Tuesday, 8 December 2015

#Japaneymoon - Akihabara, Harajuku, Shibuya, Shinjuku

Selasa, 20 Oktober 2015

09.00 Kami bersiap meninggalkan Osaka untuk menuju ke Tokyo. Setelah sebelumnya beli bento di mini market buat sarapan, kami buru-buru ngesot ke shinkansen. Wah, kali ini, lumayan penuh ternyata, gerbong-nya. Untung masih dapet tempat duduk sebelahan.

Rencananya, sesampainya di Tokyo, berhubung belom bisa check in, kami drop koper di loker dulu, lalu menjajah beberapa destinasi di Yamanote Line. Yaaash!

13.00 Empat jam berlalu dan akhirnyaaa, samelekuuuum, Tokyo!

Our first stop here, Akihabara! Tempat di mana setan bakalan lembur pas kiamat, kata Tirta. Yabeees, sex shop-nya berlantai-lantai aja duluuu, qaqaaa. Nyari DVD porno sampe used panty a.k.a nana dayem bekas (BUAT APOSE SIK?), di sini lengkap. FPI pasti gemes bener pingin kemari. Buat grebek lho maksudnya. Masa buat belanja. Malu atuh, sama kopiah.

Gue dan Roy sempet masuk ke salah satu sex shop-nya, dan langsung terpana sama kelengkapan tools yang tersedia. Dari yang normal sampe ajaib, semua ada! Sayang, di dalam toko, kami nggak diperbolehkan untuk mengambil gambar. Padahal pasti pada penasaran yakaaan yakan?

("Enggak.")

Berhubung nggak berniat untuk beli apa-apa, nggak sampe lima belas menit, kami udah keluar. Keluar dari toko lhooo, maksudnya. Yang penting udah tau deh, sex shop kayak apa bentukannya. Kelamaan di dalem juga lama-lama pusing. Suara yang kedengeran nggak jauh-jauh dari desahan. Hihi.

Selain segala sesuatu yang berbau sex & porn, Akihabara ini juga surganya para otaku alias penggemar manga, anime, dan games. Abisan toko-toko yang jual anything related to those three berjejer sih yaaa.


Oh ya, satu lagi yang terkenal di Akihabara: Maid Cafe. Apa itu Maid Cafe? Itulhooo, kalo di komik-komik Jepang, sering liat kan, pelayan-pelayan di restoran suka digambarkan cantik, montok, seksi, dengan seragamnya yang serba kurang bahan? Nah, Maid Cafe ini dibuat untuk merealisasikan restoran yang ada di komik-komik itu, lengkap dengan pelayannya.

Giordano-nyaaa, kakaaak!

Berhubung kafe ini lebih menjual experience ketimbang makanan dan minumannya, cencu harganya juga nggak kayak resto biasa yaaa. Kalo cara restoran biasa nenutuin harga cuma bahan makanan + profit, Maid Cafe ada additional cost, seperti bedak, gincu, dan operasi botox pelayannya.

Selain itu, Akihabara juga kampung-nya AKB48, ituloooh, 'kantor pusat'nya JKT48 di Indonesia. Nggak heran, banyak banget poster, loker, sampe cafe, yang majang muka cewek-cewek imut ini. Pendaftarannya di mana siiih? Kali-kali aku sesuai sama kriteria, kan? *pose kawaii*


14.00 Karena perut laper, kami memutuskan untuk cari makan siang sebelum melanjutkan jalan-jalan. Pilihan kami gue jatuh pada sebuah kedai ramen. Agak mahal harganya, tapi nggak apalah. Kami pesen melalui mesin, lalu memberikan kertasnya kepada pelayan. Begitu dateng dan diicip...


Errr, kok rasanya aneh?

Mie-nya segede-gede bagong, kuah-nya nggak enak, trus norinya ditenggelemin di kuah. Garingnya ilang, rasanya malah jadi kayak jelly. Pokoknya gatot, deh. Gue cuma makan setengah, abis itu ga kuat ngelanjutin lagi.

Mungkin komposisi dan model ramen di Tokyo emang beda ya, sama di Osaka? Kok lidahku lebih cocok sama ramen Dotonbori...

