Monday, 22 December 2014

We Are Not Alright Farewell Party

Gimana perasaan seorang penggemar saat mendengar grup band kesayangannya mau bubar?

Sedih? Kecewa? Sebel?

Name it all, dan itulah yang gue rasakan saat tau We Are Not Alright bakalan bubar. Gue bukanlah penggemar dari ke empat personil WANA, tapi gue suka banget nonton Adri dan Kamga stand up. Kalo bukan dengan WANA, entah di mana lagi mereka bakalan ngadain stand up show. Mikirin alasan inilah yang bikin gue jadi sedih.

Untungnya, mereka berempat berinisiatif mengadakan stand up show terakhir dengan nama WANA, sebelum resmi membubarkan diri. Tentu saja gue dan Roy nggak mau kelewatan. Tiket udah dibeli dari jauh-jauh hari, dan di hari H, Roy ijin balik early dari kantor, sehingga kami sampe di kemang jam enam sore. Lebih awal dua jam dari jadwal acara.


Berhubung kepagian, akhirnya kami berdua makan dulu di Pizza Hut, ke Lotte Mart buat liat-liat Hot Wheels (sempet-sempetnya lho), ketemuan sama Tirta, kemudian baru menuju ke Eco Bar. Tanpa hambatan yang berarti, kami bertiga sampe di Eco Bar jam setengah delapan, kemudian ketemu sama pasangannya Tirta.

Dalam hati gue bersyukur dateng lebih awal, karena nggak lama setelah kami masuk ke venue, hujan turun. Entah neraka level berapa yang terjadi dari gabungan antara kata hujan, Jumat malam, dan Kemang. Males bayanginnya.

Tapi kelegaan itu nggak berlangsung lama. Selesai dengan urusan tiket masuk, gue nengok ke dalem dan mulai sadar bahwa Eco Bar udah penuh. Orang-orang berdiri dan berjubel di dekat area panggung dan bar. Mata gue menyapu ruangan dan nggak menemukan ada tempat duduk yang kosong.

Like, seriously?

Ini harus lesehan apa gimana?

Pertanyaan itu masih berputar-putar dalam benak gue waktu tiba-tiba Pange mengambil alih panggung dan memperkenalkan komika yang akan tampil malam itu. Dia sendiri akan berperan sebagai MC dan nggak ikut stand up.

Otomatis gue langsung bersorak. Dalem hati.

Jahat ya?

Maaf deh, tapi sungguh, mungkin gue terlalu bodoh untuk paham sama bit-bit yang dibawain sama Pange. So watching him doing his set is really painful. Gue bingung mau ngapain. Nggak bisa ketawa, tapi mau main henpon juga takut dilempar botol. Serba salah.

Kelar dengan kata sambutan dan perkenalan komika, Pange turun dari panggung dan Kamga mengambil alih mic. Tepuk tangan bergemuruh. Gue dan Roy, yang berdiri di antara lautan manusia mulai manjang-manjangin leher supaya bisa ngeliat Kamga dengan jelas.

Seperti ekspektasi gue, Kamga tampil prima. Bit-bit yang dilempar layaknya bom yang langsung meledak menjadi derai tawa. Malam itu, dia banyak bicara soal statusnya yang lahir dari keluarga broken home, hubungannya dengan pacarnya, dan penyanyi-penyanyi major label. Bit Kerispatihnya berhasil bikin gue ngakak sampe keluar air mata.

Setelah Kamga selesai dengan set-nya, Kukuh naik ke panggung. Rambutnya yang dicat hijau sebelah waktu itu kontan membangkitkan tawa penonton, bahkan sebelum yang bersangkutan buka mulut untuk menyapa. Gue yang tadinya sempet berniat untuk beli minum, langsung mengurungkan niat dan fokus lagi ke panggung, siap menyimak bit-bit Kukuh.

