Tuesday, 4 March 2014

Drilling & HSE Training - Part 1

Tanggal 25 Februari 2014 yang lalu, gue seneng banget karena berkesempatan mengikuti one day training yang diadakan oleh kantor, berkaitan dengan dasar-dasar pengeboran minyak bumi, serta health, safety, dan equipment yang berhubungan dengan keselamatan kerja.

Senengnya karena, udah mau setengah tahun gue kerja di perusahaan yang akrab dengan pengeboran (bukan, tapi bukan di perusahaan minyak ya), tapi gue sama sekali masih buta masalah drilling itu sendiri. Padahal, banyak banget hal menarik dan bikin gue bergumam, "wooo", "ooooh gitu", "wuiiiih" dan sebagainya tentang dunia ini. Alat-alatnya yang luar biasa banyak, prosesnya yang panjang dan gak segampang teorinya, resikonya yang tergolong besar (dan mahal), dan harganya yang bikin mangap.

Nah, berhubung training yang kemaren gue ikuti membuka wawasan banget, I'd like to share what I've got here :D Tentunya gue berterima kasih kepada Bapak Priyo Agus Trinugroho atas sharing materi dan pengetahuannya yang sangat bermanfaat bagi kami semua *sungkem*

Mari kita mulai. *benerin kaca mata*

Drilling

Jadi, ngebor minyak bumi itu pake alat yang namanya Rig. Nggak bisa pake bor macem ini:


Apalagi pake obeng diurek-urek ke tanah. Gak bisa pokoknya. Harus pake rig. Nah bentukannya rig itu kayak gini:

source

Duh, bukan, itu bukan Menara Eiffel. Coba deh diliat dulu yang bener (--,) *jambak*

Nah kalo yang ini, ilustrasi setiap part-nya:

source

Rig itu sendiri ada dua jenis, yakni onshore dan offshore. Onshore (land rig) adalah rig yang difungsikan di atas tanah. Sampe kemaren sih, baru ada empat jenis onshore rig, yakni :

1. Skid Mounted (rig padat karya, karna crew-nya harus kurang lebih 80 orang)

source

2. Trailer Mounted (didepannya ada truknya)
3. Sliding Rig (bisa digeser-geser kayak pintu)
4. Drill Max (crew yang dibutuhkan hanya 4 (yes you read it right, EMPAT) orang, safety-nya jauh lebih canggih, hasilnya jauh lebih baik, digemari investor, tapi tidak padat karya. Selain itu harganya mahal makjang, dan belum ada yang punya di Indonesia. *minta Roy beliin buat kado ultah*)

Lalu yang offshore (floating rig) adalah rig yang dikhususkan untuk pengeboran di atas air. Sama kayak onshore rig, offshore rig juga ada empat jenis (dibedakan berdasarkan kedalaman), yaitu:

1. Jack Up (Perairan dangkal, menggunakan jangkar untuk menjaga posisi rig, tarif $100rb - $180rb)
2. Swam Bars (Perairan dangkal, menggunakan jangkar untuk menjaga posisi rig, biasanya untuk pengeboran di rawa-rawa, kedalaman maksimal = 7m)
3. Floating Rig (Deep Water Operation, menggunakan GPS (dynamic positioning) untuk menjaga posisi rig, tarif lebih kurang $680rb)
4. Floating Drillship (Deep Water Operation, menggunakan GPS (dynamic positioning) untuk menjaga posisi rig (karna kalo sampe kapal geser dikiiit aja, pipa langsung patah smua), untuk pengeboran di kedalaman > 500m dari mulut sumur), besar kapal 300m x 50m, semua bergantung pada komputer (which is why bahaya banget kalo sampe mati lampu), tarif diatas satu juta... dollar. *berbusa*)

source

Dan semua tarif yang gue sebutkan di atas adalah biaya operasional per... hari. HARI. PER HARI. *jual diri* *beli rig* *mandi emas* :")))

Eh tapi, jangan dikira prosesnya gampang lho. Baru penelitian berkaitan sama daerah yang punya minyak aja udah melibatkan tiga disiplin ilmu, yaitu geologi, geokimia, dan geofisika. Bayangin, baru penelitiannya udah berapa duit cobak (--,) Anyway, mari kita bahas satu persatu.

