Friday, 14 February 2014

Bajaj

"Lo naik bajaj? HAHAHAHAHAHA!"

Gadis kecil itu tertunduk malu menatap kakinya. Pelan, air matanya mengalir menetes ke rok merah yang ia kenakan, diiringi suara tawa keras dari teman-teman sepermainannya.

***

10 tahun yang lalu

"Gue anterin sampe gerbang ya?"

"Hah? Ngapain? Enggak, gak usah!"

"Kenapa?"

"Gak usah kok, gue bisa sendiri."

Kemudian gue langsung berlari menuju pintu gerbang. Sambil melihat Kanan Kiri, gue menghampiri Bajaj yang tidak jauh diparkir dari gerbang sekolah.

"Bang, pasar Blok A berapa?"

"7000, neng."

"Mahal amaaat. 5000 aja ya?"

"6000 deh."

Ujung mata gue menangkap bayangan dia dan teman-temannya yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah. Berdiskusi seru sambil sesekali tertawa-tawa geli. Beberapa langkah lagi dia pasti bisa ngeliat gue. Tanpa pikir panjang, gue langsung melompat ke dalam Bajaj, kemudian menyandarkan punggung ke kursi agar wajah gue tidak terlihat dari luar. Untung sang abang cekatan. Segera setelah pintu gue tutup, dia melarikan Bajaj-nya menuju alamat yang gue tuju.

***

3 tahun yang lalu

"Kalo berangkat jadinya elo sama bokap?"

Gue mengangguk.

"Pulangnya?"

"Dari Binus? Naik angkot sampe halte TransJakarta Kelapa Dua Sasak, abis itu naik TransJakarta deh sampe ke Pondok Indah 2."

"Oh halte yang di mall itu ya? Trus dari Pondok Indahnya? Jalan kaki?"

"Enggak sih, nyambung sekali lagi."

"Naik apa?"

"Nggn... suka-suka gue sih. Kadang dijemput juga. Anyway kita jadinya mau makan di mana nih?"

"Apa sih yang enak di sini? Mie ayam ya katanya?"

Gue mengangguk. Sambil dalam hati menghela nafas lega. Setidaknya topik tentang transportasi ini berhasil gue alihkan. Sesudah makan, kami berpisah menuju ke rumah masing-masing. Gue menyetop angkot dengan stiker M24 yang terpanjang besar-besar di kaca depan, yang kemudian membawa gue menuju halte TransJakarta Kelapa Dua Sasak. Sesudahnya, gue melompat masuk ke dalam bus yang membawa gue menuju ke halte Pondok Indah 2. Sesampainya di halte Pondok Indah 2, gue turun dan masuk ke dalam Mall Pondok Indah. Hanya lewat, karena setelahnya gue keluar, menyeberang, dan menyetop sebuah... bajaj.

***

30 Januari 2014, Sarinah, Jakarta

"Taksinya semua penuh gini, deh." keluh Roy. Lelah terlihat jelas mewarnai parasnya.

"Sabar, nanti juga ada kok, yang kosong." gue menjawab, sambil menggamit lengannya.

"Maaf ya, kamu jadi telat."

Gue tersenyum. "Nggak kok, nggak apa-apa. Belum pada dateng juga, pasti."

Sok tau. Tapi biarlah, kalimat itu hanya upaya menenangkan diri saat taksi yang kami cari tak kunjung ada yang menyalakan lampu penunjuk bahwa ia tidak berpenghuni.

"Nggak ada kendaraan lain selain taksi yah, hun?"

Roy menggeleng. Putus asa, gue mengeluarkan ponsel, hendak meminta Owen, yang sudah berada di rumah oma gue untuk menjemput ke Sarinah.

"Aku minta Owen jemput aja deh."

"Macet gini, ai. Bisa sampe malem, kita."

Damn, he's right. Gue memasukan ponsel kembali ke tas dengan kesal. Kemudian mata gue menangkap sebuah kendaraan. Kendaraan satu-satunya yang rasanya bisa menjadi jawaban.

Tanpa berpikir lagi, pertanyaan itu melompat keluar dari bibir gue, "Naik bajaj aja, yuk?"

Roy berpikir sejenak, kemudian mengangguk menyetujui. Kami menghampiri salah seorang abang bajaj, melakukan tawar menawar, kemudian melompat naik ke dalam.

Bunyi deru mesin yang berisik, angin sepoi-sepoi, dan punggung pengemudi terasa familiar menyapa seluruh indera gue. Alat transportasi yang bertahun-tahun gue yakini memalukan. Alat transportasi yang selalu gue sembunyikan di balik Transjakarta atau Taksi. Alat transportasi yang terlihat... aneh. Dan gue takut diledek karena hal itu.

Tapi saat ini, gue bersama dengan sang pacar, duduk berdamping-dampingan di dalamnya. Melawan kemacetan dan berusaha tidak terantuk diantara gerakan kendaraan beroda tiga yang berusaha mencari celah di antara himpitan deretan mobil di jalan raya.

Tanpa rasa malu. Tanpa rasa takut nantinya akan terlihat bodoh lalu dicemooh.

Melegakan rasanya bisa menjadi diri sendiri, tanpa merasa takut ditolak atau dipermalukan. Melegakan rasanya dicintai tanpa perlu berpura-pura menjadi orang lain. Melegakan rasanya merasa nyaman, tanpa perlu menyembunyikan suatu fakta atau keadaan. Diterima dengan segala kekurangan itu... melegakan. Menyenangkan.

Akhirnya, gue menemukan orang yang bisa menghapus trauma dan ketakutan gue karena pernah ditertawakan. Orang yang bisa gue ajak menikmati semilir udara bercampur debu di antara kemacetan ibu kota, tanpa berpikir hal tersebut memalukan. Orang yang bisa gue ajak bercanda-canda untuk membunuh waktu di dalam kendaraan beroda tiga. Orang yang membelai sayang saat kepala gue terbentur. Orang yang membebaskan gue untuk menjadi diri gue sendiri, dan tetap mencintai gue sepenuhnya. Tahun lalu, akhirnya gue telah menemukan orang yang bisa gue ajak untuk sama-sama... naik bajaj :)


The best thing in life is finding someone who knows all of your flaws, mistakes and weakness, yet still loves you for who you really are. Happy Valentine's Day! :)

6 comments:

  1. Lho..

    Aku pengguna bajaj sejati..hihihi... Gak ada masalah sar.. selain pas turun rada pengeng #edisibajajjadul.. kalau bajaj sekarang pake BBG lebih halus bunyinya ya..

    Anyway, nice post ya neng.. as always,...

    #salamgeterturunbajaj :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi iya! Kalo ngobrol di dalem juga kudu agak teriak :)))

      aaaah makasih ya teteh sayang :')))

      #salamgeterturunbajaj! :>

      Delete
  2. Pas banget nih pas Valentine baca ini. Setuju banget sama quotes terakhirnya. Cakep! :D

    ReplyDelete
  3. Sensasi naik bajaj tiada saing tiada banding, hohoho. Aku errr... dari dulu keingin cobain naik bajaj sama pasanganku suatu hari nanti. Tapi untuk sekarang, baca postingan Sarah yang ini udah sukses bikin hati menghangat. Makasih ya... :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama ya Finny! :"))

      Semoga suatu hari nanti kesampean ya sayaaang <3

      Delete