Sayangnya, malam itu, Kukuh tampil... biasa aja, kalo nggak mau dibilang mengecewakan. Gue nggak ngerti dia kenapa. Entah nggak siap, entah nervous, entah gak niat stand up. Yang saat ini gue inget dia lakukan di panggung malam itu cuma minum susu yang dia bawa seteguk-seteguk, nyontek catetan yang dia letakan di meja, dan diem lama di panggung, seolah mikir, "what the hell am I doing here?"

Di tengah set Kukuh, gue juga udah mulai ngerasa capek. Pertama, faktor pegel berdiri dan desek-desekan. Kedua, cowok yang duduk di depan gue ngerokok, dan asepnya went straight to my nose. Otomatis gue lepas heels gue, dan berdiri telanjang kaki (sambil mikir, ini lantainya pernah dipel nggak yaaa...) sepanjang Kukuh menyelesaikan set-nya. 

Kukuh kelar, gue pake sepatu gue, dan minta Roy nemenin keluar sebentar untuk dapet udara segar. Tapi sampe di depan, telinga gue berdenging dan perut gue tiba-tiba mual. Mungkin pengaruh Coca Cola yang gue minum, kelamaan berdiri, dan kekurangan oksigen. Bahkan ketika gue udah duduk pun, badan gue tetep berasa enteng banget. Kalo nggak ditopang, kepala gue pasti udah mulus nyium lantai.

Sadar gue hampir pingsan dan nggak mungkin balik ke dalem, dengan berat hati, gue ngajak Roy untuk balik. Sebelum payung sempet di buka, gue udah jalan ke arah parkiran dengan sempoyongan. Waktu itu yang ada di pikiran gue cuma secepetnya sampe mobil. Gue nggak mau pingsan atau muntah yang berujung bikin malu di keramaian.

Sepanjang jalan ke mobil, mata gue berkunang-kunang, sehingga penglihatan gue udah sepenuhnya blur. Melek pusing, merem apalagi. Udah nggak keitung berapa kali hampir nyusruk dan nginjek kubangan air hujan. Badan gue sepenuhnya bertumpu sama Roy, yang praktis harus nuntun langkah per langkah, karena gue buta total malem itu.

Sampe di mobil, Roy pamit sama Tirta via telpon, sedangkan gue udah nggak kuat buka mata dari waktu pantat ketemu sama jok. Kami berdua menembus kemacetan dan hujan malam itu dalam diam. Nggak ada excitement yang biasanya masih dirasakan sepulang dari nonton stand up, dan nggak ada bit-bit yang dibahas dalam perjalanan kembali ke rumah. Sunyi senyap.

Gue sibuk nahan mual dan ngusir pusing, sedangkan Roy, mungkin masih kecewa karena nggak sempet nonton Adri. Well yeah, kami berdua melewatkan penampilan Adriano dan Rindra (yang katanya ditodong untuk stand up malem itu). Padahal kalo mau jujur, kami beli tiket buat nonton Adri. Tapi berhubung Adri perform di urutan terakhir dan gue udah kecapean berdiri di atas heels serta berebut oksigen dengan pengunjung lain, we missed his performance. Kesel banget rasanya, tapi mau gimana? Gue tau kondisi badan gue juga nggak akan kuat kalo dipaksa untuk lanjut nonton.

So, I had both awesome and horrible night last Friday.

Gue baru sekali dateng nonton stand up, bayar tiket masuk, tapi dipersilakan berdiri dari acara mulai sampe selesai. Gue baru sekali nonton stand up dan balik di tengah acara karena kekurangan oksigen dan hampir pingsan. Gue baru sekali nonton stand up di Eco Bar, dan langsung bersumpah nggak bakalan nonton acara apapun lagi di sana. Gue baru sekali nonton stand up trus pulang dengan kecewa.

Satu-satunya yang bikin gue masih senyum malem itu cuma performance-nya Kamga. Kejujurannya dan pemikiran yang tertuang dalam set-nya sungguh mencengangkan. He really saved the night. Semoga ke depan masih bisa kesempatan untuk nonton Kamga stand up.

At last, untuk seluruh personel WANA, sukses selalu ya. Definitely gonna miss your Tryst Gig :)

2 comments: