Thursday, 13 August 2015

#Japaneymoon - Perpanjang E-Paspor

Dalam rangka persiapan honeymoon, selain nyusun itinerary dan bebelian ini itu, gue juga harus perpanjang paspor. Soalnya, masa berlaku paspor gue bakalan abis Maret tahun depan. Sedangkan, bulan madunya kan Oktober 2015, yang mana berjarak kurang beberapa hari dari 6 bulan dengan masa berlaku. Daripada nggak dikasih terbang sama petugas imigrasi di bandara, marilah kita perpanjang paspor.

Karena tujuan bulan madu gue dan Roy adalah Jepang, dari awal, Roy udah wanti-wanti gue untuk perpanjang ke e-paspor aja. Emang bedanya apa? Perbedaannya terletak pada data biometrik (wajah dan sidik jari pemegang paspor) berupa chip yang tertanam di dalam buku e-paspor. Berkat data biometrik ini, katanya sih, e-paspor jadi lebih sulit untuk dipalsukan.

Kenapa musti e-paspor? Karena kalo udah punya e-paspor, gue nggak perlu bikin visa Jepang. Jadi cukup ngedaftarin diri aja, dan nggak usah bayar apa-apa. Horeee! Tapi resikonya, tarif pembuatan e-paspor jauh lebih mahal ketimbang paspor biasa. Pengurusannya juga harus offline, karena per Februari 2015, pendaftaran pembuatan e-paspor nggak bisa lagi dilakukan secara online.

Bermodal tanya kanan kiri dan googling sana sini, gue ngumpulin informasi tentang dokumen yang harus dibawa, dan tips-tips perpanjang paspor di kantor Imigrasi. Tak lupa, mengantisipasi waktu menunggu yang lama, henpon gue cas penuh, sedia powerbank, plus bawa sangu Indomie. Better be ready than sorry~

Gue ngurus perpanjangan paspor di Kantor Imigrasi Jakarta Pusat. Lho kok, JakPus? Kan tinggalnya di JakSel? Iya, kata nyokap gue, dari gue kecil sampe sekarang, bolak balik perpanjang paspor di sana. Jadi yaudah, di sana terus aja, nggak pindah-pindah. Beda dengan ngurus KTP, ternyata pengajuan pembuatan sampe perpanjangan paspor bebas di kantor imigrasi mana aja selama kotanya masih sama, lepas dari domisili. Huray.

Gue sampe di kantor imigrasi jam 5.15... subuh. Berhubung bangun jam 4, sampe sana masih setengah tidur. Bedanya cuma udah bedakan dan nggak pake piyama. Itupun, gue udah disambut oleh antrian, dan dapet nomor 16. Yang nomor 1 jam berapa ya dari rumah? Apa kemping? Udah gitu, kantor imigrasi sebenernya baru buka jam setengah 7. Jadi nunggu deh, ditemenin sama nyamuk-nyamuk yang pesta pora ngisepin darah gue...

Tapi ternyata, ada hikmahnya lho dateng pagi-pagi. Pertama, karena kuota pengurusan paspor setiap harinya hanya 100 orang, untuk yang walk in (bukan pemohon yang telah daftar secara online). Di atas itu, antrian dibubarin, disuruh pulang, dan disuruh coba lagi besok. Kedua, karena kalo dapet nomor di atas 50, alamat jenggotan nunggu dipanggil untuk wawancara dan foto.

Tepat pukul setengah 7, pager kantor imigrasi dibuka. Kami, yang udah baris dengan rapi kayak anak TK mau masuk kelas, berjalan beriringan masuk ke halaman kantor imigrasi untuk antri pemeriksaan dokumen.

Untuk perpanjangan paspor, dokumen yang dibutuhkan untuk perpanjangan adalah akte lahir, kartu keluarga, KTP, dan paspor lama. Semuanya harus asli. Jadi kalo cuma bawa fotokopian, nasibnya sama kayak nomor antrian di atas 100. Disuruh pulang, dan besok kudu ulang.

