Thursday, 1 October 2015

Halloween Horror Nights 5 - The Unforgettable Ex-fear-ience (Part 1)

"I survived Halloween Horror Nights 5 bravely! YASH!"

I wish I can say that.

Kenyataannya mah... survived sih. Tapi bravely? Entar duyu.

Sedari masih di Indonesia, gue udah pasang target untuk HHN 5. Meskipun cetek, namanya hidup kan kudu ada goal-nya, ya. Target gue adalah, pulang dengan kaki sendiri (alias nggak pingsan), dan celana yang masih kering (alias nggak ngompol). Lebih bagus lagi kalo bisa sambil goyang gergaji.

Berhubung gue anaknya penakut, I take HHN very very seriously. Gue melakukan semua tindakan preventif yang mungkin dilakukan untuk meminimalisasi resiko pingsan, ngompol, atau kecepirit selama di sana. Salah satunya adalah, mempelajari hantu-hantu, haunted house, dan scare zone yang ada di HHN 5.

Oh ya, jadi, untuk acara HHN 5, seantero USS dibelah menjadi dua bagian besar, yakni haunted house (rumah hantu), dan scare zone. Ada satu lagi sih, neutral zone, aka kawasan netral. 

Kalo rumah hantu, mungkin udah pada tau kali ya, bentuknya kayak apa. Namanya juga 'rumah', tentu saja kawasannya indoor dan ada track-nya (mulai di mana, kelar di mana). Nah kalo scare zone, sebaliknya. Outdoor, dan nggak ada jalur khusus. Plus, namanya aja scare zone, yak. Tentu, makhluk-makhluk yang ada di sini lebih bebas nyamperin dan melototin pengunjung. Oh iya, bisa diajak selfie juga, lho. Tapi tentu, resiko tanggung sendiri.

Tahun ini, HHN 5 mempersembahkan 4 haunted houses dan 3 scare zones. Semuanya terhubung dengan dengan sebuah peristiwa alam yang emang beneran terjadi di tanggal 28 September 2015 kemaren, yakni, Blood Moon, atau Gerhana Bulan Darah.

Penasaran?

***

Sebelum acara premier HHN 5 dimulai, hujan turun cukup deras di Singapore. Kami makan malam sambil menunggu hujan reda. Ketika waktu yang ditentukan telah tiba dan masih gerimis, acara diputuskan untuk tetep lanjut. Meskipun kudu pake jas ujan, show must go on. Again, cinta deh sama panitia acaranya. Segalanya disusun dengan rapih dan kemungkinan-kemungkinan terburuk udah diantisipasi dari awal. HEBAT!


As I said earlier, meskipun ngeri setengah mati, tapi di saat yang sama, gue juga sangat sangat excited for HHN 5. Sebagian karena gue tau bahwa HHN selalu come up dengan special effect yang canggih bin epic. Universal Studios, gitu. Sebagian lagi murni karena penasaran. I've never been to any Halloween Event before. Haunted house, gue cuma pernah masuk dua kali seumur hidup. Dan keduanya, nggak ngeliat apapun karena merem sepanjang jalan.

Alasan-alasan itulah yang membuat perasaan gue jadi campur aduk. Takut, tapi penasaran. Excited, tapi juga khawatir. Macem mau stalking twitter mantan gitu, lah.

before the horror

Bersama dengan teman-teman media Indonesia dari KapanLagi.com, pemenang kuis #HorrorLagi, Last Day Production, dan Area Magz, kami membentuk grup untuk secara berkelompok berkeliling USS, mencoba seluruh haunted house dan scare zone... satu persatu.

Are you ready? (NOOO, I'M NOOOT! T___T)

Haunted House yang pertama kami kunjungi adalah... True Singapore Ghost Stories: The MRT. Lokasinya di WaterWorld


From website"An underground train station built at a Malay burial site is torn asunder as a curse is fulfilled by the rise of the Blood Moon. Toyols, hantu rayas, and pontianaks now stalk for victims, as the tracks lead you back in time, to the author of the curse and his murderous henchmen."

Tahukah kamu, bahwa kebanyakan MRT di Singapura dibuat di bawah kuburan Melayu? Kira-kira, gimana ya, perasaan arwah-arwah yang dikubur di sana, kalo tempat peristirahatannya di acak-acak?

