Friday, 12 February 2016

LGBT

Belakangan ini, timeline media sosial sedang diramaikan oleh berita-berita (lepas dari penting atau tidak), seputar LGBT. Dari mulai tindakan penyisiran, statement menteri-menteri, sampe yang teranyar; sticker dan emoticon aplikasi chatting.

Gue pribadi, sebenernya sama sekali nggak terganggu dengan teman-teman LGBT. Buat gue, itu cuma masalah preferensi kok. Gue doyan lawan jenis, situ suka sesama jenis, ya soook. Toh nggak nyusahin gue. After all, urusan kelamin mah masing-masing, selama nggak ada pihak yang merasa dirugikan.

Yang membuat gue jengkel adalah melihat maraknya aksi boikot LGBT di Indonesia. Teman-teman kita, hanya karena orientasi seksualnya berbeda, dipaksa untuk pasrah menyingkir, dijauhi seperti penyakit menular, atau dimusuhi dan dihujat segala lapisan masyarakat. Hak hidupnya dirampas, karena ditindas oleh kaum mayoritas, yaitu masyarakat beragama, yang katanya tinggal di negara demokrasi. Oh, see the irony?

Nggak ada yang bikin gue lebih mual ketimbang orang-orang yang berlindung di balik tameng ajaran agama untuk bertingkah semena-mena dengan orang lain. Apparently, ini praktek yang paling gampang dilakukan, karena siapapun yang membantah, akan langsung dilabel sebagai kafir.

Di agama gue, LGBT pun dilarang. But so is hurting other people, just because their sexual orientation is different.

Di agama gue, poligami dan poliandri dilarang. Bahkan cerai pun dilarang. Tapi apakah itu membenarkan gue untuk menghakimi teman-teman yang melakukan?

Nope, karena, di agama gue, mengasihi Tuhan dan manusia menjadi hukum yang terutama, lepas dari kepercayaan dan preferensi seksualnya.

Berteman dan berinteraksi dengan teman-teman LGBT pun nggak pernah membuat gue sekalipun meragukan orientasi seksual gue. So people, just in case you wonder, LGBT tidak menular. Yang menular itu virus HIV, dan sadly, di Indonesia, yang kena HIV-AIDS malah kebanyakan hetero, mostly lewat celup-celup harom. Monggo dibaca lebih jelas di sini.

Jadi intinya, urusin hidup masing-masing aja, deh. Kecuali situ udah suci dan punya halo di atas kepala, stop judging people's life, just because their sin is different with ours.

Gue bukan pro LGBT, tapi bukan berarti gue setuju mereka diperlakukan semena-mena hanya karena berbeda. Gue berpegang teguh sama agama gue, tapi bukan berarti semua orang yang nggak sepaham sama gue pasti berdosa. Gue menjalankan ajaran kitab suci gue, tapi nggak dengan menindas dan menihilkan orang lain.

Beragama, tapi juga berperikemanusiaan.

Isn't religion supposed to be about love? Why does people nowadays use it for hatred, instead?

11 comments:

  1. Couldn't agree more, Sar. Preferensi seksual kan privacy tiap orang ya ngapain sampe diurusin negara juga padahal masih banyak hal yg menyangkut hajat hidup orang banyak yg lebih urgent utk diurus sama negara. Selama orang-orang LGBT gak merugikan orang lain ya gak usah diusiklah ya apalagi sampe dipersulit hidupnya pake acara boikot boikotan segala sih jatohnya jadi pelanggaran HAM.

    ReplyDelete
  2. boleh ijin share ga sar ? setuju banget sama tulisan ini. aku juga nggak setuju kalo pada akhirnya agama dipakai cuma sebagai kedok untuk melakukan kekerasan terhadap mereka yang "berbeda"...

    ReplyDelete
  3. Icha : Ho oh, mending urusin noh yg korupsi, ISIS dan jaringan terorisnya, ormas yang kerjanya bikin masalah. Ngapain ngurusin LGBT? Mereka ga melakukan apapun yg bikin negara susah, kok. Zzz.

    Nita : silahkan :D

    ReplyDelete
  4. Kalo saya sih tak masalah berteman dengan kaum LGBT, sekiranya jika mereka tak mengajak saya untuk ikut mereka dan tidak mengganggu saya, aku sih baik-baik saja berteman dengan mereka

    ReplyDelete
  5. Bener banget nih, Kak. Setiap agama tentunya melarang. Tapi mereka yang bersikap begitu, nggak berhak jadi Tuhan dong.

    Ya, selama tidak merugikan, kenapa harus dijauhi dan dipandang buruk? :))

    ReplyDelete
  6. Fandhy : Exactly my point. Selama mereka nggak mengganggu dan merugikan kita, kenapa sih kita musti menyerang mereka?