1. Geologi

Driller akan nanya sama pihak geologi, "ngebornya mau seberapa dalem?" Lah kan jenis kedalaman dan era-nya banyak, alat yang digunakan pun otomatis berbeda-beda, karena semakin mendekati kerak bumi, batuan itu semakin keras. Jadi yang terpenting, driller-nya kudu tau, minyaknya ada di mana?

...dan gak ada jawaban "dihatimuuu~"

2. Geofisika

Tujuan orang-orang yang menguasai ilmu Geofisika adalah melakukan survey (gravity survey, magnetic survey, dan seismic survey - paling murah karna gak pake pesawat kayak dua survey yang lain). Survey ini bertujuan untuk memetakan contour.

Nggak cuma itu aja, mereka juga harus memberikan referensi dari garis lintang dan bujur. Kenapa? Karena kalo geser dikit aja, buang waktu dan buang uang yang banyak banget, abis itu minyaknya gak dapet *nangis bombay*. Trus ngegeser rig itu nggak kayak ngegeser meja. Rig itu guedeeee pemirsah. Kalo mau digeser kudu rig down, geser, rig up lagi, dan itu makan waktu berhari-hari.

PR ahli geofisika yang terakhir adalah, mengidentifikasi daerah batuan gamping. Daerah batuan gamping ini biasanya memiliki perut bumi yang berongga. Makanya pengeborannya pun nggak bisa pake teknik biasa.

3. Geokimia

Kalo ahli yang ini, pe-er-nya lain dari yang lain! Mereka, dengan jas putih mereka dan laboratorium mereka yang canggih dan high-end itu, akan meneliti... batu. *ngakak sampe besok*

Mahahahak I mean come on, batu???

Setelah dikasih tau betapa pentingnya batu untuk mendeteksi keberadaan minyak, baru gue bisa mingkem. Ternyata, yang diteliti dari batu ini adalah kandungan minyak, air, dan formasinya. Selain itu, jenis batu juga penting untuk diketahui dari awal, tujuannya supaya segala keadaan bisa diantisipasi karena sifat batu tuh beda-beda. Ada yang bisa memuai juga :D

Ini tambahan catatan gue :

 
Pore pressure & fracture gradient

source

Pengeboran hanya boleh terjadi di antara garis pore pressure dan fracture. Resikonya kalo terlalu mendekati pore pressure adalah, kemungkinan blow out-nya tinggi. Nah kalo terlalu mendekati fracture, kemungkinan pecah.

Itulah pentingnya penelitian dan survey yang tepat. Kalo salah sedikit aja, fatal banget akibatnya. Anyway, another fun fact tentang pengeboran di Indonesia adalah:

Tingkat keberhasilannya hanya : 1:10
Artinya, dari 10 sumur yang dibor, hanya 1 yang mengeluarkan minyak

Kecil banget kan kemungkinannya? Makanya bisnis ini super-high-risk. Biayanya muahal na'adjubile, tapi hasilnya nggak pasti. Apalagi pengeboran lepas pantai. Ombak di atas tiga meter aja pengeboran harus berhenti. Padahal operasi dibayar per hari. *belajar nenangin ombak*

Nggak berenti di resiko nggak dapet minyak aja. Ada juga resiko-resiko lain yang mungkin terjadi selama proses pengeboran, di antaranya:

1. Stuck Pipe
2. Kick
3. Blow Out : akibat Kick yang nggak bisa dikendalikan
4. Equipment Damage
5. Lose in Hole

Dan ironisnya, setelah mempertaruhkan hidup mati dan seluruh uang untuk mengangkat minyak dari perut bumi, minyak yang bisa terangkat, kira-kira hanya 22%-30%. 70% masih ngendep di muka bumi, harus diproses dari awal lagi kalo mau diangkat.

Nyusahin yak, kayak ngedeketin cewek PMS yang belom tentu suka sama elo, tapi cantik plus bapaknya tajir berat :)))

Itulah yang kira-kira dapat gue bagikan di sini. Semoga bermanfaat ya, lumayan kan buat modal obrolan kalo mau ngegebet cucunya yang punya Chevron atau Total. Eak. :))

Mari lanjut ke sesi kedua : Health, Safety, and Equipment!

2 comments:

  1. Hihihi, Sarah lucuuu!! *cekikikan*
    Iya, jadi nambah ilmu nih, lumayann... Makasih yaaa Sarah! :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahh Finny kamu bisa ajah :> :>

      Sama-sama sayaaang! Terima kasih sudah main-main yaa :*

      Delete