Thursday, 14 January 2016

#Japaneymoon - Tokyo Disneyland (Part 1)

Kamis, 22 Oktober 2015

Gue bangun dengan badan segar bugar dan semangat '45. Nggak pake ngulet-ngulet lagi, langsung loncat dari tempat tidur, mandi, sarapan berdua sama Roy, abis itu meluncur ke stasiun subway.

Sepanjang perjalanan, rasanya bibir ini nggak mau berenti senyum-senyum. Kaki pun gatel kepingin loncat-loncat kecil sambil muter-muter sesekali. Cuma berhubung takut dikira orang gila, niat itu gue tahan dalam hati.

Masih sureal rasanya, ketika kami sampe di stasiun Maihama. Gusti Tuhan, tempatku berpijak ini cuma berjarak lima ratus meter dari Tokyo Disneyland! *cium tanah*

Oh iya, sebelum cerita tentang pengalaman gue di sana, sekilas info dulu ya.

Tokyo Disneyland (TDL) merupakan bagian dari Tokyo Disney Resort bersama dengan saudara kembarnya, Tokyo Disneysea (TDS), tiga hotel resmi, enam partner hotel, dan shopping complex. Tokyo Disney Resort diresmikan pada tahun 1983 bersamaan dengan dibukanya Tokyo Disneyland (theme park Disney pertama yang dibuka di luar yu es e).

Icon dari Tokyo Disneyland adalah Cinderella's Castle, sama seperti beberapa Disneyland lain di dunia seperti Paris dan Hongkong. Selain itu, TDL juga dibagi menjadi beberapa kawasan, seperti Fantasyland, Adventureland, Toontown, Tomorrowland, Critter Country, Westernland, dan World Bazaar.


source

Kalo kemari, persiapkan diri untuk syok sama ramenya, ya! Konon katanya, TDL ini nggak pernah sepi pengunjung, bahkan saat weekdays. Jangan dibayangin (dan dicoba) mampir ke sana pas weekend deh. Kemungkinan besar bakal langsung semaput sanking penuhnya.

Karena ada dua theme park, tiket masuk tersedia dalam berbagai pilihan, dan dapat dikombinasikan. Ada 1 day pass (¥6.900), 2 days pass (¥12.400), 3 days pass (¥16.600), 4 days pass (¥20.800), bahkan Starlight pass (¥5.400), tiket masuk di atas jam 3 sore yang hanya berlaku hari Sabtu, Minggu, dan national holidays. Tinggal pilih yang menyesuaikan itinerary dan budget.

Berhubung ini hari Kamis dan gue masih nggak yakin mau dan sanggup ke TDR hari Sabtu, akhirnya rencana awal kami untuk beli 3 days pass dirombak. Kami memutuskan untuk beli 2 days pass, lalu piki-piki dulu deh, extend ke hari ketiga apa nggak usah.

Toh 2 days pass kami nantinya bisa di-upgrade kok, kalo berubah pikiran. Tinggal nambah selisih harganya aja. So I think, it was the best solution. Kalo kuat (tenaga dan duitnya) ya terusin, enggak yaudah, toh belum kebayar.

Dengan mantap, kami beli 2 days pass, lalu langsung ngibrit masuk ke gerbang masuk Tokyo Disneyland.

Asalamualaikuuum *cium tanah lagi* :")


Begitu sampe di dalem, tujuan pertama kami adalah berburu fastpass.

Apa itu fastpass?

Jadiii, berbeda dengan Universal Studios, Disney Parks di seluruh dunia tidak menjual express pass. Nah lho, truuus, kudu pasrah ngantri aja gituuu?

Cencu enggak ya. Di Disney Parks, ada yang namanya fastpass. Sistem fastpass adalah melewati antrian dengan sebuah tiket yang telah diatur rentang waktu masuknya. Cara dapetinnya pun gampil, tinggal nge-scan tiket masuk di booth fastpast ride yang diinginkan, lalu voila! Keluar deh, tiket kayak begini:


Abis itu, tinggal balik ke rides-nya sesuai jam yang tertera, dan masuk lewat antrian khusus. Skip antrian mengular!