    Yoga : YUP. Setuju bangeeeeet! Seandainya lebih banyak orang yang berpikir seperti kamu ya :D

    ReplyDelete
  7. Utk bbrp poin saya setuju dalam arti tidak melakukan kekerasan terhadap mereka. Menurut saya pribadi Perilaku menyimpang mereka itu MENULAR, bukan menular spt flu atau penyakit lainnya. Tp sangat mudah DITIRU terutama oleh anak2 yg belum mengerti. Kalau sedari kecil anak2 kita yg belum kuat orientasi sexualnya setiap hari disuguhi acara di tv dimana laki2 yg berperilaku spt wanita (dan jadi terkenal), bersikap mesra pd sesama jenis kelamin, apa gk bikin bingung si anak? Bagaimana kalau itu terjadi pd anaknya Sarah? si bocah beranggapan perilaku itu wajar. Perilaku menyimpang ini gangguan jiwa Sarah, mereka bisa disembuhkan asal ada kemauan.
    Mereka berhak dpt pendidikan tapi jangan menuntut Indonesia menerima gender ini apalagi dg promosi yg menyasar anak2, itu KEJAM. Indonesia wajib punya UU anti perilaku menyimpang spt halnya Rusia & Singapura tp hak mereka utk bersekolah dan kerja tidak didiskriminasi
    Saya punya teman yg gay, kami berteman baik.
    IMHO ya Sarah

    ReplyDelete
  8. Pit Aq : Menurut saya, adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk mengedukasi anak-anak kita sehubungan dengan perilaku dan orientasi seksual mereka. Rasanya kurang bijak kalo menyalahkan acara TV. Bukankah kita punya kontrol untuk mengatur apa yang mereka tonton? :)

    Kalo itu terjadi pada anak saya, apapun yang terjadi, dia tetep anak saya. Saya nggak akan lantas membuang dan mengasingkan dia, lalu mencoret dia dari daftar keluarga :)

    Promosi yang menyasar pada anak-anak tuh gimana ya maksudnya? Anak-anak diajak jadi LGBT, gitu? Caranya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget, memang sdh sehrsnya ortu mendampingi anak2 saat nonton tv, termasuk menyaring acara yg layak dilihat. Tapi apakah semua ortu berpikir spt Sarah, spt kita? Bukankah banyak ortu yg "mempercayakan" bayi-batita-balita nya pd pengasuh? Apakah para pengasuh mau berpikir sejauh ini?
      Anak2 kecil perilakunya al terbentuk dg meniru perilaku orang dewasa, meniru dg cara melihat, terutama yg sering dilihat. Sering dilihat lama2 dianggap sbg sesuatu yg wajar. Anak sering melihat laki2 bertingkah spt perempuan(di tv) masuk di benak si anak.
      "Promosi" mereka lwt tv mnrt saya itu promosi terselubung : pembiasaan melihat perilaku menyimpang, disamping lwt medsos (syukur Line tanggap dan menghapus stiker yg mendukung gerakan ini)
      Saya sempat dengar ada aktivis perilaku menyimpang yg minta ijin utk memberi info ttg kegiatan mereka di sekolah2.. helloo... untuk apa?? Spy siswa2 terbiasa dg isu ini? Spy terbiasa melihat perilaku yg tidak diterima oleh agama manapun? Sayangnya saya tidak dapat update, apakah pihak sekolah mengijinkan atau tidak.
      Saya setuju sekali dg pendirian Sarah bahwa kita harus tetap menerima anak kita bagaimanapun keadaannya. Tidak serta merta membuangnya. Semakin dini ortu melihat sesuatu yg "kurang pas" pada anaknya, semakin cepat ortu bisa membantu anaknya.
      Sarah, sudah pernah baca tulisan Prof Sarlito Wirawan sehubungan dg isu ini? Menurut saya itu tulisan bagus, selain komen psikiater Firdiansyah di Indonesia Lawyer Club (bs diihat di youtube part 3)

      Delete
    2. nb : kelupaan nih,
      mereka yg menderita perilaku menyimpang wajib dibantu utk kembali ke kodratnya (teman saya di Sby ada yg sdh berhasil mendampingi beberapa dr mereka, memang perlu waktu dan kesabaran jg kemauan dr ybs), bukan dg cara dianiaya. Saya jg tdk setuju memperlakukan mereka dg kekerasan.

      Delete
    3. Let's agree to disagree, then :D

      Kita sepakat mereka manusia dan mereka harus dipandang sebagai manusia -- punya hak hidup, dan harus dilindungi oleh negara kalo ada pihak-pihak yang semena-mena mau membahayakan mereka, meski atas nama agama dan golongan tertentu.

      Mari tidak sepakat mengenai LGBT itu menular dan bisa disembuhkan. Terkait statement psikiater Firdiansyah, link ini : http://hermansaksono.com/2016/02/dr-fidiansjah-tentang-lgbt-benar-salah.html boleh dibaca sebagai referensi.

      Trims yaa :)

      Delete