Tuesday, 17 February 2015

Umang Island - Day 1

Valentine's Day 2015 yang lalu gue lewatkan dengan cara yang berbeda dari biasanya. Meskipun tanpa cokelat, buket bunga, dan makan malam romantis, it was still one of my best day.

Kok bisa?

Because we spent the day in Umang Island!

Sebelumnya, rencana liburan ini sebenernya melibatkan banyak sekali drama, karena spontanitas dari bokap dan om gue. Roy hampir nggak ikut, sempet khawatir bakalan ujan karena cuacanya lagi tak menentu, dan ditambah tempatnya jaoooh banget. Dari Carita masih ke sono lagi.

Puji Tuhan, satu hari sebelum berangkat Roy ngabarin kalo doi bisa join. Horeee! Jadi tetep bisa Valentine-an sama mas pacar, deh.

Rencananya, kami akan berangkat tepat jam 6 pagi. Kenyataannya, setengah 7 lebih baru duduk manis di mobil dan siap jalan. Rombongan kami bawa dua mobil, dengan formasi persis kayak Bandung Trip yang pernah gue ceritain. Bedanya, kali ini nggak pake mobil Roy, tapi pake mobil bokap gue. Mengingat perjalanannya jauh, mendingan pake matic aja deh. Jadi nggak terlalu capek.

Off to Umang we went!

Di dalem mobil, satu jam pertama masih diisi dengan obrolan penuh semangat. Memasuki jam kedua, gue udah mulai nyari-nyari makanan. Bosen mak. Abisan, ini jalan tol apa cinta kamu sih? Kok nggak ada ujungnya?

Pun begitu ketemu ujungnya dan kami keluar tol, pemandangannya tetep nggak bagus sih. Cuma pabrik di kanan kiri jalan. Karena tau masih lama nyampenya, gue memutuskan untuk tidur. Owen nyetirnya ditemenin sama Roy aja. Mari bobok!

Setengah jam kemudian gue bangun dan kami... masih belom sampe. #yaiyalah

Berhubung udah pada laper, kami memutuskan untuk berhenti dan makan di Restoran Padang yang kami temui di pinggir jalan. Sebenernya gue agak parno harga makannya bakalan digetok, tapi ternyata enggak. Harganya sih standar, sama kayak rasanya. Cenderung kuren malah. Kurang endeus.

Yastralah ya, telen aja deh. Daripada kelaperan di perjalanan (yang masih panjang ini), kan? Hap.

Perut kenyang, perjalananpun dilanjutkan. Papan petunjuk membantu kami mendapatkan informasi tentang jarak yang masih harus kami tempuh untuk mencapai Pulau Umang. Sedihnya, semakin mendekati tujuan, semakin kacau dan rusak jalannya.

Berhubung bawa Yaris, kami harus 7498 kali lebih hati-hati saat melintasi jalanan berlubang. Adek gue sampe snewen berat nyetirnya. Pasalnya, siput aja jalannya lebih cepet daripada kami. Ya apa boleh buat, daripada balik ke Jakarta mobil baret-baret semua...

Untungnya, setelah satu setengah jam berjuang di jalanan penuh lobang, akhirnya kami sampai di dermaga tujuan. Horeee!

Sambil menunggu boat yang akan mengantar kami menyeberang ke Pulau Umang, mata gue disuguhkan pemandangan yang bikin nafas tertahan. Omagah this is why I loveee beach with all my heart!


Sekitar sepuluh menit kemudian, sebuah speed boat datang menjemput kami. Tadinya gue mau nanya, kok pake speed boat ya? Perasaan kemaren infonya pake perahu kayu, kok.

Tapi sebelum gue sempet nanya, begitu pantat nempel ke tempat duduk, speed boat kami langsung dihantam ombak segede dosa. Gue langsung pegangan kenceng-kenceng. Lima menit perjalanan dari dermaga ke Pulau Umang berbuah menjadi neraka. Ombaknya kenceng dan tinggi, perahu speed boat kami oleng ke kanan dan ke kiri, penumpangnya (a.k.a gue dan rombongan) udah teguling-guling dan basah kuyup karena kecipratan air.

At some point that time, gue udah mau minta maaf sama Roy dan bokap nyokap karena kayaknya kemungkinan kami tenggelem lebih besar ketimbang sampai dengan selamat di Pulau Umang. Huhuhu. That was super scary, sampe begitu kami tiba di dermaga Pulau Umang, I still can't stop shaking.

Duh, ini pulangnya pake helikopter aja boleh kagak? Aku ogah terombang-ambing di tengah laut lagi... *menangis pilu*

Berhubung gue, Roy, dan Owen basah kuyup, kami memutuskan untuk segera check in dan mandi. Sight seeing pulaunya entaran deh. Ini hati rasanya masih kisut gara-gara ketakutan.

Kami diantar ke cottage oleh salah seorang staff yang bertugas.



First impression tentang cottage-nya? IH, APIK YAAA. Begitu masuk, gue langsung sibuk foto-foto. Niat untuk mandi segera terbang entah ke mana.

Kamar mandinya juga cakeup deh. Ada kendi-kendi dan batu-batu gitu. Suasananya jadi alam sekali, aku sukiii. Dan kekaguman itu berbuah gedoran di pintu karena gue mandinya nggak udah-udah. Ahahaha.

Kelar mandi dan unpacking, kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitaran cottage. As you may already have heard, kecantikan pantai Pulau Umang ini emang tiada tara. Mungkin karena belum banyak didatangi beberapa turis (dalam negeri) yang hobinya buang sampah sembarangan kali ya...


