Tuesday, 10 March 2015

Bad(ly) Luck(y)

Tangan gue sedang memegang empat nomor undian doorprize, sambil sesekali berdoa di dalam hati. Kedua telinga gue pasang baik-baik untuk mendengar angka-angka yang disebutkan oleh sang MC. Sampai di digit ketiga, untuk yang kesekian kalinya gue mengerang kecewa.

"Emang gak pernah dapet deh aku begini-beginian." gue berpaling pada Roy, yang menyambut dengan cengiran miris.

Ingatan gue melayang pada undian doorprize di wedding expo yang pernah kami datangi tahun lalu. Saat itu, kami baru melakukan DP untuk mengikat kerja sama dengan pihak gedung dan catering. Karena melakukan transaksi dengan nominal yang lumayan (besar), kami berdua berhak mendapatkan dua buah buku berisi kertas undian.

Gue yang tadinya udah males dateng, akhirnya jadi berharap juga saat tau angka kupon kami banyak. Dua BUKU lho. Berarti probabilitas kami buat dapet grand prize (atau hadiah hiburan deh, gapapa), lumayan gede kan?

Apalagi, peraturannya adalah, pasangan yang dipanggil saat door prize diundi harus hadir. Keduanya pula, baik CPW (calon pengantin wanita) maupun CPP (calon pengantin pria). Sedangkan pengundian diadakan pukul 21.00, di hari Minggu. Jadilah gue dan Roy lumayan pede karena yakin pasti sepi. Bisalah nih, bawa pulang mobil.

Sayangnya, begitu sampe di sana, ternyata kami disambut lautan manusia. Ratusan pasangan memenuhi venue di mana pengundian door prize akan diadakan. Diam-diam, semua menyimpan harap akan memenangkan hadiah yang disediakan oleh pihak penyelenggara.

Gue cuma bisa nyengir sambil gondok dalem hati. Kalo begini caranya sih... I seriously stood no chance. Dan benar, kami pulang dengan membawa tangan hampa.

Nggak sampe di situ, kejadian bad luck Sarah di outing kantor kemaren seolah semakin menguatkan dugaan bahwa beruntung memang bukan nama tengah gue. Yang probability-nya segitu gede aja bisa nggak dapet lho. Yailah sis, kesian amaaat.

I have to admit, nasib gue emang paling sedih buat urusan undian. Dari lahir sampe sekarang, kayaknya belom pernah menang apapun yang bau-baunya lucky dip atau door prize. Menang lomba juga bisa diitung pake sebelah tangan, alias jarang banget.

"Nggak apa-apa, yang penting dapet prewedd gratis." ujar Roy membuyarkan lamunan gue.

Gantian gue yang nyengir. A slight of gratitude fills my heart.

Kembali terbayang hari pengumuman pemenang sebuah kontes foto berhadiah prewedding photo session impian kami.

It was Valentine's Day. Kami sedang berada dalam perjalanan menuju ke dermaga pantai Umang, ketika gue accidentally membuka Instagram dan membaca kabar baik itu. Awalnya, gue sempet berniat untuk nggak buka IG seharian di tanggal 14 Februari 2015.

I was sure I wouldn't win

Makanya, gue berusaha menghindari kenyataan itu. For obvious reason, gue nggak pingin jadi pudung dan sedih pas lagi family holiday begini. Secara buat gue, most of the timemood itu segala-galanya. Makanya harus dijaga, supaya nggak rusak di waktu yang tidak diinginkan.

Jadi ketika jempol gue nggak sengaja mencet aplikasi Instagram, tentu saja gue panik bukan main. Hoaaa! Aduh ini eksitnya gimana? Mana tanda silangnya? Toloooong! *panik*

But then, sebuah komen masuk ke dalam notifikasi gue. Perang batin terjadi. Buka-enggak-buka-enggak? Hati sih penasaran banget, tapi kok rasa-rasanya jiper. Huuuu.

Perang batin keluar dengan rasa penasaran sebagai pemenang. Gue menekan opsi notifikasi, yang kemudian gue sesali seperempat detik kemudian. So, I decided to shut my eyes.

Tapi sebelum sempet merem, kata 'congratulation' tertangkap oleh mata gue. Wait... kalo kalah masa iya diselamatin? Eh berarti...

"AAAAKKK AKU MENAAANG!!!!"

Adek gue yang lagi nyetir langsung protes sambil ngelus dada, "Ceh apaan sih lu. Kaget gua."

Roy yang duduk di depan, langsung ikut bersorak. Gue joget-joget selebrasi di mobil, kemudian heboh nangis bahagia di komen instagram. Gosh, it was sooo hard to believe, akhirnya kami berdua menemukan vendor prewedding photo yang siap bekerja sama. Even better, for free, since their rate is so out of our budget.

Mengingat ke belakang, pencarian vendor prewedding bukanlah fase persiapan nikah yang menyenangkan buat gue dan Roy. No thanks to ide gue yang luar biasa aneh antimainstream, berkali-kali kami menemui jalan buntu dan menelan kecewa karena ditolak. Ketika menemukan vendor yang menyanggupi, sekali lagi kami harus bergumul dan akhirnya mundur karena keterbatasan budget. I was nearly giving up.

Ketika gue merasa kehilangan seluruh harapan, salah satu vendor yang portfolio-nya sangat gue kagumi tiba-tiba mengadakan sebuah photo competition via instagram. Hadiahnya adalah sebuah prewedding photo sesion dengan konsep yang gue dan Roy inginkan. Bahkan hingga gambaran detailnya, persis sama seperti yang kami berdua idamkan.

So of course, I decided to give it a try, sambil diem-diem berharap akan memenangkan hadiahnya. I wanted the prize sooo sooo bad.

Semangat itu sempat patah di tengah jalan karena dua hal. Pertama, karena submitter lain jauh lebih kreatif dan keren ketimbang gue. Kedua, karena fakta gue jarang banget menang lomba. I doubt everytime I need to depend on my own luck.

Roy menghibur gue dengan meyakinkan bahwa rejeki nggak akan ke mana-mana. Hanya itu yang bisa dia katakan, karena mungkin dalam hati, dia sama pesimisnya sama gue.

So the announcement of the winner really really surprised both of us.

Mereka memilih gue dan Roy sebagai pemenang.

Kami mendapatkan prewedding photo impian yang membutuhkan budget jauh di luar yang kami miliki, secara cuma-cuma. Kami diberi kesempatan untuk bekerja sama dengan seorang fotografer dan designer hebat yang selama ini hanya bisa gue kagumi dari jauh portfolio-nya.

Kami, dua orang yang nggak pernah menang doorprize, undian, dan lucky dip. Kami, yang obviously bukan anak kesayangan Dewi Fortuna. Kami, yang katanya selalu punya bad luck, but luckily have a really great God.

Untuk mereka, mungkin ini disebut keberuntungan. But I know better :)

No comments:

Post a Comment