Friday, 11 July 2014

Ramah

DING! Pintu elevator terbuka.

Gue masuk, disambut senyum oleh sosok paruh baya dengan perut yang sudah mulai maju dan rambut yang sudah hampir seluruhnya putih.

"Hello." sapanya ramah.

Gue tersenyum. "Hello!"

"Ma-wu Pu-langh?" tanyanya dengan bahasa Indonesia yang patah-patah.

"No, I wanna go to ATM." jawab gue, langsung berinisiatif menggunakan bahasa Inggris.

"Wow, you wanna take some money?" tanyanya lagi.

Gue menggeleng. "Do some transfers, sir."

"Ohhh, okay."

Dead air.

Pintu lift terbuka. Gue menekan tombol 'buka' dan mempersilakan beliau keluar terlebih dahulu, melihat banyaknya tas dan koper yang ia bawa.

Sekeluarnya dari lift, ia masih menengok ke belakang kemudian berujar, "Have a great evening!"

"You too!" gue melambaikan tangan, kemudian berjalan ke ATM.

***

Dulu, kalo nonton film Hollywood, gue selalu iri sama keramahan supir taksi di Amerika. Saat Natal, mereka selalu mengucapkan, "Merry Christmas!" sesaat sebelum penumpangnya keluar dari taksi. Di sini? Boro-boro. Supir taksi bilang makasih aja gue udah terkesima. Biasanya cuma nyalain lampu, ngembaliin uang, trus jalan. Semua dilakukan dalam diam dan tanpa senyum. *sedih*

Kata orang bule, masyarakat Indonesia tuh ramah-ramah (and I was like, "hah?"). Kenyataannya, mereka yang jauh lebih ramah dari kita! Seumur-umur gue kerja dan ketemu orang di lift, belom pernah kok gue ditegur kecuali sama yang emang bener-bener kenal. Lah sekali-sekalinya ada yang nyapa, bule.

To be fair, gue jawab sapaan itu karna yang nyapa bule dan dia terlihat baik. Kalo yang lain, mungkin gue diemin. Alasannya ya banyak. Ngeri ternyata punya maksud jahat, mau nyulik, atau malah agen MLM. Rumus yang sama berlaku kalo gue lagi naik angkot atau kendaraan umum. Mata bakalan dipasang mode siaga, dan tas udah pasti dikekep erat di dada. Also, merengut bingung sama orang yang bisa dengan santainya tidur di bus kota.

Makanya, sebelum kemarin, gue nggak pernah tau bahwa sapaan dari orang yang sama sekali asing bisa terasa sangat menyenangkan. It seriously can boost up your mood.

A glimpse of geniality from an American that finally makes me think, kenapa sih kita diajarin su'udzon melulu sama orang lain? Kenapa tiap disapa bawaannya mikir mau dijahatin? Kenapa kalo di angkot bawaannya curigaaa melulu sama orang sebelah? Katanya ramah-ramah?

Padahal kan mereka belum tentu punya maksud buruk. Bisa jadi mereka hanya ingin bersikap ramah. Dan tau nggak, menerima kebaikan orang lain dalam bentuk sapaan atau senyuman itu menyenangkan lho. Suer.

Gara-gara itu juga gue jadi berpikir, kenapa nggak gue yang mulai duluan? Kenapa nggak gue yang lebih dahulu belajar untuk jadi ramah? Kenapa harus nunggu orang lain?

Kebiasaan mau '...' (insert whatever you want: baik, ramah, etc) kalo orang lain '...' (insert kata di depan, diakhiri kata 'duluan') kayaknya bukan hal yang baik untuk terus dipelihara, deh. Biasakan mulai dari diri sendiri. Mudah-mudahan nanti lingkungan akan mengikuti.

Last but not least, dear Mr. Bule, whoever you are, thank you for the lesson! :)

14 comments:

  1. Emang Bener kak. Terakhir aku sapa orang di sebelah ku, di lift. Eh dia malah nengok ke arah ku, dan dengan percaya diri, dia jawab. "Sok kenal Lu !!"

    azizkerenbanget.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kan, budaya kita tuh, orang asing kalo negur atau nyapa udah pasti punya maksud jahat. Diajarin su'udzon meluluk :((

      Delete
  2. "gue nggak pernah tau bahwa sapaan dari orang yang sama sekali asing bisa terasa sangat menyenangkan."

    jangankan ditegur ya, disenyumin sama orang (apalagi cowok ganteng) asing kadang mau ga mau bikin kita senyum juga, apalagi ditegur kayak gitu. tp emang mesti liat sikon juga sih sar, klo orang asing yang senyum, abis itu negor, abis itu suit suit siul-siul nah baru deh bawaannya pengen geplak pake sepatu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. He eh, kalo kurang ajar baru colok matanya pake heels ya kak :))

      Delete
  3. bagus, salam kenal yaa..
    kunjung balik di -->
    www.katamiqhnur.com

    ReplyDelete
  4. hihihi.. saraaah..
    Kalo saya emang sering ditegur.. karena.. #mukapasaran .. dah pasrah deh.. berkah kok..
    Selain itu.. emang hobi senyum duluan.. kan senyum itu #ibadah.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duh setuju deh, teh. Kepingin sekali belajar berani senyum dulu sama orang lain :D Toh nggak ada ruginya. Yuk kita buktiin kalo Indonesia itu warganya ramah-ramah! Bukan cuma di pantai Bali, tapi juga di perkantoran dan angkutan umum :D

      Delete
  5. Iya. Ini pasti gegara twit yang bilang seneng karena senyum sama orang di jalan itu yaa. :))

    ReplyDelete
  6. Sarah, gue salah satu subscriber blog lo,maaf tanpa bermaksud apa pun, tapi tolong jangan pernah menuliskan ini lagi nya > Insyaoloh karena nama Tuhan maupun dewa dari setiap agama tidak boleh kita ganti karena ini baku. Tulisan kamu bagus semua :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dear Sartika, terima kasih untuk remindernya ya :")

      Sudah kuganti seperti saranmu, maaf kalo sampe menyinggung hati yaa :")

      Terima kasih sudah bacaaa :*

      Delete
  7. Gue terbiasa cuek sama orang yang belum gue kenal...

    Mungkin harus diperbaiki dari diri sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho oh Vin, tetep ramah tapi juga hati-hati. Kadang aku masih parno-an, diajak ngomong orang asing aja bawaannya mikir, "kayaknya dia mau hipnotis gue nih, duh kudu apa kudu apa..." (--,)

      Suudzon meluluk. Makanya mau berubah >.<

      Delete