Selain yang asli, fotokopi akte lahir, kartu keluarga, KTP, dan paspor lama ada baiknya dipersiapkan dari rumah. Sebenernya bisa sih, fotokopi di koperasi yang ada di kantor imigrasi. Resikonya, ya antri. Jadi lebih baik, semua dokumen udah lengkap dibawa dari rumah, supaya di sana nggak perlu buang-buang waktu dan tenaga untuk nunggu. Oh iya, untuk KTP dan paspor lama, harus difotokopi di kertas A4 dan tidak boleh dipotong ya. Biasanya kan kadang abang fotokopian suka inisiatif motong kertas kosongnya tuh, kalo abis fotokopi KTP dan paspor. Nah untuk pengajuan paspor, nggak boleh ya. Kalo terlanjur bawa yang dipotong, pasti disuruh fotokopi ulang di koperasi.

Setelah melewati pengecekan dokumen asli oleh security, gue diberikan nomor antrian, kemudian dipersilahkan masuk dan duduk di dalem, sambil menunggu nomor gue dipanggil untuk pengambilan formulir. Nggak lama setelahnya, mas-mas dan mbak-mbak yang bertugas mulai muncul, kemudian mulai memanggil nomor antrian satu persatu. Ada dua jenis antrian yang dipanggil, yaitu antrian online (untuk yang udah terlebih dahulu daftar via web) dan walk in (yang mendadak dateng kayak gue).

tempat pengambilan formulir

Begitu nomor gue dipanggil, gue maju dan menyerahkan berkas gue, baik yang asli maupun yang fotokopi. Setelah semua dokumen diperiksa, petugas akan menyerahkan formulir dan nomor antrian di dalam sebuah map kuning. Di sini, kalo maunya bikin / perpanjang e-paspor, kudu bilang sama petugasnya, supaya map bagian dalam dicap dengan tulisan E-PASSPORT. Soale kadang mereka lupa nanya. Jadi kalo nggak ngomong, diasumsikan permohonannya untuk paspor biasa.

Setelah dapet formulir, gue diminta untuk mengisi formulir di lantai 2, lalu menunggu panggilan untuk wawancara dan foto sesuai dengan nomor antrian di dalam map. Pengisian formulir harus dilakukan dengan tinta hitam. Jadi, jangan lupa bawa bolpen hitam, ya.

Formulir kelar diisi, gue duduk, nunggu sesi wawancara dan foto dimulai, yakni jam 8 pagi. Berhubung banyak nunggunya, saran gue sih, bawa bacaan atau laptop, dan pastiin batere hp penuh. Dari pada garing nggak tau mau ngapain?

eh, tapi ada kios charger yang sangat 'anti maling' ini sih...

Tepat jam delapan pagi, speaker mengumandangkan pengumuman dibukanya sesi wawancara dan foto. Akan ada 10 counter yang akan melayani tiga jenis antrian, yakni antrian khusus untuk lansia dan orang sakit (nomor 1), antrian walk in (nomor 2), dan antrian daftar online (nomor 3). Nomor antrian yang diberikan diawali dengan kode ini dulu, baru diikuti urutannya. Contohnya nomor gue, 2-016, yang artinya, antrian walk in, nomor 16.

antrian wawancara & foto, dan nomor antrian di layar

Diumumkan juga, bahwa dalam sesi wawancara dan foto, pemohon tidak diperkenankan untuk menggunakan softlense. Sekitar lima tahun lalu pas perpanjang paspor, gue nggak tau aturan ini. Akhirnya, terpaksa beli AQUA botol, trus pake tutupnya buat tempat softlense darurat. Hihi.

Empat puluh menit kemudian, nomor gue dipanggil. Gue masuk, kemudian menyerahkan dokumen dan formulir yang gue isi. Petugas memeriksa kelengkapan dan kebenaran dokumen (lagi), kemudian meng-input sejumlah data di komputernya. Abis itu, gue diminta pindah ke meja di sebelahnya untuk foto dan wawancara.

Di sesi wawancara, biasanya, pertanyaan "mau ke mana?" bakalan muncul. Apalagi kalo permohonan perpanjangan paspor diajukan sebelum masa berlakunya bener-bener abis. Trus, kalo kebetulan dapet petugas yang agak strict, doi akan nanya-nanya seputar destinasi tujuan. So, make sure you did at least a brief research about the destination.

