Friday, 31 October 2014

Momo dan (Operasi) Mama

Waktu kecil, kalo malem, gue hiperaktif suka susah disuruh tidur. Ketika bokap nyokap gue udah ngantuk dan kepingin istirahat, Sarah kecil pasti masih enerjik dan dengan semangat ngajakin ke sana ke mari. Saat nyokap bokap gue nggak mau beranjak dari tempat tidur mereka, gue bakalan ngancem mau keluar kamar dan main di ruang tamu atau halaman... sendirian. Bukan sekedar gertak sambel lho ya. Tapi emang berani. Cuma biasanya, beraninya nggak bakalan bertahan lama. Seketika langsung bubar jalan setelah nyokap gue bilang...

"Nanti ada Momo lho."

Nah, kalo Momo udah dibawa-bawa, biasanya gue akan segera mengkeret dan tanpa pikir panjang langsung membatalkan niat untuk main sendiri lalu segera memutuskan untuk tidur. 

Padahal, Momo itu cuman makhluk ghoib rekayasa suster gue. Tujuannya, tentu saja nakut-nakutin biar gue gampang diatur dan dibilangin kalo lagi nakal. Suster gue suka nyeritain gimana 'bentukan' si Momo ini, yang secara nggak langsung membentuk sebuah image di kepala gue. Deskripsi detail di tambah imajinasi gue yang luar biasa lebay, membuat Momo menjadi makhluk paling mengerikan yang pernah hidup dalam bayangan gue. Di kepala gue, gambaran Momo adalah seekor tikus hitam berukuran raksasa, berjubah hitam, dengan mata melotot dan taring yang siap mengoyak apapun.

Nggak ada yang terasa lebih menakutkan ketimbang dimakan sama Momo waktu gue masih toddler.

Lain lagi dengan masa-masa SD. Gue mulai mengenal banyak 'temen-temen' Momo dari film-film yang suka mbak gue tonton. Dari mulai yang skala nasional kayak Kolor Ijo atau Sundel Bolong, sampe yang udah go international kayak Drakula dan Zombie.

Lalu gue mulai paham kesamaan mereka. Sama-sama suka muncul di tempat gelap, malam hari, dan biasanya arwah orang atau hewan (atau benda) mati atau meninggal (atau dirusak) yang masih penasaran, sehingga akhirnya 'mengganggu' manusia.

Berhubung penakut, sebenernya gue nggak terlalu suka sih nonton film horror. Masalahnya di saat yang sama, gue penasaran. Akhirnya nekat, trus terpaksa mandi dengan pintu kebuka lebar, dan ngungsi tidur ke kamar mama papa. Ahahaha.

(Anyway, ini kejadiannya cuma pas gue SD yaaa... -- AH MASA???)

Seiring bertambah dewasa, ketakutan gue akan Momo, serta makhluk-makhluk gaib lainnya mulai terpinggirkan. Bukannya nggak takut ya. Kalo sekarang ketemu Mas Pocong atau Mbak Kunti, tentu saja aku masih akan pipis di celana kemudian pingsan di tempat. Jadi sekali lagi, bukan nggak takut ya (ngeri dikira nantangin trus didatengin T___T), tapi terlupakan, karena ketakutan 'visual' ini pelan-pelan digantikan oleh ketakutan-ketakutan lain yang sifatnya lebih abstrak.

Jenis ketakutan kayak takut kehilangan orang-orang yang gue sayangi, ketakutan bakalan ngecewain orang-orang terdekat, dan ketakutan bakalan gagal ngebanggain orang tua, serta ketakutan lain yang lebih sulit dijelaskan ketimbang menyebut sebuah kata benda (Vampire, Kolong Wewe, dst).

Hal ini gue sadari karena gue udah pernah melalui tiga jam termenakutkan sepanjang gue hidup. Bukan karena diganggu hantu, bukan waktu ketemu makhluk halus, tapi pas nungguin nyokap gue operasi angkat rahim dan ovarium.

Untuk wanita yang sehat, mungkin operasi pengangkatan rahim dan ovarium di usia mendekati menopause bukanlah hal yang mengerikan. Temen-temen nyokap gue banyak yang udah menjalani pengangkatan ini dan they showed me it wasn't a big deal. Wong kelar operasi biasanya tiga hari udah boleh pulang dan jalan-jalan kok.

Tapi, yang lupa gue perhitungkan saat itu adalah penyakit bawaan nyokap. Ternyata, secara nggak langsung, operasi ini 'membangunkan' penyakit tersebut. Durasi operasi yang awalnya hanya dijadwalkan selama 1-2 jam, molor menjadi hampir 4 jam. Menit-menit pertama molor, gue masih bisa mikir positif. Makin ke belakang, yang gue rasain cuma takut. Ketakutan yang luar biasa sampe gue nggak sanggup berdiri.

Waktu operasi akhirnya selesai, ternyata dugaan kami bener. Dokter bilang, ada komplikasi, dan akhirnya selama sebulan nyokap gue harus dirawat di tiga rumah sakit berbeda sebelum dinyatakan boleh pulang dan berobat jalan. It was a crazy month for me. Gue nangis melulu dan hampir selalu mimpi buruk selama nyokap di opname.

Anyway, intinya adalah, ketakutan yang gue alami dulu waktu toddler, berbeda dengan ketakutan yang gue alami waktu puber. Ketakutan yang dulu gue alami waktu duduk di bangku SD, berbeda dengan ketakutan yang gue alami saat duduk di kubikel kantor.

Ketakutan akan makhluk gaib yang sering muncul di film-film horror atau diciptakan oleh imajinasi anak-anak, perlahan tapi pasti digantikan oleh ketakutan menghadapi kenyataan hidup yang terkadang tak seindah angan. Ketakutan akan ketidakmampuan dan ketidakberdayaan. Ketakutan yang sifatnya abstrak.

Mungkin karena itulah, gue cinta sama Halloween.

Halloween selalu punya makna khusus buat gue. Di hari itu, rasanya gue kayak diingatin rasanya jadi Sarah kecil yang kembali ke tempat tidurnya karena takut bertemu dengan Momo. Di hari itu, gue bisa bernostalgia mengingat ketakutan-ketakutan gue saat toddler dulu, dan sejenak melupakan ketakutan-ketakutan gue saat ini.

Yang mana menyenangkan, apalagi ditambah ngeliat bocah-bocah pada dandan begini:

source

Hehehe. So, what's your spooktacular Halloween story, people? 

2 comments:

  1. uuh sar, pernah juga ngalamin begitu, tp nyokap waktu itu operasi pengangkatan kista di payudara, sedih dan takutnya ampun-ampun, bawaannya nangis mulu, tp mau ceritain ke temen malu.
    sekarang gimana keadaan nyokap? sudah sehatkah?

    ReplyDelete
  2. Kak Presy : Huhuhu iya ya, kalo pas begitu rasanya ketakutan tapi sendirian :( Puji Tuhan udah :D Cuma sampe sekarang masih rutin kontrol ke dokter :D Kalo mamanya kak Presy?

    ReplyDelete