Wednesday, 29 April 2015

Gone Girl - Review (Spoiler)

Gone Girl (2014) adalah salah satu film yang berhasil bikin gue penasaran setengah mati setelah baca beberapa review-nya. Banyak yang bilang film ini ‘gila’ dan ‘sakit’. Keduanya pake tanda kutip, yang akhirnya malah bikin gue makin kebelet pingin nonton. Berhubung garis besar ceritanya gue udah tau, yang mau gue cari tau cuma satu: gimana cara mereka mengeksekusi ide cerita yang terdengar cukup ekstrim ini?

Dan pertanyaan itu segera terjawab, setelah gue nonton filmnya bareng adek gue, minggu lalu. Gue nggak bisa berenti geleng-geleng kepala karena salut. Kagum sama penulis ceritanya, kagum sama acting-nya Rosamund Pike, kagum sama semuanya. This movie is bloody brilliant.

Masalahnya, kegundah-gulana-an di hati yang nggak mau ilang setelah gue selesai nonton. I can’t get this movie out of my head. Kepikiran melulu, macem mantan pas baru putus. And I’m not bluffing. Beneran sampe segitunya, lho. Bahkan, gue sampe setengah maksa Roy cepetan nonton Gone Girl juga, supaya ada yang bisa gue ajak diskusi. Turns out, doi sependapat sama gue. Film ini emang punya ‘efek’ yang agak terlalu luar biasa.

Awalnya gue nggak mau nge-review film ini di blog, because there’s no way I can tell anything about this movie without being a spoiler. Tapi gue gelisah. Sepanjang nonton, banyak banget scene yang bikin gue melongo antara kagum dan kaget. Banyak banget plot twist yang bikin gue takjub tapi juga takut. Banyak banget pemikiran yang membanjiri kepala gue setelah film ini selesai gue tonton. So I think I need to write them down.

Let’s begin with the story.

(Yang belum / kepengen nonton dan takut sama spoiler, jangan diterusin ya bacanya.)

Alkisah, tinggalah sepasang suami istri bernama Nick Dunne (Ben Affleck) dan istrinya, Amy Dunne (Rosamund Pike). Amy adalah inspirasi dari sebuah buku dengan judul Amazing Amy, yang menggambarkan American Sweet Heart sepenuhnya: sweet blonde girl, lemah lembut, dan selalu menjadi pusat perhatian.

Kehidupan pernikahan mereka sepertinya baik-baik saja, walaupun cenderung dingin. Everything seems so normal, yang mana justru menunjukkan bahwa itu sama sekali nggak normal.

Suatu hari, tepat di wedding anniversary mereka yang ke lima, Nick pulang ke rumah dan mendapati sang istri isgon. Rumah mereka berantakan, dan ditemukan beberapa bercak darah. Polisi datang, dan Nick dibawa ke kantor untuk dimintai keterangan. Surprisingly, dia ternyata sama sekali nggak tau apapun tentang istrinya.

Penyelidikan dilanjutkan, dan pihak kepolisian menemukan beberapa bukti yang justru semakin menguatkan dugaan bahwa Nick-lah yang melenyapkan istrinya. Terkuaknya fakta tentang pernikahan mereka berdua yang jauh dari kata bahagia dari salah seorang tetangga, bercak darah yang ada di rumah mereka, terungkapnya perselingkuhan Nick dengan salah satu muridnya, dan ditemukannya diary Amy membuat Nick semakin dicurigai sebagai dalang dari ‘hilang’nya Amy.

Berbagai media mulai menyorot, dan seketika, Nick menjadi public enemy. Semua orang yang prihatin dan bersimpati dengan Amy, balik badan dan memusuhinya.

Nick yang ngerasa innocent dan nggak tau apa-apa, akhirnya mulai frustasi karena tiba-tiba doi terkenal sebagai lelaki brengsek yang tega menyakiti wanita sebaik dan selembut Amy. Ia kemudian datang pada Tanner Bolt (Tyler Perry), seorang pengacara yang sejak awal memang tertarik pada kasus Nick dan Amy. Bersama, mereka mencari jalan untuk membuktikan dugaan Nick selama ini: dia difitnah oleh istrinya sendiri.

Sampe sini, pertanyaan sebenernya adalah: di manakah Amy?

Jauh dari tempat tinggal mereka, Amy mengubah total penampilannya. Ia mengenakan kacamata, mengecat ulang rambutnya, mengubah cara berpakaiannya, dan bertransaksi (bahkan beli mobil) hanya dengan cash. Yup, dia masih hidup.

Ternyata, tujuan Amy melenyapkan diri adalah karena dia kepingin bales dendam karena diselingkuhin sama Nick.

Semuanya rencana Amy berjalan mulus, sampe tiba-tiba, di tempat persembunyiannya, sesuatu yang tak terduga terjadi. Amy dirampok. Dalam keadaan kehilangan seluruh uang cash-nya, akhirnya, setengah terpaksa, dia menghubungi mantannya yang belum kunjung move on, Desi (Neil Patrick Harris).

(Iya sama, gue juga bingung kenapa namanya Desi padahal dia laki sik?)

Desi, yang entah cinta mati atau terobsesi sama Amy, tentu saja hepi banget waktu Amy memutuskan untuk lari ke dia. Kepada Desi, Amy beralasan bahwa dia disiksa abis-abisan sama Nick, sehingga dia kudu pura-pura ‘mati’ untuk sementara waktu.

Desi membawa Amy ke rumah tepi danaunya yang mewah dan aman. Segala keperluan Amy udah diurus sama Desi. Pokoknya Amy dijamin hidup nyaman, tenang, dan damai. Sayangnya, di sana Amy justru mulai menyadari bahwa laki-laki yang sesungguhnya dia ‘cintai’ adalah Nick.

Dari situ, Amy memutuskan untuk merekayasa situasi seolah-olah dia diculik dan dijadikan budak seks oleh Desi. Dia mulai merekam adegan dia heboh jejeritan sendiri, kayak abis brutally diperkosa sama Desi. Puncaknya, dengan memanfaatkan alibi sebagai pembelaan diri, dia ngegorok leher Desi pake cutter pas doi lagi... gituan.

(THE HELL?!)

Lalu dengan dramatis, dia memutuskan untuk pulang kepada Nick. Amy kemudian playing victim dengan ngarang cerita ke polisi, bahwa dia ilang karena diculik sama Desi. Dia disekap di sebuah rumah, kemudian dipaksa melayani Desi. Visum dari dokter juga membantu membuktikan kesaksian Amy. Padahal, dari awal, dia sendiri yang sengaja ‘membuat’ luka-luka itu.

Nick sebenernya udah nggak pingin deket-deket Amy waktu dia kembali. Yaiyalahya, lelaki waras mana yang mau?

(Sini, bang Ben Affleck sama aku ajun… *kemudian leher gue ikut diseset sama Amy*)

Masalahnya, Amy, yang tetep konsisten dengan perannya sebagai pihak yang dizholimi, langsung menyedot perhatian masyarakat begitu dia kembali. Doi juga memanfaatkan situasi dan ngancem Nick, bahwa kalo Nick ninggalin dia sekarang, waktu mereka berdua lagi disorot, maka masyarakat akan kembali bersimpati terhadap oh-so-pity-Amy, yang mana akhirnya mengembalikan status Nick sebagai public enemy.

Serba salah yaaa.

Keadaan makin rumit waktu Amy bilang bahwa dia hamil. Nggak punya pilihan lain, akhirnya Nick memutuskan untuk stay. Margo (Carrie Coon), sodara kembar Nick yang selama ini mendampingi Nick selama Amy ilang, langsung nangis pas Nick bilang terpaksa tetep tinggal sama Amy. Kebayang nggak sih, serumah sama psikopat? Hiiii.

Jadi akhirnya, mereka berdua hidup bahagia (?) sembari menunggu kedatangan bayi mereka (?). Happy ending

NOT. OF COURSE NOT.

Kelar nonton, gue kepingin standing applause karena kagum, tapi juga pingin tebalikin TV gegara frustasi.

Di satu sisi, gue salut sama karakter Amy. Manipulatifnya juara! Dengan sabar, teliti, dan penuh perhitungan, Amy merencanakan pembalasan dendam karena diem-diem dia benci sama suaminya. Image lemah dan tersakiti yang ia bangun pelan tapi pasti pada akhirnya menjadi kunci kesuksesan seluruh rencananya. Semuanya bener-bener dipikirkan dan disusun dengan sempurna. Kalo bukan karena dia yang memutuskan untuk kembali, Nick pasti udah di penjara dengan tuduhan melenyapkan istrinya sendiri.

Di sisi lain, gue frustasi ngebayangin ini terjadi dalam kehidupan pernikahan. How totally awful marriage life can be scares me. Gue frustasi nontonin dua orang yang dulunya saling cinta, akhirnya dibutakan sama dendam. Gue frustasi sama kenyataan bahwa rencana Amy berhasil sehingga sampai akhir, dia dinyatakan TIDAK BERSALAH. Something about it doesn’t seem right, and I can’t help feeling so disturbed.

Gue ngerti, Gone Girl adalah potret dari banyak banget marriage life di luar sana (lack of communications, affair, cold relationship, and so on), meskipun mungkin ‘buah’-nya nggak seekstrim Amy. Gone Girl juga menguatkan opini gue selama ini, bahwa kalo perempuan udah disakiti, they can be from zero to crazy buat balas dendam.

Yes, I get it, sih. Tapi tetep aja kan… *minum aspirin sepabrik*

So for me, this movie is seriously amazing yet frustrating and disturbing at the same time. Yang udah nonton, do you guys have another opinion? Share di kolom komen, dong!

...and plans revenge. An insane one.

7 comments:

  1. duh sar penasaran jadinya, belum pernah nonton dan setelah baca malah pengen tau terakhirnya, haha, itu spoiler ga sampe abis sar? *terus digeplak pembaca lainnya*

    ReplyDelete
  2. Kak Presy : Hihihi, ayok nontoooon. Aku juga pas nonton udah tau plotnya sampe abis lho, tapi tetep aja seruuuu. Tetep aja kaget-kaget :))) Jenius banget ih yang bikin novel sama sutradaranyaaaa.

    ReplyDelete
  3. Langsung jadi pengen nonton abis liat postingannya Sarah

    ReplyDelete
  4. Icha : Ayoooo nonton! :D Nanti kasih tau aku what do you think :D

    ReplyDelete
  5. ini... salah satu film yang bikin gue gereget!
    and the ending... is... so... DEPRESSING!

    Tau kalau si Nick itu ngga bisa apa-apa, dan si cewenya pura-pura seakan ngga terjadi apa-apa, padahal kita tahu ke depannya... mungkin terjadi sesuatu lagi...

    AAARGGGHH!!!

    ReplyDelete
  6. Luthfi : BANGEEEET! Kesel kan mikirinnya :)))))) Gue udah berhari-hari aja masih tetep gelisah kalo pas inget endingnya. Kepengen jeblosin Amy ke penjaraaaa!

    ReplyDelete
  7. Film kaya gini nih yg gue suka, ttg psikologi thriller&dendam kaya the orphan,shutter island,prisoner,the prestige dll

    ReplyDelete