Gue dapet petugas yang lumayan bawel. Nggak cuma nanyain destinasi, dia juga nanyain kerjaan gue, tempat gue tinggal, macet apa enggak di sana, sampe cerita beliau suka kopdar di sekitar rumah gue. Pingin jawabin, "nggak ada yang nanya, pak." atau "YA TROOOS?" sambil muter bola mata, tapi takut dikemplang, jadi yah... didengerin aja. Jangan lupa sambil pura-pura tertarik, biar prosesnya dilancarkan dan dimudahkan.

Kelar wawancara, pengambilan foto dimulai. Gue disuruh duduk tegak dan rapihin rambut karena kuping kudu keliatan. Instruksi selanjutnya dari bapak petugasnya adalah, saat foto, boleh senyum, tapi nggak boleh keliatan gigi. Jadi, nyengir is definitely prohibited yo. Apalagi nyengir kuda.

Abis foto, proses selanjutnya adalah pengambilan sidik jari. Kesepuluh-sepuluhnya, dari kelingking sampe jempol. Sidik jari tangan ya, by the way. Bukan jari kaki.

Setelah itu, gue dikasih semacam form untuk pembayaran E-paspor (senilai Rp 655.000,- + Rp 5.000,- untuk biaya transfer), yang bisa dibayarkan hanya di bank BNI. Pembayaran ini harus dilakukan satu hari setelah pengajuan, wawancara, dan foto, kemudian, selang 4x24 jam hari kerja, paspor yang baru bisa diambil di kantor imigrasi. Untuk kasus gue contohnya. Karena gue ngajuin, wawancara, dan foto di hari Kamis, maka pembayaran baru bisa dilakukan di hari Jumat, kemudian pengambilan paspor baru bisa dilakukan di Kamis minggu depannya.

loket pengambilan paspor

Selesai deh, prosesnya. Jam 9, gue udah keluar dari kantor imigrasi, dan langsung ngibrit cari sarapan. 4 jam. Lumayan lah, ya?

Berhubung ini tahun pertama gue perpanjang paspor tanpa calo, I must say, di luar nunggu-nunggunya, gue cukup hepi kok dengan proses birokrasinya yang ternyata nggak ribet-ribet amat. Apalagi, sekarang, pemerintah lagi ketat-ketatnya ngawasin kantor imigrasi, supaya nggak ada transaksi uang selama di sana. Tujuannya sih, memberantas calo-calo. Makanya selama di sana, banyak poster-poster yang isinya himbauan untuk menghindari calo.

Semoga, dengan adanya perbaikan proses birokrasi, masyarakat jadi terdorong untuk mempelajari dan mengurus birokrasi tanpa bantuan pihak ketiga. Dan semoga, postingan ini bermanfaat untuk membantu yang mau perpanjang paspor, baik paspor biasa, maupun e-paspor. Kan sayang kalo udah nulis panjang-panjang, eeeeh, nggak bermanfaat :(

(padahal dari kemarenan hobi nulis postingan tak bermanfaat... and proud of it. #ShamelessBlogger)

E-Paspor & Paspor biasa :)
PS : Menurut nyokap gue sih, pemohon pembuatan paspor kudu rapih waktu wawancara dan foto (pake sepatu dan kemeja). Nggak tau ini aturan bener atau enggak, tapi mending diikutin aja deh ya, biar aman :)

3 comments:

  1. Aaak asik banget udah E-Paspor, ke Jepang gak perlu visa dong ya Sar. Ternyata prosesnya gak seribet yang dibayangin juga cuma capek nunggunya aja ya haha. Kalo masih 2017 paspor abis tapi mau ganti E-Paspor bisa gak sih?

    ReplyDelete
  2. Itu maksudnya ngapain nanyain di sana macet apa enggak anjir. :)))

    ReplyDelete
  3. Icha : Iyaah, tinggal daftar aja jadinya :D He eh, prosesnya nggak ribet kok. Cuma nunggu dan dateng paginya aja yang malesin :)))) Kayaknya sih bisa, cuma nanti pasti ditanya-tanya, kenapa kok belum abis tapi udah mau ganti. Jawab aja soalnya mau e-paspor :D Tapi sayang juga sih kalo masih lama abisnya :D

    Kresnoadi : AUK NOH :)))

    ReplyDelete