Wednesday, 26 February 2014

Penerbangan Terakhir

Bandar Udara Internasional Hongkong, 5 September 2011

Thanks.” Gue menerima kantong yang disodorkan kasir.

“Udah, Ce?”

Gue mengangguk, kemudian berjalan beriringan dengan adik semata wayang gue, Owen.

“Beli apa?”

“Kaos Disneyland yang gue pingin kemarin.”

“Dasar. Udah gue bilang beli aja.”

“Kalo hari ini nggak bisa makan?” tanya gue.

“Ya enggaklah, lebay.” Dia menjitak pelan kepala gue.

Kami menuju lounge, duduk bersama rombongan tur yang lain, menunggu pesawat yang akan membawa kami pulang ke tanah air. Gue mengeluarkan ponsel, mencari wifi. Ada perasaan sedih yang tiba-tiba menyusup ke dalam hati. Perasaan sedih yang selalu menyapa ketika liburan akan segera berakhir.

Gue memutuskan untuk membuka gallery ponsel. Jempol gue menelusuri kembali foto-foto sembilan hari yang lalu. Screen kini menampilkan seorang gadis berbaju tradisional Cina, yang sedang memegang kipas dan mengenakan hiasan bunga di kepala, dengan Tembok Cina sebagai latar.


Ah, Beijing. Kota yang menyimpan banyak bangunan bersejarah. Nggak cuma Tembok Cina yang luar biasa besar, ada juga Forbidden City yang megah, Summer Palace yang indah, Temple of Heaven yang suci, serta stadion olimpiade yang terkenal mewah, Bird Nest. Udara yang panas dan gersang, serta sederet petunjuk jalan dengan bentuk tulisan yang asing, juga culture shock yang gue alami karena nada bicara penduduk aslinya yang selalu naik dua oktaf (padahal nggak lagi marah), nggak sedikitpun mengurangi antusiasme untuk mengeksplor lebih dalam lagi ibu kota Republik Rakyat Cina ini.

“Ce, kertas lo jatoh?”

Perhatian gue ke galeri teralih saat tangan gue dicolek Owen. Otomatis, mata gue mengikuti arah yang ditunjuk. Gue merunduk, mengambil sebuah kertas di dekat kaki gue, kemudian membuka lipatannya untuk mengetahui apa isinya.

Itinerary.

Tepatnya itinerary hari ke empat, saat gue terbang dari Beijing menuju ke Shanghai, kota yang disebut-sebut Manhattan of Asia. Julukan yang tepat setelah gue melihat gedung-gedung pencakar langit bertebaran mewarnai pemandangan. Sanking modern-nya Shanghai, kalo nggak ada orang-orang yang bicara dalam bahasa Mandarin, pasti gue nggak ngeh ini di Cina. Oh iya, gue juga sempet naik ke salah satu bangunan tertinggi di dunia, Oriental TV Tower, dan melihat kota jauuuh dari atas sana. Malam harinya, gue menikmati pemandangan yang sama dari tengah danau. Berpesiar mengelilingi bangunan-bangunan dengan lampu-lampu yang menghiasi kegelapan malam. Shanghai was a very beautiful city, indeed.

BRUG!

Lamunan gue buyar karena kaki gue tertimpa koper.

Sorry, Oh my God, I’m so sorry.” ujar seorang bule di depan gue sambil terburu-buru mendirikan kembali koper gue yang jatuh karena tersenggol kakinya. Gue tersenyum maklum, kemudian bergerak membantunya membereskan kantong belanjaan gue yang isinya tercecer. Ia sekali lagi meminta maaf, lalu berlalu, meninggalkan gue dengan sebuah kantong berisi keranjang anyam yang gue beli pasar malam saat berada di Guilin.

Guilin, kota kecil yang menyimpan pesona bukit-bukit hijau yang tersusun bagai lukisan di sepanjang aliran sungai. Gue sempat menikmati keindahan alam tersebut di atas kapal, yang sekaligus menjadi salah satu pesiar terindah yang pernah gue alami.

“Ceh, mau ngopi?” Owen menyenggol gue pelan.

Gue tersadar dan menggeleng cepat, kemudian menjawab, “Nggak deh, gue masih puyeng nih gara-gara kemarenan ngopi di Starbucks.”

“Lagian sok-sok pesen yang venti.”

“Lah abis kan kemaren mau ngabisin Yuan. Kalo nggak beli yang venti mana abis?”

