Tuesday, 17 December 2013

#AntologiRindu (Tanpa Kata Rindu)

Gue tau project keren ini karena udah lama follow @sinshaen di twitter. Di tambah lagi gue juga follow salah satu jurinya, kak @TiaSetiawati yang juga penulis Karena Puisi Itu Indah dan SoleMate. Tapi ya itu, awalnya, gue hanya sebatas tau. Tau bahwa project ini adalah menulis cerpen atau FF atau puisi yang mengungkapkan rindu, namun uniknya tidak dengan kata rindu di dalamnya. Tau bahwa hadiahnya banyak minta ampun. Tau bahwa sepuluh pemenang di tiap kategorinya... akan dibukukan.

Tapi ya hanya sebatas tau. Mau ikutan sih, tapi udah terlanjur takut. Kok sepertinya susah, ya. Gimana caranya ngungkapin kerinduan kepada seseorang kalo nggak boleh pake kata itu sendiri? Jadi yaudah, gue hanya membaca ketentuan project-nya di blog-nya Sindy, kemudian dengan cepat gue lupakan. Gue hanya cerita tentang project ini ke Jeje, dia menyemangati gue untuk ikut, tapi gue cuma bilang, "okay nanti gue coba." hanya semata biar obrolan tentang project ini cepet kelar.

Nah beberapa waktu yang lalu sebelum Sindy mengumumkan project ini, gue sempet membuat sebuah cerpen berjudul Dear Daddy, tapi dalam bahasa Inggris. Kemudian cerpen ini gue kirim ke Jeje supaya dia bisa mengkoreksi grammar gue yang udah pasti acak adut. Sekalian minta pendapatnya tentang cerpen yang gue tulis. Waktu itu dia membalas email gue dengan : "Gosh I cried a lot reading this. Post dong di blog lo." Tapi... grammar gue nggak dikoreksi. Yasalamhualam mana berani gue post kalo masih ngawur begini struktur kalimatnya? :))

Lalu, tiba-tiba gue inget kalo draft cerpen ini mungkin bisa gue edit untuk memenuhi kriteria naskah cerpen yang dicari dalam project #AntologiRindu. Kemaren sok-sok mau ngelupain, tapi besokannya karena dukungan dan support dari Jeje, gue nyoba untuk mengubah Dear Daddy yang tadinya dalam bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia. Cuma ngubah doang dan berusaha menemukan kata yang tepat supaya enak dibaca, makan waktu empat hari. Bolak-balik edit sana-sini, pas makan siang gue kerjain, balik kantor di rumah masih gue utak-atik.

Selesai di-translate dan udah enak dibaca... jumlah katanya kurang. (T_T)

Gue baru sadar, ini pendek banget. Kependekan untuk jadi sebuah cerpen. Mau nggak mau harus gue rombak lagi. Dari awal. Hampir setengah dari draft aslinya gue hapus lalu gue tulis ulang, ide ceritanya sempet gue ubah sedikit, nama tokohnya gue ganti, sampai akhirnya jadilah sebuah cerpen yang menurut gue sudah enak dibaca, ngalir, dan tentunya dengan jumlah kata yang cukup.

Tapi baru menurut gue.

Jadilah gue menghubungi Jeje untuk ngasih tau naskah gue udah jadi, dan nanya apa dia bersedia baca (lagi) dan ngasih pendapat. She said okay, lalu gue kirim ke dia naskahnya. Gue kirim Jumat siang, balesannya dateng Sabtu malem lewat whatsapp. Isinya: "KIRIM!". Singkat padat jelas. Khas dese. Kemudian gue tanya apakah rindunya berasa? Dan dia jawab, "Kalo gue jawab berasa lo percaya gak? Kalo enggak gak usah nanya." See? Galak banget kan dia? (T_T)

Jeje udah oke, tapi entah kenapa gue masih ragu. Jadi gue menghubungi sepupu gue tersayang, Ayumi, dan salah seorang sahabat terbaik gue yang saat ini sedang sekolah di China. Dengan segala hormat, gue meminta kesediaan mereka berdua untuk menjadi draft reader gue, dan memberi masukan terkait naskah yang akan gue kirim. Gue ceritakan sedikit tentang project-nya, kemudian mereka setuju. Email berisi lampiran cerpen gue sudah sampai ke inbox mereka, dan nggak lama setelahnya, masukan-masukan dan komentar-komentar dari mereka segera gue catet. Sampe di rumah, naskah gue buka dan gue edit lagi. Sekali lagi gue kirim naskah itu ke Jeje, sekali lagi dia bilang oke dan kali ini 'KIRIM'-nya pake tanda seru tiga biji.

