Tuesday, 9 February 2016

A Bride Needs To Know...

Selama menyiapkan pernikahan, bukan cuma sekali gue harus tarik urat dan otot, serta nangis gondok dan sebel, karena berhadapan sama beberapa wedding vendor yang geblek. Nggak cuma sampe di sana, bahkan setelah hari H pun, kami masih kudu kecewa, karena hasil kerja mereka yang jauh dari profesional.

Tentu nggak semua ya. Seperti yang sebelumnya pernah gue tulis di sini, beberapa vendor kami emang bak titisan malaikat. Baik dan profesional, kerjanya memuaskan, harganya nggak bikin kantong berdarah.

Tapi sebagian yang lain inilah, yang bikin gue curhat berjam-jam sama Yongki dan Yuris, fotografer dan costume designer prewedding photo kami, yang sekarang jadi temen ngopi gue dan Roy. Kami ngobrol panjang lebar mengenai wedding industry, dan ternyata, keluhan yang gue ungkapkan tentang vendor-vendor nakal emang udah sering banget terdengar.

Faktornya sebenernya banyak, namun yang umum terjadi antara lain:

1. Mengumbar janji-janji manis

...yang nggak bisa mereka tepati. They loveee to promise. Kasus ekstrimnya, ANYTHING you want. Abis kalo nggak di-"Iyaaa, gampang, sip!"-kan, nanti nggak jadi deal. Jadi yaudah, okein aja dulu, urusan bisa direalisasikan apa enggak? Belakangan.

Tinggal capeng-nya deh gigit jari dan pasrah kalo ternyata delivery-nya gagal maning. Wong udah lunas dibayar, ya mau apaaa? Jambak-jambakan pun belum tentu mengubah keadaan.

Ini kejadian sama vendor wedding cake gue. Pas ngerayu-rayu kami untuk deal, duileee, semua yang gue dan Roy minta, langsung disanggupin! Bikin 1000 candi semalem juga bisa, kali. Tapi begitu DP ditransfer, seminggu kemudian, Roy disms sama PIC-nya. Doi bilang, maap yeee, saya nggak mampu memenuhi permintaan klean, nih. Kaaay? Thxbyeeee~

Kalo emang nggak bisa, kenapa nggak ngaku dari kemaren, sih shaaay?

2. Paket jebakan

Kelihatannya menguntungkan, tapi benarkah?

Contoh, umumnya, bridal selalu menyediakan paket yang secara komponen (keliatan) udah lengkap, dan harganya (keliatan) murah. Capeng tentu tertarik. Kumplit dan mursida, siapa yang nggak doyan? Alhasil, tanpa pikir panjang dan minta informasi lebih detail, langsung deal!

Belakangan baru ngeh deh, ternyata items yang di dapet dari paket tersebut adalah yang paling standar (cenderung kuraaaang). Akhirnya, mau nggak mau kudu upgrade. Yang mana artinya, keluar duit lagi. Malah bisa lebih banyak.

Mobil pengantin yang paling sering. Umumnya, yang termasuk dalam komponen paket yang harganya terjangkau adalah mobil-mobil dengan jenis sedan. Kalo model gaun pengantinnya ball gown, sedan tentu bukan pilihan yang tepat. Beresiko kepala driver-nya malah ketutupan rok nggak sih? Apalagi kalo bridesmaid-nya lebih dari satu. Alhasil, kudu upgrade deh ke Alphard atau sejenisnya. Nah, upgrade-nya itu yang dibikin maharani.

Kasus lain yang sering kejadian adalah gaun pengantin. Umumnya, bridal membagi gaun pengantin menjadi beberapa grade (entah dari harganya, udah berapa kali disewakan, dan lain-lain). Hampir pasti, yang terdapat dalam paket dengan harga terjangkau, adalah gaun dengan grade paling rendah, atau gaun tangan ketiga. Walhasil, kalo nggak ada gaun yang disuka? Terpaksa upgrade, deh, meskipun mahal.