Gue dan Owen serentak nyengir, kemudian membayangkan lagi perjalanan kami dari China menuju ke Hongkong. Seluruh jeritan kebahagiaan dan histeria kegembiraan gue meluap saat kami sampai di Disneyland Hongkong, destinasi pertama di kota ini. Tempat ini membawa gue terbang bernostalgia ke masa kecil, dengan tokoh-tokoh yang nyata. Gue bisa dengan jelas melihat Eeyore dan Mickey Mouse menari-nari dan bergerak ke sana ke mari. Atau Cinderella dan Aurora yang melambaikan tangan dari kereta mereka di parade. Gue bisa dengan jelas menyentuh istana besar yang selama ini hanya gue liat di film-film Princess. Mereka yang hidup dalam buku-buku cerita atau film kartun, semua tervisualisasi di hadapan gue dalam bentuk nyata. Bahagiaaa :”)

Selain Disneyland, di Hongkong, gue juga menyempatkan untuk berkunjung ke Madame Tussauds. Gue girang setengah mati mendapati beberapa patung lilin selebriti favorit gue berpose manis di sana. Salah satunya, tentu saja pasangan Angelina Jolie dan Brad Pitt. Langsung aja gue berpose ditengahnya, kemudian bertekad mencetaknya sesampainya di Jakarta, lalu memamerkannya sambil bilang, “Liat deh, gue baru foto keluarga dooong!” dengan jumawa. Selain Jolie dan Pitt, ada juga Spiderman, Barack Obama, Lady Gaga, Michael Jackson, dan yang paling membuat gue sumaringah sampe surga… Robert Pattinson alias Edward Cullen. Seusai berfoto dan berusaha mencium pipinya namun nggak nyampe, akhirnya gue mengirimkan ciuman selamat tinggal.

Kepada Madame Tussauds, juga sebentar lagi… kepada liburan.

Maka di sinilah gue sekarang, dengan boarding pass dan tiket yang terjepit manis di dalam passport, serta sebuah koper kecil dan kantong oleh-oleh yang akan masuk ke kabin. Beberapa menit lagi, sebuah pesawat besar siap membawa gue kembali ke tanah air. Beberapa menit lagi, gue akan meninggalkan empat kota berbeda yang memberikan pengalaman tersendiri dalam sepuluh hari terakhir. Beberapa menit lagi, gue akan bertolak dari negeri dongeng dan kembali menuju kenyataan. Beberapa menit lagi, gue harus menyudahi liburan dan kembali ke dalam rutinitas keseharian.

Tanpa sadar, gue menghela nafas dalam. Sedih tadi tiba-tiba berubah pekat. Gue menenggelamkan kepala dalam capucon jaket.

BUZZ!!!

Gue terlonjak, dikagetkan dengan getaran dari ponsel yang gue pegang. Wifi sudah tersambung, dan ternyata sejak tadi ada sapaan yang belum sempat gue jawab.

Papa : “Kamu udah di Bandara?”
“Ce?”
“Udah makan belum?”
“Kabarin kalo udah mau masuk pesawat ya?”
“Delay nggak?”
“Ce?”
“Kok YM-nya nggak dibales?”

Selama di sini, komunikasi gue dengan keluarga di Jakarta hanya bergantung pada keberadaan wifi. Praktis, acara ngobrol hanya berlangsung di bandara atau di hotel, karena hanya dua tempat itu yang selalu menyediakan jaringan. Namun, seringnya, padatnya acara dan jadwal tur membuat gue merasa sudah terlalu lelah untuk bertukar kabar sesampainya di hotel. Pegal dan kantuk akhirnya memaksa gue untuk mengurungkan niat mengutak atik jaringan wifi dan langsung tidur untuk memulihkan stamina. Menyiapkan fisik untuk keesokan harinya. Ponsel gue akhirnya juga hanya berfungsi sebagai kamera, bukan lagi alat komunikasi untuk bertukar kabar atau cerita.

Kembali, gue menatap deretan pesan itu, dan tersenyum saat segurat kehangatan pelan tapi pasti mengusir kesedihan gue pergi. Saat ini, jauh di rumah, dua orang yang paling gue sayangi sedang menunggu kepulangan anaknya. Sepuluh hari nggak ketemu, terpisah oleh ruang dan jarak, ternyata mengukir kerinduan yang amat sangat, bukan hanya di hati gue, tapi juga mereka.

Sarah : “Iya pa, aku udah di bandara. Ini lagi nunggu masuk ke pesawat. Nanti papa yang jemput kan?”

Karena ada kebahagiaan lain yang juga menunggu gue di Jakarta, yakni menyudahi rindu yang beberapa hari belakangan sempat mendera hati. Karena perpisahan dengan liburan akan digantikan rasa syukur di antara peluk dan cium dari mereka yang berarti. Karena pengalaman baru yang gue nikmati di sini, bisa menjadi cerita seru untuk dibicarakan nanti. Karena pulang bisa berarti, pertemuan kembali dengan orang-orang yang gue sayangi.

Papa : “Iya dong, semoga nggak delay ya, papa kangen.”

8 comments:

  1. enak banget bisa liburan ke hongkong -__-

    ehh.. ada yang kurang nih, foto-foto waktu di Madame Tussauds-nya ga ada..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti di postingan lain yaaa :D

      Terima kasih sudah mampir :)

      Delete
  2. Kadang kita harus pergi biar tau ke mana harus pulang. Hahaha.

    ReplyDelete
  3. Baca ini bikin kangen pengen jalan-jalan ke China lagi.. Still so many things to explore in China.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yep, China tuh gede banget ya, gak bisa dieksplor dalam sekali perjalanan :D

      Delete
  4. Aaak Sarah bagus banget, Terharu bacanya. Keep writing ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaah thank you ya :D

      will do :>

      *peluk*

      Delete