Thursday, 20 February 2014

ABC Premium Hostel - a Whole New Experience

"DUA PULUH EMPAT??"

"Yep."

"SEKAMAR?"

"Iya."

Gue mangap lebar. Kemudian ada laler masuk. Tidur sekamar berdua... puluh empat??? It sounds... fun!

***

"You can leave your bags here." ujar seorang perempuan bertubuh (lumayan) gempal sambil menunjuk pada sebuah rak di depan kamar. Kami bertiga langsung menjatuhkan barang bawaan kami.

"Aku ke toilet bentar ya?"

Gue segera berlari menuju ke Ladies Toilet, kemudian di sambut oleh tiga buah washtafel. Gue memulaskan sedikit blush on ke pipi. Niatnya supaya nanti pas foto-foto, nggak keliatan pucet-pucet amat. Setelah selesai, gue melongok ke dalam, mau survey, kayak apa sih nanti mandinya. Gue menemukan beberapa bilik. Ada yang isinya kloset aja, ada yang isinya shower aja. Dua bilik di ujung paling kiri dan paling kanan, punya sekaligus kloset dan shower.

Ternyata, kegiatan observasi gue ini diperhatikan oleh seorang cewek India yang menggunakan wastafel di sebelah gue. Diliatin... dari kepala sampe kaki. Gue langsung angkat kaki dari toilet sambil komat-kamit berdoa, semoga nanti malem gue bisa mandi. Amin.

***

"Bisa?"

Gue mencoba memanjat dengan sekuat tenaga, kemudian mendaratkan dada terlebih dahulu, menyusul dengkul sampai akhirnya seluruh bagian tubuh gue berada di atas ranjang.

"Yup, I'm good." gue menjawab pertanyaan Roy di bawah.

"Okay, aku mandi ya."

Baru mau gue jawab, "Eh tunggu, aku juga mau mandi.", gue baru sadar kalo tas gue... di loker bawah. Jadi gue meniti tangga untuk turun dari ranjang lagi, niatnya ngambil baju dan handuk, lalu langsung jalan ke kamar mandi. Sampe di bawah, gue baru sadar kalo kunci loker gue... di atas. Di ranjang. Pingin garuk-garuk tembok rasanya. Masa iya gue harus naik lagi abis itu turun lagi?

...

Iya, ternyata harus. Atau gue gak mandi. Seketika gue baru ngeh susahnya tidur di ranjang tingkat... dan jadi orang pelupa.

Akhirnya gue naik lagi, memanjang-manjangkan tangan untuk mengambil kunci, kemudian meniti tangga lagi untuk turun, dan jongkok untuk membuka loker dan mengambil tas gue. Anyway, setiap pengunjung dapet satu loker untuk backpack di bawah ranjang, dan satu loker tipis untuk barang berharga di samping ranjang. Semuanya bisa diakses dengan kunci berbentuk gelang yang tinggal di tap aja. Canggih ya?

Nih, kunci-berbentuk-gelangnya :)
Stop kontak, lampu baca, loker barang berharga, bantal (2 buah), dan selimut, semuanya tersedia!

Setelah mengambil baju, handuk, kemudian menaruh tas di loker kembali ke tempatnya, gue menuju ke kamar mandi. Pengalaman mandi pertama, puji Tuhan nggak ada masalah. Air hangatnya tetep nyala meskipun udah jam dua belas malam, nggak ada serangga-serangga seperti yang semula gue takutkan, dan toiletnya juga nggak kotor walaupun dipake sama-sama.

Selesai mandi, gue kembali ke kamar karena udah ngantuk banget. Dengan bantuan Roy, backpack gue dinaikin ke atas karena gue mau beberes baju, sekalian ngeluarin tempat softlens. Waktu gue lagi berusaha membereskan baju dalam kegelapan (penerangannya hanya lampu tidur dari bilik gue, karena lampu kamar sudah dimatikan), tiba-tiba pandangan gue nggak sengaja mengarah ke bawah.

Kebetulan, tirai ranjang belum gue tutup. Kebetulan juga, ada cowok bule yang baru mau tidur. Kebetulan juga, kayaknya doi nggak biasa tidur pake baju. Kebetulan juga, gue nggak sengaja liat dia buka baju dengan gerakan yang super eksotis. Kebetulan juga, perutnya rata bener, nggak sampe kotak-kotak, tapi rasa-rasanya dia pasti rajin olah raga. Kebetulan yang menyenangkan sampe ngantuk gue langsung terbang.

