Thursday, 3 July 2014

The Fault in Our Stars

Bukan cuma sekali gue denger komentar positif tentang film ini di linimasa. Dari mulai path sampe twitter, suaranya bulat sepakat. The Fault in Our Stars (TFiOS) kereeen... dan sedih. Wong temenku yang cowok aja sampe banyak yang nangis nonton ini. Hihihi.

Karena gue anaknya terlalu gampang dibikin penasaran, akhirnya kemaren, gue memutuskan untuk nonton... sendiri.


Alasan utamanya adalah karena ini film drama (Roy kayaknya gak terlalu suka) dan kemungkinan besar gue bakal keluar studio dengan mata bengkak (yaeyalah, secara nonton The Amazing Spiderman 2 aja mewek. cis.). Dari siang gue udah ijin, plus berdoa yang kenceng supaya gak ada kejadian absurd macem pas nonton Don Jon atau Monuments Man.

Pukul 18.00 teng, dari kantor, gue turun ke bioskop Kuncit. Beli tiket, trus langsung nyesel. Coba ya nek, kalo aja tadi gak males turun dan beli tiket pas lunch break, kan dapet posisinya pasti enak. Sekarang siap-siap pedok deh tuh pala! Dapet duduknya di ujung kanan banget. Untung kagak sampe duduk di tangga.

Gue bayar tiketnya, ngibrit ke toilet, trus denger pengumuman studionya udah dibuka. HOREEE! Langsung masuk dong, dari pada garing nunggu sendirian di luar, mending nontonin trailer di dalem. Sambil nonton (trailer), tak lupa, gue check in di Path. Biar smua orang tau Sarah anaknya apdet. #HeyItsRhyme *dijambak*

Gak lama kemudian, lampu mulai diredupkan, pertanda film akan segera mulai. Gue menyimpan hengpon, supaya bisa konsentrasi nonton. Tisu segepok juga udah siap di tangan. Jadi banjir kapan aja bisa ditanggulangi dengan cepat.

Okeh, sekarang mari tengok ceritanya.

The Fault in Our Stars dibuka dengan cerita tentang Hazel, seorang penderita kanker Tiroid stadium 4 dan hari-harinya (yang membosankan). Kerjaan dia cuma ke dokter, pulang, baca buku, makan, minum obat. Besoknya begitu lagi. Gituuu terus.

Hidupnya mulai berubah saat ia dipaksa sama maminya datang ke support group khusus penderita kanker. Di sinilah, dia bertemu dengan Augustus, cowok tampan yang survive dari kanker tulang di kakinya. Bermula dari saling bertukar novel kesayangan, kebat-kebit cinta mulai bersemi di hati mereka berdua.

Sampe di sini kedengeran klise ya?

Hal itu juga yang mampir dipikiran gue waktu baca sinopsisnya di 21 cineplex dotkom. Lalu apa yang bikin film ini bagus?

Menurut gue, salah satu faktor penting sukses sebuah film adalah pemilihan cast-nya. Nah, dari segi cast, TFiOS sempurna. Entah gimana proses casting-nya, tapi semua yang wara-wiri di layar kaca kemaren terlihat sangaaat nyata. Bukan cuma menjiwai peran ya, tapi nyata. Empat jempol gue untuk yang meranin Hazel, Gus, dan maminya Hazel.

Hazel Grace

Sampai jumpa, pemeran penderita kanker tapi-mik-ap-an, menor-pula (kayak di sinetron-seinetron Indonesia)! Yailah, siapa juga yang bakalan percaya ngana kena kanker kalo di rumah sakit aja lipstikan?

Faktor kedua ialah deliveri yang ciamik dan nggak dibuat-buat. Permasalahan film drama kebanyakan saat ini adalah, ceritanya kelewat ngawang di awan-awan. Hal ini akhirnya bikin gue suka bertanya-tanya, ini lhebe nggak sih? Maksud gue, kue aja kalo kemanisan jatohnya enek kan kalo di makan?

Nah, TFiOS ini manitz, tapi nggak berlebihan. Konfliknya, emosinya, sampe romansanya, it really does happen in human's real life. Bukan cuma mungkin dijumpai di layar kaca.

Faktor ketiga, twist-nya. Di awal film, gue dengan sotoy memperkirakan endingnya bakalan kayaknya apa. Ketebak deh, ketebaaak. *tepuk dada*

Trus akhirnya kecele, karena tebakan gue sama sekali salah. Gue gak bisa jabarin terlalu banyak di poin ini, takut spoiler. Find out yourself dengan nonton film-nya ya...

Faktor keempat, sad ending. He-eh, harus diakui, film ini emang nggak berakhir bahagia. Bahagia yang gue maksud di sini adalah, tiba-tiba *TRING!* ada ibu peri, trus ibu perinya bikin kanker Hazel lenyap, trus Hazel hidup bahagia selama-lamanya sama Gus. Sebagai Disney freak, inilah definisi happy ending yang bertahun-tahun dicekokin ke kepala gue.

Then, this movie told me otherwise. Mungkin kanker Hazel nggak sembuh sampe filmnya selesai. Tapi dia dapet hal lain yang nggak kalah penting dari kesembuhan.

Faktor terakhir yang menjadikan TFiOS awseeem adalah pelajarannya. Sekeluarnya dari studio, gue jalan pulang dengan mata bengkak sambil mikir. Pesan-pesannya baguuus sekali deh.

Ngajarin gue yang sehat ini untuk melihat kehidupan dengan lebih bijaksana, berani mengambil resiko, mencintai dengan berani, bersyukur, dan yang terpenting, film ini bikin gue sadar, bahwa yang membuat hidup berarti adalah karena suatu hari, hidup akan berakhir. What makes life precious is because it will be ended someday.

Akhir kata, mengutip quote dari trailer TFiOS, yes indeed, life doesn't have to be perfect. We just have to accept it perfectly, then live it to the fullest.

Happy Thursday!

Bonus:

Here's my fave quote from TFiOS:


4 comments:

  1. And..
    Lets live our life at the Fullest sayanggg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuuuuk :")

      Keren banget deh teh ini filemnya :")

      Harus nonton!

      Delete
  2. Nambah satu lagi yang bilang kalo tfios ini film yang bagus banget. gw sebagai cowok maklum aja deh :P

    http://www.tomo.web.id

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya, balik lagi ke selera sih menurut gue :D

      Temen cowok gue banyak yang bilang ngebosenin, tapi gue suka tuuuh ;)

      Delete