14.30 Destinasi kami selanjutnya adalah Takeshita Dori, Harajuku.


Sebuta-butanya orang tentang Jepang, minimal pasti familiar sama dua hal: Gunung Fuji dan Harajuku. Siapa sih, yang nggak kenal daerah yang terkenal dengan Takeshita Dori dan cosplayer-nya ini? Belum lagi ngomongin deretan toko dengan brand-brand internasionale.

Makanya, buat kebanyakan turis, Harajuku pasti termasuk salah satu must see place in Tokyo. Semacem Orchard Road di Singapore lah, meski ga bisa beli apa-apa, ke sananya mah wajib yaa...

Namun, sampe di Takeshita Dori, gue udah kecewa karena cosplayer tak nampak di manapun sepanjang mata memandang. Pikir-pikir, ya mungkin juga karena ini hari Selasa yaaaa. Salah deh, aturan kalo mau menikmati Harajuku dengan maksimal, kudu datengnya mah pas weekend. Tapi yastralah, mari nikmati keramaiannya. Mungkin bisa belanja belenji juga di sini? Denger-denger kan tokonya sederet, tuuuh?

Tet tot, lagi-lagi harus kuciwa. Barang-barang yang dijual standar (cenderung jelek) dengan harga yang luar biasooo tak masuk akalnya. Khas daerah turis bener ya, masa unbranded jaket aja sejuta. Ditambah, banyak banget nigga yang buka toko di sini, dan gaya jualannya teriak-teriak kayak ngajak orang berantem. Kok jadi serem?

Di luar Takeshita Dori, sebenernya ada jalan besar yang diapit sama berbagai mall-mall dan pertokoan brand-brand besar di kanan kirinya. Tapi ya begitu doang juga, sih. Hampir nggak ada spesialnya. Kebanyakan merek-mereknya pun udah ada di Indonesia.

Jadi, instead of shopping, kami berdua sight seeing sambil foto-foto aja.





Puas jalan-jalan di Harajuku, kami masuk ke station untuk melanjutkan perjalanan ke destinasi selanjutnya.

16.30 Spadaaa, Shibuya!

Tentu tak lengkap ya rasanya, kalo ke Tokyo tapi nggak pake sowan sama Hachiko.


Selain Hachiko, Shibuya ini terkenal sama pedestrian scramble a.k.a Shibuya Crossing. Apakah itu Shibuya Crossing? Simpelnya, zebra cross multijalur. Tapi yang bikin spesial, Shibuya Crossing ini merupakan salah satu yang terbesar dan tersibuk di dunia. Suasana di sekitarnya pun seru, karena dikelilingi gedung-gedung pencakar langit yang dihiasi berbagai billboard dan neon signs.

Anak kampungan macem gue, dari pertama kali diceritain sama Roy pas trip pertamanya ke Jepang, langsung punya mimpi untuk nyebrang di sini juga. Pingin dong ya, cek cek ombak membelah keramaian di penyebrangan jalan multijalur tersibuk di dunia?

Maka di sinilah kami, di salah satu sisi zebra cross Shibuya, dengan kamera dan tongsis yang udah ready. Begitu lampu tanda menyebrang berubah menjadi hijau, pasukan manusia dari kedua arah- baik dari arah yang sama dengan kami maupun yang berseberangan- menyebrang berbarengan. Meskipun rame, semuanya tertib dan teratur.


Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, nyebrang di Shibuya jadi salah satu unforgettable experience buat gue pribadi. Mungkin karena sejenak, kami berdua ngerasain pengalaman jadi orang lokal di sana, kali ya? Nyebrang aja rasanya bahagiaaa bener. Aslik deh, kalo nggak takut diseret ke rumah sakit jiwa, nggak kepingin berenti mondar-mandir zebra cross, rasanya. 

Pemandangan sore hari di sepanjang jalan-jalan di Shibuya pun cantiiik sekali. Pengaruh banyaknya billboard dan neon signs juga kali yaaa. Daerahnya terlihat hidup dan ramai sekali. Sukaaak.



