

1. Tiket masuk FFF tidak bisa dibeli on the spot.

Inilah mengapa sebaiknya FFF diletakan di awal trip.

Soalnya tidak ada penjualan tiket di museumnya sendiri. Tiket masuk hanya bisa dibeli di mesin Loppi yang tersedia di Lawson. Meskipun mesin Loppi nggak menyediakan opsi pilihan dalam bahasa Inggris, jangan khawatir, di website resmi FFF ada panduannya, kok.

2. Ada 4 pilihan jam kunjungan.

10.00, 12.00, 14.00, dan 16.00. Saat membeli tiket, udah musti tau mau pilih kunjungan yang jam berapa.

Kenapa sih musti dibagi begini? Tentu untuk membatasi crowd ya. Namanya juga museum, kalo keramean malah berpotensi merusak exhibit yang ada, kan...

3. Slot tiket di hari dan jam kunjungan tertentu bisa habis.

Jadi, sebisa mungkin, pembelian tiket dilakukan dari jauh-jauh hari ya. Supaya nggak kehabisan dan bikin itinerary berantakan.

4. Toleransi keterlambatan hanya 30 menit.

Lebih dari itu, tiketnya dianggap angus. Silahkan dadah-dadah aja dari depan.

5. (maka dari itu...) Berangkat lebih awal.

Jangan mepet-mepet. Selain perjalanannya yang makan waktu agak lama karna emang agak jauh, stasiun Shibuya itu gedaaa dan agak membingungkan. Pastikan punya spare waktu kalo-kalo sampe nyasar dan kudu nanya kanan kiri, deh.

Setelah terlebih dahulu menitipkan koper di loker stasiun Shinjuku, kami naik ke kereta yang menuju Noborito (Odakyu Line) untuk mencapai daerah Kawasaki. Perjalanannya makan waktu lumayan lama, sekitar setengah jam. Sekeluarnya dari stasiun Noborito pun, kami masih musti menyambung dengan shuttle bus yang sudah disiapkan oleh pihak museum. Detail lengkap mengenai akses dan biaya yang diperlukan untuk menuju Fujiko F. Fujio Museum bisa dibaca di postingan Roy di sini.

Kami sampai lebih awal lima belas menit dari waktu kunjungan, dan langsung bergabung dengan antrian yang sedang menunggu giliran masuk. Tepat pukul 14.00 waktu setempat, kami dipersilakan masuk ke dalam museum setelah sebelumnya menukarkan tiket reservasi Lawson dengan tiket beneran. Lalu, kami diberikan floor guide, di-brief terkait dos and don'ts, juga dipinjamkan sebuah audio device yang tersedia dalam beberapa pilihan bahasa, termasuk bahasa Inggris. Bentuknya kayak henpon jaman dulu, dan cara pakenya juga gampang. Tinggal pencet nomor yang tertera dalam exhibit tertentu, lalu dengerin deh, penjelasan terkait exhibit tersebut.

Peraturan paling utama museum FFF adalah tidak diperkenankan memotret di dalam museum. Foto-foto hanya bisa dilakukan di luar area museum, seperti manga reading corner dan rooftop.

Museum FFF terdiri dari tiga lantai dan beberapa area. Petualangan kami dimulai dari ground floor. Di sini, kami disambut oleh karya-karya orisinil buatan tangan Fujiko F. Fujio. Hasil gambar dari manga artist pencipta Doraemon ini memenuhi ruangan yang telah diatur pencahayaan dan suhunya agar kualitas kertasnya tidak mengalami penurunan. Layaknya menjaga sebuah maha karya.

Selain itu, ada juga maket proses pembuatan sebuah komik, yang dijelaskan dengan teknologi hologram, dan Doraemon serta Nobita sebagai pemandunya. Yunik dan kreatif bangeeeet ih! Sukaaak.

Replika meja kerja Fujiko F. Fujio, lengkap dengan perpustakaan yang menjulang di atasnya juga bisa dilihat di sini. Pas liat meja kerjanya FFF, gue baru engeh, ternyata doi tuh suka banget ya sama Dinosaurus?

Yang suka baca komik Doraemon, pasti tau deh, ada banyak sekali cerita yang berbau-bau Dinosaurus. Ternyata karna author-nya emang doyan. Hihi.

Dari ground floor, kami naik ke lantai satu. Di sini, terpampang nyata beberapa seri petualangan komik Doraemon dan P-Man. Berhubung udah baca semua, kami nggak terlalu lama di area ini, dan memilih keluar untuk menemui Charming Giant. Ada yang masih inget ceritanya? ;)

Untuk bisa berfoto bersama, tentu harus antri terlebih dahulu. Setelah itu, kita harus 'mengeluarkan' si Giant dengan cara memompa tuas yang tersedia. Wait, is it just me or it does sound oddly wrong?

("Uh, it's just you, darling. You and your dirty mind.")

Anyway, selanjutnya, pose deh!


Jadilah kenang-kenangan kami bersama si bongsor yang lagi charming dari geng Nobita. YAAAY!

Kelar berfoto, kami kembali ke area indoor, dan memasuki exhibit terakhir museum FFF, yakni kehidupan pribadi Fujiko F. Fujio. Kumpulan foto-foto keluarga, gadget favorit, sampe surat dari istri manga artist besar ini kepada suaminya yang telah beristirahat di Surga. Dalam suratnya, sang istri bercerita bahwa karya-karya suaminya akan selalu hidup, dicintai, dan menginspirasi banyak orang. Maniiis sekali, deh. *apus lelehan ingus air mata*

Penutup yang begitu indah dan memorable untuk perjalanan kami di museum FFF.

