Saturday, 27 February 2016

#Japaneymoon - Tokyo DisneySea (Part 2)

Disclaimer:

Postingan ini merupakan kelanjutan dari #Japaneymoon - Tokyo DisneySea (Part 1).

***

Selesai makan es krim, berhubung masih nggak tau mau ke mana, akhirnya gue mengusulkan character hunting. Roy setuju. Baru jalan beberapa langkah, ehhh ketemu papan ini:


Langsung memutuskan untuk antri! Ih, aku mau dooong, ketemu sang putri duyuuung! *pura-pura nggak liat antrinya 45 menit*

Di tengah antrian, tiba-tiba gue inget, kok bisa kelupaan ambil fastpass-nya Mermaid Lagoon Theatre ya? Gue bilang ke Roy, dan suamiku itu langsung sigap menawarkan diri buat ngambilin fast pass-nya, sementara gue tetep antri di sini. Aku langsung terharu. Suami siapa sih iniii? Kok pengertian amaaat? :')

Pas-pasan dengan kembalinya Roy, giliran kami untuk meet and greet dengan Ariel (bukaaan, bukan yang Noah...) tiba. Sebelum foto bersama, putri bungsu King Triton itu dengan ramah menyapa kami berdua. Langsung grogi deh. Maklum, she is our first face character, secara sebelumnya kami fotbar sama costume character terus. Jadi basa-basinya cuma pake gerakan tubuh.

Anyway, beginilah kira-kira conversation kami bertiga:

A: Hello, you two! How are you?
R: We're great! We're here for our honeymoon! *nunjukin cincin*
S: *masih membatu karena terlalu nervous*
A: OH! How sweet! *nengok ke gue* You've already found your prince! Does that mean you saved him? Because I saved mine.
S: *nyengir* Nah, noI wish, but no, I didn't save him from anything. Hihi.

Setelah itu, kami foto bersama, dengan gaya yang diarahkan oleh sang putri sendiri.

sayang kurang centered, hiks :(

Kelar foto, doi nengok ke Roy, kemudian bisik-bisik tapi kenceng, "You're lucky to be with your princess. Take a very good care of her.", lalu tersenyum manis saat kami berdua mengucapkan terima kasih.

Sepanjang perjalanan menjauhi grotto, gue nggak berenti senyum-senyum sendiri. Gosh, she is pretty, friendly, sweet, and lovely at the same time. Ngobrol nggak nyampe semenit aja akhirnya bikin hati ini girang warbyasak. Mana aku dianggep prinses juga. AAAAH. *blushing*

Hal lain yang bikin kagum adalah, menyaksikan bagaimana talent yang memerankan sang putri duyung, sangat into the tale itself. Bukan asal mirip secara kostum dan perawakan aja loh. Totalitas!

Sebelum lanjut nyari karakter untuk diajak foto, Roy tiba-tiba setop di sebuah cart penjual popcorn, dan ngajakin beli. Awalnya gue ogah, mengingat harganya lumayan mahal. Tapi akhirnya luluh juga karena Roy kepengen, dan kalo diliat-liat, bucket-nya juga akan jadi oleh-oleh yang unik.



my happy husband with his Mickey popcorn bucket

Sambil ngemil, kami jalan santai menuju Arabian Coast. Entah kenapa, feeling gue mengatakan bahwa kami akan menemukan banyak karakter di sana. EH BENER AJA LHO!

Begitu masuk, tiba-tiba gue ngeliat unusual crowd di deket Agrabah Marketplace. Langsung selap-selip, dan ternyata, ada Princess Jasmine! AAAAK!


Sayang gue nggak sempet foto bareng. Karena nggak ada barisan, semua orang berebutan untuk ditunjuk sang putri. Gue yang berdiri di sisi pojok deket tembok dan terhalang beberapa orang, jelas nggak keliatan. Jadi yastra, diikhlaskan sajaaa.

Tapi namanya rejeki anak tabah mah nggak ke mana, ya. Selesai memisahkan diri dari kerumunan, tau-tau, entah dari mana, Abu, sidekick-nya Aladin, lari-lari ke arah kami. Gue langsung pasang senyum lebar, dan doi langsung nomplok gue. By nomplok, I mean peluk :')

my super happy face


Selesai foto sama Abu, pas celingak celinguk, ada barisan lumayan panjang di seberang Sinbad's Story Book Voyage. Intip punya intip, ternyata antrain fotbar sama Stitch & Angel! Nggak pake mikir lagi, kami berdua langsung menggabungkan diri dengan antrian.

