Monday, 14 March 2016

#Japaneymoon - Asakusa & Ueno Park

Sabtu, 24 Oktober 2015

Seperti yang sempet gue singgung di poin terakhir dalam postingan ini, kunjungan ketiga kami ke Tokyo Disneyland dan DisneySea... never happen. Padahal pagi-pagi, gue dan Roy udah sampe di Tokyo Disney Resort. Namun apa mau dikata, kedatangan kami berakhir sia-sia.

Tiket kami nggak bisa di-upgrade.

Gue dengerin penjelasan cast member Disney Park sambil terisak-isak. Roy yang nggak tega, langsung menawarkan untuk beli tiket masuk reguler aja. Gue berpikir sejenak, lalu segera menolak ide itu. Sayang ah. Udah mahal, cuma bisa pilih salah satu theme park a.k.a nggak bisa back and forth, pula.

Ternyata meski lagi sedih, pelit mah tetep yaaa...

Nyesek mah jangan ditanya. Episode gue digandeng Roy sambil nangis masih terjadi selama kurang lebih 20 menit kemudian. Air mata ini baru setop ketika Roy ngajak gue masuk ke Bon Voyage, souvenir store resmi Disney yang terletak di dekat stasiun Maihama.

Dalam kondisi naas dan menyedihkan begini (mata bengkak berair, idung ingusan, dan bibir manyun), hal yang paling mudah dilakukan untuk menghibur diri tentu saja, belanja. Dan sepertinya, suamiku itu paham sekali akan hal ini.

Doi nggak cuma nganterin, tapi kemudian juga mempersilahkan untuk bebelian sampe suasana hati gue membaik. IDIH, BENER NIIIH?


Bisa ditebak, yang terjadi selanjutnya adalah, gue kalap luar biasa mindahin barang-barang lucu dari rak pajangan ke keranjang belanjaan. Baru setop setelah pertanyaan 'koper-bakal-overweight-nggak-yaaa?' terlintas di kepala. Belanjanya sih jadi udahan. Namun isi keranjangnya emang udah terlanjur banyak. Jadi tetep kaget pas ngeliat total di mesin kasir. Bangkrut deh abis ini, but at this point, who cares? Bayaaar ajeee ah. Bodo amat kudu makan Onigiri Lawson sepanjang sisa perjalanan. Kan, yang penting sekarang gimana caranya supaya gue nggak sedih lagi. *pembelaan*

Berhasil sih. Gue hepi bener... saat ini. Setelah liat tagihan kartu kredit? Dijamin kembali sedih... :))

Anyhoo, kelar belanja dalam rangka berusaha melupakan kejadian nyebelin di depan loket DisneySea tadi pagi, gue dan Roy menuju ke stasiun Maihama sambil ngomongin rencana selanjutnya. Mau ke mana nih, kita?

Gue mengusulkan balik ke apartemen dan cuddling seharian, tapi Roy punya rencana yang terdengar lebih oke ketimbang gegulingan sambil menatap langit-langit kamar (oh shit, he knows exactly what I'm gonna do!). Belanja oleh-oleh! Berhubung doi udah baik banget bayarin semua perintilan imut yang gue borong di Bon Voyage, gue memutuskan untuk mengangguk.

Alright, as you wish, baby.

Pokoknya hari ini, judulnya, shop 'till you drop! Kami masuk ke stasiun, dan mengambil kereta menuju Tokyo bagian Utara, tepatnya ke stasiun Asakusabashi.

Ketika tujuannya adalah belanja oleh-oleh, nama tempat ini langsung muncul di kepala Roy. Asakusa adalah sebuah komplek yang terdiri dari kuil Sensoji, yakni kuil Budha tertua di Tokyo, Kaminarimon, yaitu gerbang dengan lentera Merah, dan Nakamise, sebuah pusat perbelanjaan yang berjejer rapat di sepanjang pelataran kuil. Nakamise populer di kalangan turis, bukan hanya sebagai tempat belanja oleh-oleh, tapi juga gudangnya jajanan tradisional Jepang.


Setelah foto-foto di gerbang, kami masuk dan langsung disambut oleh deretan kios yang terhampar di kanan kiri jalan. Deretan kios tersebut memang didominasi oleh dua macam barang dagangan. Oleh-oleh dan snack khas Jepang.


Gue dan Roy langsung melipir masuk ke sebuah souvenir shop yang lumayan gede dan rame. Penasaran juga, apa aja sih yang dijual? Ternyata segalanya ada lhooo, alias palugada! Ape lo mau gue ada. Mungkin ini salah satu faktor yang menjadikan Asakusa adalah tempat belanja (oleh-oleh) yang menyenangkan. Wong komplit. Dari mulai yang mainstream macem gantungan kunci dan kaos, sampe yang aneh macem pedang samurai, semua tersedia.

Kekurangan dari tempat yang dikhususkan untuk turis begini adalah, harga barangnya cenderung mahal. Bahkan buat gue, 'mahal' is understatement sik. Lebih pas disebut 'kagak masuk akal'. YAMASA MAGNET KULKAS AJA SERATUS REBU? -____-

Manalah semua fixed price alias kagak bisa ditawar. Lha jiwa enci-enci Mangga Dua gue mau dikemanain?

Gegara alasan di atas, gue dan Roy nggak belanja terlalu banyak di sini. Cuma beli beberapa perintilan buat buah tangan orang kantor, lalu sight seeing sambil menikmati keramaian dan jajan-jajan aja.


Dari Asakusa, kami naik ke kereta menuju stasiun Ueno, karena tujuan kami selanjutnya adalah Ueno Park.