Tadinya kami mau icip-icip the famous Starbucks di Tsutaya Bookstore Shibuya, karena menurut desas-desus, kedai kopi ini merupakan tempat terbaik untuk menikmati Shibuya Crossing. Tapi seketika batal karena males menghadapi kemungkinan kudu bunuh-bunuhan untuk dapet tempat duduknya.

Diputuskan untuk lanjut jalan-jalan aja, kemudian nyebrang sekali lagi ke Shibuya Station, untuk menuju destinasi terakhir kami hari ini.

18.00 Kami menggelinding ke Shinjuku, meskipun kaki mulai protes karena diforsir terus menerus. Manalah di Jepang, jam setengah 6, entah kenapa gelep-nya udah kayak jam 7 malem. Otomatis kan mata jadi ngantuk ya? (halasaaaan...)

Anyway, di Shinjuku ini, ada apa sih emangnya?

Ya sebenernya, Shinjuku mirip-mirip juga kok, sama Shibuya. Intinya ya jalanan, yang dipenuhi sama pertokoan di kanan dan kirinya. Yang bikin hepi, rata-rata toko-tokonya dihias dengan neon signs gede yang heboh bin terang. Jadi ya itu, nuasanya rame bin hidup. Gemerlap, but in such a classic way, gitu.





Gue dan Roy, yang doyan liatin lampu-lampu (situ laron?), tentu doyan ke tempat-tempat begini, meskipun agendanya cuma-cuma jalan-jalan sampe kaki patah... arang, alias nyerah.

Sanking seru sight seeing, nggak berasa, tau-tau perut keroncongan. Akhirnya kami melipir ke sebuah warung beef bowl untuk makan malem. Puji Tuhan, kali ini sakses. Beef Bowl-nya malah lebih endeus dari Yoshinoya! *jilatin mangkok*

20.30 Kami ambil koper di loker, lalu menuju ke hotel. Di sinilah ada sedikit drama.

Jadi, sedari di Indonesia, sebenernya Roy udah booking Best Western dan Kangaroo Hostel via Agoda. Namun, begitu sampe resepsionis Best Western, booking-an kami tak terdaftar, karena telah dibatalkan oleh pihak Agoda. Lhooo kok bisaaa?

Usut punya usut, ternyata, ya emang sih, booking-annya udah dibuat. Tapi, karena tagihannya dialamatkan ke kartu kredit Roy yang kemarenan sempet bermasalah, akhirnya booking-an-nya gagal karena di-cancel sama pihak Agoda.

Suamiku itu sebenernya udah dikirimin notifikasi via email. Namun sialnya, ke email yang jarang dibuka. Jadi kami berdua sama sekali nggak tau.

Pucet pasilah gue di depan kokoh-kokoh resepsionisnya. Pertama, ini udah malem banget, dan kami masih belom dapet kepastian masalah tempat berteduh dan beristirahat. Kedua, kaki gue udah nggak kuat diajak keliling nyari hotel lagi. Ketiga, karena rate Best Western kalo ngedadak begini, mahal minta envelope.

Diskusi singkat sama Roy, akhirnya diputuskan untuk booking BW semalem aja, abis itu nanti kalo udah check in, baru cari-cari hotel lain.

21.00 Putus asa nyari-nyari hotel via Booking.com dan Agoda, gue dan Roy nekat nyobain AirBnB. Kebetulan dapet yang harganya affordable, lokasinya deket sama stasiun, plus owner-nya lumayan ramah. Menurut gambarnya pun, apartemennya bagus dan luas. Langit dan bumi sama kamar kami di BW ini. Gusti Tuhan, sempitnya sampe kalo gue buka koper, pintu kamar nggak bisa dibuka, dan badan lorong abis kejarah. Ini kamar hotel apa rumah siput, sih?

Setelah deal sama pemilik apartemennya, baru deh, gue dan Roy bisa bobok dengan tenang. Tinggal berdoa semoga kenyataannya emang sesuai sama di foto, bukan tepu-tepu karena kamera 360, amin!