Sistem ini berlaku di seluruh Disney Parks di seluruh dunia kecuali di Walt Disney World. Di sana, mekanisme fast pass-nya agak berbeza, karena tiketnya nggak pake kertas. But more on that later yaaak (AMIN!).

Asiknya lagi, nggak perlu keluar extra cost untuk dapetin fastpass. Modalnya cuma kekuatan kaki dan kegesitan bodi ajun. Pelancong kere macem kami berdua ini, tentu saja hepi.

Makanya, sedari masih di train, gue bolak-balik bilang sama Roy, pokoknya, begitu sampe, jangan tergiur sama ride yang antriannya pendek! Yang kudu didahulukan adalah secepet-cepetnya ambil fastpass rides yang diincer! Baru abis itu boleh antri antri!

Kenapa musti begitu? Ada empat alasan kenapa fastpast kudu buru-buru diambil:

1.) Jamnya terus bergerak naik. Jadi misalnya ngambil fastpass-nya pagi, bisa aja return time-nya lima jam kemudian. Tapi kalo telat dikit dan kebetulan rides-nya favorit, bisa aja dapet gilirannya baru malem. Happens twice with us at Disneysea. Ambil fastpass jam 10 pagi, kebagiannya setengah 10 malem.

2.) Terbatas. Fastpass bisa banget abis, khususnya untuk famous rides, seperti Splash Mountain, Space Mountain, Haunted Mansion, dan Monster Inc: Ride & Seek. Tentu dibikin begini ya, karena kalo enggak, ya jadinya antri-antri juga. Buat apa pake fast pass kalo nggak fast?

3.) Pengambilan fastpass dibatasi dengan jeda waktu, yakni, dua jam setelah pengambilan fastpass terakhir, atau setelah return time fastpass terakhir dibuka. Whichever comes first. Contoh, misalnya pertama kali ambil fastpass jam 9.00 dan dapet return time jam 13.30-14.30, maka, fastpass berikutnya baru diambil dua jam kemudian, yaitu jam 11.00. Contoh lain, misalnya ambil fastpass jam 9.00 dan dapet return time jam 9.30-10.30, maka jam 9.31, fastpass untuk wahana lain sudah bisa diambil.

Begitu seterusnya. Bayangkan jika baru mulai ngambil fastpass jam 4 sore. In a best condition, maksimal cuma bisa ngambil 3 fastpass, itupun kalo nggak pake keabisan. Pengalaman kemaren sih, seluruh fastpass, di atas jam 5 sore pasti udah ludes.

4.) Fastpass tidak tersedia untuk semua rides and attractions. Biasanya cuma yang populer dan antriannya panjang bukan kepalang aja. Jadi untuk beberapa rides and attractions yang kurang populer ngana kudu tetep ngantri kalo kepengen main. Mangkanya, kudu buru-buru ambil yang fastpass wahana idaman, supaya punya waktu buat antri di wahana tanpa fastpass.

Itulah sekilas info tentang fastpass Disney Parks. Di Tokyo Disneyland, fastpass pertama yang kami ambil adalah Pooh's Honey Hunt di Fantasyland. Rencana awalnya sih mau ngambil fastpass Peter Pan's Flight, namun apa daya, wahananya lagi maintenance. Hikhik.

Berhubung mainnya masih sekitar dua jam lagi, akhirnya kami melipir dulu untuk main Snow White's Adventure, yang juga berlokasi di Fantasyland. Snow White ini sejenis istana boneka juga ya. Intinya kami duduk di sebuah kereta, trus keretanya jalan di track yang tersedia, dengan animatronik dan latar di kanan kirinya. Tema ceritanya tentu tentang si putri cantik, Snow White.

Sayang, sepertinya Snow White's Adventure merupakan salah satu wahana generasi pertama di TDL. Alhasil gerakan keretanya masih kasar, efek-efek-nya masih cupu, dan animatroniknya kaku.

In my honest opinion, nggak naik juga nggak apa-apa lah ya. Kalo punya waktu lebih aja.

