Wednesday, 25 March 2015

25 Years of Togetherness

Pertengahan November 2012

"Hai mom, how are you today?"

Beliau membuka matanya, kemudian tersenyum lemah. Gue segera meletakkan tas, lalu duduk di pinggiran tempat tidur. Ia mengeryit kesakitan. Ups, ternyata gue menyenggol tangannya yang masih ditusuk oleh jarum infus.

"Kamu laper nggak? Tadi makannya baru dikit." ujar bokap gue sambil mencari-cari biskuit di kantong belanja.

Nyokap gue menggeleng lemah. Kesehatannya belum kembali normal pasca operasi beberapa hari yang lalu. Beliau menolak makan dan sulit tidur, yang akhirnya membuat kondisinya memburuk, sekaligus mengakibatkan penyakit lamanya kambuh.

Sudah tiga hari berlalu sejak operasi dan belum ada tanda-tanda nyokap gue membaik. Bokap memutuskan untuk rawat jalan, sembari berkonsultasi pada dokter yang tepat tentang penyakit lama nyokap.

Setelah menyelesaikan administrasi rumah sakit, nyokap gue pulang. Kondisi beliau masih sangat lemah, diperparah dengan sakit yang dirasakan di kakinya. Sama seperti di rumah sakit, beliau masih menolak untuk makan, sulit tidur, dan merintih kesakitan sepanjang hari. There was nothing we can do to make her feel better.

Hospital hopping pun dilakukan.

Berbagai obat diberikan, tapi belum ada yang berhasil membuat nyokap gue lebih baik. Berbagai tes lab dilakukan, namun belum ada titik terang. Nyokap gue masih terus dihantui kesakitan, yang menyebabkan ia tidak bisa istirahat. My mom was sleepless for almost a week. Terang aja demamnya makin jadi.

Saat itu, gue baru beneran ngalamin arti kata hopeless.

Thank God, my dad wasn't.

Suatu sore, ketika gue selesai mencuci piring dan hendak kembali ke kamar, mata gue tertuju pada pintu kamar nyokap bokap yang terbuka. I didn't mean to peek, tapi apa yang gue lihat kemudian membuat gue berhenti melangkah.

Bokap gue sedang sibuk menempelkan kertas-kertas di seluruh penjuru kamar. Lemari, tembok, meja rias, connecting door, kaca, semuanya. Gue berusaha membaca tulisan di kertas itu. After awhile, gue baru ngeh, ternyata isinya adalah ayat-ayat Alkitab. Ayat-ayat Alkitab itu dicetak di kertas HVS dengan huruf yang cukup besar untuk dibaca nyokap gue dari tempat tidur. Belakangan gue sadar, tujuannya adalah menyemangati nyokap gue untuk melawan penyakitnya. Mendorongnya untuk berjuang hingga sembuh.

Selesai menempelkan kertas, bokap gue kembali ke sisi nyokap, kemudian menguatkannya dengan berbagai kalimat positif.

Gue diam-diam merapatkan pintu kamar mereka, kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kamar. Apa yang gue saksikan tadi, gue simpan baik-baik dalam hati. Setelah seminggu nyokap sakit, untuk pertama kalinya, hati gue hangat. Mengusir sebentar kesedihan dan keputusasaan yang mendominasi beberapa hari terakhir.

Oh yes Rihanna, sometimes we found true love in a hopeless place.

***

Nyokap bokap gue jauh dari definisi pasangan yang selalu manis dan romantis. They argue a lot. Nggak jarang mereka berbeda pandangan dan selisih pendapat.

But one thing for sure, they always stand for each other through thick and thin. They are always together through everything, happy or sad, sick or health, poor or rich, just like what they vowed.

Bokap gue kadang absen ngasih hadiah waktu nyokap ultah. Kadang, nggak ada makan malam mewah saat mereka berdua merayakan wedding anniversary. Tapi beliau selalu ngambil cuti kalo hari-hari spesial itu jatuh di hari kerja.

Isn't it lovely? :")

From them I learn that sometimes, showing love doesn't need a romantic candle light dinner or a bouquet of roses. Sometimes, it only requires your presence and strong commitment to stay no matter what happens.

That people, is a truthful love I always see in them :)


Happy Silver Anniversary, mom and dad. May your love always remains the same. I love you both.

4 comments:

  1. Terharu bacanya. Ampir nangis :"

    ReplyDelete
  2. Baru mampir di mari dan baru baca. :") Semoga mereka bisa selalu bahagia, bareng anak-anak dan (calon) mantu juga :)

    ReplyDelete
  3. Oliv : Amin, amin, amiiin :") Terima kasih ya doanyaaa :"D

    ReplyDelete