Tapi lagi-lagi, kalo udah DP, mosok mau diangusin? Kan sayaaang... Akhirnya, ya terpaksa ikhlas keluar duit lagi buat adjusting sana-sini.

3. Good (fake) reviews

Di dunia serba digital ini, tempat nyari informasi paling gampang, tentu saja internet. We google everything!

Kesempatan inilah yang diambil oleh website sejenis Weddingku dan The Bride Story. Tujuannya mulia, membantu capeng untuk mencari dan bertukar informasi seputar vendor yang akan mereka pilih untuk membantu pernikahannya.

Masalahnya, instead of giving good services and products, beberapa dari vendor tersebut, menggunakan jalan pintas untuk mendapatkan banyak feedback positif. Gimana caranya? Gampiiil. Minta atau bayar aja fake users (kadang malah karyawan sendiri -- buseeet dah, efisien yaak.) untuk komen yang bagus-bagus di forum-forum tersebut. Voilaaa, you got yourself great rating!

Tapi apakah informasi tersebut reliable? Ehm, cencu tidak. Wong nggak objektif.

Praktek ini terjadi, meskipun dalam jumlah yang relatif sedikit. But still, apes nggak sih, kalo kebetulan yang baca percaya?

4. Cukup satu kali

Nggak seperti bisnis pada umumnya, repeat klien di wedding bussiness jarang banget terjadi. Yaiyalah yaaa, no body in a right mind kepingin nikah berkali-kali. Kecuali ente Rhoma Irama.

Hal ini membuat beberapa vendor, nggak segan untuk kompromi sama kualitas jasa atau produk mereka. Toh, baik atau jelek, ngana nggak bakal balik lagi. Jadi yaaah, kenapa musti susyah?

Akibatnya, banyak capeng yang ngerasa dirugikan, karena harga yang dibayarkan nggak sebanding dengan jasa yang diterima. Tapi lagi-lagi, bisa apa selain pasrah? Mentok-mentok paling ngasih awareness ke temen-temen. But that's it. Jauh dari bikin vendor-vendor nakal ini jera.

-

Belajar dari pengalaman pribadi gue kemaren dan diskusi dengan beberapa temen yang berkecimpung di wedding industry, gue pingin banget ngasih semacem warning ke capeng-capeng di luar sana yang lagi sibuk nyari-nyari vendor nikahan.

You really need to be aware, karena nggak semua vendor nikahan itu baik dan profesional. Daripada kecewa pas hari H dan terlanjur nggak bisa apa-apa, ada kok hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah hal tersebut. Ini dia.

How to avoid / deal with them:

1. Tulis semua janji-janjinya

...abis itu, suruh mereka tanda tangan. Kalo perlu tanda tangannya di atas materai trus disumpah di atas Kitab Suci! *lebaaay*

Pokoknya intinya, semua yang dijanjiin kudu dicatet secara tertulis, bukan cuma verbal aja. Tujuannya supaya ke depan, capeng punya bukti kalo vendornya mulai ngeles-ngeles tiap ditagih.

Jangan takut untuk minta ganti rugi semisal vendor menolak untuk menepati janji.

2. Tanya yang detail

"Ini dapetnya apa aja? Nominalnya berapa? Kalo saya mau upgrade ke begini, kira-kira harus nambah berapa?"

Tanya sejelas-jelasnya, telusuri portfolio mereka sebanyak-banyaknya, dan jangan terburu-buru dalam memutuskan. Jangan tergiur diskon di wedding expo. Percaya deh, mereka akan selalu bilang saat itu adalah satu-satunya kesempatan untuk dapet great deal. Padahal kagak. Itu hanya bagian dari trik marketing supaya capeng nggak mikir-mikir lagi.

Kumpulin info, survey ke banyak vendor, baru diskusi untuk ambil keputusan. Dijamin meminimalisasi penyesalan.

3. Tilik informasi dari sumber lain

...such as blog pribadi atau wedding journal. Boleh kok, baca-baca review di forum, tapi jangan ditelen mentah-mentah. Jangan lupa juga, tanya kanan kiri, google sana sini. Cari sumber lain, kemudian komparasi, bener nggak sih, pendapatnya seirama?