Perjalanan berlanjut ke wahana It's a Small World, yang masih berlokasi di Fantasyland. Antriannya cuma 5 menit aja, soklah kita masuk!

Ride ini plek-plekan persis sama sama Istana Boneka, karena IstaBon di Dufan emang 'terinspirasi' dari It's a Small World. Someone should draw a line between terinspirasi sama nyontek yaaak, abis kok miripnya kebangetaaan?

Tentu yang membedakan adalah kecanggihan animatroniknya. Untuk poin ini, Indonesia masih ketinggalan jauh dari Jepang. Selamat tinggal, boneka di IstaBon dengan gerakan monoton! Di sini, selain gerakannya macem-macem, bibir si bonekapun bisa bergerak menyesuaikan pelafalan lagu, alias A-I-U-E-O, nggak cuma mangap nutup mangap nutup aja. Pingsan nggak sih? Jangan-jangan kalo malem pada idup nih...




Meskipun udah apal sama isi IstaBon, kalo ke Disneyland, wajib dan kudu naik ini ya! Sekalian sing along, deh. Dijamin turun-turun langsung hepi. Indeed, it's the happiest cruise that ever sailed 'round the world!

Kelar main It's a Small World, kami menuju ke Pinocchio's Daring Journey. Lagi-lagi memutuskan untuk icip-icip masuk karena tergiur antrian pendek.

Ehh ternyata modelnya sama juga, sama Snow White. Persis plek ketiplek, cuma beda narasi ceritanya. Yastralah ya, namanya juga nyoba. But still, sebenernya, nggak naik juga nggak apa-apa sih.

Kelar main Pinocchio, tadinya kami mau ngambil fast pass Haunted Mansion, tapi berhubung masih belum bisa, diputuskan jalan-jalan ke Critter Country.

Baru masuk ke daerah Critter Country, eeeh ketemu sama wahana Splash Mountain di sebelah kanan. Langsung deh gue keingetan sama beberapa review di internet yang bilang kalo rides ini seruuu.

Berhubung kami belom bisa ambil fastpass-nya, diputuskan untuk antri aja. Toh 'cuma' 60 menit. Kaki pegel-pegel dikit, nikmatin ajalaaah. Pas antri, sambil nunggu, dikeluarkanlah pocket wifi, dan gue langsung sibuk whatsapp-an sama bokap, heboh mengabarkan bahwa kami lagi asik main di Disneyland.

Sejam kemudian, kami sampe di ujung antrian dan dipersilahkan untuk naik ke sebuah boat. Sebenernya, konsepnya Splash Mountain ini kayak Niagara di Dufan, karena ide besarnya adalah wettest drop. Bedanya, scenery dan narasinya dibuat dengan niat, bukan cuma gelondongan kayu mengapung di tengah sungai aja.

Drop-nya pun seruuu banget! Gue sempet jerit kenceeeng karna takut, tapi abis itu ngakak sama Roy. FUUUUN! Mau lagi! If only antri-nya nggak sejem yaa...

the drop

Souuu, kalo main ke TDL, Splash Mountain kudu banget dinaikin ya!

Seturunnya dari Splash Mountain, kami balik lagi ke Fantasyland untuk ngambil fastpass Haunted Mansion. Begitu fast pass udah ditangan, diputuskan untuk makan siang dulu, karena cacing di perut udah pada demo.

Melipirlah kami ke Captain Hook's Galley, kemudian order Pizza set meal, lalu ngedeprok di deket pot taneman untuk makan. Puji Tuhan nikmaaatnya tiada tara. Maaf nggak ada fotonya, akibat gragas macem puasa setahun :(

Kelar makan, kami nyebrang ke Haunted Mansion. Berhubung pake fastpass, kami skip antrian yang 120 menit itu. Bhaaaay!

Haunted Mansion merupakan rumah hantu yang dibuat dengan konsep ride through. Tapi, di dalem, instead of ketemu Pocong, Suster Ngesot, dan Kuntilanak, kita bakalan berjumpa sama sejumlah karakter dalam film Nightmare Before Christmas. Tau dong yaaa?

