Friday, 17 January 2014

a Gentle Reminder for Me and My Future Husband

Gue belum punya anak. Jadi untuk urusan mendidik anak, percayalah, gue -tentu saja- bukan ahlinya. Postingan ini gue buat, hanya berdasarkan pengamatan sederhana yang kemudian dihubungkan dengan logika cetek, kemudian dituangkan dalam bentuk tulisan. Jadi, dengan segala kerendahan hati, mohon dimaafkan kalo ada yang tidak sependapat dengan kesok-tahuan gue. Blame all the mistakes on me. *sungkem*

Menurut gue, bagaimana cara mendidik seorang anak mengambil porsi yang sangat besar dalam penentuan karakter anak tersebut kelak, ketika dia sudah dewasa. Di usia yang terbilang kecil, justru sebenarnya mereka mampu mengingat dan mengerti apa yang orang lain kehendaki lewat ucapan ataupun tindakan yang dilakukan untuk mengutarakan maksud, baik langsung maupun tidak langsung. Yang terlanjur terekam di dalam otak, akan terus diingat di bawah alam sadar si anak, dan otomatis akan mempengaruhi pola pikirnya, bukan hanya 1 sampai 2 tahun ke depan, tetapi juga setelah ia dewasa kelak.

Nah, gue mau berbagi mengenai kata-kata atau tindakan yang sering (secara tidak sadar) diucapkan oleh orang tua semasa anak mereka masih kecil, namun dampaknya masih terlihat sampai anak mereka telah dewasa.

Mariiiiii.

-

“Hiih! Mejanya nakal, sini mama pukul!” kemudian si ibu memukul mejanya. “Nah udah ya, cupcup…” *lanjut nenangin si anak kecil*

Pernah liat? :D

Gue sering banget ngeliat adegan macam ini. Anak kecil lagi lari-lari, ketubruk meja, anak kecilnya jatoh, mejanya yang diomelin trus dipukul. Padahal mah yang lari-lari ya anaknya, mejanya diem aja di sono dari tadi. Gak tau apa-apa, nggak salah apa-apa, diomelin, dipukul pulak :))

Bukti sayang dari orang tua, mungkin ya. Termasuk menjaga dengan segenap kemampuan yang mereka punya. Tapi tetep aja, menurut gue kalimat tadi tetap salah. Kenapa? Karena kalau dipikir secara logika, dengan cara seperti ini, sang anak akan terus menerus menuntut untuk dibela. Dalam keadaan apapun, dia jadi merasa harus selalu dibela. Bahkan ketika ia salah. Biasanya, si anak jadi terbiasa untuk menyalahkan apapun selain dirinya sendiri. Kasarnya, dalam keadaan apapun, dia akan gampang banget pointing finger.

Menurut gue sih, ketika dia dewasa nanti, meja itu bisa saja bertransformasi menjadi teman-teman, pacar, bahkan mungkin orang tua, atau siapapun yang bisa disalahkan supaya dia tetep ada pada posisi yang benar dan aman. J

“POKOKNYA MAMA BILANG ENGGAK!”

‘Pokoknya’ menjadi salah satu dari kata pamungkas untuk membungkam bantahan atau menghentikan rengekan dari anak-anak. Padahal menurut gue, ‘pokoknya’ adalah kata-kata yang hanya pantas diucapkan oleh bos kepada bawahan.

Mengapa? Karena umumnya, ketika seorang anak dilarang, ia pasti mau mengetahui apa alasannya. Kenapa boleh? Kenapa tidak boleh? Dan kata ‘pokoknya’ hanya memaksa rasa penasaran dan keingin-tahuannya untuk tenggelam kembali namun menunggu untuk dilampiaskan dalam bentuk pemberontakan.

Pun, kata ‘pokoknya’ hanya akan membuat seorang anak tumbuh menjadi keras kepala. Nggak bisa dibilangin, nggak mau dibantah, nggak ngerasa perlu untuk mendengar, karena orang tuanya juga nggak punya waktu untuk mendengarkan mereka.

“Kamu tau nggak, si ini aja bisa ranking satu loh di kelasnya.”