Gue menarik nafas dalam-dalam, meng-attach file, kemudian mengirim naskah itu ke alamat email-nya Sindy.

Keesokan harinya gue melihat nama gue dalam rekapan peserta project #AntologiRindu. Pertanda email gue kemarin malam sudah diterima dengan baik oleh pihak penyelenggara. Resmi sudah, gue berkompetisi dengan 152 cerpen lain yang ikut serta.

Terus terang, gue nggak berharap banyak. Terlebih karena yang akan masuk hanya 10 cerpen. Saingan gue seratus lima puluh satu. Satu banding seratus lima puluh dua. Kalo satu kue dibagi seratus lima puluh dua, kayaknya satu orang dapetnya bakalan keciiiiiiiil seupil. Makanya gue cuma bisa nyengir. Gak berani berharap menang, tapi setidaknya hari itu gue punya pencapaian sendiri. Gue berhasil mengalahkan rasa takut gue, dan memaksa diri gue untuk mencoba. Apapun hasilnya nanti, I did my best. So there will be no regrets.

Bahkan sampai pengumuman 40 besar, gue nggak langsung ngeliat hasilnya begitu di post. Gue pikir nama gue juga nggak bakalan ada di sana. Justru temen-temen gue yang kepingin tau gimana hasilnya. Mereka yang mendorong gue untuk ngeliat pengumuman 40 besar, dan berdoa terus sampe final karena nama gue ternyata ada di sana. Mereka yang gak ada abis-abisnya meyakinkan gue kalo gue bisa, bahkan saat gue gak yakin sama diri gue sendiri. Mereka yang marahin gue waktu gue takut dan pesimis.

Jadi karena mereka-lah, nama gue bisa ada di sini:


Terima kasih, Jesica Indah, Arum Wijaya, dan Catherine Tirta. Terima kasih nggak capek-capek aku minta cek email. Terima kasih nggak pernah bosen aku mintain saran dan komentarnya. Terima kasih sekali. Aku sayang kalian. :)

Akhir kata, project #AntologiRindu akan segera dibukukan. Sekarang sedang dalam proses, doakan semuanya berjalan dengan lancar ya. Nanti kalo bukunya udah keluar, beli ya! :D

10 comments:

  1. Well, yours is one of the first I fell in love with when I was scrolling around the big 40 list. Ada bagian-bagian narasi yg memang rada kepanjangan sehingga sedikit keteteran - mungkin karena kepentok jumlah kata kali, ya - tapi Dear Daddy ditulis dengan gaya bahasa yg mudah diterima semua orang, jujur, sederhana, & sangat dekat dengan hidup. Aku juga suka bagaimana twistnya disampaikan dengan cantik tanpa cengeng.
    Selamat, ya! Just keep writing, reading, & improving yourself, no matter what people say!

    - bila seorang penulis sudah menemukan gaya menulisnya sendiri, seterusnya itu akan jadi sidik jarinya -
    Putri Widi S., dr.
    Juri paling junior di #AntologiRindu :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaak baru kemaren ngeliat timeline dan berharap cerpen aku bakalan di kritik kekurangannya :D
      Hari ini kesampeaaaaan <3 *lari keliling gedung*

      Makasih ya kak :D I will I will I will :D

      Thank youuuuuu :)

      *nangis terharu*

      Delete
  2. waaahhh... congrats sarah !!! ikutan seneng dengernya. tuh kan, terbukti klo kamu emang jago bgt... ga sabar baca bukunya... congrats ya ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih :") doakan ya, semoga prosesnya cepat dan lancar. Terima kasih bangettt :)

      Delete
  3. Congratssss neng Saraaahhh...
    Semoga jadi penyemangat proyek-proyek berikutnya ya nengg..
    Lemme know kalo udah terbit..

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiiin. Terima kasih ya teh :")

      Pasti, nanti aku bakalan bawel banget kok di twitter :D

      Delete
  4. *uhuk* udah itu aja. muahahahaha. :)))))

    akhir kata, you deserver it. tetap semangat nulis! uwuwuwuwuw! *tium*

    ReplyDelete
    Replies
    1. SINDY SAYAAAAANG :")

      Terima kasih yaa. Terima kasih untuk #AntologiRindu :")

      I will! *tium balik*

      Delete
  5. Selamat dear (kaka) Sarah :')) keep up the good work :*

    ReplyDelete