Thursday, 23 January 2014

a (New) Backpacker

“Hah? Segini?”

“Iyah, muatlah pasti, kita cuma dua malem di sana. Kalo kamu nggak bawa satu lemari sih aturan cukup banget ya. Aku sepuluh hari ke Jepang pake ini aja muat kok.”

Gue menatap dalam-dalam sebuah backpack yang disodorkan Roy.




“Nggak boleh bawa koper?”

“Katanya mau backpacker-an?”

“Ngggn…”

“Harus muat pokoknya.”

Gue menerima backpack itu. Pasrah.

***

“Kamu tidur di mana nanti? Nggak diajak Roy tidur di Masjid kan?”

Gue tertawa ringan mendengar pertanyaan mama. “Nggak lah ma, nggak separah itu juga.”

Beliau ikut tertawa, kemudian berujar, “Pokoknya jangan ngerepotin Roy ya. Jangan rewel di sana.”

“Iya. Tenaaang.”

“Kamu udahan belum sih packing-nya?”

“Belom nih, aku bingung mau bawa baju yang mana.”

“Udah dari dua hari yang lalu masih bingung?”

“Ho oh.”

“Cuma tiga hari, nggak usah selemari-lemarinya kamu bawa makanya.” Ujar mama sambil geleng-geleng kepala.

***

Soekarno Hatta Airport, 18 January 2014

“ROY!”

Gue berjinjit, kemudian melambaikan tangan. Roy yang mendengar jeritan gue, kemudian dengan segera berlari mendekat. Ia menyalami mama dan papa, kemudian meminta maaf karena sedikit terlambat. Banjir melanda beberapa daerah Jakarta pagi itu, karena hujan deras kemarin malamnya.

“Udah yuk? Masuk sekarang?

Gue dan Owen serentak mengangguk. Kami berpamitan dengan papa mama, kemudian berjalan masuk untuk check in.

“Ai, bentar.”

“Apa?”

“Berenti dulu kamunya. Tukeran tasnya sama aku.”

“Hah?”

“Tukeran tasnya sama aku sini. Kamu bawa tasku aja, pasti lebih enteng.”

Sebersit rasa hangat masuk memenuhi hati gue. Tadinya gue sempet khawatir nggak akan bisa backpacker-an, mengingat selama ini setiap liburan, gue selalu ikut tour & travel. Makan, tidur, objek wisata, sampe barang bawaan, semua udah diaturin dari sananya. Gue tinggal duduk manis aja, atau kalo mau sambil main hp juga boleh.

Tapi kali ini semuanya harus sendiri. Nggak ada papa mama yang bisa jadi tempat gue merengek kalo gue nggak suka makanan di sana, kalo gue mulai capek karena jalan terlalu lama atau tas yang terlalu berat, nggak ada yang nenangin dan nyuapin gue obat kalo sampe gue jatuh sakit. Singkatnya… gue harus bisa mandiri. Bahkan sebelum pergi Roy bilang, “nggak ada yang bisa kamu andelin selain diri kamu sendiri. Bahkan kamu gak boleh bergantung sama aku. Harus sama diri kamu sendiri.”

Gue cuma ngangguk, tapi sepanjang hari kepikiran kata-katanya. Harus sendiri, nggak boleh sakit, nggak boleh rewel, nggak boleh ngeluh. Nggak boleh rese.

“Ai? Sini tas kamu, aku bawain.”

Gue tersadar, kemudian tersenyum sambil menukarkan backpack gue dengan backpack Roy yang beratnya... mungkin hanya setengah atau sepertiga backpack gue.

“Jadi bawa hairdryer ya kamu?”

Gue nyengir, lalu mengangguk malu-malu.

“Berat yah hun?” tanya gue merasa bersalah.

“Enggak kok. Nah, siap backpacker-an?”

Gue mengangguk mantap. Detik itu juga ketakutan gue terbang hilang, dan gue sadar selama bersama laki-laki ini, gue pasti akan baik-baik aja J


***

“ABC Premium Hostel? Oh just go straight then turn left.”

Thank you.” Kami bertiga menjawab serentak, kemudian melanjutkan perjalanan. Ternyata hanya tinggal beberapa langkah lagi. Kami sampai di depan sebuah pintu berwarna hitam dengan tulisan ‘ABC Premium Hostel’ di tengahnya. Roy mengambil handle pintu, kemudian membukanya, dan kami disambut oleh… rak sepatu.

Ia membuka sendalnya, kemudian menaruhnya di rak tersebut. Gue dan Owen berpandang-pandangan, kemudian ikut melepas sandal dan membuntuti Roy naik ke atas. Sampai di atas, kami disambut dengan tulisan:

“Sorry we don’t have lift, but we promise, we’ll make up with good services.”

di dinding. Gue ngebatin dalam hati, kreatif banget ini pasti pemiliknya.

Setelah check in dan minta izin untuk menitipkan tas karena kami langsung akan berangkat ke River Safari, gue mampir ke kamar mandinya untuk numpang ngaca. Kamar mandinya dipisahkan berdasarkan gender, terdapat kira-kira empat bilik untuk mandi, dan empat bilik untuk pipis. Dua di antaranya tergabung dalam satu bilik. Jadi bisa mandi sekalian pipis. Kemudian agak sedikit keluar, ada tiga buah wastafel dan dua buah hairdryer. Pertama kali masuk dan make washtafel-nya, gue diliatin dari ujung kepala sampe kaki sama seorang penghuni hostel. Risiiiiih banget rasanya ._. Gue langsung buru-buru keluar dan berusaha menahan diri untuk bilang sama Roy bahwa kayaknya gue nggak bakalan bisa mandi dan pipis di kamar mandi model begini. I kept reminding my self, inget, gak boleh ngeluh. Gak boleh rese.

Kami segera berpamitan, kemudian menuju ke destinasi pertama kami di Singapura. River Safari!

6 comments:

  1. Nah, aku belum pernah tuh ke River Safari. Ditunggu postingannyaaaa ~

    *tolong jangan ambil lahan kami sebagai travel blogger* #EAAA

    ReplyDelete
    Replies
    1. asiiiiik tungguin yaaak :D

      halah :))))))

      Delete
  2. Abis maraton baca dan komen postingan2 yang gue lewati.

    *nunggu postingan berikutnya*

    ReplyDelete