Wednesday, 4 December 2013

Cukup

Delapan bulan yang lalu, di antara tumpukan pekerjaan yang tidak kunjung selesai, sebuah notifikasi whatsapp masuk ke handphone gue. Dari Roy, yang mengabarkan bahwa ia dan beberapa temannya berencana untuk pergi ke Jepang. Dia menghubungi gue untuk bertanya apakah gue berniat untuk ikut, yang kemudian (harus) gue jawab dengan gelengan mengingat gue baru mulai bekerja, dan berlibur ke negeri sakura itu tentu saja akan menelan biaya yang tidak sedikit.

Bukannya gue nggak mau ikut. Jepang adalah salah satu destinasi impian gue di Asia. Bukan hanya karena kebudayaan, alam, atau teknologinya. Alasan utama gue hanya satu. Jepang adalah negara terdekat dari Indonesia yang memiliki Universal Studio dan Disneyland (CMIIW). Keduanya, sekaligus. Tidak seperti Singapura yang hanya memiliki Universal Studio, atau Hongkong yang hanya memiliki Disneyland. Dan mengetahui fakta itu cukup membuat gue nyengir pedih memikirkan kondisi kantong yang nggak memungkinkan gue untuk bergabung dengan Roy dan kelompokya.

Tapi ya sudahlah. Gue menenangkan diri dan berusaha percaya, masih ada lain kali. Belum jodoh, ya nggak apa-apa. Nggak perlu dipaksain. Setelah itu, gue ngasih tau ke mama kalo Roy mau berangkat ke Jepang bulan November. Kebetulan, nyokap gue baru pulang dari Jepang, nemenin oma gue liburan di sana. Lha kenapa gue nggak ikut nyokap dan oma gue aja? Karena destinasi wisata mereka diatur dari tur, dan begitu tau nggak termasuk Disneyland dan Universal Studio, gue langsung mundur. Mubazir. :)))

Yang masih membekas di ingatan gue sampai hari ini adalah pembicaraan gue dan bokap satu hari setelah Roy membeli tiket ke Jepang. Masih pagi saat itu, gue sedang dalam perjalanan bersama bokap ke kantor. Masih di kantor lama waktu itu, jadi gue masih dianter jemput sama bokap karena kantor kami berdekatan.

Dia membuka pembicaraan dengan pertanyaan, "Kata mama Roy mau ke Jepang bulan November?"

Gue cuma mengangguk malas. Bener-bener lagi nggak kepingin ngomongin ini.

"Kamu nggak ikut?" tanyanya lagi.

Gue menggeleng singkat. "Nggak dulu, pa."

Bokap gue, masih dengan mata yang tertuju pada jalan di hadapannya bertanya dengan nada heran, "Kenapa?"

Gue mengeluh, tapi cuma dalam hati. Sebaliknya, gue mencoba bercanda, "Duitnya dari mana, coba?" jawab gue sambil nyengir.

Bokap tertawa kecil, kemudian berujar, "Kamu mau ikut nggak? Kalo mau bilang sama Roy, biar papa yang beliin tiket pesawatnya."

Gue diem sebentar, sebelum akhirnya menjawab, "Nggak kok pa. I don't really like Japan, to be honest. Lain kali aja."

Beliau menengok ke arah gue, hal yang selalu ia lakukan setiap kali hendak memastikan gue berbohong atau tidak. "Bener?" tanyanya lagi, seolah nggak yakin sama statement yang gue ajukan barusan.

"He eh. Aku duluan ya pa, daaah." Gue mengangguk mantap, kemudian turun dari mobil, tepat di belokan sebelum jembatan. Meloncat lincah, karena kalo gue nggak cekatan, pengendara-pengendara mobil di belakang pasti akan segera menekan kuat-kuat klakson mereka.

Setelah turun di belokan sebelum jembatan, gue harus berjalan kaki kurang lebih sekitar lima menit untuk sampai di kantor. Jalan kaki ter-menyiksa sepanjang gue kerja di kantor lama, karena gue harus melakukannya sambil (mati-matian) menahan tangis.

