Wednesday, 8 January 2014

I'M POSSIBLE!

Gue paling takut kalo disuruh bicara di depan umum.

Iya, gue emang bawel. Doyan banget ngobrol dan cerita sana-sini. Tapi lain halnya kalo untuk bicara di muka khayalak. Itulah sebabnya, gue stress banget kalo disuruh presentasi, atau speech, atau yang paling sepele deh, kayak mimpin doa di depan. Mikirinnya aja gue udah kepingin pipis di celana.

Nah, Senin kemaren BoD perusahaan tempat gue bekerja menyampaikan beberapa pesan terkait dengan tahun 2014. Semuanya berjalan seperti biasa sampe tiba-tiba ada buku yang dibagikan oleh direktur gue, kepada tiga orang manager dan general manager. Gue kira bukunya tiga biji. Ternyata ada empat. Dan satu yang terakhir diberikan kepada... gue.

Gue masih senyum-senyum jumawa bahagia sampe direktur gue bilang,

"Keempat orang yang memegang buku tersebut harus mempresentasikan isinya, di morning talk setiap Selasa dan Kamis."

Rasanya kayak disirem air es seember. HAH? DIPRESENTASIIN? Gue langsung berniat ngembaliin bukunya ke pak dir (T_T) Tapi berhubung nggak mungkin, akhirnya gue buang niat itu, kemudian menyusun akal untuk pura-pura sakit waktu gue ditunjuk untuk presentasi. Akal bulus. Muahahaha.

Gue lagi bekerja seperti biasa ketika GM HRD di perusahaan gue menghampiri kemudian berkata santai, "Sar, kamu presentasi besok ya?"

*langsung membatu karena kaget*

YAGILAKALI BESOK PAGI???? Bungkus bukunya aja belom gue buka, dan deadline kerjaan lagi segunung gini, kapan nyiapinnya???

"Hah? Jangan saya deh pak, saya belum baca sama sekali."

"Gapapa, nanti malem aja kamu baca, cuma satu bab kok."

"Tapi pak..."

"Udah, besok giliran kamu ya." trus GM HRD gue ngeloyor pergi. Gue bengong. INIPIYEINI?? :((

Jadilah gue membatalkan niat untuk lembur di hari Senin. Bukan karena gue mau pulang untuk nyiapin presentasi, tapi karena gue nggak enak badan. Langsung meriang dan sakit kepala sorenya. Gue memutuskan untuk pulang tenggo, supaya sempet juga baca-baca materi kalo badan gue udah mendingan. Tapi sampe di rumah, justru gue jadi susah konsen karena rasa takut yang tiba-tiba menyerang. Gue sampe muntah di kamar mandi. Sempet terpikir untuk mangkir aja besok, pura-pura sakit kek, pura-pura mati kek, apa aja asal nggak usah presentasi.

Tapi di detik lain gue sadar, gue harus melawan ketakutan ini. This is my biggest fear, and I have to take this obstacles as a chance to win the fight. Gue nggak boleh lari.

Setelah minum air putih dan mandi, gue dan creamy mulai membuat ppt. Sempet frustasi karena buku ini bukan dalam bahasa aslinya, dan beberapa kalimat terjemahannya agak sulit untuk dipahami. Lagi serius berkutat dengan bahan presentasi, tiba-tiba semuanya gelap.

Great, rumah gue mati lampu aja dong, dan ppt-nya masih jauuuuuuuuuuuuh dari selesai.

Gue bengong sejenak, kepingin banget nangis saat itu. Ini gue udah niat, kok ya jalannya malah dibikin berliku-liku? *jedotin kepala ke tembok*

"Ceh, mau pergi nggak kata papa?" Adik gue melonggok dari balik pintu.

"Ke mana Wen?"

"Ke mana kek, mati lampu gini di rumah. Pergi yuk sampe nyala?"

Tiba-tiba di kepala gue terlintas berpuluh-puluh cafe di Gandaria City yang menyediakan fasilitas wifi dan colokan. Tanpa mikir lagi, gue langsung menyanggupi, kemudian loncat dari ranjang dan bersiap-siap. Creamy dan bukunya gue masukin ke tas, dan beberapa menit kemudian, gue udah duduk manis di dalam mobil yang membawa gue menuju kawasan Gandaria.

Akhirnya pilihan kami jatuh pada J.co. Bokap dan adik gue duduk manis menikmati choco mint, nyokap J.cool, gue... netbuk. Iyes, gue gak pesen apa-apaan, cuma duduk numpang wifi dan colokan di sana. Khusyuk dan serius ngerjain ppt sampe kepala gue berdenyut, dan akhirnya, tepat pukul 10 kurang 15 menit, ppt-nya selesai.

Mengerti gue capek dan ngantuk, bokap langsung ngajak pulang begitu tau ppt gue udah selesai. Sampe rumah, gue nggak sempet mempelajari atau membuka ppt-nya lagi, tapi langsung naik ke ranjang karena mata gue udah nggak mungkin diajak kompromi.