The MRT merupakan salah satu local urban legend di Singapore. Beberapa orang yakin, bahwa urban legend ini based on true story, alias beneran terjadi. Ber ber berarti... hunta-nya juga beneran dong nih? *pingsan*

Pintu masuk menuju haunted house The MRT berbentuk lembaran-lembaran buku raksasa yang digunting. Kayaknya, buku tersebut berisi kumpulan local urban legends. Nah ceritanya, kita mau masuk nih ke dalam buku, dan menyaksikan langsung salah satu legendanya, nih. Lengkap dengan gambar 3D yang bergerak dan maksimum volume audio.

Begitu masuk, kami langsung berada di dalam sebuah lorong MRT. Dari mulai tempat duduk, tiang untuk pegangan, stiker dahulukan ibu hamil dan lansia, lampu di langit-langit, jendela, semua dibuat persis dengan MRT yang sesungguhnya. Pingin tes duduk tadinya, tapi batal begitu ngeliat sesosok laki-laki dengan pakaian aki-aki tempoe doeloe yang mukanya ancur dan penuh darah, tiba-tiba teriak, persis di samping gue. Gusti Tuhan, jantung sampe naik ke kerongkongan sanking kagetnya.

Belom kelar mengidentifikasi dari mana dia muncul, di deket pintu MRT, seorang (?) perempuan cantik (?) terlihat sedang menunggu kami semua. Rambutnya hitam panjang dan acak-acakan, matanya melotot, dan bibirnya membentuk senyum menyeringai. Doi ketawa dengan suara yang melengking, sementara gue justru mulai nangis. Hik...

Perjalanan berlanjut ke sebuah lorong yang berbentuk seperti tabung, dan dilapisi oleh screen yang menampilkan angka-angka tahun. Terdapat sebuah jembatan di tengah tabung tersebut, yang kemudian mengantarkan kami masuk ke dalam sebuah desa. OH! We just crossed the time!

time machine!


Setelah melewati desa tersebut, kami menyaksikan kuburan Melayu yang (ceritanya) dibongkar untuk membangun MRT ini. Not my favorite part, secara kami kudu berjalan di antara kuburan yang setengah kebuka, plus ampir ditoel sama tangan mayat yang stuck di dinding tanah. T___T

Untung nggak lama kemudian, lembaran buku menyambut kami, tanda bahwa track haunted house indang telah mencapai garis finish. Halas! Kelar! Selesai! Bhaaay!

Sampe di depan, gue langsung nyari tempat duduk, karena lutut lemeeesh.

Ya gimana enggak, cobak? Hantu-hantu yang nongkrong di The MRT ini adalah hantu-hantu Melayu, yang mana sebelas dua belas sama koleksi hantu-hantu Indonesia. Buat gue dan rombongan, udah pastilah Pontianak (yang miriiip amatan sama Kuntilanak), Tuyul (bukan dari Tuyul dan Mbak Yul, pastinya), dan kawan-kawannya terasa sangat dekat di hati.

Udah gitu, dengan atmosfer yang dibangun lewat dekorasi, kostum yang sesuai, make up yang keren, dan penghayatan karakter yang luar biasa, makin believable-lah semua makhluk yang ada di dalem situ. Manalah pada agresif. Dikit-dikit nyamperin, dikit-dikit teriak. Cem maneh kagak kisut nan mengkeret, hati ini?

Kelar memastikan bahwa semua orang baik-baik aja, dan jumlah kami masih lengkap, kami menuju ke haunted house yang kedua. Sebenernya, kami kudu melewati scare zone untuk sampai ke haunted house yang berikutnya. Tapi, mengingat scare zone merupakan kawasan outdoor dan tadi sempet hujan besar, akhirnya seluruh scare zones (kecuali The Invaders) disiapkan terakhir. Jadi, instead of haunted house - scare zone - haunted house - scare zone, we go to ALL of the haunted houses first, baru setelah itu berkunjung ke scare zones.

Haunted House berikutnya adalah Hell House. Lokasinya di deket Jurassic Park Rapids Adventure.

From website"Make your self at home. But be warned: the Blood Moon has awakened the Paper Servants of the Effigy House and you will soon be feeling the heat, because everything here is made to be burnt!"

