Friday, 20 December 2013

Don Jon - Porn in a Big Screen

Gue selalu mau tau gimana rasanya nonton sendirian. Apa sih sensasinya duduk di dalam studio tanpa ada satu orangpun yang gue kenal? Gimana rasanya saat gue yang bawel ini mau komentar tentang film yang sedang diputar tapi nggak ada yang dengerin? I've always wanted to know. Dan kemaren, gue dapet kesempatan untuk menjawab rasa penasaran gue.

Setelah permisi sama pacar dan dapet ijin, gue mulai milih-milih film yang diputar di XXI Kuningan City. Frozen, The Hobbit, Don Jon, Soekarno, dan Walking with Dinosaurs. Frozen udah nonton, nggak terlalu berminat nonton Soekarno, The Hobbit dan Walking with Dinosaurs mau nonton sama pacar. Jadi akhirnya pilihan gue jatuh pada Don Jon. Pas gue baca kategorinya pun gue bergumam dalam hati, "Ooh film drama, this movie will be perfect."


Sinopsinya dari 21cineplex.com :

"Kisah tentang Jon Martello (Joseph Gordon-Levitt) yang tampan, kuat dan baik hati. Teman-temannya memanggilnya Don Jon karena kemampuannya untuk memikat seorang wanita berbeda tiap akhir pekannya. 

Kehidupan Jon berubah saat bertemu Barbara Sugarman (Scarlett Johansson) yang merupakan wanita cantik dan baik. Dibesarkan dengan film-film romantis Hollywood, ia bertekad menemukan pangeran tampan dan selalu bersamanya."

Mata gue langsung berbinar-binar. Film drama klasik nih pasti, tentang cewek yang bisa ngubah cowoknya yang bandel jadi pangeran charming macam A Walk To Remember, pikir gue. Jadilah gue memantapkan diri dan hati untuk nonton Don Jon nanti malam. Dari kantor, gue langsung turun ke Kuningan City dan naik ke XXI dengan lift. Pas masuk, gue liat antrian tiketnya masih sepi. HOREEE. Gue langsung menghampiri tempat pembelian tiket dan dengan mantap bilang,

"Don Jon yang jam 7 mbak."

Mbak-nya ngeliatin gue muka gue sekian detik, kemudian dia bilang,

"Don Jon yang jam 7 ya, berapa tiket?"

Gue tersenyum kemudian menjawab mantap,

"Satu."

Trus mbaknya ngeliatin gue dengan tatapan antara "yakin, mbak?" dan "ya ampun kasihan..." zzz. Gue ngedumel dalem hati. Yaelah, baru pertama kali apa ngeliat cewek sendirian nonton film drama? Perasaan temen gue banyak kok yang me time-nya nonton sendirian, ngapa mbaknya mukanya langsung ga enak gitu cobak? -___-*

"Okay, Don Jon ya, satu tiket, jadi dua puluh lima ribu."

Gue membayar, kemudian menerima tiket dan duduk menunggu pintu studio terbuka. Seperti lazimnya anak-anak gaul, gue fotolah tiket itu, kemudian gue upload ke path. Beberapa menit setelah itu, sebuah notifikasi masuk, isinya Kak Mia yang comment di foto tiket gue, isinya: "Bokep! *emoticon monyet tutup mata*"

HARUSNYA, gue langsung tanggap sama pertanda ini. Tapi sebaliknya, gue hanya menggeser ekspektasi gue dari A Walk To Remember menjadi Friends With Benefit. Mungkin that kind of movie, dengan sok taunya gue menyimpulkan.

Pintu studio terbuka, gue masuk dengan yakin. Sambil menonton trailer, gue memperhatikan beberapa tempat duduk yang telah lebih dahulu terisi. Yasalam, pasangan semua, dan nggak ada satupun dari antara mereka yang duduk nempel dengan pasangan lain. Rata-rata satu row, hanya terisi satu pasangan. Sempet terlintas pertanyaan di benak gue, ini kenapa duduknya pada nyebar ya? HARUSNYA, gue langsung tanggap sama pertanda ini. Tapi sebaliknya, gue cuma berasumsi, ooh mungkin karena sepi. Jadi ya otomatis pada nyebar.

Film dimulai. Lulus sensor, alhamdullilah. Tapi adegan pertama dibuka dengan seorang cowok yang lagi menghadap laptop dengan tampang super serius. Kerja? Bukan. Nulis? Bukaaan, itu mah cowok gue. Dia lagi... masturbasi. HEKYEAH INI FILM APAAN BARU MULAI UDAH BEGINI?