Sebelum tidur, kepanikan yang tadi sempat tenggelam kembali muncul ke permukaan. Ketakutan yang tadi sempat berhasil gue enyahkan, kembali lagi mengisi hati dan pikiran gue. Gue putuskan untuk menangis sejadi-jadinya sebelum gue tidur, kemudian berdoa dan (berusaha) meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja.

Keesokan paginya gue terbangun, dan masih terpikir untuk pura-pura sakit. Segera gue tepis jauh-jauh ide yang sangat menggiurkan itu. Dengan berat hati, gue melangkahkan kaki ke kamar mandi. Mandi dan bersiap-siap, kemudian berujar di kaca, "gue pasti bisa."

Di perjalanan menuju kantor, Roy nggak capek-capeknya nyemangatin gue. Dia bilang, gue pasti bisa, wong ini nggak sesusah sidang skripsi kok. Sidang skripsi lewat, masa ini enggak? Gue nyengir pait. Sidang skripsi nyiapinnya sebulan, ini semalem. Well, not apple to apple comparison, no?

Gue mengucapkan terima kasih kemudian menambahkan,

"Doain aku nggak pingsan ya."

Sampai di kantor, gue minta tolong beberapa rekan kerja untuk menyiapkan layar dan infocus. Semuanya selesai dalam hitungan detik. Dan jam delapan yang biasanya terasa lamaaaa sekali, tiba-tiba sudah datang. Gue harus berjalan ke depan, memimpin doa, kemudian memulai presentasi.

I was shaking.

Bahkan sampai kata-kata yang keluar dari bibir gue waktu gue memimpin doa, terdengar jelas dibalut kegugupan yang luar biasa. Nafas kacau balau. Tersendat di beberapa bagian. Sampai ketika 'Amin' terdengar, gue menarik nafas panjang untuk menenangkan degup jantung yang memukul kelewat cepat.

Here you go, Sar.

Presentasi dimulai. Gue menarik nafas sekali lagi, kemudian menatap mata satu persatu warga kantor yang berdiri dari ujung ke ujung. Gue mengucapkan selamat pagi, dan masuk ke slide pertama. Slide kedua, dan sekertaris perusahaan menghampiri gue. Dia memberikan pointer untuk membantu gue. Gue mengucapkan terima kasih, lalu kembali melanjutkan presentasi. Gue mengarahkan pointer itu pada subjek yang sedang gue bahas, namun titiknya terus bergerak ke sana ke mari. Oh well, tangan gue gemetar hebat. Gue memutuskan untuk tidak menggunakan pointer sampai tangan gue agak rileks dan menghangat.

Ketika gemetarnya sudah agak berkurang, pointer kembali gue gunakan. Slide keenam, slide ketujuh, slide kedelapan. Gue melihat anggukan dari direktur gue yang berdiri di barisan terdepan, yang seketika menjadi suntikan semangat. Slide kesembilan, slide kesepuluh, slide kesebelas. Gue menarik nafas panjang. Slide keduabelas, dan... slide terakhir, slide ketigabelas.

Terdengar tepuk tangan riuh ketika layar menampilan gambar 'thank you!' yang kemarin gue comot dari google. Gue mengakhiri presentasi dengan hati yang luar biasa lega. Dan bahagia. Bukan karena presentasi gue spektakuler. Jauh dari kata spektakuler, gue masih perlu banyak belajar berkaitan dengan presentation skills. Gue bahagia karena akhirnya gue berhasil mengalahkan rasa takut. Gue nggak lari. Gue memutuskan untuk menghadapi.

Dan gue menang.

Ada rasa bangga yang sulit dijelaskan ketika salah seorang direktur gue menghampiri kemudian menyodorkan tangan dan mengucapkan selamat. Ada rasa haru yang memenuhi dada waktu gue tau gue berhasil.

YES, I'M POSSIBLE.

6 comments:

  1. Bagus ceritanya. :)

    Kak, boleh minta pendapat soal tulisan saya disini --> http://aldyond.blogspot.com/2014/01/Momenberhargabersamaibu.html?m=1

    butuh kritikan dan masukan dari kakak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaaaaak terima kasih :)

      boleh banget, aku nanti baca yaa :D

      Delete
    2. Wah, makasih ya mau nolongin. Pendapat kakak penting banget buat saya dalam belajar menulis. :)

      Delete
    3. sama-sama, Aldy :)

      Keep writing and inspiring yaaaa! :D

      Delete
  2. Pas pertama kali disuruh ngomong depan umum (talkshow), gue juga sempet gugup. Karena aslinya gue pendiem. Tapi sekarang, karena udah terbiasa, jadi santai-santai aja. *sambil menunggu undangan talkshow lagi*

    ReplyDelete
    Replies
    1. akhirnya semuanya bisa karena biasa yaa :D

      Yang penting gimana kita ngalahin ketakutannya untuk berani melakukan langkah pertama :D

      Delete