4 comments:

  1. Joke FPI bikin gue ngakak di kantor! Huahahahahahah.
    Itu foto Roy di Harajuku ada mas yang nyadar kamera di belakang Roy :)) Yaelah mas, foto bareng aja kalik mestinya? Jarang-jarang kan fotoan sama orang Indonesia? :P
    Shibuya Crossing emang jadi salah satu must visit place kayaknya ya hihihi. Temen-temen gue juga kalo baru pertama kali ke Jepun pasti pada potoan di Shibuya Crossing.
    Ga sabar mau nunggu cerita airbnb, soalnya selama ini pengen nyoba tapi ya takut juga :D

    ReplyDelete
  2. nyebrang aja bahagia.

    iiihhh sama banget saaaar, akupun begitu. bolak balik foto, bolah balik nyebrang, bodo amat deh, ga ada yang kenal, haha.

    di takeshita dori, ada yg lucu sar barang-barangnya, toko di depan daisho kalau ga salah,tapi harganya mahal, tp lucuuu. dan yang paling suka itu paris kids, aksesoris lucu lucu >.<

    ah, ramen tokyo ya? walaupun ngga nyobain ramen,rasa udon di osaka juga lebih enak dari di tokyo, kuahnya sepertinya. rasa kuah osaka lebih cocok sama lidah kita yang orang indonesia.

    btw sar, itu kamu langsung nemu airbnb dalam waktu semalam? wuiihh beruntung banget ya, lebih enak malah ya apartemen gitu modelnya

    ReplyDelete
  3. kuat be'eng Sarrr.. jalannnn muluss.. cuman baca doang aja lsg pijet2 kaki :D

    Itu foto ramen di tokyo? kok bodinya kayak udon ya, gilig gede gitu,,, Wah klo udon emg perlu wkt buat diterima lidah Indonesia - sy baru aja demennya akibat makan pas lg dipuncak lafferrr, pdhal sdg berada di daerah yg ngetop dg udonnya (duh kan !) Tp berkat lauk laffer sangat itulah jd bs menikmati udon, dan skrg jd suka :D

    Kenapa ya harajuku ngetop banget,,,, pdhal bayangan ttg itu hy satu : mihilll :( satu2nya alasan kita ke harajuku adl : ke TINTIN shop (tokonya nylempit, di gang kelinci eh di salah satu gang di belakang jalan besarnya), kudu ngubeg2 dulu baru nemu..
    Shibuya crossing makin menggila wkt halloween maren... partyy bok di sana, sammfaah berceceran (sampah kostum!) tp pagi nya lsg cling lagi, dibersiin sendiri oleh mereka yg abis pesta di jalanan. Tukang sampahnya damai2nya gak kuatir boyok ancur nyapu2.

    Ditunggu pengalaman di airbnb, krn pengen nyobain tp msh ngitung kancing lol

    ReplyDelete
  4. Oliv : OH IYAA :))) *baru ngeh* Yup, nyebrang di Shibuya emang salah satu hal yang kudu dilakukan deh, kalo ke Tokyo :D Hihi, aku bahas di postingan berikutnya (yang masih entah kapan) yaaa! Nantikaaan :D

    Kak Presy : TOS BANGEEEET! Huahahaha. Aku cinta makanan Osakaaa! Enak-enaaaak :9 Wuaaah, aku ga sempet masuk-masuk toko lucu pas di Harajuku. Gara-gara ngeliat harganya mahal-mahal, jadi cuma beli crepes aja, trus udah ga minat melipir masuk lagi :))) Iyaa, hoki deh tuh dapet airbnb-nya. Nanti jelasnya aku review di postingan berikutnya yaa :D

    Pit Aq : Ikutan pegel yaaa? :)))))

    Iyaaa, mie-nya gede gituuuu! Aku lebih suka ramen di Osaka, lebih enaaaak :9 Harajuku emang dari dulu udah famous banget sih, makanya mindset turis kalo ke Jepang, kudu ke sana :)) Padahal aku sih lebih suka Shibuya, hihi. Yup, nanti di postingan selanjutnya aku bahas yaaa! Kali aja jadi yakin buat nyoba airbnb :p

    ReplyDelete