Gue mencoba menenangkan kaki yang udah kepingin keluar dari studio. Suara tawa sumbang yang super awkward terdengar pelan dari seluruh penjuru teater. Diem-diem gue ngelus dada, untuk nontonnya nggak sama pacar. Kalo enggak gue juga pasti lagi ikutan ketawa sumbang.

Adegan berlanjut ke (semacam) bar, yang mana itu menceritakan kehidupan Jon yang selalu bisa memikat hati wanita manapun... untuk dia tiduri. Ya sinopsis di 21cineplex.com nggak salah sih, cuma kurang ya. Dan kurangnya agak fatal. (--,)

Lucunya, si Jon ini lebih suka masturbasi ketimbang beneran having sex. Menurut dia, film porno itu keren, dan seks di dunia nyata nggak akan bisa kayak begitu. Ya terserah dia deh ya, itu kan preferensi masing-masing. *ketawa aneh*

Nah di malam dia ke bar, dia ketemu sama Barbara. Intinya Barbara ini tipikal princess yang percaya banget sama happily ever after.

 
Fast forward si Jon kepincut abis sampe dia rela jadi babu melakukan segala sesuatu untuk Barbara. Disuruh sekolah lagi dia mau, dilarang ngepel sendiri dia nurut, bahkan dia sampe bohong soal kebiasaannya nonton film porno karena menurut Barbara itu menjijikan. Pas malem pertama Barbara nginep, dia nge-gap-in Jon nonton film porno, trus histerisnya kayak Jon ketauan nyimpen mayat di kulkas. Kocak deh, terlalu kocak sampe gue mau ketawa aja susah.

Singkatnya, akhirnya mereka putus karena Jon ketauan Barbara masih mengkonsumsi video porno. Barbara entah gimana dan kesambet apa, meriksain history laptopnya Jon waktu si Jon lagi kelas malam. Kepo ya dia. Di bagian ini gue agak mati-matian nahan diri buat nggak lempar kaleng soft drink ke mukanya Barbara sih. Lebay mampus loh ini perempuan. Heran.

Nah terus pas Jon lagi nikmatin hidupnya yang sendiri dan penuh masturbasi, tiba-tiba dia ketemu Esther. Gue nggak tau siapa cewek ini, secara di sinopsisnya XXI sama sekali kagak diceritain dia siapa. Namanya disebut juga kagak, kasian gak tuh.


Intinya adalah, Esther yang akhirnya berhasil mengubah pandangan Jon tentang masturbasi dan film porno lebih nikmat ketimbang seks. Menurut Esther, selama ini Jon tidak menikmati seks, karena hubungan Jon sama pacarnya itu selalu satu arah. Harusnya seks itu dua arah. Si perempuan harus tenggelam di dalam si laki-laki, begitu juga sebaliknya. Agak rancu sih ini, mungkin maksudnya making love di kolam renang. Entahlah.

Trus tiba-tiba... filmnya kelar.

.
.
.

Happy ending, mungkin begitu menurut si sutradara. Buat gue sih gak-jelas-ending. Masyaoloh ini ending macem apaan????

Saat itu juga gue kepingin jedukin kepala dan menuntut manager XXI untuk mengembalikan uang gue. Langsung gue ngerti arti pandangan si penjual tiket ke gue tadi. Dan sekarang coba lo bandingin cerita yang gue jabarkan dengan sinopsis XXI. JAUH BANGET SAMPE KAYAK BEDA FILM KAAAAAN? *nangis frustasi*

Udah gitu selama satu jam lebih gue dipaksa nonton film porno - but not so called porn karna di sensor - di layar segede gitu, dan bareng-bareng sama pasangan lain? Awkward at its finest. (T_T)

Pengetahuan yang gue dapet dari film ini cuma :
1. Posisi misionaris itu bentuknya begitu.
2. Cowok yang bisa masturbasi 11 kali sehari itu rekor tersendiri.
3. Alamat website porno yang dibuka oleh Jon.

Udah. Alur ceritanya maksa, logikanya bolong di mana-mana, dan hampir semua frame-nya berisi dada dan paha. Keluar studio jadi kepingin makan KFC.

Jadi, melalui postingan ini, pesan penting gue adalah :

JANGAN PERCAYA SINOPSIS 21CINEPLEXDOTCOM.
POKOKNYA JANGAN!

Tertanda,


Korban

8 comments:

  1. *ketawa sampe Natal* :))))))))

    ReplyDelete
  2. Gue nggak cukup umur buat nonton ini. Dan, anjir... endingnya masa gitu doang?!

    ReplyDelete
  3. haduuuhhh... sampe sakit perut baca posting yg ini... untung ga tertarik nonton, coba enggak dapet pengalaman buruk jg deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi iyaaaah, gak usah ditonton beneran :D

      Delete
  4. *cekikikan* tabah yakk Sarah... *puk-puk*

    ReplyDelete