Tuesday, 10 December 2013

Lontang-Lantung di Mata Saya

"Aku capek. Aku ngerasa aku berjuang sendirian."

Gue mengelus punggungnya waktu itu. Mengerti dengan pasti perjuangan dan kelelahannya yang beralasan. Seperti juga judul bukunya, Roy bener-bener lontang-lantung. Lontang-lantung promosi ke sana ke mari. Lontang-lantung survey sana sini. Lontang-lantung nyari reviewer. Lontang-lantung demi Lontang-Lantung.

"Aku rasanya mau nyerah. Mau lepas tangan aja sama buku ini."

Tapi secapek dan seputus asa apapun dia, kata menyerah hanya berhenti sampai di 'mau' aja. Dia nggak pernah bener-bener merealisasikannya. Instead, dia tetep berjuang. Keras. Sekalipun Lontang-Lantung sempet nggak ada gaungnya di linimasa. Biarpun sempet dicuekin sama penerbitnya. Walaupun dia yang harus mati-matian promosi dan memperkenalkan buku ini pada masyarakat.

"Even if you're about to give up, I won't." kata gue saat itu. "Kamu percaya nggak, sebuah produk punya peranan paling penting untuk menjual dirinya sendiri kalau kualitasnya memang benar luar biasa?"

Dia mengangguk.

"Then why worry?"

Sekali lagi gue mengelus punggungnya lembut, kemudian tersenyum. Mencoba menularkan keyakinan yang gue percaya. Bahwa suatu saat nanti, Lontang-Lantung pasti akan mendapatkan apresiasi yang luar biasa.

Nope, gue bilang begitu bukan hanya untuk membesarkan hatinya. Bukan semata untuk menghiburnya. Tapi karena memang gue sudah membaca dan tau pasti seperti apa buku sekaligus karya yang paling dia banggakan itu. Seperti yang pernah gue tulis di sini, gue bukanlah penikmat novel komedi. Tapi Lontang-Lantung berhasil mengubah keyakinan itu. Pandangan gue bahwa jokes atau lelucon yang diutarakan melalui lembaran kertas gak akan bisa lucu, menguap sudah. Roy Saputra membuktikan bahwa ia mampu mengajak gue untuk tertawa melalui sebuah buku. Lontang-Lantung.

Lontang-Lantung juga menjadi teman yang seru untuk
bernostalgia tentang masa-masa putus asa saat mencari kerja dan saat-saat mendebarkan di ruang interview. Membuat gue terbahak-bahak di beberapa bagian dan bergumam pelan, "anjir, gue tau banget nih, rasanya." Well, that truk manggis jokes contohnya, been there, done that. Gue pernah kepingin ngelindes diri sendiri gegara dibombardir pertanyaan yang susah banget gue jawab pas interview. Persis Ari Budiman.

Nggak cuma sampe di sana, Lontang-Lantung juga menyelipkan nilai-nilai kehidupan yang dapat dipelajari dengan cara yang mengasyikan. Membuat kita menyadari bahwa pribadi yang lebih baik, terkadang justru terbentuk melalui konflik. Membuat kita merenungkan bahwa berhasil tidak melulu ditilik dari title atau jumlah 0 dalam slip gaji, tapi lebih kepada bagaimana kita menghidupi hidup kita sendiri. Membuat kita tersenyum saat bersama-sama menyadari fakta bahwa nilai dari persahabatan justru terlihat saat kita berada dalam kesulitan.

Isn't it amazing?

Gue percaya, masih banyak manusia di luar sana yang sependapat sama gue. Sekalipun mereka bukan influencer di linimasa. Biarpun buku ini pernah dianak-tirikan oleh penerbitnya. Walaupun Roy harus bersusah payah awalnya. Persis seperti Ari Budiman yang mondar-mandir ke sana ke mari untuk memperjuangkan nasibnya.

Hari ini, gue melihat buah manis dari perjuangan Roy. Buah manis kerja kerasnya, buah manis dari jerih lelahnya menulis sepulang kerja, buah manis dari promosi-tanpa-henti-nya di linimasa. Lontang-Lantung yang bertengger di rak-rak best seller atau buku laris di beberapa toko buku besar dan terkemuka, juga segera di papan 'coming soon' bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Lontang-Lantung yang jadi buah bibir di linimasa, juga review-review di beberapa blog, yang bukan hanya untuk menyuarakan kekaguman dan pujian, tapi juga beberapa hal yang mereka pelajari dari Ari Budiman. Dari persahabatannya dengan Togar dan Suketi. Dan dari seorang Roy Saputra.

Pun hal-hal yang gue sebutkan di atas tidak terjadi, untuk gue, Luntang-Lantung tetaplah Roy's remarkable journey. Sebuah perjalanan yang kental dengan kegigihan dan semangat pantang menyerah. Gue tau cerita dibalik buku ini, yang mau nggak mau membuat gue harus mengangkat topi. Cucuran keringat, serta berbagai emosi mewarnai proses penulisan sampai ketika Lontang-Lantung mulai masuk ke toko buku-toko buku, bahkan kemudian ke rumah produksi dan memulai proses syuting. Semuanya merupakan sebuah perjalanan penuh perjuangan yang tidak ada habisnya.


Bahkan setelah jutaan pujian yang diutarakan baik secara lisan maupun tulisan, dia yang berada di balik buku ini, masih tetap Roy yang sama. Yang nggak berhenti bekerja keras, yang nggak kenal kata mundur, yang pantang menyerah, dan selalu... Roy yang menjadi teladan untuk tetap rendah hati.

There's U in PROUD.
-@meiraa_

6 comments:

  1. DICARI: cewek single yang perhatiannya menyaingi Sarah Puspita. Jika ada, harap kirim CV ke rido.arbain@yahoo.com

    Thanks.

    ReplyDelete