Wednesday, 20 November 2013

I'm Feeling Twenty Twooooo

Postingan ini akan membahas obrolan gue dengan sahabat gue via whatsapp tadi pagi. Pembicaraan dengan Virgo yang satu ini emang sering kali membukakan pemikiran baru di kepala gue. Padahal awalnya, gue nyapa dia karena murni mau curhat. Eh percakapannya malah jadi melebar ke mana-mana.

Kami membicarakan kehidupan not-so-teen-but-also-not-so-adult manusia berusia 22. Kami berdiri di masa itu sekarang. Di umur yang menurut gue dan dia, semuanya membingungkan. Nggak ada yang pasti. Dari mau jadi apa, apa yang bikin bahagia, siapa yang bikin bahagia, sampe siapa temen dan sahabat yang sebenernya. Parahnya lagi, di umur segini juga, banyak keputusan (beserta dengan konsekuensi) yang harus diambil, dari mulai masalah karir sampai percintaan.

Pertanyaan macam :

1. a. "Mau kerja di mana?"
1. b. "Mau nikah umur berapa?"

Nggak bisa lagi dijawab dengan nyengir-nyengir basi. Terutama kalo yang nanya orang tua. Kalopun kedua pertanyaan itu terjawab, pertanyaan selanjutnya akan muncul,

2. a. "Emang betah kerja di sana?"
2. b. "Udah yakin emang sama calonnya?"

Kalo saya nggak betah trus saya resign trus belom dapet kerjaan baru, pasti ditanyain pertanyaan nomor 1. a. berulang-ulang kali (lagi) kan? Kalo saya belum yakin sama calonnya, pasti pertanyaan nomor 1. b. itu ditanyakan lagi di berbagai kesempatan kan?

Dammit.

Itulah kenapa gue bilang, mungkin justru karena di umur 22 banyak keputusan yang harus dibuat-beberapa bahkan besar banget-, makanya gue dan Jeje sepakat kalo umur 22 bukan masa-masa yang mudah.

Taylor Swift was telling a lie, people. *digebukin fans-nya*


Tapi lagi-lagi, saat menulis tulisan ini, gue berpikir bahwa di kondisi dan situasi yang sama, kita (masih) diperbolehkan dan dimaklumi untuk berbuat kesalahan. Ya tergantung juga sih kesalahannya apa. Kalo kesalahannya macam hamil di luar nikah dan akhirnya memporak-porandakan seluruh masa depan... ya jangan. Itu mah kelar udah semuanya.

Maksud gue 'kesalahan' di sini adalah konsekuensi dari keputusan yang mungkin nggak seindah kelihatannya ketika kita udah ngejalanin. Ambil contoh, resign. Karyawan umur 22 tahun yang baru resign dari kantornya karena nggak betah lebih punya kesempatan untuk melanglang buana dan mencari perusahaan lain (atau bahkan profesi lain), bukan? Ketimbang karyawan yang usianya 45 tahun?

Atau mungkin, tentang patah hati. Di umur 22, diputusin atau dicampakan BUKANLAH akhir dunia. Gue gak bilang gampang lho ya. Nggak, karena gue tau rasanya sih tetep aja kayak neraka. Tapi masih banyak pilihan lain di depan sana, terlebih, WAKTU kita masih lebih dari cukup untuk overcome it trus ketemu yang baru dan tepat. Ketimbang kalo diputusin padahal udah umur 35 dan udah siap nikah? Pertanggungjawaban ke keluarganya aja pasti setengah mati bebannya.

Rasanya itulah kenapa ada kata-kata young and free. Bebas mencoba. Bebas berekspresi. Bebas mengambil keputusan dan mencicipi konsekuensi meskipun nggak semuanya enak. Bebas belajar, terutama tentang pahit manis kehidupan.

22. Waktu di mana gue mulai menyadari nggak semua temen-temen gue bener-bener pantes menyandang sebutan itu. Waktu di mana gue mulai mensyukuri ada 'keluarga-keluarga' lain dalam diri sahabat-sahabat gue. Waktu di mana gue mulai harus menerima bahwa hidup mungkin nggak semulus dongeng-dongeng yang pernah menemani gue terlelap. Waktu di mana gue mulai harus mengakui, bahwa yang baik nggak selamanya menang, dan belum tentu kebaikan berbalas dan berbuah kebaikan (dalam waktu cepat) juga. Waktu di mana gue mulai harus mengerti kalau cinta bukan hanya erat kaitannya dengan bahagia, tapi juga pengorbanan. Waktu di mana gue harus pasrah saat semuanya nggak berjalan sesuai dengan apa yang gue mau.

Then again, that's life, no?

Yang bisa kita lakukan hanya mengusahakan yang terbaik hari demi hari. Belajar dari kesalahan agar tidak mengulanginya di masa depan. Membuat keputusan dengan hati-hati dan pertimbangan yang matang untuk meminimalisasi penyesalan.

Kalau salah pilih? Kalau salah ambil keputusan?

Ambil saja hikmahnya, toh kita masih punya waktu untuk memperbaikinya.

Tag : @jesicaindah

4 comments:

  1. Terkadang kita harus berhenti sejenak buat berpikir "bener nggak sih ini yang terbaik?" sebelum bertindak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yep. it complicates life somehow, dan bikin kita jadi takut melangkah :(

      Delete