Wednesday, 13 May 2015

Wedding Planner VS Wedding Organizer

Berhubung pernikahan adalah momen sekali seumur hidup, dari awal, gue dan Roy bersikeras mempersiapkan pernikahan kami tanpa menggunakan jasa wedding planner. Kami berdua kepingin ngatur semuanya sendiri, milih vendor sendiri, mikirin konsep sendiri, dan seterusnya. Tujuannya supaya semuanya sesuai keinginan dan nggak banyak campur tangan orang lain. Dan kalo boleh jujur, gue udah males duluan kalo ngeliat tarif wedding planner di Jakarta. Mehong pisan, gusti…

Namun, sebaik dan sesempurna apapun persiapan kami berdua, tentu saja pas hari H, gue dan Roy nggak bisa in charge untuk ngatur ini dan itu. Yaiyalah ya, pan kami di panggung. Masa iya kalo makanan udah mau abis gue turun trus masuk dapur buat manggil orang catering-nya? Kan nggak mungkin, tho.

Makanya, kami berdua memutuskan untuk tetep menggunakan jasa wedding organizer.

Wedding organizer adalah orang-orang yang bertanggung jawab untuk mengatur jalannya acara pas hari H. Kerjaannya antara lain, memastikan semuanya tepat waktu dan sesuai dengan run down yang sebelumnya telah dibicarakan, mengawasi catering, mengarahkan tamu undangan, mengurus komunikasi dan informasi dengan semua vendor mewakili bride dan groom, bahkan ada yang berfungsi sebagai bridesmaid juga (beresin train, pegangin bunga, dst).

Sebenernya, peran wedding organizer bisa juga digantikan sama perwakilan dari keluarga atau temen-temen. Tapi karena undangan gue dan Roy lumayan banyak, akhirnya kami milih jasa profesional aja, walopun artinya… keluar duit lagi. Zzz.

These days, wedding organizer and wedding planner are often mistaken. Padahal, tanggung jawab dan scope kerja mereka berbeda banget. Wedding Planner (WP) lebih banyak membantu sebelum acara (pre) sedangkan Wedding Organizer (WO) lebih banyak terjun saat acara.

Jasa WO umumnya hanya digunakan sehari, yaitu pas hari H. Tanggung jawabnya adalah memastikan segala rencana yang dibuat berjalan dengan lancar (time reminder), dan menjadi ‘wakil’ dari pengantin pada hari H. Semacem tangan kanan pengantin, karena pas acara, yang punya hajat udah pasti nggak bisa dimintain pendapat. Jadi kalo ada masalah dengan catering, dekor, jadwal, atau vendor yang lain, biasanya WO yang turun tangan.

Sedangkan tugas dan tanggung jawab WP adalah meng-assist persiapan capeng dari awal sampe hari H, termasuk nyari vendor, menghadiri meeting, dan seterusnya. Doi juga bertanggung jawab terhadap segala perintilan dan tetek bengek pernikahan, dan berfungsi sebagai reminder untuk capeng, kalo kalo ada yang kelupaan. Soal konsep pernikahan, biasanya WP juga terbuka untuk konsultasi, karena yang kerja di bidang ini adalah orang-orang kreatif. Jadi kalo masih bingung sama tema dan pusing nyari vendor, WP bisa jadi solusi, karena mereka bisa diajak diskusi, sekaligus mengarahkan bride and groom to be ke vendor-vendor yang sesuai.

Jadi, jasa wedding planner dan wedding organizer itu lain, lho ya. Kebanyakan orang suka ketuker, karena istilah wedding planner emang kurang populer. Jadi maksudnya WP, tapi keucapnya WO. Hihi.

Meskipun di luar sana, banyak juga sih WO yang juga ngebantuin persiapan capeng-nya. Nggak cuek bebek sampe meeting H-14 atau malah hari H. WO sekaligus WP, a.k.a tipe WO gue. Puji Tuhan PIC-nya care banget sama gue dan Roy. Jadi kami bayarnya buat WO, tapi nyicipin jasa WP-nya sekalian, ahahaha.

All in all, kebutuhan wedding planner dan/atau wedding organizer emang tergantung sama masing-masing capeng. Faktor penentunya juga beragam, antara lain, ketersediaan waktu, kebutuhan akan vendor, jumlah tamu yang hadir, konsep acara, dan masih banyak lagi. Nggak bisa diseragamin antara capeng yang satu dengan capeng yang lain.

Untuk gue dan Roy, pada akhirnya, kami bersyukur nggak pake jasa wedding planner. Tentu, itu artinya, lebih banyak waktu yang harus dialokasikan untuk persiapan pernikahan, berhadapan langsung dengan vendor, dan mikirin semua-muanya berdua. Tapi, dibalik segala kerempongan itu, –I have to admit– nyiapin nikahan adalah momen yang berkesan dalam hubungan kami. We are getting to know and understand each other better. We are getting closer to each other. Most of all, it feels like bringing our dream to reality, together.

Mondar mandir wedding expo jadi menyenangkan karena gue punya partner buat diajak diskusi. Survey ke sana ke mari sama Roy nggak pernah terasa melelahkan. Bahkan berurusan sama vendor rese pun nggak bikin gue jadi snewen dan stress lalu gila, karena gue tau I always got him.

The whole wedding prep that should be tiring and frustrating, somehow feels fun and enriching with Roy.

Maybe, because it is for our wedding, or maybe, because I simply love doing anything with him. Cieee 

source

PS: Buat capeng yang lagi nyari jasa wedding organizer ataupun wedding planner, gue bisa ngasih rekomendasi nih. Harganya dijamin bersahabat, kerjanya profesional, dan orang-orangnya baik dan ramah. Kalo interest, monggo email aku di blogsarah@hotmail.com ya.

PPS: I know you smile A LOT while reading this, baby boo. I hate to admit it too, but apparently, you can be lovable (instead of annoying) sometimes. *usel-usel*

3 comments:

  1. keduanya penting, wedding adalah dimana kita mengucapkan janji sehidup semati untuk setia kepada pasangan kita, itu menurut aku.
    cara mengobati gudik dengan cepat

    ReplyDelete
  2. Seneng deh bacanya. Lancar terus ya persiapan nikahnya, Sarah dan Roy :)

    ReplyDelete
  3. Icha : Terima kasih ya sayang untuk doanya :D Diaminkan selalu!

    ReplyDelete