Secara langsung maupun tidak, membesarkan seorang anak dengan memotivasinya untuk mengejar keberhasilan orang lain BUKANLAH cara yang benar. Kemungkinan pertama, si anak sukses menyaingi subjek pembandingnya namun membawa sakit hati yang luar biasa karena merasa ia tidak diterima apa adanya. Kemungkinan kedua, dan yang umum lebih sering terjadi, si anak kehilangan jati diri ketika ia gagal, kemudian merasa bahwa dirinya tidak berguna, bahkan membenci dirinya sendiri karena tidak mampu menjadi sehebat subjek pembandingnya. Keduanya sama-sama menyedihkan.

Roy pernah bilang, kalo Chris John dipaksa main sepak bola, sampe kapanpun dia akan dicap sebagai loser. Bukan karena dia memang pecundang, tapi karena talent-nya memang bukan di sana. Nggak ada seorangpun anak di dunia ini yang terlahir tanpa bakat. Tugas orang tua adalah mengarahkan mereka untuk menemukan dan mengasah bakatnya. Bukan memaksanya memiliki bakat anak-anak lain. J

“Wah! Ujiannya dapet 100 lagi! Pinter! Anak mamaaaa niiiih! Mama sayang deh kalo begini.”

“Hayo, berenti nangisnya, kalo enggak mama nggak sayang loh.”

Orang tua terkadang mengekspresikan kebanggaannya melalui kalimat semacam ini ya? Ada dua hal yang menurut gue penting untuk digaris-bawahi.

Yang pertama, “…anak mama nih!”. Lah terus kalo nilainya 50, dia jadi anak siapa? Dan cuma anak mama? Trus sperma-nya dari mana???

Yang kedua, secara tidak langsung, dengan kalimat seperti “…mama sayang deh kalo begini.” atau “…kalo enggak mama nggak sayang loh.”, orang tua menanamkan pemikiran bahwa terdapat sebuah standar berkaitan dengan perasaan menyayangi seseorang.

Pada akhirnya kata-kata tersebut membuat anak-anak berpikir, they deserve to be loved when they do or achieve something great. Otherwise, they don’t. Gue takut, hal ini akan menumbuhkan perasaan rendah diri ketika mereka tidak mampu memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitar mereka. Mereka jadi merasa tidak pantas dicintai. Kasian kan? :”)

-

Kira-kira begitu hasil random thoughts gue di tengah-tengah invoice-invoice dan faktur pajak, serta kesibukan yang mendera di hari-hari kerja. Mohon dimaafkan kalo ada yang ngawur, gue hanyalah seorang amatir dan belum jadi bukan praktisi, jadi nggak ngerti dunia nyatanya kayak apa :D

Kalo ada yang benar, semoga kiranya bermanfaat dan dapat diamalkan. *dijejelin hardcover skripsi*

Sayah-nya permisi dulu, mau nyari bapak buat anak-anak #eh

8 comments:

  1. Last but not least sar, perbanyak pelukan dan senyuman ke anak..
    Saat anak2 pulang sekolah, hal pertama yang saya lakukan adalah memeluk mereka tidak lupa mencium pipinya.
    Lalu, pertanyaan pertama :" Apa hari ini kalian senang-senang di sekolah?? "..

    And it works just fine.. setiap akhir weekend pertanyaan mereka adalah : Apa bunda besok bisa cuti.. hihihihi..

    Semoga diberi kelancaran nantinya ya neng.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. AGREE! :D

      Ya ampun teh, aku jadi nggak sabar bikin keluarga kecilku sendiri :") Sepertinya bahagia sekali rasanya ya :"D

      Amin, terima kasih ya teh doanya :"D

      Delete
  2. “Kamu tau nggak, si ini aja bisa ranking satu loh di kelasnya.”

    Sering banget ini mah. Padahal, setiap orang kan bisa jadi ranking satu dengan jalan dan caranya masing-masing. Nggak harus dibanding-bandingin gitu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan nggak semua orang prestasinya ada di akademik :)

      Itu yang gue harapkan beberapa orang tua muda yang membaca ini sadar dan gak mengulangi cara memotivasi macem itu ke anak-anaknya :)

      Delete
  3. setuju banget sarah,, semoga orang tua dan calon orang tua bisa baca ini dan menerapkan ke sehari2 mereka yah.thanks

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin amiiiin :D

      terima kasih yaaa Novi! salam kenal :)

      Delete