Monday, 8 June 2015

#HAPPINEST_JKT - Review

Setiap orang pasti punya definisi masing-masing tentang kebahagiaan. Banyak yang berpendapat bahagia itu adalah liburan keluar negeri, nonton konser idola, atau gadget up to date. Ada juga yang berargumen bahwa bahagia datang dari menghabiskan waktu dengan keluarga atau teman-teman terdekat, atau sekedar tidur lebih lama di akhir pekan.

Melintasi beragamnya arti kebahagiaan bagi masing-masing orang, Sabtu kemarin, Ernest Prakasa, mengajak penikmat karyanya untuk melihat lebih dekat arti dari kebahagiaan untuk dirinya, dalam sebuah Stand Up Special bertajuk HAPPINEST. *ngosngosan*


Happinest adalah Stand Up Special Ernest yang ke empat, setelah Merem Melek, Ernest Prakasa & The Oriental Bandits, dan Illucinati.

Perbedaan yang paling mencolok di antara #HAPPINEST_JKT dan ketiga show Ernest sebelumnya adalah bentuk panggungnya. Umumnya, komika tampil di panggung berbentuk kotak dan berdiri dengan posisi menghadap ke arah penonton. Tapi di Balai Sarbini kemarin, Ernest menjajal bentuk panggung baru. Sebuah panggung berbentuk bulat yang berada di tengah-tengah penonton, seperti panggung yang ada di Stand Up Fest.

Buat gue, ini ide bagus, secara untuk stand up show, sebenernya panggungnya nggak musti gede. Kan cuma seorang doang yang perform. Kecuali ada aksi Tari Kecak sebagai pembuka acara, panggung yang terlalu luas rasanya kok agak mubazir.

Asiknya lagi, dengan panggung seperti ini, posisis komikanya jadi lebih deket sama penonton (literally). Mayan lah, biar duduk di Silver, nggak usah ngeker-ngeker pake teropong.

Masalahnya, gue sempet punya pengalaman buruk sama panggung bulat gara-gara Stand Up Fest. Waktu itu semua komika yang tampil kecuali Pandji, menghadap ke arah penonton yang berlawanan dengan tempat gue duduk. Alhasil dipantatin deh, sepanjang acara. Slamet yaa...

Untungnya, kali ini, gue dan Roy nggak mengalami kejadian serupa. Selain karena tempat duduk yang kami pilih deket sama kamera Kompas TV, seluruh komika yang tampil emang muter-muter di panggung. Jadi segala arah kebagian. Adil deh, pokoknya.

Happinest dibuka dengan 'doa' yang dipimpin oleh Majelis Tidak Alim, Soleh Solihun. Sebenernya bukan doa sih, lebih tepatnya doi membacakan sederet "semoga..." yang harus diaminkan penonton. Salah satunya, "Semoga yang pake sendal Crocs segera sadar, bahwa itu sendal, udah mahal, jelek. Amin?" lalu dijawab seperti koor oleh para penonton, "AMIIIN!"

Begitu Soleh kelar dengan harapan-harapan ngawur-nya, mikrofon diambil alih oleh dua orang MC, Ge Pamungkas dan Arie Kriting. Mereka menyapa penonton, kemudian membacakan sejumlah peraturan yang harus ditaati selama pertunjukan berlangsung. Antara lain, "Dilarang merekam pertunjukan. Apalagi merekam sesama penonton. Apalagi merekam penonton yang sedang merekam pertunjukan."

Ngehe :))

Segala peraturan yang dibacain sama Arie Kriting dengan logat Timur-nya lebih bikin geli lagi. Gue ngakak sampe nangis dengernya. Ya ulih, ini bahkan stand up show-nya belom mulai, di panggung belom ada siapa-siapa, tapi rahang gue udah mulai diforsir abis.

Setelah duo serigala MC ajaib itu selesai membacakan tata tertib, akhirnya opener pertama, Sakdiyah Ma'ruf, muncul di atas panggung. Dengan witty, wanita cantik keturunan Arab ini langsung melemparkan bit-bit kocak yang mengundang gelak tawa penonton.

Ketika Sakdiyah selesai dengan set-nya, opener kedua, Chevrina Anayang, naik ke panggung. Ini adalah kali pertama gue nonton Chevrina. Bahkan gue baru tau, selain penyanyi, Chevrina juga komika, sama seperti pacarnya, Kamga.

Chevrina memulai set-nya dengan membahas KD yang dateng ke konser Raisa. Bit itu berakhir dengan gemuruh tawa di Balai Sarbini. Begitu juga ketika dia menganalogikan Perek Perawan dengan Es Teh Manis, bit favorit gue malem itu.

"Cewek yang ngelakuin oral sex supaya tetep perawan itu ibarat... Elo aus banget nih. Trus elo pesen es teh manis. Tapi begitu es teh manisnya dateng, elo memutuskan untuk... ngejilatin embun-embun di gelasnya."

SYAITOOON! :)))

Bit-bitnya bicara seputar ugly truth. Mungkin agak sedikit frontal untuk sebagian kalangan, tapi gue dan Roy suka banget. Kami berdua bener-bener dibikin kaget dan terpesona sama Chevrina. Duh, kalo doi berniat bikin stand up show sama Kamga, gue bakalan antri paling depan deh, buat beli tiket.