See the headpiece? Karena di Arabian Coast, jadinya mereka harus dilengkapi dengan aksesoris setema. *keprok tangan*

Gemeeets! *masukin ke koper* *kemudian overweight*

Selesai foto, kami menuju ke Magic Lamp Theatre yang masih berlokasi di Arabian Coast untuk ambil fastpass. Begitu fastpass udah di tangan, kembali kami jalan-jalan tanpa tujuan. Sesuka kaki melangkah aja.

Dari Arabian Coast, menuju ke Mermaid Lagoon, lalu Mysterious Island. Tadinya, kami mau lanjut ke American Waterfront, tapi begitu lewat wahana Journey to the Center of the Earth... LHO KOK RAME?

Gue curiga, lalu memutuskan untuk mendekat. Sedetik kemudian, kecurigaan gue terbukti. BOK, BUKA TERNYATA WAHANANYA! Siakek! Gue dikibulin.

Roy langsung gue ajak antri, nggak peduli papan pengumuman menunjukan lama antrian dari tempat kami berdiri kira-kira masih sekitar 120 menit. Bodo amaaat! Kami harus main! Dari pada nyesel selamanya! Mesin fastpass-nya pun udah ditutup, tanda ludes tak bersisa. So, we don't have any choice but standing in line.

Dua jam ke depan kami lalui dengan ngobrol, shamelessly duduk lesehan di lantai, update status di socmed (untung bawa pocket wifi), dan memandang sinis orang-orang yang lewat antrian fast pass. Oh, sama foto-foto detail menarik yang tersebar di sepanjang line antri. Dianggep pre-show aja sis, biar nggak bosyeeen...




Untungnya, penantian panjang itu terbayar lunas.

Ketika giliran kami tiba, kami dipersilakan masuk ke sebuah lift yang akan membawa kami ke bawah bumi. Kami turun sangat dalam, sampe tempraturnya pun (dibuat) terasa berbeda.


Setelah sampai, sebuah kendaraan yang akan membawa kami menyusuri pusat bumi sudah menunggu. Kami naik, kemudian petualangan pun di mulai.

Journey to the Center of the Earth adalah sebuah kolaborasi antara dark ride dan drop (seperti niagara di Dufan). Yang bikin gue salut adalah detail theming-nya sangat mengagumkan, serta penciptaan atmosfir magis dan menegangkan lewat efek-efeknya. Asli, this is probably the best ride ever made in theme park history.

Ngantri dua jam doang mah keciiil! Satu dasawarsa juga dijabanin! *nangis pelangi*

Gue setuju deh pokoknya, kalo nggak nyicip, nyeselnya sampe 563 turunan. So, do NOT miss it! Oh iya, IMHO, jauh lebih seruuu naik wahana ini di malam hari. :)

Sekeluarnya dari Journey to the Center of the Earth, tau-tau udah gelap aja. Gue sama Roy langsung ngibrit balik ke Arabian Coast, menuju ke The Magic Lamp Theatre.


Karena fastpass di tangan, antrian di depan kami jadi lebih pendek. Puji Tuhaaan. Betis udah bengkak nih.

Sekitar lima belas menit kemudian, kami dipinjamkan sebuah 'magic glasses', lalu dipersilakan masuk ke tempat pre-show. Seperti yang mungkin bisa ditebak, narasinya semua bahasa Jepang. Yang cukup membantu kami cuma gambar-gambar penunjang cerita di dinding. Sisanya? Blas ngorok. Kutakfaham.

Kelar pre-show, teater utama dibuka, dan kami dipersilakan masuk. Dimensi teaternya sendiri lumayan, sehingga bisa menampung cukup banyak orang. Show-nya merupakan perpaduan antara animasi di layar dengan live action performance yang dilengkapi dengan efek 3D, dengan Genie sebagai main actor-nya.

