Friday, 27 June 2014

Memilih Karena Percaya

Selama ini, gue enggan 'nyemplung' terlalu dalem kalo urusan ngomongin politik. Batas terjauh gue hanyalah diskusi sama temen-temen kantor, atau melempar komentar-komentar di twitter kalo lagi nonton debat capres dan/atau cawapres. Maraknya berantem gara-gara jagoan capres masing-masing, bikin gue males berargumen di linimasa. Ngeladenin orang yang otaknya cuma seuprit dan gak bisa terima perbedaan pendapat itu cuma buang-buang tenaga. Nggak ada gunanya.

Tapi kemaren, gue ngobrol sama Roy masalah video-nya Ahmad Dhani. Gue nonton videonya, denger banyak pendapat terkait seragam Dhani, juga pro kontra masalah hak guna lagu Queen yang terkenal itu. Gue nggak punya kapasitas untuk bicara lebih dalam tentang ini, tapi yang jelas:

1. Seragam yang Dhani kenakan akhirnya membuat ia dikecam disorot oleh dunia. Good or bad? You decide.
2. Tantowi Yahya - Juru Bicara Pemenangan Prabowo Hatta, meminta media untuk menuntut klarifikasi seputar masalah seragam itu kepada Ahmad Dhani secara pribadi. Beritanya bisa dibaca di sini.

Yang menarik, menurut Tantowi, elektabilitas Prabowo naik di tengah ramainya 'serangan' karena video kontroversial tersebut. Hal itulah yang kemudian mengusik gue. Entah kenapa, gue yakin banget kubu Prabowo pasti blunder gara-gara video ini. Kan tujuan dari video tersebut adalah menggiring semua yang menonton untuk ikut mendukung capres pilihan Ahmad Dhani. Lah sekarang, masalah seragamnya malah mengundang kecaman dari banyak pihak.

Tapi kenapa elektabilitas Prabowo malah menanjak pesat?

Roy kemudian beragumen, mungkin karena Prabowo jadi terkenal. Lepas dari baik atau buruk, video tersebut diperbincangkan oleh khalayak ramai. Akhirnya, nama Prabowo Hatta pun banyak didengar oleh masyarakat luas. Kendatipun caranya kayak begitu.

Gara-gara inilah, gue jadi inget sama kelakuan aneh seorang temen gue. Dulu, dia pernah pro Jokowi-JK. Kemudian, beberapa minggu setelahnya, dia memutuskan untuk pindah ke kubu Prabowo Hatta. Gue, karena penasaran, nanya alasannya. Dan inilah jawaban yang gue dapet:

"Abis, mainstream ah dukung Jokowi JK."

Gue bengong.

Serius? Masih ada ya orang bego yang main-main sama masa depan bangsanya, semata untuk keren-kerenan mainstream dan anti-mainstream?

*facepalm*

Another alasan ngawur ya. Tebakan gue, banyak di antara kita yang masih memilih hanya karena familiar dengan nama sang calon. Bukan karena kita ngerti visi misi, apalagi menyelidiki track record dan prestasi.

Ucuk-ucuk masuk ke bilik suara, liat calon A trus bergumam dalem hati, "Aduh, kok saya nggak kenal ya...". Liat calon B, trus bergumam lagi, "Wah kalo yang ini saya tau nih. Pernah masuk tipi. Coblos ini aja deh."

Padahal masuk televisinya karena dia nyolong ayam (misalnya).

*double facepalm*

Mungkin juga karena inilah, banyak artis yang rame-rame pada nyalonin diri jadi anggota legislatif. Karena dengan teori di atas, mereka punya kans lebih banyak untuk menang. Yaiyalah, wong sering wara-wiri di sinetron atau infotainment. Siapa yang gak kenal?

Lagi, mungkin Dhani tau masalah ini. Makanya, dia mengeksekusi strategi video kontroversial. Karena kita gak akan peduli sama kontennya. Yang masyarakat tangkap dan ingat hanya tokohnya. Kalo ini benar, maka Dhani telah menyelesaikan tugasnya dengan sangat amat baik. Videonya dibicarakan siapa saja. Dari mulai yang ada di Indonesia sampe yang di luar Indonesia. Dari pendukung salah satu calon sampe swing voters. Bodo amat ngomongin baik atau buruk, yang penting nama Prabowo jadi trending topic.

