Friday, 29 August 2014

Kali Pertama Menjelajah Angkasa

Mengingat cerita tentang pengalaman pertama saya naik pesawat, hampir selalu berhasil memancing senyum geli. Mulai dari kebutaan saat mengurus prosedur di bandara, sampe kampungannya saya ketika badan kapal telah terbang mengangkasa.

Penyebabnya adalah karena hingga remaja, saya belum pernah naik pesawat. Mondar-mandir bandara mungkin sering, tapi hanya mengantar atau menjemput. Belum pernah sebaliknya. Makanya, saya selalu bertanya-tanya dalam hati, bagaimana ya rasanya 'duduk' di langit? Bagaimana rasanya mengintip daratan melalui celah jendela dari atas awan?

Namun, mahalnya tiket pesawat, akhirnya membuat saya terpaksa menyimpan baik-baik rasa penasaran ini di sudut hati. Mungkin akan terjawab nanti, saat saya sudah mampu cari uang sendiri. Mungkin nanti, kalau harga tiket pesawat sudah tidak terlalu membumbung tinggi.

Tapi karena saat itu saya masih sekolah, liburan ke luar pulau apalagi negeri, tentu saja masih belum terjangkau tangan. Akhirnya, pelan tapi pasti, saya melupakan rasa penasaran itu.

Sampai suatu hari di tahun 2008, salah seorang sahabat baik saya -- Manda namanya, berbaik hati mengajak saya untuk berlibur ke kampung halamannya, Bali. Memang saat itu, liburan kenaikan kelas sudah di depan mata. Manda, yang berencana menghabiskan liburan di rumahnya, mengajak saya untuk ikut serta.

Rasanya seperti pucuk dicinta ulam tiba. Dari dulu, saya ingin sekali liburan ke Bali, karena kecintaan saya terhadap pantai. Lalu sekarang ada kesempatan untuk mewujudkannya. Terbebas dari seluruh biaya akomodasi pula. Saya tidak perlu keluar uang untuk penginapan, karena Manda dengan senang hati menampung saya di rumahnya. Sewa mobil pun tidak. Kami akan menggunakan mobil adik Manda selama di Bali.

Tapi masalahnya, bagaimana cara saya ke sana? Tentu saja tidak bisa naik rakit, apalagi pesawat kertas. Lewat darat tidak kami jadikan opsi, karena makan waktu lebih lama. Nanti liburannya keburu habis. Satu-satunya pilihan yang paling mungkin kami ambil adalah pesawat. Pesawat terbang, bukan pesawat telepon.

Sontak, saya gamang. Tiket pesawat pasti mahal. Entah berapa ATM yang harus saya bobol supaya bisa membeli tiket.

"Cobain pake AirAsia, yuk!" saran Manda, seolah tahu apa yang berputar-putar di benak saya.

AirAsia itu apa? Kok saya belum pernah dengar?

"Penerbangan yang katanya harganya terjangkau."

Saya seperti tersiram seember air dingin saat mendengar kata terjangkau. Sepertinya masih ada harapan untuk mewujudkan rencana liburan ini.

Saya dan Manda langsung masuk ke website AirAsia dan mengecek tiket PP Jakarta - Bali. Dan harga yang terpampang di hadapan kami benar-benar membuktikan ucapan Manda tadi. Promo AirAsia mengusir jauh pemikiran saya bahwa tiket pesawat pastilah mahal.

Karena ini adalah kali pertama saya mencoba memesan tiket online, saya sempet khawatir prosedurnya akan sulit. Tapi ternyata, karena instruksinya jelas, kami nggak mengalami hambatan berarti. Bermodalkan kartu kredit pinjaman dari mama, tiket saya akhirnya dibeli. Horeee!

Singkat cerita, setelah sebelumnya dihebohkan dengan membeli perlengkapan yang dibutuhkan seperti kacamata hitam, pakaian renang dan lotion tabir surya, tibalah hari di mana kami akan bertolak ke Bali. Sampai di bandara, setelah pamitan dengan papa mama, memasukan bagasi, dan membayar airport tax, saya dan Manda menuju ke ruang tunggu.

Di ruang tunggu, sambil menunggu waktu boarding, saya duduk sambil menatap kapal terbang yang lalu lalang di balik jendela kaca. Sebentar lagi, saya akan berada di dalamnya, menyaksikan daratan mengecil seiring dengan membumbungnya badan pesawat. Akhirnya, sebentar lagi, rasa penasaran yang selama ini tersembunyi di sudut hati akan terjawab. Akhirnya, saya punya kesempatan untuk menengok dengan mata kepala sendiri, keindahan pulau yang sering kali diagung-agungkan turis mancanegara ini.

Sebuah perjalanan yang mungkin terwujud karena perpaduan rasa penasaran dan kesempatan yang diberikan maskapai penerbangan. Sebuah perjalanan yang membuka mata saya, bahwa dunia ini luas dan menunggu untuk dijejak. Sebuah perjalanan yang akhirnya menumbuhkan banyak mimpi dalam benak saya. Sebuah perjalanan kali pertama menjelajah angkasa, yang akhirnya menjadi awal dari perjalanan-perjalanan selanjutnya.

Karena AirAsia, sekarang, siapapun bisa terbang.


PS: Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog "Bagaimana AirAsia Mengubah Hidupmu?" dalam rangka 10 Tahun AirAsia Indonesia.

2 comments:

  1. wah, menyenangkan sekali pasti impian naik pesawat bisa terwujud :D

    ReplyDelete