Ide dan konsepnya sebenernya bagus dan menghibur, namun, dua anak Indonesia yang hanya bisa mereka-reka jalan cerita ini, berkali-kali berpandangan bingung ketika semua orang ketawa. Tolooong! Kami butuh translator, huhu.

Sebenernya, menurut map, ada subtitle yang disediakan untuk foreigner sih. Tapi karena terhalang keramaian, kami nggak sempet minta ke cast member. Akhirnya pasrah aja. Yaaah, anggep aja mengistirahatkan kaki sejenak, deh. *pijit-pijit*

IMHO, kalo ada waktu, ya sok, nonton, tapi kalo enggak, nggak papa juga sih.

Berhubung perut udah laper, sekeluarnya dari The Magic Lamp Theatre, kami memutuskan untuk makan dulu, sebelum lanjut main. Atas rekomendasi temen Roy, kami menuju ke Zambini's Brothers' Ristorante, yang berada di Mediterranean Harbor.

Langsung terkejut begitu mendapati bahwa masuk ke resto ini aja kudu antri dulu. Buseeet? Makanannya gratis apa gimana, nih?

Begitu kami berhasil masuk pun, masih kudu antri lagi untuk order makanannya, dan bunuh-bunuhan buat dapet meja. Oh well... semangaaaat, qaqaaa!

Gue yang awalnya santai, jadi mulai panik, karena ternyata, acara makan malemnya lebih lama dari dugaan gara-gara antrian panjang ini. Seharusnya, kalo sesuai rencana, kami hanya punya waktu 15 menit untuk makan, karena setelah itu kudu nonton Fantasmic!. Namun buyar sudah.

Begitu makanan dateng, nggak peduli panas, langsung dilahap dengan cepat. Faktor laper juga, sih.


Di tengah-tengah suapan, tiba-tiba suara ledakan sebuah kembang api terdengar, tanda waktu telah menunjukan pukul 8 malam, dan Fantasmic! sudah dimulai.

Gue dan Roy pandang-pandangan sejenak, sebelum akhirnya kami ambil kamera, ninggalin semua barang dan makanan yang belum abis di meja, lalu lari pontang panting keluar restoran. Untung posisinya masih di Mediterranean Harbor. Jarak sepuluh langkah dari resto, show-nya udah keliatan. Horeee!

Fantasmic! memang merupakan main show yang gue kejar di DisneySea. Penggabungan antara projection mapping, fireworks, permainan cahaya dan api, people and costume characters parade, dan musik yang digelar di atas perahu-perahu di danau ini membuat gue penasaran sedari mulainya pencarian informasi yang gue lakukan tentang DisneySea. Bahkan rumornya, meskipun show dengan nama serupa ada di Walt Disney World - Orlando, Fantasmic!-nya TDS ini jauuuh lebih ciamik.

Kepopuleran Fantasmic! emang udah keliatan dari deretan orang yang udah duduk ngemper untuk nge-tek tempat buat nonton. Bayangin aja sis, show-nya jam 8, tapi dari jam 5, sekitaran Mediterranean Harbor udah penuh sesaaak. *pingsan*

Berhubung nggak pake reservasi tempat beberapa jam sebelumnya, bisa ditebak, posisi nonton gue dan Roy emang jauh dari pewe. Gue kudu jinjit-jinjit supaya keliatan, bahkan beberapa kali harus digendong sama Roy demi mengabadikan tanpa terhalang kepala orang.





Puji Tuhan, meskipun nonton dari posisi kurang maksimal, kami tetep hepi banget. Seketika gue mengerti kenapa banyak orang yang rela nunggu dari jam 5 untuk bisa nonton show ini dari tempat terbaik. Worth it soalnya, maaak.

Fantasmic! was superb, beautiful, and beyond awesome. Oh and it also has a very meaningful theme song. Gue sampe kepingin nangis dan pipis di celana deh, sanking cakepnya. HARUS NONTON!

Begitu Fantasmic! usai, kami balik ke resto untuk ngabisin makanan yang udah terlanjur dingin. Piring bersih dan perut kenyang, agenda selanjutnya adalah Tower of Terror! Lagi-lagi fastpass saves the day. Jam setengah 10 malem, antrian ToT nggak menunjukan tanda-tanda bakal mendingan. Makin parah iya. 180 menit aja, qaqa...