Dalam tradisi China, saat ada yang meninggal, mereka suka membakar rumah-rumahan, uang-uangan dari kertas, dan paper servant (pelayan) bersama dengan jenazah. Mereka percaya bahwa dengan begitu, sang arwah akan 'mati' berkecukupan di akherat.

Hell House menawarkan pengalaman menjadi arwah dan melakukan tur menuju ke neraka. Tertarik untuk mencoba?


Awalnya, gue dan Roy nggak terlalu khawatir sama haunted house yang ini. Gue memang familiar sama tradisi bakar kertas, tapi seenggaknya, gue nggak kenal sama hantunya. Udah gitu, appearance-nya nggak ngeri-ngeri amat, kan.

Tapi ternyata, surprise surpriseHell House justru haunted house yang paling ngagetin ketimbang yang lain, lho. Soalnya, si Paper Servant kan dari kertas tuh, jadi nggak keliatan muka aslinya, sekaligus jadi susah dibedain, mana yang scare actors, mana yang properti. Begitu dijajarin, satu dari lima Paper Servant pasti bisa gerak. You just don't know which. Nah, pas lewat, doi maju secepet kilat, kemudian bunyiin lonceng yang dese bawa, tepat depan di depan muka. CRING!

Lepas deh jantung.



Udah gitu, suasana di dalem Hell House dibuat bener-bener panas kayak di Neraka, lengkap dengan backsound 'kretek-kretek' kayak bunyi kertas dibakar.

yang dulu sering sembayang di kuburan, pasti kenal deh sama doi

Dibanding The MRT, gue jauh lebih heboh jerit-jerit kaget di Hell House. Sampe begitu kelar, baju gue basah kuyup sama keringet. Selain karena memang setting-nya dibuat panas, curiganya sih gegara jantung juga lelarian selama gue di dalem haunted house.

Dari Hell House, kami bergerak menuju ke haunted house selanjutnya. Kedua haunted house yang tersisa terletak di kawasan New York. Intip punya intip, ternyata, scare zone The Invaders udah siap menyambut. Lokasinya ada di New York, tepat di depan New York Library.


From website"A gargantuan extraterrestrial race called the Horde is using the cover of the eclipse to invade earth. These sightless, ruthless monsters have opened a Portal to swamp our cities, and will stop at nothing until our planet has been laid to waste."

Jadi ceritanya, para alien bernama the Horde memanfaatkan Blood Moon untuk menginvasi bumi. Tujuan mereka adalah ngambilin jiwa-jiwa manusia. Entah untuk apa ya. Buat dicemilin sambil nonton TV, mungkin?

Nah, untuk sampe ke kedua haunted house yang tersisa, mau nggak mau, kami kudu lewatin scare zone ini. Pas masuk, kami disambut oleh barisan tentara UGMF yang bersenjata. Gesturnya galak dan bengis, jadi kalo ada yang berjalan mendekat ke arah gue, biasanya gue langsung sembunyi di balik badan Roy. Takut diDOR, mak.



The Horde-nya juga ada, lho. Dengan perawakan tinggi besar dan kostum yang epic, kadang mereka terlihat berperang melawan tentara UGMF yang membela manusia. Oh and they love to selfie, too!

'agung' banget nggak sih?

itu apa yang di belakang...

Setting-nya pun amboi kerennya. Ada tank raksasa dan UFO. IHHHH, KEWL!

Dibanding ketiga scare zones yang lain, The Invaders adalah favorit gue. Karena selain makhluk-nya nggak terlalu agresif, penampakannya pun nggak serem(-serem amat). Malah justru keren banget! And I wholeheartedly love the costumes! Entah gimana cara bikinnya. Pokoknya jempol!

Setelah The Invaders, masih ada dua haunted house dan dua scare zones yang akan gue kunjungi. Jadi, to be continued ke Part 2 yaaa!

3 comments:

  1. Ayo cepet lanjutin. Takut takut penasaran nih hihihi

    ReplyDelete
  2. aku dong sempet tos tangannya si paper ghost..


    *habis gitu teriak2 mampus :|*

    ReplyDelete
  3. Icha : Cuuus part dua nya udah naik :3

    Neng Biker : Huahahahaha, emang physical contact tuh setengah mati bikin histeris yaaaaak :)))

    ReplyDelete