Tapi hari itu, gue menjadi saksi kebenaran rumor tersebut. Pantainya bener-bener bersih dan cantik. Beberapa Pohon Mangrove yang tumbuh menambah keindahan pemandangan yang sungguh memanjakan mata itu.





See? Bener deh, kalo mau mengeksplor ke seluruh Indonesia, you'll be surprised, finding Bali's beach itu sebenernya biasa aja.

Berhubung pantainya kece berat, langsung deh handphone dan kamera dieksploitasi berlebihan. Khas generasi dijital abis deh, foto-foto, langsung upload ke Path, Instagram, Twitter, FB, sampe Friendster. Halooo, seluruh dunia kudu tau aku lagi di Pulau Umaaaang! *dadah-dadah*

Saat bokap dan om gue masih sibuk foto-foto, berhubung panas banget, gue memutuskan untuk duduk dan berteduh di sebuah bale-bale yang letaknya dinaungin sama pohon besar. Baru mau duduk, eh kok, ranting pohonnya gerak ya? EH KOK JALAN?

Sepersekian detik kemudian gue baru ngeh kalo itu bukan ranting pohon. I was so stunned, sampe akhirnya begitu sadar gue langsung lari kebirit-birit dan panik manggil-manggil Roy dan bokap. Ya Tuhan, untung aku nggak dimakan!

Ranting jadi-jadian!

Bokap gue, Roy, dan rombongan langsung nyamperin dan nanya kenapa. Gue ngejelasin sebisanya, abis itu ngumpet di punggung Roy. 180 drajat sama gue yang ketakutan, bokap dan om gue malah mendekat, dengan tujuan mengidentifikasi hewan tersebut.

HIIIII

Bentuknya kayak Kadal, tapi besarnya segede Buaya. Bisa berenang juga, lidahnya panjang. Jadi yang terlintas di otak panik gue saat itu adalah... jangan-jangan Komodo???

Tapi masa iya ada Komodo di sini? Sepanjang perjalanan balik ke cottage, kami nggak berenti ngebahas hewan misterius itu. Sanking penasarannya, begitu ketemu salah satu staff hotel, kami nanya-nanya tentang Komodo-looks-a-like itu.

"Oh, itu bukan Komodo pak. Itu Biawak." jelas staff hotel ramah.

Oh, Biawak...

"Tapi nggak berbahaya kok pak."

Oh, nggak berbahaya...

"Emang sering pak muncul di sini."

Oh seri... WAIT WHAT? SERING?

Saat itu gue langsung kepengen berkemas, kemudian meninggalkan pulau. Disuruh ketemu lagi sama Biawak? Makasyeee.

Tapi begitu inget musti naik kapal lagi untuk mencapai dermaga tempat mobil terparkir, niat itu langsung gue kubur dalem-dalem. Dadah-dadah sama Biawak sounds safer ketimbang dicabik Hiu di tengah laut, kan? Yagak?

(Enggak.)

Begitu sampe di cottage, kami semua bobo-boboan sambil nunggu sunset. Baru aja mau pules, tiba-tiba perut gue bunyi. Maygaaat, lafar ternyata. Segera gue dan rombongan menyeret kaki ke resto hotel, kemudian memesan sepiring nasi goreng dan dua porsi kentang goreng. Judulnya cuma ngemil, karena nggak boleh sampe kenyang-kenyang banget, biar dinner masih sanggup makan. Jadilah nasgor sepiring bagi bertiga, dan kentang dimakan rame-rame. Hihihi.

Nasi gorengnya endeus!

Perut (setengah) kenyang, kami langsung menuju ke ujung dermaga Pulau Umang, tempat terbaik untuk menikmati sunset. Sekali lagi, handphone, kamera, dan tongsis dieksploitasi berlebihan, sampe ketiganya jerit-jerit minta dicharge.


the dock & ceribel ala ala


Selfie duyuk~

Gue lupa kapan terakhir gue ngeliat sunset di pantai, sehingga ketika cahaya keemasan matahari terbenam membias, rasanya nggak kepingin kedip, supaya gue nggak melewatkan satu detikpun keindahan lukisan alam itu. It was sooo sooo beautiful. I always love sunset, karena gue selalu telat bangun tiap mau ngeliat sunrise. (--,)

Begitu matahari tenggelam sepenuhnya, kami langsung menuju ke restoran hotel untuk menikmati makan malam. Pilihan menunya beragam banget (delapan macem, buset), tapi rasanya, to be honest, biasa aja. But since I'm a picky eater, mungkin pendapat gue kagak bisa dijadiin patokan.

My kind of Valentine's dinnah!

Perut terisi penuh, rasa kantuk mulai menyerang. Setelah ngobrol cukup lama di resto, kami memutuskan untuk kembali ke kamar dan beristirahat. Gue, Roy, dan Owen masih sempet nonton running man sebelum akhirnya black out alias bubuk.

Good night, Umang Island!

4 comments:

  1. Indonesia emang banyak pulau bagus, tapi yaa kok sayang banget perjalanan kesana itu ga pernah ada yg mudah, rata-rata infrastrukturnya jelek parah, dan itu bikin males aku pergi kesana :(

    ke umang liburan doang sar? aku kira sekalian prewed ;p

    ReplyDelete
  2. Kak Presy: Iyaaah, itu ke Umang jalannya rusak banget kak, sungguh bikin frustasi huhuhu. Iyaaa, liburan aja kak, aku mah preweddnya di taman aja deh, di pantai takut gosoooong :))))

    ReplyDelete
  3. Sar rambutmu cepet banget panjangnya deh *salah fokus*

    ReplyDelete
  4. Icha : Itu udah satu tahun lebih nggak potong :))) Nggak boleh dipotong sama Roy, takut nanti di nikahan nggak bisa diapa-apain :((

    ReplyDelete