Anyway, Tower of Terror adalah thrill ride dengan mekanisme yang persis sama dengan Histeria di Dufan. Hanya saja, ToT ini dikemas dengan lebih kaya secara narasi.

Alkisah, tersebutlah seorang miliyarder yang juga kolektor barang antik, bernama Harrison Hightower. Dese doyan bener keliling dunia demi hobinya tersebut. Semua koleksi barang antiknya diletakan di hotel mewah miliknya, Hotel Hightower.

Harrison Hightower

One day, sepulangnya doi dari liburan ke Afrika, he added a Voodoo Puppet named Shiriki Utundu to his collection. Boneka voodoo tersebut dia ambil paksa dari salah satu suku pedalaman yang ia temui. Bisa ditebak, warga yang marah akhirnya 'menitipkan' kutukan pada Shiriki Utundu.

Pada malam tahun baru 1899, Harrison Hightower bikin konfrensi pers dan pesta gede-gedean terkait 'temuan' teranyar-nya. Meskipun temennya udah bolak-balik nasehatin supaya doi memberikan proper respect pada Shiriki Utundu, Harrison Hightower sama sekali nggak menggubris, karena dese sok-sok nggak percaya kutukan. Instead, dia malah melakukan penghinaan dengan naro rokoknya di kepala boneka voodoo tersebut sebagai pembuktian.

Setelah pesta bubar, Harrison Hightower naik lift untuk menuju ke kamarnya yang berada di puncak hotel. Tiba-tiba, sebuah cahaya menyambar Hotel Hightower, yang mengakibatkan kabel lift yang sedang ditumpangi oleh pemiliknya putus dan jatuh.

TKP-nya

Yang aneh, mayat dari Harrison Hightower nggak pernah ditemukan. Ketika reruntuhan dari lift tersebut diinspeksi, yang muncul di antaranya hanyalah Shiriki Utundu.

Setelah kejadian naas itu, Hotel Hightower ditutup. Masyarakat sekitar akhirnya mengenal bangunan tersebut dengan nama Tower of Terror.

Namun, setelah 13 tahun dibiarkan begitu aja, pemerintahan setempat memutuskan untuk membuka kembali Tower of Terror. Tujuannya supaya masyarakat bisa mengenal dan mengapresiasi arsitektur bangunan dan nilai budaya dari berbagai koleksi Harrison Hightower.

Berani cek-cek ombak? ;)

Bisa ditebak, yang terjadi selanjutnya adalah, pengunjung akan naik ke sebuah lift raksasa, lalu merasakan kembali pengalaman Harrison Hightower yang 'dijatohin' dari puncak hotelnya. Hiii.

Selain faktor gue emang parno sama wahana model begini (naik tinggi, turun tiba-tiba -- udel geli bener, kebelet pipiiiis), narasi cerita yang detail dan efek-efek super canggih sukses membuat gue nervous berat sebelum naik, lalu mau pingsan setelah turun. Akoh mau matiii rasanya, tapi juga kagooom luar biasa! Kereeeen!

Uniknya lagi, meskipun Tower of Terror ada di Disney Park di seluruh dunia kecuali HKDL, namun hanya Tokyo DisneySea yang punya background story-nya berbeda. Makanya, kudu naik yhaa!

spot our faces :>

Sekeluarnya dari ToT, kami mampir ke Toys Story Mania untuk foto-foto, lalu jalan-jalan dan menikmati Tokyo DisneySea di malam hari yang cantiknya... mana tahan.


The Mighty Tower of Terror




Personally, gue cintaaa sekali sama keindahan scenery dan pemandangan di setiap area Tokyo DisneySea. Selain itu, pemilihan aksesori, penempatan landmark, posisi wahana, resto, dan food cart, sampe interior toilet, vending machine, dan desain signage pun dipikirkan dengan teliti dan diselaraskan dengan tema kawasan masing-masing. Membuat atmosfer yang tercipta pun jadi sejalan dengan judul di setiap area.