My dad... he still the one who knows me... best. Sumpah, gue belum nggak bilang apapun sama beliau tentang Jepang, mimpi gue untuk ke sana, kecintaan gue pada Universal Studio dan Disneyland, dan sebagainya. Gue lebih suka membicarakan US ketimbang Jepang. Semua orang rasanya tau gue punya impian besar untuk menjejakan kaki di negara adidaya itu. Tapi Jepang? Gue simpen baik-baik keinginan itu di sudut hati. Dari mana beliau tau (atau setidaknya merasa) kalo gue mau ikut?

Beliau juga menawarkan gue untuk liburan ke luar negeri, sekali lagi tanpa dirinya. Malah kali ini, mempercayakan gue pada seorang laki-laki yang baru dua bulan resmi menjadi pacar gue. He never changes. Selalu meminta gue untuk menempatkan dirinya di list terakhir prioritas gue. Sebaliknya, menempatkan kebahagiaan gue di list teratas prioritasnya.

Dulu, Tuhan pernah mengijinkan gue berangkat ke China dan Hongkong hanya dengan adik gue seorang. Bokap nyokap gue harus tetap di Jakarta, karna satu dan lain hal. Seneng? Tentu. Liburan ke tempat baru, mengenal kebudayaan baru, dan ke Disneyland (di Hongkong) merupakan pengalaman yang nggak akan pernah bisa gue lupakan sampai kapanpun. Tapi nggak bisa dipungkiri, gue adalah orang yang lebih mementingkan dengan siapa, ketimbang ke mana.

Delapan hari di China dan dua hari di Hongkong, gue (bahkan) sempet sakit dan nangis berkali-kali karna kangen sama bokap nyokap. Bukan hanya sekedar kangen, tapi ada keinginan yang menggila untuk menikmati bersama dengan mereka, sesuatu yang sedang gue lihat atau rasakan saat itu. Semenjak itulah gue berjanji, kalo gue ada rejeki untuk berlibur, mendingan cuma keliling Indonesia tapi sama keluarga, ketimbang ke luar negeri tapi gue harus pergi sendiri, lagi.

Tapi hari itu, beliau menawarkan gue untuk ikut ke Jepang. Sendiri, tanpa beliau, mama ataupun adik gue. Dengan seluruh biaya yang ia tanggung seorang diri tanpa pertimbangan apapun, hanya karena tau gue seneng traveling, meskipun gaji gue saat ini belum mampu mengakomodir hobi yang satu itu. Seperti saat gue diajak ke China sama Hongkong, dia nggak masalah stay di Jakarta, asal anak-anaknya bisa liburan.

"Nggak usah pikirin papa." begitu katanya setiap kali gue berkeras menolak ajakan om atau tante gue untuk berlibur bersama karena beliau nggak bisa cuti.

How can I, dad? :")

Gue udah lupa sama peristiwa ini seandainya nggak ada obrolan masalah Jepang di sela-sela makan siang kami (Roy dan keluarga gue) di Sate House Senayan, sepulangnya dari acara wisuda gue. Gue masih berkebaya lengkap, Roy masih kucel karena dia langsung meluncur ke Senayan. Belum nyentuh kasur dari semalam, tapi bela-belain dateng langsung dari bandara.

"Gimana Jepang?" tanya mama, yang kemudian dijawab dengan antusias oleh yang ditanya. Sedangkan papa dan Owen mendengarkan sambil sesekali menimpali. Gue? Sibuk makan. Obrolan berlanjut bahkan sampai ke objek wisata, transportasi, dan budget yang harus disiapkan jika ingin berpergian ke Jepang. Gue masih diem, sibuk ngegayem.

Semuanya baik sampe tiba-tiba bokap gue bilang begini, "Lain kali kalo pergi, ajak Sarah sama Owen ya, Roy."