Ueno Park adalah sebuah taman yang terletak masih di Tokyo bagian utara. Nggak cuma taman, di sekitar Ueno Park juga terdapat beberapa kuil, museum, bahkan sebuah kebun binatang. Ketika musim semi tiba, biasanya, taman ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang berkumpul untuk hanami. Namun, berhubung kami ke sana di musim gugur, nontoninnya mah pohon botak aja ya sis...

Tapi gue tetep menyambut kunjungan dadakan ini dengan hepi, kok. Seperti kebanyakan anak Jakarta lain yang jarang liat taman yang proper, buat gue, Ueno Park ini bagusnya luar biasa. Selain faktor luasnya taman dan tanamannya sendiri, fasilitas umum seperti loker, bangku taman, dan lampu-lampu, semuanya terawat dengan baik.

Nggak berhenti sampai di sana, pengelola Ueno Park Dinas Pekerjaan Umum Tokyo juga menjadikan taman ini sebagai ajang showcase street performer. Jadwal mereka diatur, dan masing-masing mendapatkan satu jam untuk menunjukan aksi mereka. Win-win for everyone, kan? Pengunjungnya seneng karena ada hiburan, performer-nya hepi karena dapet panggung, dan bahkan, penghasilan.




Ueno Park juga menyediakan sebuah lapangan hijau berumput yang sepertinya bebas digunakan untuk piknik maupun bersantai. Di sini, beberapa orang terlihat sedang bobok-bobok syantiek sambil menikmati udara segar di sore hari. Gue, tanpa permisi lagi, tentu langsung bergabung sama mereka. Ikut boboan juga, maksudnya. Tapi ya nggak di sebelah mereka juga kalik, ah.

Meskipun masih gondok dan sedih karena rencana extend ke Disney Parks berantakan, gue mulai percaya, bahwa hari ini ternyata nggak buruk-buruk amat. Gegara kejadian nyebelin itu, gue jadi punya kesempatan untuk guling-guling di atas rumput sambil ngobrol dan sesekali dipeluk sama mas suami. Sebelas dua belas sih, sama film India. But believe it or not, I am happy. Maybe not theme-park-happy, but still, I am.


Maybe they're right, everything happens for a reason, doesn't it?

Menjelang sore, karena laper, kami memutuskan nyari tempat makan di sekitar Ueno. Kami masuk ke mall yang terletak nggak jauh dari taman, namun belum ketemu resto yang sesuai selera. Berhubung bingung, Roy buka google, dan nyari review tempat makan yang enak dan murah di daerah Ueno.

Sebuah blog mengarahkan kami pada sebuah resto yang menjual Pork Katsudon, makanan favorit suamiku. Tanpa pikir panjang lagi, kami langsung masuk.

Restonya sangat sederhana, tapi Puji Tuhan, rasa makanannya warbyasak. Lejaaat pisan! *jilatin mangkok*


Maapkan ya, gue dan suami nggak nyatet nama restorannya, karena dalam bahasa Jepang. Kalo penasaran, coba google dengan keyword 'Katsudon resto around Ueno' aja, pasti ada, deh. #NggakNolong

Kelar makan, kami memutuskan untuk pulang karena hari udah gelap. Di perjalanan balik, kami sempet mampir ke supermarket untuk beli KitKat. Pas mau ke kasir, eeeh ngeliat snack favorit Shinchan! Langsung ngerem, puter balik, dan borong!


Sampe apartemen, gue buka satu buat dicoba, dan ternyata... beneran enak lhooo, pemirsa! Rencana jadiin ini oleh-oleh langsung buyar, karena berakhir dengan gue abisin semuanya sendirian. HUAHAHA.

Begitulah, hari yang emosional ini akhirnya ditutup dengan berbungkus-bungkus Chocobi untuk menemani sesi melodrama packing. Malem terakhir di Jepang nih... Sedih nggak sih, kok tau-tau udah mau pulang aja?

Extend sebulan dong, yaaang... *kemudian jadi gembel*


6 comments:

  1. di asakusa memang mahal sar, aku udah dikasih tau temenku mending jangan belanja disana. kemaren aku beli oleh oleh di LAOX akihabara, lebih terjangkau.
    tapi itu enak ya di ueno park, kamu rebahan foto foto di rumput aja cakep ya kalau ada pasangan, kalau sendirian sih males juga, haha

    ReplyDelete
  2. Kak Presy : Iyaaah, makanya aku belanjanya juga ga bisa banyak-banyak kak. Mahal-mahal sih. Kemarenan ke Akihabara tapi nggak mampir beli oleh-oleh, abis malah heboh mau nyobain masuk sex shop sik :))

    Hahahaha itu satu doang foto yang bagus, yang lainnya awur-awuraaan, kalo nggak gayanya yang kayak gembel homeless, ekspresinya macem orang teler :))) Emang nggak bakat jadi foto model, deh. :D

    ReplyDelete
  3. Untung gak guling-guling depan pintu masuk, Sar :))
    Jadi, bagaimanakah rasa cokobi yang sebenarnya?

    ReplyDelete
  4. Cupah : Enaaaak! Cokobi enak banget! Seandainya kotaknya nggak makan tempat, pingin beli lima lusin rasanya :))))

    ReplyDelete
  5. Oke, jadi berkat baca tulisan ini dapet istilah baru. Palugada. :D
    Rada gimana gitu lihat foto Bang Roy megang sosisnya (eh itu sosis, kan?). Wahaha.

    ReplyDelete