Kerennya keterlaluan nggak, sih? *bangun tenda* *tinggal di sini selamanya*

Satu lagi yang bikin gue kagum, seluruh staff yang bertugas di TDL dan TDS, meskipun terbatas bahasa Inggrisnya, tapi ramah dan helpful sekali. Nggak pernah lupa senyum, dan selalu sigap membantu, dari menjawab pertanyaan, memberikan informasi, sampe menolong mengambil gambar. Seems like they love their job so much they want everyone to feel it.

Di perjalanan meninggalkan Tokyo DisneySea, tiba-tiba aja gue ngerasa sediiiih sekali. Belum rela rasanya, kalo hari ini harus selesai. Karena itu, gue membisu, hampir sepanjang jalan balik ke apartemen.

Roy mencoba menghibur dengan mengingat bahwa besok kami bakalan balik lagi. Khususnya untuk Toy Story Mania dan Mermaid Lagoon Theatre yang terpaksa kami lewatkan hari ini. Oh iya ya? Cheer up self, besok kan ke sono lagiii! *kedip-kedip supaya air matanya masuk lagi*

But anyway, thank you for today, Tokyo DisneySea. And thank you so much for presenting such a wonderful theme park, Mr. Walt Disney. It's been a veeery great day.

See you again, tomorrow! (or not.)


11 comments:

  1. Ngebayangin dari ceritamu aja keknya seru banget sih Sar. Harus banget ke DisneySea sih ini kalo ke Jepang.

    ReplyDelete
  2. Hai sarah, inget nama jaqueen josephine? I really need your help :(

    ReplyDelete
  3. Icha : Ho oh, harus!!! :D

    Rizhal Ade : Jaqueen Josephine? Ingeet, ada apa ya? Boleh japri aku aja? Email di blogsarah@hotmail.com.

    ReplyDelete
  4. Itu pas di resto Zambini's terus kalian langsung keluar, ndak apa ninggalin barang disitu terus balik lagi?
    Ndak diserobot orang pas meja kosong? Haha

    ReplyDelete
  5. Cupah : Enggaaaak, makanya aku hepiii. Orang Jepang tuh ngga usil, ngga suka ngambil barang orang gitu. Kalo ke mini market aja, koperku ditaro di luar. Belanja, balik-balik pasti masih ada. Coba di Jakarta, baru balik badan, langsung ilaaang :))

    ReplyDelete
  6. baca ini kemudian rindu kesana lagi.... TDS emang bener2 menakjubkan ya... Btw, fotonya bagus2 yang didalam ruangan gelap, aku dulu gak dapet sebagus ini, jadi apakah harus kesana lagi? :D

    ReplyDelete
  7. Tia : Iyaaah :") Yakin deh, TDS itu salah satu kandidat theme park terbaik di dunia. Aku susaaaah banget move on-nya. Sampe sekarang masih suka kangen :"""

    Hihi, mungkin iya lhooo, itu tandanya harus balik lagiiii :D

    ReplyDelete
  8. Saaaarrr, jadi makin ngga sabar kesini, huhu. Cakepp banget sih itu view nya, apalagi pas malem, cantiikkk. Tp emang mesti kuat fisik banget yaa, dari pagi sampe malam gitu, mesti siap jaket dan tolak angin, hihi

    ReplyDelete
  9. Oiya satu lagi, itu popcorn bucketnya mahal amat yaa, hahaha. Tp tempatnya lucu lucu yaa, mesti bawa pulang satu itu sih

    ReplyDelete
  10. Kak Presy : Sampaikan salamku untuk TDS yaaa kak Presy :"))) Iyaaah, makin malem anginnya tambah kenceng, tapi harus stay sampe malem yaaa. Nonton Fantasmic jangan lupa! *bawel*

    He eh, popcorn bucket-nya emang maharani, but it makes a unique souvenirrr! Enak pun, popcorn-nya. I really suggest buying one if you have the budget. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Popcorn di Disney ataupun di USJ sebenarnya dijual dalam tiga pilihan (tiga harga), plus bucket, no bucket dan bawa bucket sendiri dari rumah. Kalo yg no bucket mah harganya biasa aja.

      Bucket itu bisa dibawa kembali kalo kita ke Disney/USJ lagi bwt diisi popcorn dengan harga yg lebih murah dari harga popcorn no bucket. Tapi jangan sampai ketukar ya, bucket USJ ga berlaku di Disney dan juga sebaliknya ^ ^

      Delete