Setelah Chevrina membungkuk sebagai tanda performance-nya usai, Arie Kriting, tiba-tiba nyambung dan bilang, "Buat dedek-dedek yang aus, sini, abang punya es teh manis di sini." dengan logat Timur-nya yang khas. Kontan, seluruh penonton yang lagi ambil napas abis ngakak langsung terbahak lagi. Bangke dah emang, si Arie :))

Ketika riuh tawa mereda, opener ketiga, Sacha Stevenson mengambil alih panggung. Canadian yang udah belasan tahun di Jakarta ini mengupas Indonesia dari sudut pandang seorang pendatang seperti dirinya. Performanya yang lincah dan aksen bahasa-nya yang kental, membuat Balai Sarbini lagi-lagi dipenuhi gelak tawa.

Sacha menutup set-nya diiringi dengan tepuk tangan. Setelah itu, penonton diberikan waktu break untuk pipis, sebelum satu opener utama dan Ernest himself, tampil di panggung.

Saat jeda ini, lagi-lagi duo MC geblek, Arie dan Ge, mengundang tawa penonton lewat celotehan random mereka. Seolah nggak mengijinkan gue untuk mengistirahatkan rahang sejenak, Ge malah men-dubbing beberapa orang yang lalu lalang masuk setelah ke toilet. Tentu saja nge-dubbing-nya ngawur ya. Tapi kocak. Dan Geblek.

Gue sampe kasian lho sama korban-korban-nya, tapi nggak bisa nahan ketawa. Damn you, Ge! Niat gue mau pipis langsung ambyar. Tahan aja dah :))

Setelah waktu break dinyatakan selesai, opener tetap Happinest, Ardit Erwandha, naik ke atas panggung... tanpa menggunakan tangga. #penting

Komika ganteng asal Kalimantan ini ngebahas berbagai pengalaman dan pemikiran random-nya dengan gaya yang lucu. Gue ngakak pas doi praktek beberapa cara cewek pipis di balik bilik WC. Didukung daya imajinasi yang sungguh tinggi, Ardit berhasil menyuguhkan penampilan sekelas komika dengan ribuan jam terbang. Keren.

Ketika Ardit turun, tibalah waktunya sang pemilik hajat, Ernest Prakasa, tampil. Tanpa gimmick apapun, doi naik ke panggung diiringi tepuk tangan riuh.

Ia membuka set-nya dengan melemparkan bit tentang Snow, dan hipotesa-nya bahwa seorang laki-laki, memang terlahir dengan insting mencintai payudara.

Ernest juga bercerita tentang masa-masa dirinya dan Meira menunggu kelahiran Snow, serta drama yang terjadi di ruang persalinan. Pengalaman tentang mencicipi Onsen di Jepang pun tak lupa dibagikan. Bit tentang Sky kentut di lift, komik Tapak Suci, serta cara orang tua dulu mendidik anak dengan keras juga berhasil membuat gue terpingkal-pingkal.


Penampilannya santai dan effortless seperti biasa. Ernest juga terlihat sangat menikmati panggung. Sama sekali nggak terlihat gugup dan mikir.

Set-nya malam itu ditutup dengan sebuah cerita yang membuat Balai Sarbini hampir runtuh karena gemuruh tawa.

"Anak gue, Sky, punya tetangga di Bandung. Namanya Mumut. Nah, Mumut ini Muslim. Suatu hari, Sky pamit mau main sama gue. Dia bilang, "Pa, aku ke rumah Mumut ya. Samalekum!""

Ernest bengong, kemudian pelan-pelan dia nengok ke belakang. Lalu, seolah ada Meira di sana, dia nanya, "Hun, kamu tau nggak anak kita Mualaf?"

Gue sampe hampir kecekek sama nafas sendiri sanking hebohnya ngakak. Sky kamu kok lucu banget sih! Aku culik aja yuk sini... *dikemplang*

Di #HAPPINEST_JKT, isi set Ernest memang murni hanya bicara tentang keluarga, yang juga sumber utama kebahagiaannya. Sama sekali nggak ada bit-bit politik yang berat dan bikin kening keriting. Tapi justru karena itu, buat gue (dan mungkin ratusan penonton lain), malam itu menjadi malam yang sangat menyenangkan.

Sesuai dengan semangat dari judul special kali ini.

Untuk setiap orang, arti kebahagiaan memang pasti beragam. Tapi malam itu, rasanya semua sepakat, bahwa kebahagiaan bisa berarti terbahak-bahak bersama-sama menyaksikan seorang komika yang tengah memberikan yang terbaik untuk penikmat karyanya.

Karena kebahagiaan yang sejati, adalah kebahagiaan yang dibagi, kan? :)


PS : #HAPPINEST_JKT akan ditayangkan di Kompas TV dan diproduksi dalam bentuk DVD dan DD. Yang penasaran, jangan sampe ketinggalan :)

PPS : Roy juga bikin review #HAPPINEST_JKT. Yang penasaran, monggo langsung meluncur ke mari.

2 comments:

  1. Wah Ardit karirnya sebagai komika makin bersinar aja ya. Jadi ingat dulu pernah nonton waktu open mic dia di Samarinda, kebetulan kami satu kota dan satu SMA ^.^

    Ps, kak Sarah cantik bangetttt

    ReplyDelete
  2. Fradita : Iyah, keren deh, aku sebelum ini nggak pernah denger namanya, tapi sekali liat dia tampil langsung suka :D

    Hihi, thank you, darling, kamu manis sekali <3

    ReplyDelete