Gue hampir keselek. Pembicaraan di mobil itu kayak terulang lagi di depan mata gue. Buru-buru gue menyambar minuman, sekedar untuk menutupi mata gue yang mulai berkaca-kaca. Jangan tanya gimana perasaan saat itu. Kepingin rasanya langsung meluk bokap yang waktu itu duduk persis di sebelah gue. Kepingin langsung nangis kalo nggak inget kami sedang berada di tempat umum.

Sarah dan Owen. Beliau hanya menyebut nama kedua anaknya. Tanpa dirinya. Pesan yang hampir sama seperti yang pernah keluar dari bibirnya waktu beliau tau om gue dan anaknya akan berangkat ke Singapura. "Ajak Lenny (nyokap gue), San-san (nama kecil gue), dan Owen aja, ko. Mereka kan belum pernah ke sana." ujarnya saat itu. Dan beliau langsung meminta gue untuk memesan tiket pesawat. Akhirnya gue berangkat. Bertiga, tanpa bokap gue, karena beliau nggak bisa ninggalin kantor.

Pun begitu, nggak pernah sekalipun gue denger beliau mengeluh. Beliau nggak pernah bersungut-sungut walaupun mati-matian kerja tapi nggak pernah jalan-jalan ke luar negeri dengan uangnya. Semua untuk anak-anak dan istrinya. Cukup membahagiakan untuk beliau, hanya dengan mendengar kami yang dengan antusias bercerita tentang kota atau negara yang baru kami kunjungi. Cukup bagi beliau, untuk merasakan kegembiraan yang sama saat mendengar kabar dari anak-anak dan istrinya yang sedang berada di luar kota / negeri. Sudah cukup membahagiakan, karena senyum kamilah alasan beliau bekerja tanpa mengenal lelah.

"Nggak usah pikirin papa. Kamu seneng-seneng aja. Yang penting jaga kesehatan."


Dad... you are my everything :")

14 comments:

  1. Sarr.. langsung mbrebes mili karena inget alm papaku.. saat anak-anak lain jadi anak mama.. aku anak papa banget - teman memancing ikan tepatnya ..

    Sudah beberapa waktu gak nengok makam papa ku.. :(..

    Dad is always the best ya non..

    Send my regards to him ya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga anak papa :")

      nengokin kalo kangen, teh :")

      yep, he always is.

      will do, thank you teh! :"D

      Delete
  2. jd berkaca2 baca postingan ini... di kantor pula... (T.T ) ( T.T)
    papaku jg gtu sar, anaknya aja yg diutamain. klo nganter ke kantor, sllu nunggu aku msk gerbang, bru dia brkt... dia sllu blg, klo "ngedapetin" aku itu karunia yg plg dia syukuri, pdhl rasanya aku blm prnh nyenengin dia... jd kangeeenn bgt sm papa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaaak :")
      sama banget kayak papaku :")

      nanti pulang peluk papamu yaaaah sayang <3

      Delete
  3. Well, how lucky you are, san :)
    Berharap bgt papa ku juga kaya papa kamu, walaupun dia berbeda, dengan karakternya sendiri. hehe, but the best thing is, i've known Jesus as the BEST Father ever in my life..
    Salam buat papa ya, sayang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, He is our best father, ever :)

      *peluk tasha*

      mau main lagi sama kamu :D

      okaay nanti aku sampein :)

      Delete
  4. Papa emang sosok di balik layar dalam kehidupan kita :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yap!

      Kita bisa jadi kayak sekarang, sedikit banyak pasti karena peran papa :)

      Delete
  5. Duh langsung tercekat nahan nangis dah baca postingan ini :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. *sodorin tisu*

      Nanti peluk papanya yaaaa :)

      Delete
  6. baru nemu, baru kebaca... hanya bisa membayangkan indahnya.
    ga pernah sekalipun aq liat ayah q, apalagi denger suaranya, sejak lahir :')
    dad, where are u? :')

    ReplyDelete