Sekeluarnya dari area museum, kami mengembalikan audio device kepada petugas, lalu lanjut foto-foto.


eeeh ada Nobita!




Tadinya kepingin icip-icip cemilan di cafe-nya FFF, namun rencana tersebut langsung buyar begitu ngintip antriannya. Waiting list-nya sejam lebih book. Kapan-kapan aja, deh.

Sebagai gantinya, kami beli jajanan di cart yang buka lapak di rooftop. Dorayaki buat Roy, dan Roti Pengingat mini buat gue.


Cuaneeet yaaah?

Kami makan sambil menikmati pemandangan deretan rumah yang strangely, mirip dengan Nobita's neighborhood, dan angin musim gugur dari atas rooftop. Selanjutnya, kami turun untuk nonton manga di theater room, dan akhirnya, kunjungan kami ditutup dengan belanja oleh-oleh di souvenir store.

Ah, syenaaang! Thank you, FFF Museum, for the nostalgia!

Sekitar jam setengah 4, gue dan Roy udah berdiri dalam antrian, menunggu shuttle bus yang akan mengantar kami kembali ke stasiun Noborito. Kali ini, kami kebagian shuttle bus yang Doraemon dooong. Horeee! Pas berangkat kebagian yang P-Man.



Boleh nggak sih bus di Jakarta begini dekorasinya? *sms Ahok* *abis itu dijejelin kabel*

Sesampainya di stasiun Noborito, kami balik ke stasiun Shinjuku. Niatnya sih mau sight seeing dan puas-puasin menikmati gemerlapnya malam di Tokyo sebelum balik, namun apa daya, hajaran angin dan suhu 14 drajat di luar, membuat sang istri menggigil kedinginan meskipun udah pake coat dan sarung tangan.

Walhasil, kami memilih untuk nyari yang anget-anget aja. Masuk deh, akhirnya, ke sebuah kedai makanan. Roy pesen Udon, aku pesen Ramen.



Rasanya? Hmmm, gue pribadi sih lebih doyan Ramen di Osaka ya. Yang ini kurang gurih, trus kayak kebanyakan Soy Sauce :(

Tapi lumayanlah. Dan yang paling penting, hangaaaat. Sehangat pelukan mantan.

Kelar makan, berhubung jadwal boarding masih lama, kami sempetin jalan-jalan dulu sebelum menuju bandara.



Sekitar jam delapan malam, kami ambil koper di loker, dan lompat ke kereta dengan tujuan Haneda. Gegalauan starts... now! *melemparkan pandangan ke luar jendela*

You know what, maybe they're right. Once you go to Japan, a tiny piece of your soul will be left there foreverNo matter where you go, your heart will always have a spot for this classic yet modern and beautiful country. Kayak cinta pertama gitu deeeh. Most likely nggak bakalan pernah bener-bener move on.

Gaaah gue harus balik ke sini lagi, someday. I don't know when, but I'll be back, for sure. Mungkin udah bawa buntut? For sure our children is gonna inherit their dad's love for adventure and culture, also their mom's unhealthy obsession towards Disney. And Japan will be a perfect place for our family holiday.

Lamunan gue buyar ketika announcer di kereta mengumumkan bahwa kami sudah sampai di Haneda. Kami turun dari kereta, mampir ke mini market sebentar untuk beli KitKat green tea, lalu menuju check in desk.

Untung pesawatnya nggak pake delay. Buru-buru minum Antimo sebelum boarding, lalu hitungan menit setelah pantat nempel ke kursi, langsung pingsan, deh. Nggak sempet dadah-dadah dramatis sama Jepang, wong pas take off aja udah nggak denger apa-apa. Hihi.

But anywaySayonara, Japan! Thank you for the past 10 days. It's been amazing! 'Till we meet again!


6 comments:

  1. Duh iya banget sih tiap abis traveling pasti kalo mau pulang bawaannya mellow mellow. Semoga balik balik ke Jepang nanti udah sama anak-anak ya Sar. Amiin

    ReplyDelete
  2. Wah seru ya. Sedih juga kala traveling beralhir. Ditunggu cerita selanjutnya!

    ReplyDelete
  3. Icha : Iyaaah amiiin :") Makasih ya Ichaaa!

    Hanna : Iyaaah, terima kasih yaa :) Doakan rejekinya selalu ada yaaaah :3

    ReplyDelete
  4. ihh bener banget sar, ke jepang itu berasa cinta pertama, susah move on-nya, bawaannya mau balik lagi, explore tempat lebih banyak lagi, semoga bisa balik lagi sama anak-anak yaa.
    aku maunya ngegeret (yang akan jadi) suami aja dulu buat jalan-jalan berduaan kayak kamu, hahaha

    ReplyDelete
  5. seru mba cerita artikelnya ^_^

    saya menunggu cerita selanjutnya

    ReplyDelete
  6. Kak Presy : *tos* Hihihi, iyaaah! Semoga rejekinya selalu ada untuk balik ke sana lagi yaa! Amiiin! :3

    Givro : Trims!

    ReplyDelete