"Udah belum beberesnya?" kepala Roy, yang tidur di bilik sebelah kanan gue muncul.

Oh iya, gue udah punya laki.

Gue mengangguk.

"Sini aku bantuin turunin backpack-nya."

Kemudian dia turun dari ranjangnya, dan meminta gue mengoper tas dan kunci loker gue ke bawah, supaya gue nggak usah bolak-balik turun dan naik tangga.

Ah, biar nggak bule juga laki gue... ganteng banget ya :)

***

Gue bangun, kurang lebih pukul setengah delapan waktu setempat. Menilik dari itinerary, masih ada waktu setengah jam untuk ngulet-ngulet. Tapi berhubung udah nggak bisa tidur, akhirnya gue duduk di ranjang, ngumpulin nyawa sambil whatsapp-an sama papa (dengan mengunakan wi-fi hostel yang kecepatannya oke banget :D), kemudian memutuskan untuk mandi. Berhubung baju dan handuk udah gue siapin dari malem, gue nggak perlu turun buat ngeluarin tas lagi, tapi tetep harus turun buat menuju ke kamar mandi. Yaiyalah menurut L? (--,)

Sekarang tantangannya adalah, bagaimana caranya turun meniti tangga dengan membawa handuk, baju ganti, dan peralatan mandi?

a. digigit.
b. ditaro di atas kepala.
c. dijepit di leher.

Yang manapun caranya, semuanya susah. Digigit, mulut gue nggak selebar itu. Ditaro di atas kepala, resiko jatoh dan menimbulkan keributan-nya besar banget. Dijepit di leher, gue-nya yang nanti malah jatoh. Ninggalin di kasur trus gue turun dulu baru ngambil juga gak mungkin, karena gue gak nyampe ngambil ke ranjang. #ShitOrangPendekSays

Waktu gue lagi khusuk mikirin caranya, tetiba di bawah ada bule ganteng lagi grasa-grusu beres-beres koper. Mari tidak fokus pada apa yang dia lakukan dan mulai memperhatikan apa yang dia kenakan. Dese mondar-mandir santai bener di kamar (berisi dua puluh empat orang yang gendernya nggak cuma laki-laki), hanya dengan menggunakan... boxer. Nggak boxer-boxer amat juga, secara tight dan pendek. Boxer kecelana ngetat-celana ngetat-an. Baju? Nggak pake. Boxer ngetat tok. *om itu jiplak ooooom* *mimisan*

d. minta tolong si bule, sekalian ajak kenalan.

AHA!

"Ai, kamu udah bangun?" wajah Roy yang masih setengah mengantuk muncul di atas sekat bilik kami berdua.

Oh, well... *mingkem*

***

Setelah mandi dan bersiap-siap, kami membuat sarapan di dapur hostel. Sudah tersedia roti tawar dua bungkus, selai roti, peanut butter, gula, teh, kopi, sereal, dan plain milk. Gue bikin toast bread dengan peanut butter sebagai topping-nya, kemudian menuju ke teras, bergabung bersama dengan Roy dan Owen yang sudah menikmati sarapan mereka terlebih dahulu.


Teras hostel

"UDAAAHHH. YUK?" ujar gue sembari memasukan potongan roti terakhir ke dalam mulut.

"Jangan yak-yuk-yak-yuk aja, cuci piring dulu." jawab Roy.

"HAH? CUCI PIRING?"

"Iyalah, yang make piring siapa?"

"Aku."

"Jadi siapa yang nyuci?"

Gue melirik Owen, kemudian diam-diam menaruh piring gue di atas piring kotornya, lalu... lari!

***

ABC Premium Hostel
91A, 93A, & 95A Owen Road,
Singapore 218903
(+65) 6298 9390

8 comments:

  1. Wogh, sekamar berdua... puluh empat orang :O

    ReplyDelete
  2. Jadi mas-mas yang pake boxer namanya sapah?
    #eh.. hihihih..

    ReplyDelete
  3. Kak Sarah, itu harga sewanya berapa ya per malam?
    Mohon infonya ya.. thanks kak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. $25 per ranjang :D cek di agoda ada neng ;)

      Delete
  4. kak diabc premium ada tirai di kasur ga ya? trus ada handuk ga? atau kita bawa dr rumah? mksh kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada kok, tapi tirainya transparan >.< Handuk aku bawa sendiri sih. abis dipake mandi, kupake buat nutupin tempat tidur :D

      Delete