Wednesday, 18 December 2013

SOK TEHE!

Postingan ini bermula dari sebuah tweet yang tertangkap mata gue kemarin malam. Isinya kurang lebih mengungkapkan keheranan dari si pemilik akun, terkait seorang temannya yang pacarnya 'ilang' selama dua atau tiga jam aja langsung jadi panik dan bingung. Si pemilik akun ternyata udah biasa 'ditinggal' dua sampai tiga hari tanpa dapet kabar apapun dari pacarnya. Ya mungkin udah saling percaya dan sama-sama sibuk ya, jadi komunikasi sesempetnya aja, dan gak ada juga yang rese nanya-nanya mulu.

Ya itu hak setiap orang sih. Yang bikin gue terganggu di sini adalah sindirian si pemilik akun terhadap temannya ini. Seriously, siapa sih yang memulai mengkotak-kotakan benar dan salah atau rese dan tidak dalam sebuah hubungan? Minta dikabarin tiap menit sama dengan rese. Kalo udah segitu percayanya sampe nggak komunikasi tiga hari fine-fine aja, itu baru dewasa. Beda pendapat trus berantem dibilang drama. Jadi yang nggak drama tuh berantemnya maksimal berapa kali sebulan?

Siapa sih yang awalnya mulai bikin standar-standar ini?

Let me tell you something. There's no such thing as an IDEAL COUPLE. NO. Mereka keliatan harmonis dan ideal karena mau mengerti kekurangan masing-masing. Saling mencintai dan memahami. Bukan karena cantik sama ganteng, bukan karena jarang berantem, bukan karena gak dikabarin tiga hari juga semuanya baik-baik aja.

Lagian, kalo gue sih, apa yang gue mau ya gue komunikasiin ke pacar. Bukan ngikutin apa pendapat dan cara pacaran orang lain, mana yang boleh mana yang enggak, mana yang keliatannya dewasa mana yang enggak. Well, hello, dia itu calon suami atau istri lo loh. Jadi ya belajarlah bilang kalo lo nggak suka.

Dia pacar lo, masa iya standar pacarannya ngikutin hubungan orang lain? Gampangnya gini deh, gue punya temen perempuan, di mana dalam hubungan dia dengan pacarnya, temen gue ini yang jauh lebih dominan. Tapi gue nggak kayak gitu. Menurut gue, ya cewek yang harus manut. Nurut. Se-modern-modern-nya, perempuan diciptakan untuk tunduk sama laki-laki yang nantinya jadi suaminya. Tapi itu kan gue. Lantas apa gue langsung nge-judge hubungan temen gue abnormal atau malah salah?

Kemudian gue cerita sama temen gue, dulu pacar gue pacaran sama mantannya, ngobrolnya tuh sekenanya aja. Seperlunya, kalo gak ada yang perlu diomongin ya nggak ngomong. Nggak intens kayak dia sama gue sekarang. Lalu temen gue ini bilang, "He? Kayak gitu namanya pacaran?" Gue cuma mengangkat bahu. Lantas apa gue langsung menilai cara pacaran pacar gue dan mantannya dulu salah atau aneh?

Ya enggak. Kenapa? Karena bukan kapasitas gue untuk nge-judge. Tau apa sih gue tentang hubungan mereka? Tau apa sih gue tentang definisi kebahagiaan untuk mereka?

Terlebih karena mereka nyaman dan bahagianya ya kayak gitu. Yaudah biarin aja sih. Kenapa harus gatel komentar dan ngomongin? Itu hak mereka. Kalo elo nggak betah ngeliat perbedaan dan pingin semuanya terus-terusan seragam, masalahnya tuh ada di diri lo, lho.

Jadi ya intinya sih, yang pacaran kan kita. Carilah cara yang nyaman untuk lo dan pasangan lo. Nggak usah kebanyakan musingin sekitar. Bahagia itu punya masing-masing kok. Nggak usah ribet nge-judge orang lain juga, dari pada nanti dibilang...

"SOK TEHE!"

4 comments:

  1. Dasar SOK TEHE kalian! *ngomong ke orang yang suke ngejudge orang lain*

    ReplyDelete
  2. hihihih.. jauh di mata dekat di hati sayang..#halah..

    Beda pemahaman sar.. makanya perlu sesekali cobain sepatu orang, baru bisa tau rasanya ya..

    Gaya pacaran emang beda-beda.. sama orang yg inih beda, yang dulu juga beda.., based on my experience sih ya.. meskipun dah lewat jauh masa pacaran hehehe..

    Emang ga sepatutnya komen ya sar.. mugi2 next time bisa nyobain sepatu si teman biar tau rasanya.. dan gak komen juga.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah :) Intinya sih bahagia masing-masing lah ya teh :D

      Toh setiap orang punya definisi masih-masing, dan sepenuhnya hak masing-masing untuk merasa bahagia dengan pilihan dan cara mereka sendiri. :)

      Delete