Sad, huh?

Denger berbagai alasan ajaib terkait dukungan terhadap salah satu capres, beneran bikin gue resah. Makanya gue memutuskan untuk menulis postingan ini.

Gue nggak mau menjelek-jelekan atau memuja-muji capres manapun di sini. Gue nggak anti kok sama Prabowo, sumpah. Lo dukung nomor satu pun, kita masih bisa berteman baik, selama elonya nggak fanatik berlebihan. Gue juga nggak akan maksa lo untuk pro Jokowi JK, sekalipun gue milih mereka. If we're standing on the same side, good. If not, still good. Selama kita sama-sama menjunjung tinggi kebebasan berpendapat serta menghargai pandangan orang lain, mari tetap menjaga tali silaturahmi.

Yang gue minta cuma satu, dan sama persis seperti yang Dwika pernah bilang, yaitu: Please, I beg you, do some research. Nyari informasi jaman sekarang sama sekali bukan hal yang sulit. Ada google. It's just one click away. Ada televisi (walaupun harus hati-hati, pilih stasiun TV yang netral ya). Ada koran. Ada twitter. Ada portal berita. Bisa juga cari tau dengan bertanya dan mendengar pendapat orang lain. Tinggal pilih. Dari sana, kumpulin informasi, lalu analisis. Berikan suara kita yang berharga pada mereka yang memang pantas mengemban amanah untuk memimpin negeri.

Jangan memilih hanya karena telinga kita familiar sama namanya. Jangan memilih hanya karena kepingin keliatan berbeda. Memilihlah karena kita tau pasti apa pilihan kita. Memilihlah karena kita ngerti konsekuensi dari keputusan tersebut.

Dan yang terpenting, memilihlah karena kita percaya.

Percaya pada kredibilitasnya. Percaya pada programnya. Percaya pada visi misinya. Dan percaya pada calon presiden wakil presidennya.

Akhirnya, selamat merayakan pesta demokrasi, Indonesia. Semoga pilpres nggak mengubah kedamaian dan persatuan bangsa kita tercinta.

PS : Ada komentar yang gue remove dari kolom comment, karena gue dan si pemberi komentar secara gak langsung malah kampanye jadinya. Kalo mau baca pemikiran yang bersangkutan, boleh langsung ke blognya di sini. Thank you :)

5 comments:

  1. Iya, betul sekali. Beberapa hari lalu gue baru diskusi bareng keluarga (bokapp-nyokap) hasilnya ya gitu. Inilah hasil dari pendidikan kita selama ini. Ternyata, masih banyak orang yang punya pandangan sempit dan 'bego'. Dan, itulah sebabnya acara sinetron ecek-ecek masih banyak tayang meski kita udah protes kayak apa juga. ya karena masih banyak peminatnya, dan itu bener-bener ada.

    Asik gila keren banget komenan gue. Huhehehe. \:D/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep. Televisi yang harusnya jadi sarana untuk mendidik dan melihat dunia yang lebih luas aja didominasi sama air mata dan tokoh antagonis. Parahnya lagi ratingnya oke. Sama kayak film hantu semi porno di bioskop. :(

      PR kita sama-sama sih. Bukan pemerintah dan presiden aja. Semoga siapapun yang menang, bisa membawa kebaikan bagi Indonesia. Amin :)

      Delete
    2. Yosh. Amin. Gue sih, mulai dari yang deket aja. Liat lingkungan sekitar ada yang ngaco apa enggak. Kalo ada, benerin.
      Btw, link sarah puspita udah ditaruh di blogroll keriba-keribo yaa \:p/

      Delete
  2. di indonesia memang banyak orang pinter, tp lebih banyak orang bodohnya.
    tp gw bukan tipikal orang bodoh seperti ciri pada postingan diatas. gw melihat seseorang pada sifat luar dalemnya, bukan berdasarkan tampangnya, dan popularitasnya.
    gw dari awal pro jokowi-jk, dan berharap indonesia akn lebih baik bila jokowi-jk menang.

    ReplyDelete