Mending ribet sedikit, ketimbang nyesel?

4. (per)Timbang(kan) vendor kecil dan menengah

Gue justru menemukan, beberapa vendor-vendor besar (yang kalo gue sebut mereknya, pasti pada tau, deh...) dengan jasa overpriced-lah yang malah kadang semaunya dan kurang profesional. Sikapnya butuh nggak butuh, dan nggak memprioritaskan customer satisfaction. Lagi-lagi, tentu nggak semua ya. Ada juga kok, vendor besar yang oke seperti Evlin Decoration dan Tina Andrean.

Namun, justru vendor-vendor medium (yang namanya belum berkibar-berkibar banget, deh...) yang surprisingly membuat gue dan Roy salut dengan dedikasi dalam servisnya. Udah gitu value of money-nya pun jauh lebih make sense. But also vice versa ya, belum tentu juga semua vendor kecil begini. Yang brengsek mah ya juga ada aja.

My point is, jangan takut membuka diri untuk vendor-vendor berskala medium atau home industry. Apalagi kalo taunya dari rekomendasi dan pengalaman temen atau keluarga. Karena nggak selamanya well known vendor itu oke, dan nggak selamanya vendor kecil itu miskin kualitas :)

-

Intinya? Be smart bride and groom to be. Jangan males cari informasi, jangan gampang percaya sama janji manis, jangan mudah tergiur sama promo-promo yang too good to be true. A friend once told me, if you think that it is too good to be true, than maybe it really IS NOT true.

Mudah-mudahan, dengan begini, vendor-vendor curang dan nggak profesional nggak punya kesempatan untuk merugikan kita. Ada amin? Amiiin :)

3 comments:

  1. Wuih. Dapet pembelajaran nih kalo misalnya mau nikah terus cari vendor. Yelah, masih kuliah juga Yog, udah mau nikah aja. Bahaha. XD

    Itu yang awalnya nyanggupin terus cancel, uangnya tetep balik kan, Kak? Etapi meskipun balik, tetep kesel, ya. Repot nyari-nyari vendor lagi. :(

    ReplyDelete
  2. Yoga : Balik sih, tapi ada juga yang kekeuh nggak mau balikin. Paling males ketemu vendor kayak begitu. Salah, tapi nggak mau ngaku dan tanggung jawab :((

    ReplyDelete
  3. Generally, with most vendors, DP itu tidak bisa dibalikin (sebagian dikarenakan dari sisi vendor yang berhadapan dengan calon pengantin yang mengada-ngada/ labil), so more reason untuk lebih careful in selecting vendor. I agree dengan peringatan jangan mudah tergiur ketika di Wedding Expo. Calon pengantin yang visit Expo pastinya pusing karena disuguhi begitu banyak pilihan vendor, jd lebih advisable untuk pulang, clear pikiran, baru go through vendor list. Kemudian baru arrange untuk meet beberapa yang jadi pilihan. Agak repot sih, tapi perlu, daripada menyesal.

    Yes, most vendors in the wedding business pikir it's a hit-and-run, toh memang most likely tidak akan marry twice. Aside from that, pilih vendor yang cocok juga sama crucialnya. Bagi most people mungkin vendor A baik, tetapi mungkin kita punya taste yang beda/ lebih perfectionist, maka kita harus mencari vendor yang on the same frequency. Bisa saja vendor A tidak pas untuk kita, melainkan vendor B.

    Vendor yang cocok itu seperti cari pasangan hidup. Ketika kedua belah pihak (vendor dan calon pengantin) berada di frequency yang sama baru hasilnya bisa maximal. Kalo frequency beda ya hasilnya tidak akan maximal. Contoh, bride suka bunga A tapi secara mata florist, bunga B lbh bagus. Alhasil, bride merasa vendor tak competent, dan vendor merasa tidak dihargai padahal dia memberi yang terbaik.

    ReplyDelete