Monday, 7 July 2014

Sabtu Bersama Bapak

Beberapa bulan belakangan ini, gue lagi keranjingan nongkrong di Mommiesdaily. Untuk yang belum tau, Mommies Daily adalah sebuah forum yang membantu seorang ibu / calon ibu yang ingin mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang kehamilan, rumah tangga, menyusui, sekolah anak, parenting, dan sebagainya.

Oh and no, for those who wonder, gue tidak hamil di luar nikah.

Gue rajin membaca (dan kadang mencatat) informasi-informasi seputar masalah motherhood adalah karena gue punya ketertarikan khusus sama parenting. Apa yang gue lakukan sekarang hanya berlandaskan keinginan bahwa suatu saat nanti, ketika gue melahirkan seorang anak manusia ke dunia, gue (dan suami) udah siap. Udah punya dasar dan pegangan, nggak completely clueless.

Nah, beberapa hari yang lalu, saat gue dan Roy lagi diskusi tentang sekolah anak, dese tiba-tiba cerita tentang sebuah buku yang baru dia beli. Judulnya Sabtu Bersama Bapak. Roy bilang, buku ini bercerita tentang hubungan seorang ayah dan anak-anaknya. Dan kata dia, banyak pelajaran tentang parenting di dalamnya.

Gue kontan langsung nodong. Minta pinjem. Roy terpaksa setuju. Hari Sabtu waktu kita ketemuan kemaren, dia bawain bukunya, dan langsung habis gue lahap dalam satu hari. Niat gue yang cuma mau baca dan menikmati, bertambah menjadi menulis tentang novel luar biasa ini. Semata karna gue mau berbagi, tentang apa yang gue rasakan saat membaca Sabtu Bersama Bapak.

***


Udah selesai pelototin covernya? Okay, mari kita mulai.

Novel ini bercerita tentang Cakra dan Satya, dua anak laki-laki yang telah ditinggalkan ayah mereka saat mereka masih kecil. Sang ayah, yang tidak ingin kedua anaknya kehilangan sosoknya, akhirnya membuat sebuah rencana. Sebuah rencana yang akan membuat kedua anaknya tetap merasakan kehadirannya walaupun ia sudah tidak di dunia.

Kedua anak ini tumbuh besar menjadi dua pria dengan watak dan sifat yang berbeda. Satya yang tempramen, menjadi ayah yang ditakuti dalam keluarga kecilnya. Sedangkan Cakra yang cenderung kaku, membuatnya tidak terlalu pandai menghadapi perempuan.

Selanjutnya, gue diajak untuk ikut melihat masalah mereka. Dibawa mengikuti perjalanan mereka saat mencari jawaban dengan bantuan peninggalan Bapak. Lalu, gue juga diminta untuk duduk diam, ikut merenung dan belajar.

Sabtu Bersama Bapak dikemas dengan alur maju mundur yang nggak bikin pusing. Penokohan setiap karakternya kuat, sehingga sangat mudah bagi gue untuk memvisualisasikan tokoh-tokohnya dalam pikiran. Pelajaran-pelajaran yang terselip bukan hanya tentang parenting, tapi juga tentang mencari jodoh, kehidupan pernikahan (doh, ini kena banget deh buat soon-to-be-newly-wedd macem gue), ketegaran dan kerja keras, serta nilai-nilai kehidupan lain.

Tapi bagian yang paling keren menurut gue adalah:

"Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia sulung.
Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak
belajar tanggung jawab dengan cara yang sama.
Semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu
yang sebaiknya semua manusia lakukan."
(Sabtu Bersama Bapak, hlm. 104-105)

Waktu kecil, kalimat "kamu harus ngalah dong, kamu kan lebih besar." familiar banget di kuping gue. Utamanya kalo gue dan Owen lagi berantem. Sabtu Bersama Bapak akhirnya membuka mata gue, bahwa nggak baik menanamkan pikiran 'baik/pintar/ngalah-karena-sulung'. They have to be good or smart because they should be. Lepas dari statusnya yang sulung atau bungsu. I noted it on my mind, bukan untuk mengkritik orang tua gue, tapi supaya gue nggak mengulangi kesalahan yang sama dengan anak gue kelak.

Sabtu Bersama Bapak bukan hanya bercerita, tapi juga mengajar dan mengingatkan. Mengutip kata Bang Dendi, novel ini komplit, karena isinya bukan hanya sekedar hiburan, tapi juga sarat akan nasihat kehidupan. Gue belajar banyak hal dengan cara yang begitu menyenangkan.

Saat sampai di halaman terakhir, gue cuma bisa senyum (walaupun masih ada bekas lelehan air mata di pipi -- dramatis!). Kalau boleh gue ibaratkan, buku ini seperti hot chocolate. Membacanya, sama seperti menyeruput secangkir cokelat panas. Menghangatkan. Perasaan baru yang jarang gue dapatkan dari membaca sebuah buku.

***

Actually, gue bukanlah pembaca Jomblo atau Gege Mencari Cinta. Sebelum kenal sama Roy, gue malah gak tau siapa itu Adhitya Mulya. Bisa jadi gue yang kurang gaul, atau mungkin dia yang kurang terkenal. Tapi yang pasti, Sabtu Bersama Bapak adalah salah satu novel terbaik yang pernah gue baca sejauh ini.

Bravo, kang! (sok ikrib yee...)

6 comments:

  1. Sudah beli bukunya. Masih dipastikin dan tinggal diijamah aja nih. :))
    Kayaknya bakal semangat sekaligus jadi kontemplatif baca buku ini. Hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wuaaah! Ayo baca! Bet you'll love it :D

      Delete
  2. Setuju banget Sar bahwa nggak baik menanamkan pikiran 'baik/pintar/ngalah-karena-sulung'. Harusnya memang semua anak mau dia sulung, tengah, atau bungsu ya baik dan pintar tanpa harus ada embel-embel karena anak sulung. Reviewnya bagus jadi kepengen baca bukunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, aku juga baru sadar karena selama ini dididik dengan nasihat, "Kamu tuh jadi contoh buat adik kamu. Harus ngalah/pinter/baik." Padahal harusnya seseorang jadi baik karena memang they should be. :)

      Terima kasih ya sayang, ayo beli bukunya. Bet you'll loooove it. <3

      Delete
  3. Gw selalu sukaaa tulisannya Kang Aditya Mulya.. Dan karena papa dah alm.. pas baca buku ini.. gw sukses mewek dong sar :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga berlinang-linang air mata, teh :")

      Delete