Begitu masuk ke mansion-nya, kami diarahkan menuju ke sebuah foyer remang-remang. Satu-satunya sumber cahaya hanya sebuah chandelier bersarang laba-laba. Di sini, kami dikasih prolog cerita, sebelum memulai tour de Haunted Mansion.


Begitu prolog kelar, pelan-pelan, ruangan ini bergerak turun. Surprise surprise, rupanya ini teh semacem lift raksasa! Sama sekali nggak ketebak! *keprok tangan*

Pintu terbuka dan mengantar kami ke deretan doom buggies. Kami naik, lalu siap berpetualang menyusuri rumah berhantu. Awalnya, gue sempet ketar ketir. Asli deh, meskipun konsep besarnya diadaptasi dari film kartun, tapi namanya rumah hantu, kan tetep bikin kebelet pipis ya...

Namun ternyata, aku salah!

Emang sih, scenery-nya dibuat horor, tapi bukan horor yang bikin ketakutan sampe mau nangis gituuuu. Mungkin lebih ke horor kagum, kali ya? Abis efeknya kereeen! Hantu-hantunya tembus pandang (persis di kartuuuun!), animatroniknya canggih, musiknya oke, pokoknya keseluruhan konsepnya terdeliveri dengan baik. Sukaaaak! Kudu banget dinaikin deh!


Dari Haunted Mansion, kami melewati Pirates of The Caribbean, yang berlokasi di Adventureland. Karena antriannya cuma lima menit, diputuskan untuk masuk. Pirates of The Caribbean adalah wahana Dark ride, dengan konsepnya ride through di atas air kayak istabon, lengkap dengan jalan ceritanya. Tentu tentang si bajak laut yaaa. Namun berhubung bahasa pengantarnya bahasa Jepang, gue nggak ngerti detail-nya deh. Tebak-tebak buah manggis dari scenery dan bonekanya aja.


Namun, yang memukau gue dan Roy adalah animatroniknya. Gusti Tuhan, Madame Tussauds pindah di mari apa gimana nih? Kok Jack Sparrow-nya mirip amaaat? *keprok tangan*

Nggak cuma Jack Sparrow, seluruh boneka pirates yang nongkrong di sana life like bangeeeet, dari mulai ekspresi sampe gerakannya. Kayak hidup beneran! Atau jangan-jangan emang beneran hidup?

Salut deh pokoknya. Kereeen. Berhubung antrian wahana ini (menurut review di internet dan setelah membuktikan sendiri) hampir nggak pernah lebih dari setengah jam, sok atuh diicip kalo main-main ke Tokyo Disneyland :)


(To be continued to part 2)


4 comments:

  1. Tiap kali baca ttg TDL pasti bawaan pengen ke sana, tp jg galau inget kaki bakal kek cuklek tiap pulang dr sana #mringis. Hobi naik model2 jetcoaster gitu ya Sar.. Sy gk hobi :( Tp 2x naik splash mountain gara2 : 1. diboonging/dikerjain ke 2, kudu nemenin ponakan #ssighh,,, Yg plsh eneg Space mountain errrrr gk mau disuruh ngulang lagi
    Kita paling suka maen ke Small World & maksi di resto persis sebelahnya (lua nama restonya, pokoknya dekornya kartu)..
    ditunggu oleh2 nonton paradenya :)

    ReplyDelete
  2. jadi ikut tegang bacanya... seru ceritanya jadi pengen kesana

    ReplyDelete
  3. Pit Aq: OHHH Queen of Hearts Banquet Hall yaaak? Daku juga suka banget sama interiornya, cuma makanannya mahal-mahaaaal :))))

    Emberan, antrinya ga tahaaaan, makanya kaki pegel banget. Tapi hati mah puji Tuhan selalu hepi asal lagi di Disney Parks, hihi.

    Wah, aku sama suami roller coaster junkie... dulu sih. HAHAHA. Sekarang udah renta, tinggi dikit bawaannya muleeees :)))

    Batara: Ayuk ke TDL! :D

    ReplyDelete